Marsya Arcelia Dealova, gadis cantik mahasiswi tingkat akhir yang dijodohkan dengan laki-laki pilihan dua keluarga.
Yang mana, calon suaminya itu adalah sahabat dari pacarnya.
Bagaimana Marsya akan menjani pernikahan itu? Mampukah dia berdiri diantara dua laki-laki, suami dan pacarnya?
Selamat datang di cerita ketiga ku, doain ya semoga cerita ini nggak gantung seperti yang udah udah😄
Dukung aku yaa
Selamat membaca~~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah NH2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa Ini?
Sudah dua puluh menit berlalu Marsya dan Kyle berada ditoko perhiasan, namun keduanya belum menemukan cincin yang cocok untuk pernikahan mereka. Bagaimana tidak, Kyle seperti membawa boneka bersamanya. Sejak tadi, bahkan sejak diperjalanan, Marsya hanya diam seribu bahasa. Marsya seakan bisu, tatapannya pun terasa kosong. Tidak peduli betapa indahnya jajaran perhiasan bertahtakan batu berlian berbagai warna, yang Marsya lakukan hanya melihat-lihat tanpa memilih.
Kyle perlahan kehilangan kesabaran, dia jengah melihat Marsya yang hanya berjalan kesana-kemari tanpa mengatakan apapun. Padahal, karyawan toko berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dengan membantu Marsya menentukan pilihannya. Namun tetap saja, pikiran Marsya tidak berada disana, dia masih memikirkan Erik hingga dia mengabaikan semua orang yang ada disana.
Diposisinya, Kyle terlihat menarik nafas panjang dengan mata terpejam. Dia hampiri Marsya dan memegang kuat lengannya, membuat Marsya terkejut dan gelagapan. Tatapan mata Kyle yang terasa intens, serta rahangnya yang mengeras, membuat Marsya ketakutan.
"Kalo lo nggak suka ada disini, kita pulang" Bisik Kyle tepat ditelinga Marsya. Mendengar itu, Marsya sontak menggeleng-gelengkan kepalanya
"Ja-jangan, kita belum pilih cincin" Jawab Marsya terbata-bata,
"Gimana mau pilih kalo lo diam aja dari tadi?"
"Maaf", Marsya tertunduk lesu, dia coba meraih tangan Kyle, berharap Kyle sedikit meredakan amarahnya.
"Kyle, bantu aku pilih cincin ya, cincin kita"
Waktu yang dibutuhkan mereka memilih cincin tidak lama, tidak kurang dari sepuluh menit. Sekarang, sepasang cincin indah dan elegan sudah menjadi milik mereka, Kyle membawa kotak berisi cincin itu dengan paper bag ditangannya, tangan lainnya dia gunakan untuk menuntun Marsya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka.
"Kyle, gimana kalo kita pisah disini aja?" Minta Marsya dengan hati-hati, dia takut laki-laki ini akan marah lagi
"Maksudnya?"
"Kamu pulang duluan, aku mau kerumah Erik"
Mendengar permintaan Marsya, Kyle diam sejenak.
"Gue temenin" Ucap Kyle tanpa basa-basi dan langsung mempersilahkan Marsya masuk kedalam mobilnya. Kyle bahkan tidak mau mendengar penolakan Marsya. Meski gadis itu tidak bersedia ditemani olehnya, Kyle tetap melajukan mobilnya menuju rumah sahabatnya itu. Marsya merasa sedikit takut, bagaimana mungkin Kyle menemaninya kerumah Erik? Apa yang akan Erik katakan jika dia melihatnya datang bersama Kyle?
Perjalanan menuju rumah Erik cukup memakan waktu lama. Dan selama perjalanan itu, Marsya terus berusaha menghubungi Erik yang sejak ke atmarin belum juga menunjukkan keberadaannya. Entah apa yang sedang dilakukan Erik dan dimana kekasihnya itu berada, Marsya hanya bisa berusaha berpikir jernih, berpikir positif bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tinggal sedikit lagi mereka tiba dirumah Erik. Keduanya melihat sebuah taksi berhenti disana. Tidak lama, Erik keluar dari rumahnya, membuat Marsya tidak sabar untuk turun setelah Kyle menghentikan mobilnya. Marsya berlari, memanggil Erik sebelum memeluknya sangat erat. Sementara didalam mobil, Kyle merasa kesal, tangannya mencengkram kemudi cukup kuat saat melihat Marsya dan Erik berpelukan. Entah perasaan apa yang muncul saat ini, yang jelas, ingin sekali dia menarik Marsya dari pelukan Erik sekarang juga.
Brak, pintu mobil ditutup kencang oleh Kyle. Mendengar suara itu, Erik melepas pelukannya. Di detik itu Erik baru menyadari bahwa Marsya datang bersama seseorang, dia lah Kyle, sahabatnya, yang terlihat berdiri dan bersandar pada mobilnya sambil memperhatikan mereka.
"Sya, kamu datang sama Kyle?" Pertanyaan Erik membuat Marsya panik. Dan ini lah yang Marsya takutkan selama perjalanan tadi. Mau tidak mau Marsya pun harus mengatakannya.
"Iya"
"Kok bisa kamu sama dia? Kalian jalan bareng?"
"Eum, iya, aku-"
"Rik, ayo berangkat" Sebuah suara terdengar dari dalam rumah. Suara yang memotong ucapan Marsya saat itu juga. Suara tinggi dan melengking seperti suara perempuan pada umumnya. Ya, suara perempuan. Suara itu membuat Marsya, Erik dan Kyle kompak menoleh kearah dalam
Sosok perempuan dengan tas jinjing ditangannya, keluar dan langsung menghampiri Erik. Perempuan itu bahkan menyingkirkan Marsya dari sisi Erik, menggantikan posisi Marsya disisinya.
"Ayo, ibu udah nunggu" Ucap perempuan itu pada Erik. Dan tanpa ragu, tangannya turut menggandeng tangan Erik tanpa permisi.
"Erik, kamu mau kemana?" Tanya Marsya pada Erik,
"Sya, maaf, aku harus pulang kerumah ibu. Ibu mendadak sakit, ibu minta aku pulang" Jawab Erik, dia lepaskan genggaman dari perempuan itu untuk menghampiri Marsya.
"Maaf kalo aku udah bikin kamu khawatir" Ucap Erik sambil mengusap kepala Marsya,
"Aku harus berangkat sekarang. Nanti aku telfon, ya" Ucapan Erik dia akhiri dengan satu kecupan di dahi Marsya sebelum masuk kedalam taksi yang sudah menunggunya.
Tidak, jangan begini. Bukan ini yang Marsya inginkan. Apa maksud dari semuanya? Setelah hampir satu hari menghilang tanpa kabar, kini Erik harus pergi meninggalkannya? Bahkan Marsya belum mendapat penjelasan apapun dari kekasihnya itu. Dan mengenai perempuan yang pergi bersamanya, siapa dia? Mengapa mereka terlihat cukup dekat? Semua pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, taksi yang ditumpangi Erik sudah menjauh dan menghilang.
Sepeninggal Erik, kedua tangan Marsya saling mengepal, dia menahan air matanya yang hampir jatuh. Jelas Marsya tidak terima dengan apa yang baru saja terjadi, dia tidak merasa puas. Kedatangannya tidak berbuah jawaban apa pun dari kekasihnya itu, Marsya merasa kesal dan kecewa. Dan melihat kondisi Marsya sekarang, membuat Kyle menghampiri dan mengulurkan tangannya dengan niat membawa Marsya pergi dari tempat itu. Namun, uluran tangan Kyle diabaikan, Marsya justru memeluknya. Isak tangisnya mulai terdengar, kedua tangannya pun mencengkram jaket yang dipakai Kyle.
"Kyle...sebenarnya ada apa...kenapa jadi begini"
Tidak tahan melihat Marsya menangis, Kyle turut membalas pelukannya, begitu erat dan dalam. Sesaat Kyle menunduk, mencium puncak kepala Marsya penuh sayang, tidak tega rasanya melihat Marsya menangis seperti ini.
"Kita pulang" Ucap Kyle saat membantu Marsya menghapus air matanya, dia genggam tangan itu dan membawanya pergi dari sana.
***
Malam itu, Marsya tertidur lelap dipangkuan sang mama setelah lelah menangisi sikap Erik hari ini. Sedangkan Hendry sang papa, dia merasa heran dengan puterinya yang begitu mencintai Erik, laki-laki yang sejak awal tidak pernah dia sukai kehadirannya. Dan kejadian hari ini membuat Hendry semakin yakin bahwa Marsya harus segera mengakhiri hubungannya dengan Erik dan memulai hidup baru bersama Kyle, calon menantu andalannya.
Sepeninggal Hendry dari kamar Marsya, Hendry kembali menghampiri Kyle yang masih duduk diruang keluarga. Kyle masih terlihat asik bermain play station yang sengaja Hendry beli untuk bermain dengannya. Ya, Hendry merasa senang karena sebentar lagi dia akan memiliki anak laki-laki alias menantu yang akan menjadi teman bermainnya dirumah.
"Kyle, apa kamu bisa bikin Marsya putus sama pacarnya itu?"
Pertanyaan Hendry membuat Kyle menghentikan kegiatannya. Pertanyaan yang diajukan secara tiba-tiba membuat Kyle bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya, Kyle sendiri tidak tahu bagaimana membuat Marsya dan Erik berpisah. Bahkan Kyle sendiri tidak yakin Marsya akan mengakhiri hubungannya dengan Erik meski dia sudah menjadi istrinya nanti.
Kyle sedikit tidak percaya diri, rasanya sulit membuat Marsya putus dengan Erik jika melihat begitu besarnya cinta dan usaha yang selalu Marsya lakukan untuk Erik.
...••••...
to be continued
Hay hayy bab 3 is here~~~
Gimana bab kali ini? Makin seru nggak?
Seperti biasaaa jangan lupa klik love dan favorite biar gak ketinggalan kelanjutannya yaaaa
Terus dukung akuuu terimakasih banyak💙💙💙