NovelToon NovelToon
Mahkota Kedua Adelia

Mahkota Kedua Adelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan Mulia Tuan Faris

Petugas kasir mengangguk dengan wajah pucat. Tangannya yang gemetar buru-buru menerima kartu hitam tersebut dan memprosesnya di mesin EDC.

"B-baik, Pak Faris. Segera kami pindahkan pasien ke ruang VVIP," jawab kasir itu gugup.

Adelia terpana. Ia menoleh perlahan ke arah pria tegap berjas abu-abu gelap yang berdiri di sampingnya. Pria itu, Faris Zayn El-Amin, pemilik utama jaringan rumah sakit tersebut menatap Adelia dengan raut wajah tenang dan matanya yang teduh namun memancarkan wibawa kuat.

"Pak... maaf," panggil Adelia dengan suara bergetar, berusaha menetralkan rasa terkejutnya.

"Bapak nggak perlu melakukan ini. Saya tidak kenal dengan Bapak. Tujuh juta lima ratus ribu itu jumlah yang sangat besar."

Rayhan memutar tubuhnya menghadap Adelia. Senyum tipis yang sangat santun terukir di bibirnya.

"Anak Ibu butuh pertolongan medis secepatnya. Nyawa manusia tidak bisa ditakar dengan lembaran rupiah atau administrasi, Bu".

Adelia mengusap sisa air mata di pipinya. "Tapi saya merasa sangat sungkan, Pak. Saya janji... beri saya waktu beberapa minggu, saya pasti akan membayar lunas seluruh biaya bantuan Bapak ini dari hasil jahitan saya."

"Jahitan?" Rayhan mengernyitkan alisnya tertarik, mengingat-ingat sekilas informasi dari rekannya, Maya, mengenai perancang berbakat yang belakangan sering dibicarakan.

"Ibu Adelia yang merancang gaun milik Bu Maya,bukan?"

Adelia mengangguk pelan. "Iya, benar saya sendiri Pak."

Faris terkekeh halus, sebuah tawa rendah yang seksi. "Kalau begitu, kita tidak perlu bicara soal utang piutang. Kebetulan sekali, holding perusahaan saya sedang mencari perancang untuk memperbarui seragam khusus para staf eksekutif dan manajerial kami. Daripada Ibu membayar uang tunai, bagaimana kalau Ibu melunasinya dengan merancang seragam kantor kami?"

Adelia menatap Faris tak percaya. Kenzie yang berdiri di belakang ibunya sampai menahan napas mendengar tawaran berharga tersebut.

"Bapak serius?" bisik Adelia memastikan. "Pesanan seragam eksekutif itu proyek besar, Pak."

"Saya sangat serius," tegas Faris mantap. "Saya percaya pada kualitas karya Ibu. Sekarang, fokuslah mendampingi putri Ibu di kamar perawatan. Soal detail seragam, kita bicarakan setelah anak Ibu pulih."

Tiga hari kemudian, suasana di kamar perawatan VVIP terasa hangat dan terang. Sinar matahari pagi menerobos kaca jendela, menerangi vas bunga mawar putih di atas meja makan.

Kayla duduk bersandar di atas ranjang medis dengan selang infus yang sudah dilepas dari tangannya. Wajahnya kembali segar dan memancarkan rona merah alami.

Pintu kamar ketuk dua kali sebelum terbuka pelan. Faris melangkah masuk membawakan sebakul buah-buahan segar dan sebuah boneka beruang berukuran sedang.

"Selamat pagi," panggil Faris ramah.

"Om Faris!" panggil Kayla gembira, matanya berbinar terang. "Lihat Om, Kayla sudah bisa makan bubur sendiri hari ini!"

Faris mendekati ranjang, meletakkan buah dan boneka di samping Kayla lalu mengusap lembut rambut gadis kecil itu. "Wah, hebat sekali,Liat om bawa Boneka buat pasien paling jagoan di rumah sakit ini."

"Terima kasih banyak ya, Om," ucap Kayla tulus seraya memeluk boneka itu erat-erat. Ia menoleh pada ibunya yang sedang menyiapkan teh di meja. "Ibu, Om Faris baik banget ya. beda banget sama... Papa."

Adelia tersenyum tipis, mengusap bahu putrinya pelan. "Kayla, nggak boleh membanding-bandingkan begitu, Nak."

"Tapi memang beneran beda, Bu," timpal Kenzie yang baru masuk membawa berkas resep dokter. "Om Faris sangat baik . Kenzie senang kalau Ibu ketemu orang baik seperti Om Faris."

Faris hanya tersenyum rendah hati menanggapi pujian jujur anak-anak Adelia. "Saya hanya menjalankan kewajiban sesama manusia. Dokter bilang Kayla sudah boleh pulang sore ini. Mobil kantor saya siap mengantar kalian bertiga sampai ke kontrakan."

"Terima kasih banyak, Pak Faris. Bapak sudah sangat banyak membantu keluarga kami," ujar Adelia penuh rasa hormat.

Sementara itu, di sebuah restoran steak elit di pusat kota, Arkananta duduk memotong dagingnya dengan gerakan kasar. Dasi merahnya miring, dan dahinya terus berkerut tajam. Di seberangnya, Clara sibuk mengoleskan lipstik sambil sesekali melirik layar telepon pintarnya.

Seorang pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis Arkananta menduduki kursi kosong di samping meja mereka.

"Eh, Arkan!" panggil rekan bisnisnya ramah. "Kemarin saya lihat mantan mu, Adelia, di Rumah Sakit Medika. Dia keluar dari ruang VVIP didampingi Pak Faris langsung, lho!"

Pisau di tangan Arkananta mendadak terhenti di atas piring porselen. "Pak Faris? Pemilik Aldebaran Group itu?"

"Iya! Malah katanya seluruh biaya rawat inap anakmu dilunasi total sama Pak Faris," lanjut temannya tanpa dosa. "Hebat ya mantan istrimu, bisa dekat dan diprioritaskan sama pengusaha kaliber atas seperti Pak Faris."

Wajah Arkananta seketika memerah padam. Dadanya mendadak terasa dihantam beban berat yang membakar. Rasa cemburu yang sangat tajam dan tidak beralasan tiba-tiba menyulut emosinya.

"Dasar nggak tau malu,Pasti wanita itu menjual cerita sedih buat memeras rasa kasihan Pak Faris!" sembur Arkananta kasar sambil melempar garpunya ke atas piring hingga berdenting nyaring.

"Lho, Mas Arkan kok malah emosi?" sela Clara heran, menghentikan aktivitas dandan-nya. "Bagus dong kalau anakmu dibayar rumah sakitnya sama orang lain? Uang kamu kan jadi tidak berkurang!"

"Kamu diam, Clara!" bentak Arkananta tinggi, berdiri dari kursinya hingga membentur meja.

"Adelia itu mantan istri saya! Dia membawa nama saya! Bagaimana bisa dia mendekati pria mapan lain begitu cepat setelah cerai dari saya?!"

Arkananta menyambar kunci mobil dan jasnya dari sandaran kursi, melangkah lebar keluar dari restoran tanpa menghiraukan Clara yang berteriak memanggilnya.

Dengan napas memburu dan pikiran yang dipenuhi emosi membakar, Arkananta mengendarai mobilnya menuju kawasan gang sempit tempat kontrakan kayu Adelia berada. Pria itu menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan utama gang, lalu berjalan cepat menembus lorong pemukiman padat.

Begitu sampai di depan pintu kayu kontrakan yang sederhana itu, Arkananta tidak mengetuk. Ia menggebrak pintu kayu itu dengan telapak tangannya hingga bergetar keras.

Brak! Brak! Brak!

"Adelia! Keluar kamu!" teriak Arkananta dengan suara menggelegar dari teras. "KELUAR SEKARANG!"

Pintu kayu terbuka pelan. Adelia berdiri di ambang pintu, menatap Arkananta dengan pandangan datar tanpa ada sedikit pun riak ketakutan di matanya.

"Ada apa lagi, Mas?" tanya Adelia dingin. "Ini sudah malam. Jangan buat keributan di sini."

Arkananta maju satu langkah, menunjuk wajah Adelia dengan telunjuknya yang gemetar oleh amarah. "Kamu tidak usah berakting suci di depan saya, Adelia! Dari mana kamu kenal Pak Faris, hah?! Kamu sengaja menjual kesesihan kamu dan anak-anak buat menggoda pria kaya raya itu, kan?!"

Adelia mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Suaranya terdengar makin tenang namun penuh penekanan. "Pak Faris membantuku karena dia punya nurani dan kemanusiaan,dua hal yang sama sekali tidak kamu miliki waktu aku meneleponmu menangis minta bantuan buat Kayla!"

"OOH,JADI SEKARANG KAMU MEMBELA DIA DI DEPAN SAYA?!" bentak Arkananta kian kalap. "Dengar ya, Adelia! Jangan pikir karena kamu dibantu pria kaya, kamu bisa berlagak setara sama saya! Kamu cuma wanita miskin yang suka menggoda pria lain!"

Adelia menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Arkananta.

"Urusanmu denganku sudah selesai sejak kertas perceraian itu kutandatangani,Mas," ucap Adelia dengan intonasi rendah yang sangat menohok. "Pergi dari sini sebelum warga memanggil polisi. Aku tidak punya waktu melayani rasa cemburumu yang tidak masuk akal ini."

Adelia berbalik dan berniat membanting pintu rumahnya. Namun, dengan cepat Arkananta menahan daun pintu kayu itu dengan telapak tangannya, menatap Adelia dengan tatapan liar dan penuh ancaman.

"Kamu pikir kamu bisa lepas begitu saja dari saya, Del?" bisik Arkananta tajam.

1
sunaryati jarum
Rasain Arkananta
sunaryati jarum
, Clara dasar orang iri sudah dalam sel ,masih tidak merasa salah
sunaryati jarum
Semoga toko barumu juga banjir pelanggan,Adel.Heran emak yang jalang itu Clara kok neriakin orang lain, sebagai jalang
sunaryati jarum
Memangnya apa yang kau berikan pada istri dan anak -anakmu Arkananta.Mereka kamu usir, anakmu kamu menggelar pesta.Setelah kamu jatuh baru ingat mereka
sunaryati jarum
Selamat menempati rumah barumu Adel
falea sezi
laki g tau diri🤣
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Selamat Adelia pemeran busana kamu sukses
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤣 itu wanita pilihan kamu, Arkananta.Wanita yang kau puja hingga menelantarkan anak istrimu,bahkan saat putramu dirawat di rumah sakit kamu malah pesta dengan selingkuhan kamu itu.Terima dan nikmati hasil keputusan kamu.
sunaryati jarum
Sudah punya anak remaja tapi Yuri masih muda dan cantik,mungkin dulu nikah muda ,ya.
sunaryati jarum
Istrimu Clara yang kau bela mati- matian itu yang menjual ke perusahaan lain demi gaya hidupnya.
sunaryati jarum
Walau bertolak belakang dari kemanusiaan tindakan kalian sudah benar.Apalagi masih mengungkit tentang balas budi.Istri dan anak itu wajar di rumah suami harus bukan hutang budi.
sunaryati jarum
Selamat Yuri semoga makin berkembang
sunaryati jarum
Sifat iri dengki yang direalisasikan dengan merusak barang milik orang lain harus diganti berlipat ganda.
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel
ginevra
kamu ngak ingat ya habis bentak2 anak-anak kamu dan memperlakukan ibunya kasar di depan matanya. begitukah kamu masih mau dipanggil ayah?
Pencari Cerita
baru sebulan udh berasa kan Arkan, udh bagus adelia yang setia.malah cari mafia😄
iorlif
bakalan cepat nih cerai mereka, terus menyesal arkananta menyesal karena menceraikan Adelia
iorlif
apakah may bakal berkerjasama dengan Adelia gw harap sihh iya apa mungkin may adalah atasan mantan suami nya
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
yang bertingkah biasany malah lebih emosian. 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!