"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Keesokan harinya, setelah piket kelas selesai, Juna berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi. Langit sore mulai berubah jingga, bayangan panjang dari gedung-gedung sekolah membentang di sepanjang trotoar yang ia lalui, sapu yang tadi ia pakai masih tergantung di tangannya sebelum akhirnya ia sandarkan ke tembok terdekat.
'Bully masih saja menyerang Kevin dan Gery,' batinnya, langkahnya pelan namun penuh pikiran yang berkecamuk. 'Semoga mereka baik-baik saja hari ini. Aku udah suruh mereka pulang bareng anak lain.'
"Mereka baik-baik aja, kok," sebuah suara tiba-tiba menyahut dari kegelapan di sudut lorong, membuat Juna terlonjak waspada, tubuhnya refleks mengambil posisi siaga. "Cuman celana dalamnya dijadiin bendera buat ngasih tahu di mana lu berada."
Kaisar Dirgantara melangkah keluar dari bayangan, bandana merahnya masih melilit di kepala, seringai khasnya terpampang jelas di wajahnya, langkahnya santai seolah sedang berjalan-jalan sore biasa, bukan mendatangi seseorang yang baru saja ia hajar dan permalukan dua hari lalu.
"Mustahil," Juna mendesis, matanya menyipit tajam. "Mereka nggak bakal berkhianat."
"Mustahil?" Kaisar Dirgantara tertawa keras, suaranya menggema di lorong sepi itu, memantul dari dinding ke dinding hingga terdengar berlipat ganda. "Bapak lu mustahil, kali. Gue aja kaget mereka langsung ngasih tahu tanpa mikir panjang sama sekali. Cukup gue todong sedikit aja pake pisau lipat, mereka langsung nunjuk lokasi lu."
Kata-kata itu menghantam sesuatu di dalam dada Juna, meski ia berusaha keras menjaga wajahnya tetap datar. Namun matanya sendiri tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan keterkejutan yang muncul sesaat.
"Pengikut lu itu," Kaisar Dirgantara melanjutkan, nada bicaranya berubah lebih rendah, lebih mengejek, "sama sekali nggak punya kesetiaan. Anjing liar yang selalu gue pukulin, begitu gue kasih makan sekali, langsung jinak ke gue, ngikutin ke mana pun gue pergi. Tapi pengikut lu, yang selalu lu lindungin mati-matian, lu obatin lukanya sendiri, malah berkhianat cuma gara-gara diancem dikit doang."
"Diam," Juna menggeram, kedua tangannya mengepal erat, buku-buku jarinya memutih menahan amarah yang mulai memuncak.
"Kenapa? Nggak suka denger kebenaran?" Kaisar Dirgantara menyeringai lebar, matanya berkilat penuh kesenangan melihat reaksi Juna yang mulai goyah. "Makanya, jangan terlalu percaya sama orang lemah. Mereka bakal ngejual lu di detik pertama keadaan jadi susah."
"Kamu sendiri gimana?" Juna balik bertanya, suaranya tetap tenang meski dadanya bergemuruh. "Anak buah lu sendiri, apa mereka setia karena mereka mau, atau karena mereka takut?"
Kaisar Dirgantara tertawa lagi, kali ini lebih pendek, lebih tajam. "Sama aja, hasilnya tetep sama. Mereka nurut. Nggak kayak lu, yang sibuk mikirin perasaan orang lain, giliran ditinggalin malah kaget sendiri."
"Setidaknya aku nggak perlu ngancem orang buat bikin mereka nurut," Juna membalas, nada bicaranya sengaja dibuat meremehkan.
"Belom aja," Kaisar Dirgantara menyeringai lebih lebar, matanya menyipit penuh ejekan. "Tunggu aja sampe lu punya kekuatan segini banyak, lu bakal ngerti kenapa ancaman itu lebih efektif dari basa-basi."
Tanpa peringatan lebih lanjut, Kaisar Dirgantara meraih sebatang galah besi yang tergeletak di dekat tumpukan sampah di sudut lorong, lalu langsung menyerang tanpa aba-aba, ayunannya cepat dan tidak terduga.
TRANG!!
Juna berhasil menghindar tipis, merasakan angin dari ayunan galah besi itu menyapu telinganya, cukup dekat hingga bulu kuduknya meremang. Kaisar Dirgantara tidak memberi jeda sedikit pun, kembali mengayunkan galah besi itu dari arah berlawanan, kali ini menyasar bagian pinggang Juna.
BRAKK!!
Juna kembali menghindar, namun kali ini ujung galah besi berhasil menyerempet bahunya, membuatnya terhuyung ke samping dan menabrak tumpukan kardus kosong yang berjejer di dinding lorong. Suara benturan itu memantul di sepanjang koridor sepi, disusul deru napas Juna yang semakin memburu.
Gaya bertarung Kaisar Dirgantara sama sekali berbeda dari siapa pun yang pernah Juna hadapi, tidak terikat teknik apa pun, memanfaatkan apa saja yang ada di sekitarnya dengan kecepatan dan kelicikan yang mengerikan. Setiap kali Juna mengira sudah membaca arah serangan, Kaisar Dirgantara sudah lebih dulu mengubah sudut dan senjatanya.
'Ini bukan pertarungan biasa,' batin Juna, mengatur napasnya cepat sambil menghindari ayunan demi ayunan yang datang tanpa pola. 'Dia bertarung kayak binatang liar yang nggak kenal aturan. Setiap barang di sekitarnya bisa jadi senjata, dan aku nggak bisa ngebaca dia semudah waktu ngelawan Ben.'