NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Pernikahan

“Apa harus besok, Bu?” tanya Arga. “Terus bagaimana dengan pekerjaanku? Apa tidak bisa kita percayakan saja kepada orang-orang yang berkompeten untuk mengurus semua persiapan acara?”

Ia duduk di sofa yang sama dengan ibunya. Kepalanya tersandar pada sandaran sofa, sementara tatapannya mengarah ke langit-langit.

Arga tidak pernah membayangkan hidupnya akan dipenuhi perjalanan bolak-balik antara Jakarta dan Bandung. Awalnya, ia mengira persiapan pernikahan itu akan berjalan perlahan dan tidak perlu terlalu banyak melibatkan dirinya. Namun, kedua keluarga ternyata sudah memiliki banyak rencana yang ingin segera diwujudkan.

“Ya, enggak bisa begitu, dong, Ga. Kehadiran kamu di sana menunjukkan keseriusan kamu kepada Alya. Lagi pula, perusahaan masih Ayah yang urus,” jawab ibunya.

Arga mengembuskan napas berat. Sungguh, keputusan untuk menerima perjodohan itu justru membuatnya semakin sulit bernapas.

“Baiklah, besok aku ke sana.”

Arga bangkit dari sofa, lalu berpamitan sebelum melangkah keluar dari rumah ibunya. Malam ini, ia ingin menghabiskan waktu bersama Nadira sebanyak mungkin sebelum kembali disibukkan dengan berbagai persiapan pernikahan di Bandung.

⸻

Arga tiba di basement apartemen dan segera keluar dari mobil menuju lift. Sepanjang perjalanan pulang, ia berusaha menyingkirkan pikirannya tentang pernikahan itu. Malam ini, ia hanya ingin beristirahat dan menghabiskan waktu bersama Nadira.

Saat memasuki kamar, Arga mendapati istrinya sedang duduk di atas ranjang dengan mengenakan piyama.

Belum sempat Nadira bertanya, Arga sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membenamkan wajah di perutnya yang rata.

“Ada apa?” Nadira terkejut dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba manja seperti itu.

Ia menunduk, menatap Arga yang tidak mengatakan apa-apa. Jemarinya perlahan menyusup ke rambut laki-laki itu, mengusapnya dengan lembut.

“Capek, ya?” tanyanya pelan.

Arga hanya mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya. Kedua lengannya melingkari pinggang Nadira, seolah ingin tetap berada di sana sedikit lebih lama.

Nadira tidak lagi bertanya. Ia membiarkan suaminya beristirahat di pangkuannya sambil terus mengusap rambut Arga dengan lembut.

“Maaf,” kata Arga pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar Nadira. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat kepala dan beranjak duduk di samping istrinya. “Maaf semalam enggak bisa pulang,” ucapnya lagi.

Nadira tersenyum. “Kenapa harus minta maaf? Kamu menginap di rumah Ibu, kok. Enggak apa-apa.” Ia mengusap wajah Arga dengan lembut, kemudian merapikan rambut laki-laki itu yang sedikit berantakan.

Arga menatap lekat wajah cantik di hadapannya. Tidak ada sedikit pun kecurigaan di mata Nadira. Perempuan itu masih mempercayainya seperti biasa, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hal itu justru membuat rasa bersalah Arga semakin besar.

Ia menarik tubuh Nadira ke dalam pelukannya, lalu memeluknya erat. Untuk sesaat, Arga ingin waktu berhenti. Ia tidak ingin memikirkan pernikahan yang semakin dekat, apalagi membayangkan kehidupan tanpa perempuan yang sangat dicintainya itu.

“Udah, sana mandi. Kamu bau banget. Aku jadi ikutan bau,” ujar Nadira sambil mendorong pelan dada suaminya.

Mendengar ucapan itu, Arga tertawa. Ia akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Nadira dengan senyum jahil.

“Benar juga. Sepertinya istriku ini harus mandi lagi. Temani aku mandi, ya.”

Belum sempat Nadira menjawab, Arga langsung membopong tubuhnya.

“Arga! Aku sudah mandi!” seru Nadira sambil melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.

Namun, Arga tetap berjalan menuju kamar mandi dengan tawa kecil. Nadira terus mengomel, sementara laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk menurunkannya.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi tertutup.

Hei, apa yang kalian tunggu? Untuk adegan selanjutnya, biarlah menjadi urusan mereka berdua. Kalian enggak perlu ikut-ikutan, ya! WKWKWK! 🤣🤣🤣

⸻

Setelah kejadian di kamar mandi yang tidak perlu kita bahas lebih jauh itu, Arga dan Nadira kini sudah berada di depan meja rias.

Nadira duduk di kursi, sedangkan Arga berdiri di belakangnya sambil memegang hair dryer. Laki-laki itu sibuk mengeringkan rambut panjang istrinya dengan telaten.

“Besok aku ada perjalanan dinas ke Bandung,” ujar Arga.

Nadira menatap suaminya melalui cermin di meja rias.

“Berapa lama?”

“Dua atau tiga hari. Mungkin lebih cepat kalau urusannya selesai.” Arga mengecup kepala Nadira, lalu mematikan hair dryer dan meletakkannya di atas meja. “Sudah selesai.”

Nadira tersenyum. Wajahnya sedikit memerah ketika mengingat kejadian mereka di kamar mandi beberapa saat sebelumnya.

“Kenapa wajahmu sudah seperti tomat?” goda Arga sambil menatap pantulan wajah istrinya.

Wajah Nadira semakin panas. Ia segera berdiri dari kursi.

“Sudah gila!” Nadira melangkah cepat menuju ranjang, kemudian menyusup ke balik selimut untuk melindungi dirinya dari tatapan jahil suaminya.

Arga tertawa keras melihat tingkah istrinya. Ia pun ikut naik ke ranjang dan masuk ke balik selimut.

Malam itu, Arga berusaha menikmati waktu yang tersisa bersama Nadira. Besok, ia akan memulai perjalanan yang semakin menyulitkan hidupnya sendiri.

⸻

Keesokan harinya, Arga berangkat menuju Bandung. Perjalanan itu terasa lebih panjang daripada biasanya, meskipun ia sudah beberapa kali mengunjungi kota tersebut untuk urusan pekerjaan.

Sesampainya di sana, ia langsung menemui keluarga Alya yang telah menunggunya untuk membicarakan persiapan pernikahan.

Pertemuan pertama dengan keluarga besar Alya berlangsung cukup lancar. Alya sendiri tidak banyak menuntut dalam urusan persiapan pernikahan. Ia lebih sering mendengarkan pendapat kedua orang tuanya, sesekali menyampaikan keinginan sederhana mengenai acara yang akan menjadi hari besarnya.

Ketika mereka mendapat kesempatan berbicara berdua, Alya menanyakan apakah Arga merasa keberatan dengan semua persiapan tersebut.

“Mas, kalau ada sesuatu yang tidak Mas sukai, bilang saja. Aku tidak ingin Mas merasa harus mengikuti semua keinginan keluargaku.”

Arga menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Semuanya baik-baik saja.”

Alya mengangguk, meskipun ia masih tampak ingin memastikan.

“Aku tahu kita belum terlalu mengenal satu sama lain. Jadi, kalau nanti ada hal yang membuat Mas tidak nyaman, aku harap kita bisa membicarakannya baik-baik.”

Arga menghargai sikap Alya. Perempuan itu tidak berusaha menuntut perhatian lebih darinya dan tidak pernah memaksanya menunjukkan perasaan yang memang belum ada.

“Aku mengerti,” jawab Arga.

Setelah itu, mereka kembali membicarakan beberapa keperluan pernikahan bersama keluarga. Arga berusaha menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, tetapi pikirannya tetap tertuju pada Nadira yang berada jauh di Jakarta.

Setiap kali ada kesempatan, ia membuka ponsel untuk membaca pesan dari istrinya. Kadang Nadira hanya mengirimkan foto makan malamnya. Kadang ia bercerita tentang kejadian kecil di kantor.

Hal-hal sederhana yang biasanya membuat Arga tersenyum kini justru menimbulkan rasa bersalah.

Ia sadar, semakin lama ia menyembunyikan semuanya, semakin besar pula luka yang mungkin akan diterima Nadira. Namun, ia masih belum sanggup mengambil keputusan yang berbeda.

⸻

Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang hampir sama. Arga pergi ke Bandung ketika ada keperluan pernikahan, lalu kembali ke Jakarta dan menjalani kehidupan bersama Nadira seolah tidak ada sesuatu yang berubah.

Ia mulai terbiasa menyusun alasan sebelum Nadira bertanya.

Ketika harus menginap di Bandung, ia mengatakan bahwa rapat dengan rekan bisnis berlangsung sampai malam. Ketika harus berangkat lagi beberapa hari kemudian, ia menjelaskan bahwa ada urusan yang belum selesai.

Nadira menerima semua penjelasan itu tanpa banyak pertanyaan. Sesekali, ia mengeluh karena mereka semakin jarang menghabiskan waktu bersama. Namun, ia tidak pernah menuduh Arga melakukan sesuatu yang buruk.

Suatu malam, setelah Arga kembali ke Jakarta, Nadira langsung memeluk pinggangnya ketika mereka sudah duduk di atas ranjang.

“Ah, akhirnya kamu ada di sini lagi. Rindu, tahu,” katanya sambil menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.

Arga yang sedang memeriksa ponsel langsung meletakkan benda itu di atas nakas kecil di samping ranjang. Ia kemudian merangkul Nadira.

“Maaf, ya. Sebentar lagi urusanku selesai. Setelah itu, aku akan lebih banyak di rumah.”

Nadira mengangkat kepala dan menatap Arga lekat-lekat. “Aku tahu kamu sedang sibuk. Aku cuma kangen saja.”

Arga mengecup puncak kepala istrinya berulang kali. “Aku juga kangen kamu.”

Kalimat itu bukan kebohongan. Arga memang merindukan Nadira setiap kali mereka berjauhan. Ia masih ingin pulang ke apartemen itu, masih ingin mendengar suara perempuan tersebut ketika mereka berbincang sebelum tidur, dan masih ingin menjalani kehidupan yang selama ini mereka bangun bersama.

Tetapi ada kebohongan lain yang terus ia pelihara, dan kerinduannya tidak menghapus kesalahan itu.

Pada malam tersebut, setelah Nadira tertidur di sampingnya, Arga kembali membuka kalender di ponselnya. Tanggal pernikahannya dengan Alya semakin dekat. Ia menatap tanggal itu lama sekali, lalu mematikan layar.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari bahwa tidak lama lagi ia harus berdiri di hadapan keluarga Alya dan mengucapkan ijab kabul. Semua orang akan menganggapnya sebagai laki-laki yang memulai kehidupan baru bersama istrinya.

Sementara di Jakarta, ada seorang perempuan yang sudah lebih dahulu menjadi istrinya dan masih percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya wanita dalam kehidupan Arga.

Arga berbalik menatap Nadira yang tidur dengan tenang. Tangannya bergerak pelan merapikan selimut yang menutupi tubuh perempuan itu.

“Maafkan aku,” bisiknya.

Nadira tidak mendengarnya.

Arga kembali membiarkan malam berlalu tanpa mengatakan kebenaran.

Hari pernikahan itu semakin dekat. Ia tahu kebohongan ini tidak mungkin disembunyikan selamanya, tetapi sampai saat itu tiba, Arga masih memilih mempertahankan semuanya dengan caranya sendiri.

Ia belum menyadari bahwa keputusan untuk diam tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Justru sebaliknya, setiap hari yang berlalu membuat jalan pulang menuju kejujuran semakin sulit ditemukan.

1
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!