NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Jerat Asmara Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rey Nanda

Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.

​Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.

​Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1: Pertemuan Di Balik Meja Kerja

Suara derak hujan deras yang menghempas kaca jendela di lantai empat puluh dua Aristha Tower tak mampu menyamarkan suasana mencekam di dalam ruangan itu. Di balik meja kerja berbahan kayu mahoni gelap, seorang pria duduk dengan postur tegap. Kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya tampak sempurna tanpa lipatan sedikit pun.

​Reynand Aristha. CEO Aristha Corp yang terkenal berdarah dingin, tak pernah memberi toleransi sekecil apa pun terhadap kesalahan.

​"Dua menit," ucap Reynand tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. Suaranya berat, dingin, dan penuh penekanan. "Kamu terlambat dua menit dari jadwal wawancara, Aira Anindita."

​Aira berdiri tegap di depan meja kerja luas itu. Meskipun napasnya sedikit terengah karena terpaksa berlari menaiki tangga darurat akibat salah satu lift mati, ekspresi wajahnya tetap tenang. Rambut hitamnya yang diikat rapi sedikit basah di bagian ujung, tetapi tatapan matanya tetap memancarkan keteguhan.

​"Saya minta maaf, Pak Reynand. Terjadi kendala teknis pada lift utama dan saya memilih menggunakan tangga darurat agar tidak membuang lebih banyak waktu Anda," jawab Aira dengan suara yang stabil, tidak bergetar sedikit pun meski aura intimidasi dari pria di depannya terasa begitu menekan.

​Reynand perlahan menutup map di hadapannya. Manik mata kelamnya yang tajam menatap Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Biasanya, calon sekretaris atau asisten pribadi yang ia wawancarai akan menunduk ketakutan atau sibuk memamerkan pesona untuk memikatnya. Namun, wanita di depannya ini berbeda. Tatapan Aira lurus, profesional, dan menantang.

​"Banyak orang yang beralasan saat gagal menjaga ketepatan waktu. Di perusahaan ini, alasan tidak memiliki nilai," ujar Reynand seraya bersandar pada kursi kulitnya. "Kamu tahu berapa banyak pelamar yang menginginkan posisi asisten pribadi saya?"

​"Saya tahu persis, Pak. Lebih dari seratus orang," sahut Aira lugas. "Tetapi saya juga tahu, dari seratus orang itu, tidak ada yang menguasai tiga bahasa asing sekaligus, berpengalaman menangani krisis audit keuangan di perusahaan sebelumnya, dan siap bekerja dua puluh empat jam tanpa mengeluh seperti yang saya cantumkan dalam draf resume saya."

​Sebelah alis Reynand terangkat tipis. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman sinis yang nyaris tak terlihat. Wanita ini tidak hanya percaya diri, tetapi juga mengerti cara menjual kemampuannya tanpa terlihat murahan.

​"Dua puluh empat jam?" Reynand bangkit dari duduknya. Langkah kakinya yang mantap terdengar bergaung di lantai marmer saat ia berjalan mendekati Aira. Pria itu berhenti tepat di hadapan Aira, membuat perbedaan tinggi badan mereka begitu kentara.

​Aira bisa merasakan aroma perfume bernuansa woody dan amber yang maskulin menguar dari tubuh Reynand. Tekanan emosional yang ditimbulkan oleh kehadiran pria itu sanggup membuat wanita mana pun bergemetar. Namun, Aira mengepalkan tangannya di samping gaun kerjanya, menahan diri agar tidak mundur satu langkah pun. Ibunya di rumah sakit membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar, dan posisi ini adalah satu-satunya harapan yang ia miliki.

​"Dunia saya penuh dengan tekanan, intrik, dan orang-orang yang berusaha menjatuhkan saya setiap detik," bisik Reynand dingin, menundukkan sedikit kepalanya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Jika kamu bekerja untuk saya, kamu tidak hanya menjual waktu, tetapi juga kesetiaanmu."

​"Kesetiaan saya tidak perlu diragukan, Pak Reynand. Selama hal itu tetap berada dalam jalur profesionalitas," jawab Aira mantap, menatap lurus ke dalam manik mata hitam yang dingin bagai es itu.

​Reynand menatap Aira selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Keheningan mencengkeram ruangan itu sampai akhirnya sang CEO berbalik dan kembali ke mejanya.

​"Mulai besok pukul delapan pagi tepat. Jika kamu terlambat satu detik saja, berkasmu akan langsung masuk ke tong sampah," kata Reynand dingin tanpa memandang Aira lagi.

​Aira menghela napas lega yang ditahannya sejak tadi. Ia membungkukkan badan dengan sopan. "Terima kasih atas kesempatannya, Pak Reynand. Saya tidak akan mengecewakan Anda."

​Aira berbalik dan melangkah keluar dari ruangan megah itu. Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, Reynand Aristha terus memperhatikan langkah kakinya hingga pintu kaca tebal itu tertutup rapat.

​Di mata Reynand, Aira Anindita hanyalah pion baru yang akan membantunya merapikan kekacauan di kantornya. Ia sama sekali tak menduga, wanita mandiri itu kelak akan menjadi sosok yang menjerat seluruh jalan hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!