Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Di ujung meja, Murong Chen yang baru saja selesai merapikan tumpukan gulungan data terakhir bergegas mendekat. Wajahnya tampak lelah namun jauh lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Ia membungkuk hormat kepada Jiang Yui, meski sisa-sisa rasa gengsinya masih terlihat jelas di sudut bibirnya.
"Yang Mulia..." panggil Murong Chen ragu-ragu. "Laporan arsip harian Sektor Galaksi Utara sudah selesai kuperiksa.
Apakah... apakah aku boleh mengajukan cuti satu hari besok? Kakiku pegal-pegal karena harus bolak-balik mengantar surat cinta untuk para dewa bintang."
Jiang Yui menatap sepupunya itu dari atas ke bawah, lalu tertawa pelan.
"Cuti? Wah, rupanya mental budak korporatmu sudah mulai terbentuk dengan baik, Murong Chen. Baiklah, kuizinkan kau libur sehari. Tapi ingat, jangan coba-coba kabur ke dimensi lain, atau kutulis namamu di daftar hitam biro jodoh seumur hidup."
Murong Chen menelan ludah, buru-buru menggelengkan kepala.
"T-tidak, Yang Mulia! Ampun! Aku tidak berani kabur lagi! Kalau jomblo seumur hidup di bawah pengawasanmu, itu hukuman yang jauh lebih menyeramkan daripada kematian!"
Gelak tawa kembali meledak di antara mereka.
Suasana kekeluargaan yang hangat itu seolah menghapus seluruh jejak pertempuran dahsyat dan ketegangan kosmik di masa lalu.
Bai Ling, yang sejak tadi duduk tenang di samping Jiang Yui, meraih teko giok dan menuangkan teh segar ke dalam cangkir sang pangeran. Ia menatap Jiang Yui dengan sorot mata lembut yang penuh makna.
"Kau benar-benar tidak merindukan hari-hari saat kita bertarung menembus batas dimensi, Jiang Yui?" tanya Bai Ling pelan, suaranya terdengar begitu merdu di tengah keheningan malam galaksi.
Jiang Yui menoleh, menatap wajah Bai Ling yang disinari pendar lembut cahaya bintang. Ia tersenyum hangat, lalu menggenggam jemari Bai Ling di atas meja dengan lembut.
"Bertarung melawan sistem kosmik dan dewa angkuh memang cukup seru untuk mengisi waktu luang, Bai Ling," jawab Jiang Yui tulus.
"Tapi tidak ada satu pun pertarungan itu yang sebanding dengan ketenangan saat aku bisa duduk di sini, menyesap teh bersama orang-orang yang paling berharga bagiku."
Bai Ling tersenyum tipis, rona merah tipis tampak jelas menghiasi pipinya yang dingin.
"Kau selalu pandai merangkai kata, Pangeran."
"Bukannya merangkai kata, tapi menyampaikan isi hati yang paling jujur," balas Jiang Yui tertawa ringan.
Tetua Lu, yang duduk di ujung meja sambil mengelus janggut putihnya, ikut tersenyum bijak menyaksikan pemandangan tersebut.
Ia mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi, mengajak seluruh orang di meja itu untuk bersulang.
"Kalau begitu," seru Tetua Lu lantang penuh semangat,
"mari kita angkat cangkir kita! Untuk dunia persilatan yang damai, untuk para dewa yang akhirnya tidak lagi jomblo, dan tentu saja... untuk Yang Mulia Jiang Yui, sang Makcomblang Agung penguasa takdir abadi!"
"Untuk Yang Mulia!" seru Liu Tian, Nona Mei, Murong Chen, dan Bai Ling serempak.
Clink!
Suara benturan cangkir giok berpadu merdu dengan desau angin kosmik malam itu.
Di bawah naungan galaksi yang membentang luas tanpa batas, kisah sang mantan perjaka tua asal Kota Qing resmi menjadi legenda abadi, sebuah bukti abadi bahwa dengan sedikit humor, kesabaran, dan cinta yang tulus, bahkan kutukan paling berat di alam semesta pun bisa diubah menjadi awal dari kebahagiaan sejati.
Tahun demi tahun berlalu sejak malam perayaan besar di Istana Sembilan Langit. Sektor kosmik kini berjalan begitu teratur, damai, dan yang paling penting tingkat kesepian di seluruh galaksi berada di titik nol mutlak.
Di Kota Qing, dunia persilatan kembali pada ritme hidupnya yang tenang dan damai. Tidak ada lagi monster dimensi yang mengamuk, tidak ada lagi sistem kutukan yang menakutkan, dan tidak ada lagi surat panggilan dari para dewa tua.
Kota kecil itu kini menjelma menjadi destinasi wisata paling romantis di seluruh daratan, tempat di mana para kultivator muda dari berbagai sekte sering berkunjung bukan untuk mencari naskah jurus pedang tingkat tinggi, melainkan untuk mencicipi teh legendaris dan meminta restu jodoh.
Di sudut paling asri di kota tersebut, berdiri sebuah kedai teh sederhana beratap kayu jati tua yang dinamai "Paviliun Damai".
Pagi itu, mentari bersinar hangat menembus rimbunnya dedaunan.
Di salah satu meja dekat jendela luar, seorang pria paruh baya berwajah awet muda dengan jubah putih bersih tampak sedang asyik meracik daun teh hijau di dalam teko tanah liat.
Di seberangnya, seorang wanita berparas jelita berambut keperakan sedang membaca gulungan catatan keuangan kecil dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
Kring...
Suara lonceng kecil di pintu kedai berbunyi pelan. Seorang pemuda berpakaian rapi dengan jubah perak melangkah masuk dengan napas terengah-engah, membawa setumpuk laporan tebal di tangannya.
"Paman Jiang! Bibi Bai!" seru pemuda itu dengan nada setengah mengeluh.
"Laporan dari cabang galaksi barat sudah datang lagi! Dewa Bintang Utara protes karena jadwal kencannya diundur dua jam gara-gara badai nebula!"
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧