"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Penyempurnaan
Helena
Nikolai berkata ada sebuah ruang anggur dekat perpustakaan, karena aku lebih suka anggur. Nadanya datar, nyaris santai, seolah itu bukan sebuah bentuk perhatian — padahal iya. Ia memberi isyarat singkat dengan kepalanya agar aku mengikutinya.
Kami menyusuri lorong dalam diam. Suara langkah kami menggema pelan di rumah tua itu. Pencahayaan di sana lebih lembut, kekuningan, menenangkan. Ia membuka sebuah pintu kayu yang berat dan kami masuk.
Ruang anggur itu indah. Rak-rak kayu gelap, botol-botol tertata dengan ketelitian yang nyaris obsesif. Aku mendekat, penasaran, membaca label-labelnya… atau mencoba. Semuanya berbahasa Rusia. Aku mengembuskan napas pelan, menyerah.
"Aku tak paham semua ini," akuku.
Kurasakan tatapannya menembusku bahkan sebelum aku memalingkan wajah. Nikolai tak langsung menjawab. Ia melangkah menuju sebuah rak tertentu, menyusurkan jari-jarinya pada beberapa botol seakan sedang memilih sesuatu yang penting. Ia berhenti. Menarik satu botol.
Ia mendekat dan menyerahkan botol itu kepadaku.
Jemari kami bersentuhan sedetik lebih lama dari yang perlu.
"Kau akan menyukai yang ini," ujarnya, penuh keyakinan.
Kugenggam botol itu, mengamati label yang tak kukenal. Kuangkat mataku menatapnya.
"Dan bagaimana kau tahu?"
Sudut bibirnya bergerak, nyaris sebuah senyuman. Bukan senyum sepenuhnya, tetapi cukup dekat untuk membuat perutku terikat simpul aneh.
"Karena tidak sudah jelas terlihat," jawabnya.
Kugenggam botol itu lebih erat, merasakan sesuatu menghangat di dadaku yang tak ada kaitannya dengan alkohol. Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di sini, aku tak merasa benar-benar tersisih.
Hanya… diperhatikan.
Dan, mungkin, dipilih.
Nikolai mengambil botol itu dari tanganku dan menuju ruang tamu tanpa berkata apa-apa lagi. Aku mengikutinya. Ia bergerak dengan penuh percaya diri melintasi rumah, seakan setiap sudutnya telah terpahat dalam dirinya — dan memang begitu.
Di ruang tamu, ia mengambil dua gelas. Ia membuka botol anggur itu dengan kehati-hatian yang nyaris seperti ritual. Bunyi sumbat menggema pelan. Ia menuang gelasku lebih dulu, tanpa bertanya berapa banyak, seakan tahu persis.
Ia mengulurkan gelas itu kepadaku.
Kugenggam. Kudekatkan ke hidung, kuhirup aromanya. Kuteguk sedikit.
Ini… sempurna. Berbobot, hangat, menenangkan. Menutup sesuatu di dalamku yang terbuka sejak aku melintasi pintu-pintu itu.
Kuangkat mataku menatapnya, terkejut dengan tulus.
"Ini luar biasa," akuku.
Ia hanya sedikit menundukkan kepala, seperti seseorang yang memang sudah menduganya. Ia menaruh gelasnya di meja tanpa meminumnya dan berkata, dengan terlalu tenang:
"Aku selalu benar."
Aku memutar bola mata sedikit, tetapi tak bisa kutahan. Sebuah senyum lolos. Kecil, tulus. Senyum pertamaku sejak aku tiba di sini.
Ia menyadarinya. Tentu saja ia menyadarinya.
Sesaat, keheningan di antara kami tak lagi berat. Tak lagi bermusuhan. Ini… berbeda. Kental, awas, sarat sesuatu yang belum bisa kunamai.
Kuteguk anggur itu sekali lagi.
Ia duduk di sisiku dan udara berubah. Menjadi kental, sarat, seakan seluruh rumah menahan napas bersama kami.
Nikolai membungkuk perlahan. Wajahnya begitu dekat hingga kurasakan hangat kulitnya. Jemarinya menyentuh daguku, mengangkat wajahku. Bibirnya menempel pada bibirku dengan lembut, nyaris seperti sebuah cobaan. Tubuhku bereaksi sebelum nalarku. Kubuka bibirku sedikit, jantungku berpacu, dan ia memperdalam ciumannya hanya sedikit lebih — cukup untuk membuatku kehilangan pijakan.
Ketika aku menyadarinya, ciuman itu sudah tak lagi tenang. Ia menjadi hebat, mendesak, seolah sesuatu yang lama terpendam akhirnya menemukan jalan keluar. Ia mengambil gelas dari tanganku dengan hati-hati, menaruhnya entah di mana, dan menarikku mendekat. Tubuhku menyatu dengan tubuhnya tanpa usaha, seakan selalu tahu di mana tempatnya.
Aku pusing. Bukan hanya karena anggur.
Tiba-tiba, ia berhenti. Ia menempelkan dahinya ke dahiku, napasnya berat. Dengan gerakan yang tak terduga lembutnya, ia menyelipkan sehelai rambutku ke belakang telinga.
"Kau lebih lezat daripada anggur ini," ujarnya, suaranya pelan, terlalu terkendali untuk seseorang yang jelas-jelas tidak terkendali.
Sebelum aku sempat menjawab, ia bangkit sambil menggendongku dalam pelukannya. Sebuah gerakan mantap, kokoh. Kakiku secara naluri melingkari pinggangnya. Kedua lenganku memeluk lehernya.
Ia menaiki tangga perlahan, menyentuhkan bibirnya pada bibirku di antara satu anak tangga dan anak tangga berikutnya. Setiap sentuhan menyalakan sesuatu yang baru dalam diriku. Sekujur tubuhku panas, sensitif, waspada.
Ketika kami tiba di kamar, ia berhenti.
Ia memandangku.
Ada hasrat di sana, ya. Tetapi ada pula pengendalian. Pilihan.
Ia menurunkanku ke lantai dengan hati-hati, seolah aku sesuatu yang terlalu berharga untuk digegasi. Matanya tetap menatap mataku selama beberapa detik yang panjang.
Dengan ketelitian yang seakan tak nyata, ia mulai membuka pakaianku. Aku tak merasa malu, justru sebaliknya, aku tak sabar agar ia menjadikanku miliknya. Pakaian terakhir yang ia lepas adalah celana dalamku. Ia memandangku, tanpa tergesa, menempelkan tubuhnya pada tubuhku sambil mencium bibirku. Ia mulai melepas pakaiannya sendiri, dan aku membantunya. Nikolai kembali menggendongku. Ia berjalan membawaku sampai ke ranjang.
Ia membaringkan tubuhnya di atas tubuhku. Ia meremas lekuk tubuhku, tanpa melepaskan bibirku. Ia mencium rahangku, menurunkan ciuman ke leherku, menggigit leherku hingga membuatku semakin basah. Bibirnya terus turun menyusuri tubuhku. Ia melahap payudaraku, mengisapnya kuat-kuat, sementara tangan yang satu lagi meremas payudara yang lain. Sentuhannya tak lembut, tetapi kulihat ia berusaha menahan diri.
Tangannya yang besar menyentuh kewanitaanku, yang sudah basah, jemarinya menyusuri klitorisku, menggodaku. Nikolai turun sampai ke kewanitaanku, membuka kedua kakiku dan mengisap kelaminku, ia mengisap dan menggunakan jarinya bersamaan, membuatku putus asa oleh nikmat. Erangan-eranganku menggema di seluruh kamar. Nikolai terus mengisapku, kurasakan gelombang kenikmatan menyergap tubuhku, kugesekkan diriku ke wajahnya tanpa rasa malu sedikit pun. Tiba-tiba ia berhenti, memandangku sambil tersenyum.
"Kau akan klimaks di atas kejantananku, putriku," ujarnya, seakan itu sebuah kepastian.
Nikolai menggesek-gesekkan kejantanannya di pintu masukku, menyiksaku sambil mencium bibirku.
"Ini akan sedikit sakit."
Nikolai memosisikan diri di pintu masukku dan mendorong. Kurasakan seolah ia membelahku jadi dua. Ia besar, rasanya takkan muat. Ia mendorong lagi, memaksa sebuah erangan sakit keluar dariku. Ia tak bergerak, diam. Ia kembali mencium tubuhku yang bergetar di bawah tubuhnya.
Perlahan ia mulai bergerak, masih sakit, panas membakar, tubuhku seketika kaku. Ia menggunakan jarinya, menyentuh klitorisku, dan rasa sakit sedikit demi sedikit sirna. Ia sudah keluar-masuk dari dalam tubuhku dengan sedikit lebih mudah. Setiap hentakan membuat napas kami semakin berat. Suaranya menjadi cabul. Nikolai tak berhenti, gerakannya menggapai kecepatan yang gila, aku nyaris tak bisa bernapas, hanya bisa mengerang, kukuku mencakar punggungnya.
Kedua kakiku gemetar, sensasi nikmat itu kembali seribu kali lebih dahsyat. Kurasakan kewanitaanku mengencang mencengkeram kejantanannya. Aku memekikkan namanya, ketika ia memberikan hentakan panjang terakhir jauh di dalam diriku, memuncratkan hasratnya di dasar kewanitaanku.
Nikolai berbaring di sisiku, masih terengah. Aku pun begitu. Secara naluri aku mendekat dan memeluknya, mencari kehangatan, rasa aman… apa pun.
Tubuhnya seketika kaku.
Ia menjauh seakan aku bisa membakarnya. Kehampaan yang tersisa lebih buruk daripada dingin. Kuputar tubuhku ke samping, membelakanginya. Kugigit bibir kuat-kuat untuk menahan air mata yang mengancam lolos.
Kalau memang harus menangis.
Aku menangis sendirian.
Kurasakan saat ia bangkit dari ranjang. Kasur kehilangan bobot tubuhnya dan kamar terasa semakin besar, semakin dingin. Kudengar langkah yang tertahan, pintu kamar mandi menutup, suara air yang jauh.
Aku tetap tak bergerak.