Kharis, seorang gadis di sebuah kota kecil, seorang mahasiswa, hidupnya terlalu fokus dengan studinya sehingga cenderung tidak peduli dengan apa itu cinta, sampai Lewi menjadi tetangganya. Cowok itu mengalihkan dunianya, ia jatuh cinta, sayangnya Lewi yang begitu supel, berteman dengan siapa saja tetapi bersikap berbeda pada Kharis, cenderung tidak peduli. Akankah cinta pertama Kharis menemukan tempat yang seharusnya di hati Lewi....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abygail TM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32 Waktu Berdua
Cahaya mentari sore yang masuk di celah dedaunan pohon yang ada di depan rumah menerpa tepat di wajah membuat pemilik mata bulat yang sudah sekian menit mengembara di alam tak sadar itu terbangun. Mengerjapkan mata menghalau cahaya menyilaukan dan secara perlahan mulai menyadari sekeliling, ingatan terakhir datang, dia tertidur di luar rumah.
Dia mencoba menegakkan punggung tapi terhalang dua tangan kekar yang mengatup di depan perutnya. Kharis menoleh ke samping ada Lewi yang masih pulas. Berada sedekat ini memunculkan debar juga panggilan hati yang kuat untuk tetap tinggal dan tak menjauh. Menelisik setiap garis wajah sempurna itu dengan matanya. Hembusan nafas teratur beraroma mint itu menambah ritme debaran membuat gadis itu memalingkan wajah lagi.
Sejak kapan pria tampan ini ada di sisinya... ternyata dia tadi tidur bersandar di dada bidang itu. Perlahan Kharis meletakkan kembali kepalanya di tempat semula kini hembusan napas itu terasa si kepalanya. Gerakan Kharis rupanya membangunkan Lewi, terasa belitan tangan di tubuhnya berubah erat...
"Sudah bangun ya... "
Suara serak terdengar sangat lembut di atas kepalanya.
"Iya..."
Kharis enggan beranjak, dia menikmati dekapan sayang pria itu dengan mata menatap jauh ke langit sore yang sudah berubah warna, guratan cahaya langit senja mulai terlihat.
Beberapa ciuman di pelipis kanan dan puncak kepalanya semakin menguatkan keinginannya untuk diam di kehangatan itu.
"I Love You, sweetheart..."
Suara setengah berbisik itu kembali terdengar syahdu dan mendamaikan jiwa. Kharis tak menjawab, hanya meletakkan kedua tangan mungilnya di atas tangan Lewi. Cowok itu segera mengambil alih tangan itu, kini telapak tangannya sudah menutupi dua tangan itu seolah ingin membungkus raga itu dengan seluruh cintanya.
Lama dua sejoli itu dalam posisi seperti itu, diam... hanya menikmati keintiman. Sayub terdengar deburan ombak yang pecah di bebatuan pinggir pantai. Sesekali Lewi menggerakkan kakinya sehingga ayunan itu terdorong menimbulkan gerakan pelan yang memanjakan.
Di alam sadar, lelaki itu tak tahan untuk tidak melakukan sesuatu terhadap gadisnya. Sesuatu yang selalu bermain di imajinasinya setiap membayangkan wajah gadisnya. Bibir itu mulai bergerak, ciuman beruntun di kepala, di rambut, di pipi kanan, berpindah ke tangan yang dia angkat mendekati bibirnya, bahkan kini bibir itu turun ke bagian leher sebelah kanan.
"Kakak... "
Kharis tak kuat menerima serangan bertubi-tubi, menggerakkan kepalanya menjauh.
"Jangan iseng gitu..."
Lewi tergelak. Dia merenggangkan pelukan, memiringkan kepala mencari wajah itu menikmati rona merah yang menjalar di kedua pipi gadisnya. Kharis yang bulu kuduknya meremang sesaat tadi melepaskan diri. Alarmnya berbunyi tak boleh larut dalam gejolak yang mulai membakar hasratnya. Lewi menatap gemas gadis yang sudah melangkah ke pagar depan.
"Sebentar lagi sunset... setelah itu baru kita pergi ya..."
Pungkasnya lebih dulu sebelum gadis itu mengajak pulang. Lewi belum ingin mengakhiri kebersamaan mereka. Berbulan-bulan merindu, beberapa jam berdua belum cukup untuk menuntaskan seluruh rindunya.
Lewi masuk ke rumah mengambil ponselnya, tak lama dia sudah ada di samping Kharis. Dia bersandar membelakangi laut, sementara Kharis tidak mengubah posisinya masih menghadap ke laut. Lewi mengambil satu foto selfie...
"Sweetheart... lihat sini...."
Kemudian satu foto lagi kepalanya dia geser dekat kepala Kharis dengan tangan dia rangkulkan ke bagian leher gadisnya...
Kini mereka berdiri sejajar bersandar di besi pagar, sama-sama memandang ke arah laut.
"Aku pernah lihat foto mama di pinggir pantai ini mungkin 30 tahun lalu saat masih mahasiswa. Tepatnya di ujung jalan ini... sebelum direklamasi dan berubah jadi kawasan bisnis, Sekarang hamparan pasirnya berganti tembok-tembok dan batu-batu besar penahan ombak..."
"Oh ya... jadi tempat kita berdiri ini hasil reklamasi ya?"
"Iya... menurut mama bibir pantai yang di jalan utama itu."
"Aku kira keluarga kalian bukan asli daerah sini..."
"Iya memang, sama-sama dari kota P tapi ketemunya di sini saat kuliah. Waktu awal menikah sempat pulang ke P... eh papa di tugaskan di kantor yang sekarang, akhirnya mama ikut pindah ke sini. Kami anak-anak lahir di sini semua..."
Terdiam sejenak, di ujung cakrawala terlihat gradasi warna sunset mulai terbentuk.
"Riris... kamu sayang aku kan?"
"Hahh... kenapa pertanyaannya seperti itu...?"
"Aku pengen tahu..."
Lewi memegang pundak Kharis dan memutar pelan tubuh itu sehingga mereka saling berhadapan sekarang.
"Aku ingin memastikan... kamu tidak akan pergi meninggalkan aku lagi..."
Tatapan saling bertaut, Kharis melihat sekilas kesedihan di mata itu...
"Aku... aku tidak akan pergi lagi, aku juga sedih dan tersiksa dengan keputusan itu... maafkan aku ya..."
Lewi meraih pundak itu lagi, sudut matanya menangkap perubahan warna langit, dia membawa tubuh gadis itu kembali menghadap pantai dan tetap dalam rangkulannya. Keduanya menikmati kemilau senja yang menghentar mentari kembali ke peraduannya, dengan janji hati untuk tetap bersama.
"Ayo kakak... kita pulang sebelum mama ngamuk."
"Masa sih... "
"Iya... belum tau kalau mama keluar taringnya..."
"Mama kamu orangnya hangat kok... welcome banget sama aku... malah awal-awal lebih ramah tante Melissa dari pada kamu, hehehe..."
"Ihhh... kakak"
"Hehehe... bentar ya aku ganti baju dulu..."
Di perjalanan tangan Lewi tak berhenti menjawil pipi, mengusap kepala, menggenggam tangan sampai akhirnya Kharis protes karena nggak bisa duduk tenang. Lewi hanya tergelak menanggapi. Terlihat sekali ekspresi senang Lewi melewati waktu-waktu berdua.
"Sejak kapan suka aku, Riris...?"
"Hahh? Eh... sejak pertama lihat kakak main basket." Kharis menjawab malu.
"Aku tahu... aku suka perhatiin ada seseorang di balik gordyn jendela..."
"Hahh... kakak tahu itu?" Kharis semakin malu.
Lewi tergelak dan menjadi gemas mendapati muka gadisnya yang seperti kucing ketangkap basah, menepikan mobil kemudian melancarkan serangan lagi di seluruh wajah yang memerah itu.
"Kakak... kita udah terlambat... ihhh"
Seperti ini ternyata jadi pacarnya Lewi. Haduuhh...
Mobil kembali bergerak. Lewi menghentikan tawanya dan menormalkan suaranya tapi meneruskan menggoda gadisnya.
"Kenapa jatuh cinta sama aku Ris..."
"Aku suka senyum kakak, mengingatkan aku pada seseorang..." Kharis menjawab pelan.
"Siapa...?"
"Ada... nanti aku kenalin..."
"Laki-laki??"
Nada mulai berubah, niat untuk menggoda perlahan surut.
"Iya...."
Deg... Galau mulai menjalar di hati. Apa gadisnya punya seseorang yang lain di hati selain dirinya?? Pertanyaan itu datang mengganggu.
"Seseorang yang penting ya...?" Lewi berusaha setenang mungkin melontarkan pertanyaan ingin mengetahui lebih banyak.
"Iya... nggak akan tergantikan. Sama seperti kakak dia juga suka basket..."
Hahh? Jadi... dia suka aku karena aku mirip seseorang? Begitukah?
Sore telah berganti menjadi malam, sore yang manis berganti malam pekat seperti hatinya sekarang. Mobil sudah memasuki kompleks rumah Kharis, sudah ada beberapa kendaraan terparkir rapi di sisi jalan. Mereka berdua turun. Lewi berusaha untuk tidak terbawa emosi, dia akan bertemu banyak orang di sini, mungkin salah satunya orang yang penting buat Kharis itu... dia harus siap mental. Rasa datang silih berganti...
¤¤¤
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca karya pertamaku... masih memohon dukungannya yaaa...
¤¤¤
.
⛹️♀️⛹️♂️⛹️♀️
maka kemungkinan M cuma dua, Makassar atau Medan. tp lebih condong k Makassar sih
Sungguh cerita novel yg ringan tdk terlalu berbelit belit aqu suka kak..🤗🤗😘😘😘😘😘😘