Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Darah Kelabang dan Jurang Belerang
Hujan jarum besi berkarat meluncur deras dari dahan-dahan tinggi Hutan Akar Darah, membelah malam dengan desisan tajam yang membakar udara. Ratusan jarum berujung hijau kehitaman itu menghujam permukaan lumpur secara serentak, memicu letupan asap beracun yang membumbung pekat di antara akar-akar pohon.
Ma Huang tidak membuang waktu setengah hembusan napas pun. Ia menyambar kerah jubah Lu Gang dan Master Han sekaligus, lalu menghempaskan kedua pengawal tuanya lurus ke dalam ceruk akar raksasa yang berongga di balik punggungnya.
Bilah Pedang Tulang Hitam di tangan kiri Ma Huang diputar melingkar cepat di atas kepala. Aliran Qi beracun dari Inti Bencana meledak seketika, membentuk tirai angin hitam yang mengepulkan hawa dingin membusukkan ke seluruh penjuru udara.
Jarum-jarum besi yang menerobos masuk ke dalam tirai angin itu mendadak rapuh. Hawa asam korosif melahap permukaan logam tua tersebut, membuatnya meletup menjadi serpihan debu karat sebelum sempat menyentuh kulit fisiknya.
Dentingan halus bergema beruntun saat belasan jarum tersisa membentur bilah pedang hitam Ma Huang. Beberapa jarum yang menghantam ubin akar di sekitarnya langsung melelehkan kayu keras, meninggalkan lubang-lubang kecil yang mengeluarkan uap berbau empedu busuk.
Getaran dari letupan ribuan jarum dan bau busuk racun sumpit mendadak mengusik ketenangan dasar lumpur belerang. Permukaan air asin yang menampung getah merah Akar Darah mulai bergejolak liar, memuntahkan buih-buih udara panas bercampur lumpur hitam yang mendidih.
"Tuan Muda! Ada pergerakan di balik lumpur!" teriak Lu Gang dari dalam ceruk akar. Pria tua itu menggenggam pisau belatinya kencang, memasang badannya di depan Master Han yang masih memeluk kotak kayu berukir naga.
Dari dalam genangan lumpur yang mendidih, sepuluh ekor kelabang raksasa meliuk keluar secara bersamaan. Masing-masing binatang itu berukuran sepanjang lengan manusia dewasa, ditutupi oleh cangkang sisik tebal berwarna kehitaman dengan puluhan kaki tajam yang menyerupai pasak besi membara.
Kelabang Darah Sisik Besi. Binatang endemik Hutan Akar Darah yang menyerap racun belerang dan getah pohon selama ratusan tahun hingga cangkangnya mengeras melebihi baja tempa.
Sepasang taring berkait di kepala kelabang terdepan mendesis nyaring, menyemburkan cairan asam berwarna hijau terang ke arah Ma Huang. Cairan asam itu menyambar dahan pohon di samping Ma Huang, melubangi kayu tebal hingga terbakar membara dalam sekejap.
Ma Huang merendahkan badannya dua jengkal, membiarkan semburan asam melintas lima senti di atas kepala. Ia menjejakkan kakinya kencang ke atas tumpukan akar, meluncurkan tubuhnya lurus ke arah tiga kelabang terdepan.
Pedang Tulang Hitam menyambar miring dari bawah. Bilah pedang hitam menghantam cangkang keras kelabang pertama dengan benturan keras yang memercikkan bunga api kebiruan. Cangkang sisik besi yang keras itu retak terbelah saat racun korosif dari pedang Ma Huang merembes masuk membusukkan jaringan organ dalam binatang tersebut.
Cairan darah kehitaman berbau amis menyembur kencang dari jasad kelabang yang terbelah dua. Ma Huang tidak berhenti. Ia memutar badannya sembilan puluh derajat, menusukkan ujung pedangnya lurus ke dalam mulut kelabang kedua yang sedang terbuka lebar.
Pedang hitam menembus kepala binatang itu hingga menancap kencang di dalam tanah lumpur. Kelabang kedua kejang-kejang hebat sebelum akhirnya melemah kaku, cangkangnya menghitam total terkena pengaruh racun Inti Bencana.
Dua kelabang lainnya melompat bersamaan dari arah samping, mengincar leher dan paha kanan Ma Huang yang terluka. Taring-taring tajam mereka bergetar kencang, membawa desisan hawa panas yang membakar udara malam.
Ma Huang tidak memutar pedangnya untuk menangkis. Ia sengaja menggeser posisi berdiri, membiarkan taring kelabang pertama merobek jubah di paha kirinya hingga menancap di dalam daging. Rasa sakit menusuk menyengat saraf kakinya, namun Ma Huang justru mengepalkan tangan kirinya kencang-kencang.
Hawa dingin membusukkan terkumpul penuh di telapak tangan kiri Ma Huang. Ia memukul kepala kelabang yang menancap di pahanya dengan hantaman telapak tangan terbuka secara brutal.
Kepala kelabang berzirah besi itu remuk berkeping-keping. Cairan racun kental dari tubuh binatang tersebut menyembur membasahi luka di paha Ma Huang. Jalur Darah Pemakan Bencana di dalam tubuh Ma Huang bereaksi seketika, menyerap cairan racun kelabang secara ganas melalui pori-pori kulitnya yang terbuka.
Kekuatan racun belerang pekat dari darah kelabang mengalir kencang menyatu dengan lingkaran energi di Dantiannya. Retakan di Dantian Ma Huang mendadak memancar hangat, meredakan rasa sakit membakar di bahu kanannya secara bertahap.
Ma Huang mencabut taring kelabang yang tersisa dari pahanya dengan satu tarikan dingin. Ia memutar badannya dan menebas kelabang terakhir yang melompat mengincar lehernya, memotong tubuh berujung pasak itu menjadi dua bagian sebelum sempat menyentuh tanah.
Enam kelabang sisik besi yang tersisa di balik lumpur mendadak menghentikan pergerakan mereka. Binatang-binatang itu bergetar kaku, merasakan aura racun yang jauh lebih pekat dan mematikan memancar dari tubuh pemuda yang berdiri di depan mereka.
Dengan desisan takut, sisa-sisa kelabang raksasa itu memutar tubuh mereka dan tenggelam kembali ke dalam pekatnya lumpur belerang, menghilang di dalam kegelapan dasar rawa.
Ma Huang mengibaskan Pedang Tulang Hitam ke samping, membersihkan sisa cairan lendir hijau dari bilahnya. Tangannya mengusap luka paha yang kini mengering tertutup lapisan kristal hitam tipis.
"Kalian berdua keluar sekarang," kata Ma Huang dengan nada suara yang tenang dan datar.
Lu Gang membimbing Master Han keluar dari dalam ceruk akar. Mata kakek tua itu melotot kaget saat melihat empat jasad kelabang raksasa bersisik besi yang hancur tergeletak di sekeliling Ma Huang.
"Racun dari darah binatang itu... Anda menyerapnya secara langsung, Tuan Muda?" bisik Master Han dengan gemetar.
"Jalur darah ini membutuhkan racun alam untuk menahan retakan Dantian," jawab Ma Huang singkat tanpa memberikan rincian lebih lanjut. "Perjalanan kita di hutan ini belum selesai."
Ia memimpin jalan menerobos kerapatan dahan Akar Darah yang terus meneteskan getah merah. Langkah Ma Huang sangat cermat, menjejakkan kaki hanya di atas bagian akar tua yang keras untuk menghindari jebakan lumpur pasir isap di bawahnya.
Di tengah perjalanan, genangan lumpur belerang yang melebar menutupi jalur lintasan utama. Master Han yang fisiknya kian melemah sempat terperosok hingga sebatas lutut, membuat papan kayu pasir isap di bawahnya berderak kencang.
Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam, menebas dahan pohon bakau raksasa di atas mereka hingga tumbang melintang di atas lumpur. Kayu tebal itu menjadi jembatan darurat yang aman, memungkinkan Lu Gang menyeret Master Han melintasi cekungan rawa yang berbahaya.
Setiap sepuluh langkah, Ma Huang memotong tali-tali akar gantung yang berpotensi memicu jebakan sumpit bambu tersembunyi. Lu Gang dan Master Han melangkah rapat di belakangnya, mengikuti setiap jejak telapak kaki yang ditinggalkan Ma Huang di atas tanah basah.
Satu jam berlalu dalam ketegangan yang membisu. Pohon-pohon bakau tua di sekeliling mereka perlahan menyusut, tergantikan oleh hamparan batu-batu granit hitam yang tertutup oleh gumpalan kerak belerang berwarna kuning pucat.
Bau busuk getah pohon mendadak menyusut, berganti dengan hawa panas membakar dan bau belerang kental yang menusuk tenggorokan. Gelombang uap mendidih tampak membumbung tinggi di depan mereka, memancarkan cahaya kemerahan dari balik tebing batu yang terbelah.
Mereka bertiga menghentikan langkah tepat di bibir tebing batu granit. Di hadapan mereka membentang Zona Tiga, Jurang Belerang, sebuah jurang raksasa sedalam seratus meter yang di dasarnya mengalir sungai lahar dingin berwarna hijau membara.
Di seberang jurang, sebuah pintu batu raksasa berukir kepala naga ganda berdiri megah membelakangi dinding tebing. Pintu Makam Leluhur Keluarga Ma.
Namun, perhatian Ma Huang mendadak tertahan pada tanah berkerikil tepat di depan jembatan batu yang menghubungkan kedua sisi jurang.
Tiga jasad pengawal berpakaian besi Sekte Pedang Suci tergeletak tewas di depan jembatan batu. Luka di leher mereka masih memancarkan darah segar yang belum membeku, sementara di samping jasad mereka terdapat jejak sepatu besi berukuran besar yang mengarah lurus melintasi jembatan menuju pintu makam.
Ada pihak lain yang telah menerobos masuk ke Jurang Belerang sebelum mereka tiba.