NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya

Ayden segera memasang topeng karismatiknya, menyambut uluran tangan sang kolega dengan mantap. "Terima kasih, Tuan Robert. Anda terlalu berlebihan memujinya. Aisyah memang selalu tahu bagaimana cara membuat malam ini terasa istimewa."

Robert tertawa renyah, lalu menoleh kembali kepada Aisyah dengan tatapan penuh kekaguman yang sedikit berlebihan. "Nyonya Ayden, Anda terlihat sangat memukau malam ini. Sungguh beruntung pria seperti Ayden bisa mendapatkan permata berharga seperti Anda di sisinya. Jika suatu saat Anda bosan dengan kesibukan dunia bisnis suami Anda, pintu galeri seni saya selalu terbuka lebar untuk wanita berkelas sepertimu."

Aisyah mengangguk sopan, meskipun suaranya terdengar dingin ketika menjawab. "Terima kasih atas sanjungannya, Tuan Robert. Suami saya sangat menghargai setiap karya seni, termasuk cara beliau memperlakukan barang-barang miliknya."

Kalimat terakhir yang diucapkan Aisyah mendadak membuat udara di sekitar mereka terasa membeku. Ayden menyipitkan mata, merasakan sengatan terselubung dari ucapan istrinya yang menyamakan diri sebagai barang milik pribadi.

Robert tampak sedikit kebingungan menangkap nada bicara Aisyah, namun ia memilih menutupinya dengan tawa canggung. "Haha, Anda wanita yang sangat unik, Nyonya. Kalau begitu, permisi sebentar, saya harus menyapa tamu penting di sebelah sana."

Begitu Robert berlalu menjauh, rahang Ayden mengeras seketika. Pria itu menundukkan sedikit kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Aisyah dengan gestur yang terlihat mesra di mata orang lain, namun terasa seperti ancaman mematikan dari jarak dekat.

"Apa maksud ucapanmu barusan di depan Robert, Aisyah?" desis Ayden tertahan, napasnya memburu menahan amarah yang mulai mendidih di dadanya. "Kau sengaja mempermalukanku?"

Aisyah menoleh perlahan, menatap manik mata suaminya yang menyala oleh kecemburuan dan amarah posesif yang pekat. "Mempermalukanmu? Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, Ayden. Bukankah statusku di rumahmu tidak lebih dari sekadar barang koleksi yang kau kurung di dalam sangkar emas?"

"Kau adalah istriku!" bentak Ayden pelan namun penuh penekanan, tangannya mencengkeram lengan Aisyah dengan cengkeraman yang mulai melukai kulit mulus wanita itu. "Dan pria tua tadi menatapmu dengan cara yang tidak kusukai! Jangan biarkan siapa pun memujimu seperti itu lagi!"

Aisyah sama sekali tidak meringis kesakitan. Ia justru menatap tangan Ayden yang mencengkeram lengannya dengan senyuman hampa. "Kenapa kau harus marah? Apakah seorang pemilik boneka merasa cemburu saat bonekanya dilirik oleh orang lain? Sayangnya, boneka ini tidak punya perasaan untuk membalas rasa cemburumu, Ayden."

"Cukup, Aisyah! Jangan teruskan!" ancam Ayden dengan suara serak, kilat matanya menatap tajam penuh frustrasi. "Mari kita pulang sekarang."

Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, Ayden langsung menarik lengan Aisyah dengan langkah lebar membelah kerumunan tamu undangan menuju pintu keluar ballroom. Beberapa pasang mata sempat melirik ke arah mereka dengan keheranan, namun kekuasaan dan aura intimidasi yang dipancarkan Ayden membuat siapapun mengurungkan niat untuk menegur.

Di dalam kabin mobil mewah yang melaju membelah jalanan ibu kota yang basah oleh sisa hujan, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruang kemudi. Ayden mencengkeram kemudi mobil begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara napasnya terdengar memburu di tengah temaram lampu jalanan kota.

Setelah beberapa menit terjebak dalam keheningan yang menyesakkan, Ayden akhirnya memecah suara dengan nada dingin yang bergetar hebat. "Kenapa kau selalu berusaha memancing amarahku, Aisyah? Apakah kau benar-benar ingin menguji seberapa jauh aku bisa kehilangan kendali?"

Aisyah yang duduk di kursi penumpang di sampingnya menoleh perlahan ke arah jendela luar, menatap pantulan bayangannya sendiri pada kaca mobil yang buram. "Aku tidak sedang memancing amarahmu, Ayden. Aku hanya mengatakan apa yang kurasakan. Hidup di sisimu di dalam rumah itu terasa jauh lebih melelahkan daripada kematian itu sendiri."

Mendengar kalimat itu, Ayden mendadak menginjak rem mobil secara mendadak di tepi jalan yang sepi, membuat ban berdecit nyaring di atas aspal basah. Pria itu langsung melepaskan sabuk pengamannya, membalikkan badan menghadap Aisyah, dan mencengkeram kedua pergelangan tangan istrinya dengan erat.

"Dengarkan aku baik-baik, Aisyah!" seru Ayden dengan suara lantang yang sarat akan keputusasaan dan amarah yang meluap-luap. "Kau boleh membenciku! Kau boleh menganggapku sebagai monster paling kejam di dunia ini! Tapi jangan pernah berani berkata bahwa kau ingin mati atau meninggalkan sisiku!"

Aisyah menundukkan pandangannya, menatap tangan Ayden yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan tatapan kosong tanpa rasa takut sedikit pun. "Lalu apa lagi yang tersisa dariku untuk kau ambil, Ayden? Kau merenggut perusahaan ayahku, kau merenggut kebahagiaanku, dan kau mengurung ragaku. Tidak ada lagi bagian dari diriku yang tersisa untuk diselamatkan."

"Aku mengambil semuanya karena aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya!" teriak Ayden frustrasi, air mata penyesalan dan kemarahan nyaris tumpah di pelupuk matanya. "Tapi semakin aku mencoba memilikimu, semakin aku merasa kehilangan dirimu! Apa yang harus kulakukan agar kau mau kembali bernyawa, Aisyah?!"

Aisyah perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan senyuman paling menyayat hati yang pernah ada di dunia ini. "Waktu tidak bisa diputar kembali, Ayden. Monster sejati tidak akan pernah sadar bahwa ia sedang menghancurkan dirinya sendiri sampai ia mendapati cermin di hadapannya telah pecah berkeping-keping."

Kalimat itu menghujam dada Ayden bagaikan hantaman palu godam berukuran besar. Pria itu tertegun membeku di tempatnya, mencengkeram pergelangan tangan istrinya dengan tangan yang perlahan-lahan kehilangan seluruh tenaga. Di dalam remang cahaya lampu jalanan malam itu, Ayden menyadari bahwa cengkeraman kekuasaan yang ia miliki justru menjadi belati paling tajam yang menusuk jantungnya sendiri dalam keheningan abadi.

Sebelum Ayden sempat membalas ucapan tajam itu, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas kelabu mendekati mereka sambil mengangkat gelas kristal berisi champagne. Senyuman lebar tersungging di wajah pria tersebut.

***

Pintu penthouse tertutup dengan bunyi klik mekanis yang berat. Setibanya di dalam ruang tamu yang remang, ketegangan di antara pasangan suami istri itu mendadak mencapai puncaknya, mengental tanpa suara teriakan namun terasa begitu mematikan.

"Duduk, Aisyah," ucap Ayden dingin, suaranya bergetar menahan gejolak amarah yang mendidih di dada.

Aisyah tetap berdiri tegak di dekat sofa beludru, menatap lurus ke arah suaminya dengan manik mata yang kosong. "Kenapa aku harus duduk? Bukankah pementasan sandiwara malam ini di hadapan para elit korporasi sudah selesai?"

"Jangan memancing kesabaranku malam ini, Aisyah!" sergah Ayden tajam, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka terpangkas habis. "Apa kau senang melihat pria tua tadi menatapmu dengan cara menjijikkan seperti itu?"

"Lalu apa urusannya denganku cara orang lain memandangku?" balas Aisyah datar, tanpa secercah pun rasa gentar. "Bukankah kau sendiri yang menyeretku ke jamuan itu untuk dijadikan boneka pameranmu?"

Ayden mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya memburu tak beraturan. "Aku suamimu! Dan aku tidak suka ada pria lain yang berani memujimu dengan cara murahan seperti itu!"

"Suami?" Aisyah terkekeh pelan, sebuah tawa hampa yang terdengar sangat menyayat hati. "Sejak kapan seorang algojo mengakui korbannya sebagai seorang istri? Kau hanya menganggapku sebagai barang rampasan perang yang berhasil kau kurung di sangkar emas ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!