Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Paman Haris
Pagi hari di kawasan perumahan elit itu biasanya diwarnai oleh kesunyian yang elegan dan teratur, namun ketenangan tersebut mendadak pecah oleh suara teriakan tertahan dan keributan dari arah gerbang utama. Di dalam kamar tidur utama, Aisyah yang sedang berdiri kaku di dekat jendela menoleh perlahan saat derap langkah berat para pengawal terdengar gaduh di halaman luar.
"Ada apa di luar, Ayden?" tanya Aisyah dengan nada datar, tanpa sedikit pun menoleh ke arah suaminya yang masih duduk di tepi ranjang.
Ayden menghentikan gesturnya saat hendak merapikan kancing kemejanya. Rahangnya mengeras seketika. "Bukan urusanmu, Aisyah. Tetaplah berada di dalam kamar."
"Suara itu... aku mengenalnya," lanjut Aisyah, suaranya tetap mengalun tenang namun memancarkan ketegasan yang menusuk. "Itu suara Paman Haris. Kenapa kau menyuruh orang-orangmu memperlakukannya secara kasar?"
Tanpa menunggu jawaban Ayden, Aisyah berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun, gerakan Ayden jauh lebih cepat. Pria itu berdiri dan langsung mencekal pergelangan tangan istrinya dengan cengkeraman yang tegas.
"Kubilang jangan keluar, Aisyah!" seru Ayden, suaranya meninggi dengan nada posesif yang pekat. "Pria tua itu datang ke sini hanya untuk memprovokasi keadaan. Dia tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga kita."
Aisyah perlahan menunduk, menatap tangan Ayden yang mencengkeram pergelangan tangannya, lalu mendongak menatap lurus mata suaminya tanpa secercah rasa takut. "Urusan rumah tangga? Kau menyebut penyekapan dan kebohongan ini sebagai rumah tangga, Ayden? Biarkan aku menemuinya."
"Tidak!" bentak Ayden, napasnya mulai memburu karena frustrasi. "Kau tidak akan pergi ke mana pun. Tetap di sini!"
Suara keributan di luar semakin mendekat hingga terdengar jelas menembus dinding kaca kediaman mewah tersebut. Paman Haris tampak berontak dalam cengkeraman dua orang pengawal bertubuh tegap tepat di area teras depan pintu masuk utama.
"Lepaskan aku! Bajingan! Panggil keponakanku keluar!" teriak Paman Haris dengan suara parau yang sarat akan kemarahan dan keputusasaan. "Ayden! Keluar kau! Jangan jadi pengecut di balik tembok-tembok mewah ini!"
Ayden melepaskan cengkeramannya dari tangan Aisyah dengan kasar, lalu melangkah cepat keluar kamar menuju ruang tamu utama. Aisyah mengekor di belakangnya dengan langkah yang sama sekali tidak menunjukkan kepanikan, melainkan sebuah kehampaan yang mengerikan.
Begitu Ayden membuka pintu utama, pemandangan Paman Haris yang terdorong kasar oleh pengawal langsung tersaji di hadapan mereka. Pria paruh baya itu tampak kusut, napasnya tersengal-sengal, dan matanya melotot tajam penuh kebencian begitu melihat sosok Ayden berdiri menjulang di ambang pintu.
"Paman Haris!" seru Aisyah, mencoba menerobos maju, namun Ayden dengan sigap merentangkan lengannya untuk menghalangi langkah istrinya.
"Jangan mendekat, Aisyah," bisik Ayden dingin. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Paman Haris dengan tatapan setajam silet. "Kau sudah berani melanggar batas, tua renta. Masuk ke wilayahku tanpa undangan adalah kesalahan besar yang bisa membawamu langsung ke penjara."
Paman Haris terbatuk kecil, lalu tertawa sinis di tengah napasnya yang memburu. "Penjara? Kau pikir aku takut ancamanmu, Ayden? Seluruh dunia harus tahu siapa sebenarnya monster yang bersembunyi di balik kekayaan palsu ini!"
"Jaga mulutmu!" sergah Ayden, rahangnya mengetat hingga otot di lehernya menonjol. "Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang keluargamu lakukan pada masa lalu."
"Keluargaku?" Paman Haris mendengkus keras, menunjuk tepat ke arah Ayden dengan jari yang bergetar hebat. "Ayahmu bunuh diri karena kebodohannya sendiri dalam mengelola keuangan perusahaan! Dan sekarang kau melampiaskan dendam busukmu itu kepada keponakanku yang tidak tahu apa-apa?!"
Aisyah tertegun sejenak di belakang punggung Ayden. Kalimat itu meluncur begitu telak, memperjelas setiap kepingan puzzle luka yang selama ini ia temukan di balik dokumen-dokumen rahasia.
"Cukup, Paman!" teriak Aisyah, akhirnya berhasil menyelip keluar dari sisi Ayden dan berdiri di dekat Paman Haris. "Jangan teruskan... semuanya sudah hancur. Percuma."
Paman Haris menatap Aisyah dengan pandangan penuh iba dan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. "Aisyah, nak... kau tidak boleh menyerah pada pria keji ini. Dia telah merusak hidupmu, dan dia tidak akan pernah puas sampai seluruh keturunan kita hancur tak bersisa."
"Aku tidak berniat menghancurkannya, Paman," sahut Ayden dengan suara rendah yang bergetar hebat, mencoba membela diri di hadapan wanita yang dicintainya. "Aku... aku hanya ingin keadilan."
"Keadilan macam apa yang kau renggut dengan cara merampas jiwa seseorang, Ayden?!" maki Paman Haris tanpa ampun. "Dendammu adalah racun yang membunuhmu secara perlahan! Dan kau akan melihat sendiri bagaimana kutukan dari ambisimu ini akan menghancurkanmu hingga menjadi debu!"
Ayden terdiam, belati kata-kata itu menghujam ulu hatinya tanpa bisa ia elak. Ia melirik sekilas ke arah Aisyah, berharap menemukan kilat kemarahan atau pembelaan di mata istrinya. Namun, yang ia dapati hanyalah kebisuan mutlak yang jauh lebih mematikan daripada lemparan ribuan pisau.
"Bawa orang tua ini keluar dari rumah saya sekarang juga!" perintah Ayden kepada para pengawalnya dengan suara serak yang hampir hilang. "Pastikan dia tidak pernah bisa mendekati tempat ini lagi!"
"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri!" geram Paman Haris saat kedua pengawal kembali mencengkeram lengannya secara paksa. Ia menoleh sekali lagi ke arah Aisyah sebelum tubuhnya digiring menjauh menuruni tangga utama. "Ingat kata-kataku, Ayden! Kau tidak akan pernah bahagia di atas penderitaan darah daging keluarga kami!"
Teriakan itu perlahan memudar seiring langkah Paman Haris yang diseret menjauh menuju gerbang luar. Suasana di teras mendadak kembali sunyi, menyisakan deru napas Ayden yang memburu dan hembusan angin pagi yang terasa begitu menusuk tulang.
Ayden perlahan membalikkan badannya, menatap Aisyah yang berdiri mematung di samping pintu masuk dengan pandangan kosong nan tajam. Tidak ada isak tangis, tidak ada protes, dan tidak ada lagi perdebatan sengit seperti hari-hari sebelumnya.
"Aisyah..." panggil Ayden dengan suara berbisik yang sarat akan permohonan. "Masuklah ke dalam. Udara di luar tidak baik untukmu."
Aisyah tidak segera bergerak. Ia menatap lurus menembus mata suaminya, mencari sisa-sisa kehangatan yang pernah ia jumpai di Galeri Nasional bertahun-tahun silam, namun yang ia temukan hanyalah reruntuhan abu dari sebuah pertempuran yang tidak dimenangkan oleh siapa pun.
"Apa yang kau tunggu lagi, Ayden?" tanya Aisyah datar, suaranya mengalun sangat ringan namun menghujam tajam. "Apakah Paman Haris belum cukup membuktikan bahwa di istana megah ini, kita berdua hanyalah dua ekor mayat hidup yang saling menyiksa?"
"Aku tidak bermaksud memperlakukannya seperti itu..." bela Ayden, melangkah mendekat dan mencoba meraih bahu istrinya.
Aisyah menepis tangan Ayden dengan gerakan yang sangat tenang namun tegas. "Kau telah mendapatkan segalanya, Ayden. Perusahaan ayahku hancur, keluargaku musnah, dan aku berada di dalam kurunganmu. Kenapa wajahmu terlihat begitu ketakutan?"
Ayden terhuyung mundur selangkah, napasnya semakin berantakan. "Karena tatapanmu... tatapanmu mengatakan bahwa kau sudah benar-benar meninggalkan aku, Aisyah."
"Aku memang sudah pergi, Ayden," sahut Aisyah tanpa ekspresi. "Hanya raga ini yang tertinggal di hadapanmu. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan pada cangkang kosong ini. Aku tidak peduli lagi."
Tanpa menunggu balasan dari suaminya, Aisyah membalikkan badan dan melangkah perlahan meninggalkan Ayden yang mematung di teras luas. Pria itu mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.