NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: HALAMAN YANG TIDAK LENGKAP

Pagi setelah ia membaca ulang surat Nenek Zhuo, rumah Shen terbangun seperti biasa.

Seorang pelayan membuka jendela kamarnya dengan satu dorongan pelan, dan udara musim gugur yang dingin masuk membawa bunyi air yang diciduk dari sumur di halaman belakang. Dari arah dapur terdengar parutan lobak dan tawa tertahan dua pelayan muda yang sedang membicarakan seseorang di pasar. Nyonya Lin, kata pelayan, sedang memilah pakaian musim dingin bersama penjahit. Tuan Shen sudah berada di ruang kerjanya sejak fajar. Yucheng pergi lagi ke kedai teh dekat gerbang timur, entah menemui siapa.

Ruyin sarapan bubur dengan irisan acar, dan sengaja tidak memikirkan apa pun. Itu lebih sulit daripada kedengarannya, tetapi ia berhasil sampai mangkuknya kosong.

———

Menjelang tengah pagi, ia duduk di meja tulis dan menarik laci kertas yang dibelinya di Toko Mo. Lima puluh lembar kertas surat, masih terikat tali jerami, tepinya halus dan sedikit beraroma getah pinus. Ia memotong tali itu dengan gunting kecil, mengambil lima lembar, lalu menggosok batang tinta bambu di atas batu dengan gerakan melingkar yang kini tidak lagi mengejutkannya.

Tidak ada alasan besar. Ia hanya ingin tahu apakah tangannya masih mau menulis seperti dulu, tanpa ada yang melihat dan tanpa ada yang memuji.

Ia membuka kitab sajak dan memilih satu bait pendek tentang bangau dan embun, sengaja bukan bait yang terlalu ia suka, lalu mulai menyalin.

Baris pertama berjalan pelan. Baris kedua lebih cepat. Pada baris keempat, ia menyadari bahwa ia tidak lagi menatap kuasnya. Matanya mengikuti huruf di kitab, dan tangannya menulis sendiri, jarak antar karakter rata, tekanan di ujung goresan tetap, napasnya mengikuti ritme yang tidak ia pilih. Ketika baris terakhir selesai, ia mengangkat kuas dan menahannya di atas kertas satu tarikan napas, lalu menurunkannya di sudut kanan bawah halaman dan membuat satu titik kecil.

Ia memandang titik itu.

Ia tidak berniat membuatnya.

Ruyin menaruh kuas di sandaran, lalu memajukan halaman kedua. Ia menyalin sampai bait berikutnya selesai, dan kali ini ia memperhatikan tangannya. Setelah baris terakhir, kuas berhenti di udara, turun, dan menorehkan titik yang sama di sudut yang sama, sebesar biji wijen, tidak lebih. Tangannya lalu menggeser kertas itu ke sisi kiri meja, menumpuknya dengan pinggir sejajar, dan meraih lembar kosong berikutnya tanpa dipikirkan.

Seperti gerakan seseorang yang sudah melakukannya ratusan kali.

———

Bibi Qin masuk membawa teh dan sepiring kue ketan, dan berhenti sebentar ketika melihat tumpukan halaman di sisi kiri meja.

"Nona menyalin."

"Hanya sebait sajak. Untuk menguji tangan."

Bibi Qin meletakkan nampan. Pandangannya jatuh pada titik kecil di sudut halaman teratas, sebentar saja, lalu naik ke wajah Ruyin. "Nona dulu di Selatan sering menyalin. Berlembar-lembar, kadang sampai larut."

"Kitab apa, Bibi?"

"Macam-macam, Nona. Apa saja yang tersedia." Ia menata cawan teh dengan hati-hati. "Tabib tua mencarikan salinan untuk dilatih. Tulisan Nona jadi rapi karena itu."

"Kalau aku sebanyak itu menyalin, kenapa aku tidak ingat satu pun yang kutulis?"

Bibi Qin tidak langsung menjawab. "Orang bisa mengingat kebiasaan tetapi melupakan isinya, Nona. Seperti orang yang hafal jalan ke pasar tetapi lupa apa yang dibelinya."

Itu jawaban yang masuk akal. Ruyin mengangguk dan mengucapkan terima kasih, dan Bibi Qin keluar dengan langkah yang tidak lebih cepat dan tidak lebih lambat dari biasanya.

Setelah pintu tertutup, Ruyin menatap cawan tehnya. Ia bisa menerima bahwa isinya terlupa. Yang tidak bisa ia terima dengan mudah adalah hal lain: ia tidak tahu mengapa ia menandai halaman dengan titik, mengapa ia menumpuknya ke kiri, mengapa tangannya tahu kapan harus berhenti. Itu bukan isi. Itu cara, dan cara seharusnya punya alasan.

———

Menjelang siang, ia membawa satu lembar salinannya ke aula samping. Nyonya Lin sedang duduk menghitung kancing dengan seorang pelayan, dan menerima kertas itu dengan kedua tangan.

"Hanya latihan, Ibu."

Nyonya Lin membacanya sampai habis, lalu mengangkatnya ke arah cahaya jendela. "Tulisanmu makin rapi. Tekanannya lebih tenang daripada dulu, tidak lagi menghentak di akhir goresan." Ia tersenyum. "Delapan tahun di Selatan memang baik untuk tanganmu."

"Hanya tanganku?"

"Hanya yang bisa kulihat." Nyonya Lin mengembalikan kertas itu. Matanya sempat singgah pada titik di sudut kanan bawah, tetapi ia tidak berkomentar tentangnya. "Jangan menulis sampai matamu lelah."

Ruyin mengucapkan terima kasih dan membawa halamannya kembali. Ia tidak menanyakan apakah ibunya melihat titik itu. Ia belum tahu apa yang akan ia lakukan dengan jawabannya.

———

Siang itu hujan rintik turun sebentar lalu berhenti. Ia kembali ke meja dan mulai membereskan tumpukan kertas lamanya, lembar-lembar latihan masa kecil yang dulu ia temukan di dalam kitab hitungan dan di rak. Ia ingin memisahkan yang masih bisa dipakai untuk catatan.

Satu per satu ia membalik lembar itu. Huruf-huruf anak kecil, goresan goyah, hitungan sutra, sebuah salinan sajak yang tak selesai. Pada lembar kesekian, ia merasakan sisi belakangnya sedikit lebih kasar daripada sisi depan, dan ketika ia membaliknya ke arah cahaya, ia melihat bekas tinta yang hampir pudar.

Beberapa baris pendek. Tulisan tangannya sendiri, jelas, bukan tulisan anak kecil. Lebih rapi, lebih mantap, ditulis dengan tinta yang sudah memucat menjadi cokelat susu. Tidak ada sajak. Hanya catatan:

"Sudah selesai sampai di sini."

"Besok lanjut."

"Jangan lupa lembar berikutnya."

Tidak ada judul kitab. Tidak ada nama. Tidak ada tanggal yang jelas, hanya sebuah angka kecil di sudut, setengah terhapus, yang mungkin angka tujuh atau mungkin bukan apa-apa.

Ia membaca tiga baris itu berulang-ulang. Ruyin tidak ingat kapan ia menulisnya, tetapi ia mengenali caranya: jarak antar baris, penekanan di ujung goresan, bahkan kecenderungan menahan kuas sedikit lebih lama sebelum titik terakhir. Ia pernah menulis catatan seperti ini, dan tidak hanya sekali. Catatan seorang pekerja kepada dirinya sendiri, ditulis supaya besok ia tahu di mana harus melanjutkan.

"Kalau sudah selesai menyalin."

Ia mulai mempertimbangkan bahwa Nenek Zhuo mungkin tidak salah ingat. Mungkin ia memang pernah mengatakan itu. Mungkin ada suatu pekerjaan yang dulu terasa begitu biasa baginya sehingga ingatannya tidak menyimpannya sebagai peristiwa, seperti orang yang tidak ingat berapa kali ia mencuci wajah di pagi hari.

Itu hanya dugaan. Ia menaruhnya di tempat yang sama dengan dugaan-dugaan lain, tanpa menyimpulkan apa pun.

———

Menjelang senja, ia melipat lembar latihan itu sekali dan menyelipkannya ke dalam kitab hitungan di rak, di tempat ia menemukannya. Surat Nenek Zhuo tetap berada di laci, begitu pula surat untuk tabib yang belum diikat. Ia tidak menyentuh keduanya.

Lalu ia kembali duduk di meja. Tumpukan salinannya masih rapi di sisi kiri, setiap halaman dengan titik kecil di sudut kanan bawah. Di hadapannya terbentang selembar kertas kosong, putih dan menunggu.

Ia tidak merasa telah menemukan jawaban. Yang ia temukan lebih mengganggu: tangannya menyimpan sebuah pekerjaan yang tidak lagi bisa dijelaskan oleh pikirannya. Selama ini ia bertanya apakah ada sesuatu yang ia lupakan. Sore ini pertanyaannya berubah, pelan dan tanpa suara.

Berapa banyak hal yang pernah kulakukan tanpa pernah mengetahui untuk apa?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!