NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Dimas kemudian bergegas ke depan asrama dan mulai jogging di sekitar kampus Universitas Indonesia selama 2 jam berturut-turut. Dia berkeringat deras, tapi senyum lebar menghiasi wajahnya. Sambil berjalan kembali ke kamar di wisma mahasiswa, meskipun lelah, Dimas merasa segar dan penuh energi.

Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu dengan rapat, lalu duduk di atas kasur tipisnya. Dari pikirannya, dia membuka sistem itu. Dimas selalu waspada, percaya bahwa dinding asrama pun bisa "berbisik", jadi dia tak pernah ceroboh.

Sebuah panel berwarna cyan muncul di depan matanya, yang hingga kini masih terasa ajaib dan tak nyata. Dimas yakin ini tak akan hilang begitu saja, tapi dia tak ingin hidupnya bergantung sepenuhnya pada sistem misterius ini yang datang secara tiba-tiba, bisa saja lenyap dengan cara yang sama.

[Misi Selesai. Grade: S, jogging selama 2 jam dan 10 menit. Hadiah: Rp50.000.000]

Lima puluh juta rupiah? Apa aku lagi bermimpi?

Dimas hanya menatap tumpukan uang yang mengambang di udara, dibungkus rapi dengan kertas bertuliskan informasi pajak. Meskipun sudah dipotong pajak, dia tetap terkejut uang sebanyak itu melayang di depan mata adalah pengalaman lain.

Dimas meraih uang itu, dan seperti sebelumnya, uang itu menjadi nyata. Kali ini, penuh dengan pecahan seratus ribu rupiah yang baru.

Dengan ini, Ayah tak perlu pinjam uang dari rentenir itu lagi. Tapi bagaimana aku jelaskan ke rumah? Bank mungkin tidak banyak tanya kalau aku tunjukkan slip pajak ini, tapi Ayah dan Ibu pasti curiga kalau lihat tumpukan uang begini.

Sambil memikirkan itu, Dimas tak buang waktu. Dia mandi air dingin di kamar mandi bersama, lalu ganti baju biasa karena seragam barunya sudah kotor dan harus dicuci di laundry kampus.

Dimas menyimpan uang itu di lemari baju, di bawah tumpukan pakaian dalam, karena terlalu risih dibawa kemana-mana. Dia kan mahasiswa baru di UI, bawa uang segini bisa jadi sasaran.

Dimas kemudian kemas tasnya beberapa catatan kuliah dan buku teks untuk semester ini lalu kunci pintu dan berangkat ke ruang makan di lantai dasar. Saat turun tangga di lantai dua, dari jendela dia lihat kerumunan mahasiswa di sudut gedung bawah. Dimas berhenti dan mengintip.

"Ada ribut-ribut antara anak angkatan tahun pertama sama tahun kedua, gara-gara cewek," kata seorang cowok seusia Dimas yang berdiri di sampingnya.

"Yah, masih kekanak-kanakan banget," balas Dimas sambil tersenyum menggelengkan kepala, melihat tingkah polah masa muda.

"Ceweknya emang cakep sih. Kamu angkatan baru ya?" Cowok itu balas tersenyum dan ulurkan tangan.

"Dimas Martin." Dimas tak enggan menjabat tangan. Kalau dulu, dia mungkin ragu berteman, tapi sekarang dia ingin sopan dan ramah siapa tahu, teman sekecil apa pun bisa berguna nanti, seperti pegawai kantin yang punya koneksi.

"Adit Rahman," cowok itu perkenalkan diri dengan senyum lebar. Mereka berdua tak lama ngobrol, langsung ke ruang makan. Habis makan nasi goreng kampus bareng, mereka lanjut ke kelas.

"Jadi kamu juga jurusan Ekonomi? Ayo duduk bareng yuk." Adit ramah banget sama Dimas, tertarik sama cara Dimas cerita tentang kehidupan.

Kelas mulai tepat jam 9 pagi. Kuliah pertama buat Dimas membosankan karena bab ini sudah dia pelajari mandiri. Tak ada yang baru. Dia lihat sekeliling, banyak mahasiswa lain juga ngantuk dan bosan.

Mahasiswa UI emang beda, mereka sudah kuasai bab ini seperti aku. Pantas aja banyak yang jadi elit nanti.

Dimas kira dosennya bakal langsung cabut habis kuliah, tapi sang dosen botak itu malah hapus papan tulis dan bilang,

"Baiklah, yang sudah pelajari bab ini pasti bosan. Gimana kalau kita tes cepat buat lihat kemampuan? Yang sudah paham, tinggal; yang baru, boleh keluar." Dosen itu tersenyum.

Dimas yang ingin koreksi kalau ada salah konsep dari belajar sendiri, tinggal bareng sepuluh mahasiswa lain. Diri lamanya tak pernah bayangin ada orang sebanyak ini yang advance.

Dimas ikut tes itu, dan mengejutkan, dia dapat nilai terbaik kedua. Adit yang dia kira biasa aja, malah juara satu.

"Bro, lu jenius!" kata Adit sambil ketawa. Dimas cuma geleng-geleng kepala, lalu dekati dosen buat tanya kesalahannya.

Dimas sekarang lebih teliti belajar dari error, karena hidup kasih kesempatan kedua keputusan harus tepat sasaran.

Habis kuliah pagi, Dimas punya waktu luang buat keliling kampus lihat kegiatan klub. Dia ogah ikut yang ribet, mau balik kamar belajar aja meski sistem tak kasih hadiah.

Saat Dimas taruh tas di kamar dan mau ganti kaos oblong biar nyaman, tiba-tiba bunyi notifikasi di kepalanya.

[Ding!! Misi: Datangi klub voli dan lakukan smash satu kali. Hadiah Minimum: Rp50.000.000]

Waduh, minimal Lima puluh juta? Kalau satu-dua juta sih aku skip, tapi segini?

Dimas kunci kamar rapat-rapat ada uang lima puluh juta di lemari lalu berangkat ke GOR UI, lapangan voli resmi kampus.

Dimas tak terlalu tinggi, tapi cukup atletis buat olahraga apa pun. Tingginya 178 cm, rata-rata di UI.

Butuh sepuluh menit jalan kaki ke sana, dan GOR penuh sesak karena banyak mahasiswa baru yang mau coba masuk tim voli.

"Kamu mau ikut seleksi klub voli?" tanya seorang cowok berkacamata yang keliatan capek tapi tetap ramah sambil catat nama.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!