NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kukuruyuk!
Suara ayam jantan dari pekarangan tetangga berkokok nyaring memecah keheningan pagi.
Sinar matahari mulai mengintip dari celah ventilasi kamar nomor satu.
Rahman Affandi membuka matanya dan segera duduk di tepi ranjang.
Napasnya terasa sangat segar dan tubuhnya ringan seperti pemuda usia tiga puluhan.
"Sistem Keamanan Kos Tingkat 1 memang bukan omong kosong."
"Semalam aku bisa tidur nyenyak tanpa khawatir ada preman atau keponakan gila yang menyusup."
Rahman menguap lebar sambil meregangkan kedua tangannya.
Ting!
Suara mekanis yang sudah menjadi rutinitas paginya kembali berbunyi.
Sebuah layar biru transparan muncul mengambang tepat di depan wajahnya.
[Misi Utama Harian: Tingkatkan kesejahteraan finansial penyewa.]
[Target: Bantu Budi mendapatkan promosi jabatan menjadi mandor di pabrik tekstilnya hari ini.]
[Syarat Khusus: Dilarang menyuap pihak pabrik. Gunakan kecerdikan Anda untuk menyingkirkan saingan Budi.]
Rahman mengerutkan keningnya membaca barisan kalimat tersebut.
"Apa hubungannya jabatan Budi dengan kesejahteraan hidupku?"
"Sistem, kau menyuruhku ikut campur urusan pabrik orang lain?" tanya Rahman kesal.
[Hadiah: Tambahan umur 7 hari dan Bebas Biaya Air Kos selama setahun.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 7 hari dan tagihan air membengkak tiga kali lipat bulan ini.]
Melihat kata Bebas Biaya Air, mata Rahman langsung berbinar terang.
Biaya air dari sumur bor dan pompa listrik adalah salah satu pengeluaran terbesarnya setiap bulan.
Jika ia bisa menggratiskan biaya itu selama setahun, keuntungannya akan sangat berlipat ganda.
"Baiklah, demi air gratis, aku akan turun gunung hari ini."
"Lagipula, kalau gaji Budi naik, aku punya alasan bagus untuk menaikkan uang sewanya nanti."
Rahman tersenyum licik dan segera bergegas mandi.
Di teras depan, Budi sedang duduk memakai sepatu bot kerjanya dengan wajah lesu.
Maya yang sedang menyapu halaman memperhatikan wajah murung pria itu.
"Mas Budi kenapa ditekuk begitu wajahnya pagi-pagi?"
"Lagi sakit gigi ya?" sapa Maya ramah.
"Bukan sakit gigi, Maya."
"Hari ini penentuan siapa yang naik jabatan jadi mandor produksi di pabrik."
"Tapi sainganku itu si Joko, orangnya sangat licik dan suka cari muka ke manajer," keluh Budi sambil menghela napas panjang.
Ceklek.
Pintu kamar Rahman terbuka lebar.
Pria tua itu keluar dengan memakai kemeja batik pudar dan celana bahan yang rapi.
"Pagi-pagi sudah mengeluh seperti pecundang."
"Pantas saja kamu cuma jadi buruh seumur hidup!" tegur Rahman dengan suara baritonnya.
Budi dan Maya langsung menoleh dengan kaget.
"Eh, Pak Rahman tumben sudah rapi pagi-pagi begini?"
"Mau pergi ke mana, Pak?" tanya Budi mengalihkan pembicaraan.
"Bukan urusanmu!"
"Tadi aku dengar kamu mau berebut jabatan mandor?"
"Apa saja kelemahan sainganmu itu?" Rahman langsung menginterogasi tanpa basa-basi.
Budi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Si Joko itu kerjanya cuma tidur kalau manajer tidak ada, Pak."
"Dia juga sering mencuri sisa benang pabrik untuk dijual lagi."
"Tapi dia pintar menjilat, jadi Pak Wijaya, manajer kami, sangat percaya padanya."
Rahman mendengus meremehkan mendengar cerita itu.
"Dan kamu diam saja melihat kelakuannya itu?"
"Dasar anak muda bodoh yang kelewat jujur!" cibir Rahman tajam.
"Lalu saya harus bagaimana, Pak?"
"Kalau saya laporkan tanpa bukti, nanti saya yang dituduh memfitnah," bela Budi merasa tidak berdaya.
"Di dunia bisnis, kejujuran tanpa kecerdikan itu sama dengan bunuh diri."
"Sudah, sana cepat berangkat sebelum kau terlambat!"
"Tinggalkan kartu identitas pabrikmu di atas meja, aku akan meminjamnya sebentar," perintah Rahman seenaknya.
Budi melongo kebingungan.
"ID Card pabrik?"
"Tapi Pak, kalau saya tidak bawa ID Card, saya tidak bisa masuk gerbang pabrik."
"Gunakan alasan apa saja pada satpammu!"
"Bilang saja tertinggal dan sedang diantar oleh keluargamu."
"Cepat letakkan dan pergi!" bentak Rahman menggunakan sedikit tekanan Aura Tuan Tanahnya.
Budi yang tidak berani membantah akhirnya meletakkan kartu identitasnya di atas meja teras.
"S-siap Pak, saya berangkat dulu."
Budi segera berlari menuju pangkalan ojek dengan perasaan bingung bercampur panik.
Maya yang sedari tadi menonton hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Bos Rahman mau merencanakan hal jahat apa lagi hari ini?" tanya Maya curiga.
"Menyelamatkan aset masa depanku."
"Kamu jaga gawang di sini, jangan biarkan orang asing masuk!"
Rahman segera mengambil ID Card Budi dan berjalan keluar gerbang.
Satu jam kemudian, Rahman sudah berdiri di depan gerbang besi Pabrik Tekstil Makmur Jaya.
Pabrik itu sangat besar dan suara deru mesin terdengar bising hingga ke jalan raya.
Dua orang satpam bertubuh kekar berjaga di pos depan.
Rahman melangkah maju dengan wajah percaya diri dan dada membusung.
"Berhenti, Pak!"
"Bapak cari siapa? Pengunjung tidak boleh masuk tanpa janji," cegah salah satu satpam.
Rahman menatap satpam itu dengan tatapan sedingin es.
Aura Tuan Tanahnya langsung memancar kuat, membuat satpam itu sedikit gemetar tanpa alasan.
"Aku keluarga Budi dari divisi produksi."
"Anak ceroboh itu meninggalkan kartu identitasnya di rumah."
"Aku harus mengantarkannya sekarang juga agar dia bisa absen," jelas Rahman dengan nada memerintah.
Ia menyodorkan ID Card milik Budi ke depan wajah satpam tersebut.
Satpam itu menelan ludah, merasa terintimidasi oleh wibawa pria tua di depannya.
"O-oh, begitu ya, Pak."
"Silakan masuk, divisi produksi ada di gedung warna biru di sebelah kanan sana," ucap satpam itu sopan sambil membuka gerbang kecil.
"Bagus."
Rahman melangkah masuk dengan santai, merasa kemampuannya ini sangat berguna.
Ia berjalan menyusuri koridor pabrik yang sibuk.
Banyak buruh yang berlalu lalang mendorong troli berisi gulungan kain.
Mata Rahman yang setajam elang terus mengamati sekeliling untuk mencari celah.
Di sudut lorong dekat gudang penyimpanan, ia melihat dua orang pria sedang berbicara.
Satu pria bertubuh kurus kering, sementara yang satunya berbadan gempal dan memakai kemeja rapi.
Rahman bersembunyi di balik tumpukan kardus kosong untuk menguping.
Pendengarannya yang kembali tajam membantunya menangkap percakapan mereka dengan jelas.
"Joko, bagaimana pesanan benang sutra sisa bulan ini?"
"Pembeli dari pasar loak sudah menunggunya nanti sore," bisik pria kurus itu.
Pria bernama Joko itu tersenyum licik sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
"Aman, semuanya sudah aku sembunyikan di dalam tong sampah biru belakang gudang."
"Nanti pas jam istirahat, kamu bawa gerobak sampahmu keluar dan ambil barangnya."
"Sip, bagi hasil seperti biasa kan?"
"Tenang saja, kalau besok aku resmi jadi mandor, kita bisa ambil lebih banyak lagi tanpa ketahuan Pak Wijaya."
Joko tertawa pelan dan membuang puntung rokoknya sembarangan ke lantai gudang.
Di balik kardus, Rahman tersenyum sinis.
"Ternyata menangkap tikus pabrik jauh lebih mudah daripada menangkap penyewa yang menunggak kos."
"Tong sampah biru di belakang gudang ya?" gumam Rahman merencanakan sesuatu.
Rahman mengendap-endap meninggalkan tempat itu sebelum ketahuan.
Ia berjalan menuju ruang kantor manajer yang berada di lantai dua.
Pintu ruangan itu terbuka setengah, menampilkan seorang pria paruh baya yang sedang pusing melihat tumpukan laporan.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...