Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Tawaran yang Tidak Bisa Ditolak
Kalimat itu keluar lebih jujur dari yang Reza rencanakan. Dia mematikan telepon sebelum Aira sempat membalas, lalu masuk ke mobil. Mesin dinyalakan. Di spion, gedung markas semakin mengecil. Di depan, jalan menuju bukit terbentang panjang.
Reza mengencangkan genggaman di setir. Tujuh puluh dua jam. Bukan hanya untuk menyenangkan Kolonel. Tapi untuk memastikan Arya tidak lagi bisa mengirim pesan ke ponsel Aira dengan tenang seperti pagi tadi.
Di markas, Kolonel Harun masih duduk di ruang rapat, menatap folder yang terbuka. Dia menekan tombol interkom. “Pantau Letnan Reza,” perintahnya pelan. “Dan siapkan opsi rotasi paksa jika dalam tiga hari tidak ada hasil. Saya tidak ingin kehilangan perwira bagus karena urusan hati.”
Sementara itu di tempat lain, bau karet terbakar dan oli masih menempel di overall Raka ketika dia masuk ke ruang meeting bascam.
Dia belum sempat ganti. Tangan masih sedikit kotor, rambut lengket oleh keringat di bawah helm yang baru saja dilepas. Di luar, mekanik masih berteriak-teriak soal mobil yang rusak pagi tadi. Dua orang dibawa ke klinik. Sponsor utama sudah menunggu di dalam sejak dua puluh menit yang lalu.
Ruangan itu ber-AC terlalu dingin. Meja panjang mengkilap, proyektor menyala menampilkan grafik sponsor dan logo yang terlalu bersih dibanding kondisi garasi di luar. Pak Dhiren, perwakilan sponsor utama, duduk di ujung meja dengan jas abu-abu yang tidak punya satu kerutan pun. Di sampingnya, manajer tim Raka, Toni, sudah terlihat pucat sejak tadi.
“Raka,” sapa Pak Dhiren tanpa berdiri. “Duduk. Kita tidak punya banyak waktu.”
Raka duduk. Kursinya terasa terlalu keras. “Mobil utama bisa diperbaiki dalam tiga hari. Saya sudah bilang ke mekanik untuk prioritaskan. Sesi latihan pengganti bisa dijadwalkan ulang.”
“Bukan soal mobil pagi ini.” Pak Dhiren menutup folder di depannya. “Kita dapat slot dadakan di kejuaraan internasional. Putaran Asia. Dua minggu lagi. Sponsor global yang selama ini hanya mengamati sekarang mau masuk kalau kamu yang turun. Nilai kontraknya… cukup untuk menutup operasional tim sampai dua musim ke depan.”
Toni menelan ludah. “Raka, ini kesempatan besar. Mereka minta konfirmasi hari ini. Kalau kita tolak, slot itu langsung diberikan ke pebalap lain.”
Raka menatap layar proyektor yang menampilkan angka-angka. Besar. Sangat besar. Cukup untuk membuat seluruh kru bernapas lega. Mengganti semua peralatan yang selama ini ditambal. Dan cukup untuk membuat Toni berhenti terlihat seperti orang yang akan kena serangan jantung setiap akhir bulan.
“Saya tidak bisa pergi,” kata Raka datar.
Keheningan yang mengikuti kalimat itu tebal. Pak Dhiren tersenyum tipis, seolah sudah menduga tapi tetap kecewa. “Kamu tidak bisa, atau tidak mau?”
“Keduanya.” Raka menyandarkan punggung ke kursi. “Saya punya urusan yang tidak bisa ditinggalkan selama dua minggu. Bahkan selama dua hari.”
Toni maju ke depan meja. “Raka, tolong. Kita sudah di ujung tanduk. Kalau sponsor global masuk, utang bengkel lunas. Gaji mekanik naik. Kamu sendiri dapat bonus yang tidak kecil. Ini bukan soal satu balapan. Ini soal bertahan hidup seluruh tim.”
Raka menatap Toni lama. Pria itu sudah bersamanya sejak awal karier, sejak masih balapan di sirkuit lokal dengan ban bekas. “Saya tahu. Karena itu saya bilang maaf. Tapi saya tetap tidak bisa.”
Pak Dhiren mengetuk jari di meja. “Urusan apa yang lebih penting dari ini? Perempuan?”
Raka tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
“Saya dengar,” lanjut Pak Dhiren pelan, “kamu belakangan sering menghilang. Tidak hadir di beberapa sesi. Manajer bilang kamu sibuk mengurus seseorang. Kalau itu soal cinta... Raka, cintalah nanti. Sekarang kamu masih punya kewajiban pada orang-orang yang sudah bekerja keras di belakangmu.”
Raka mengangkat wajah. Matanya dingin. “Saya tidak pernah melupakan mereka. Saya memenangkan balapan minggu lalu. Hadiahnya sudah saya transfer seluruhnya. Saya datang pagi ini meski ada urusan lain. Tapi saya tidak akan naik pesawat ke luar negeri sementara orang yang saya jaga sedang dalam bahaya nyata.”
Toni menutup muka dengan tangan. “Raka…”
“Bahaya?” Pak Dhiren mengangkat alis. “Kamu sekarang jadi pengawal pribadi?”
“Saya jadi orang yang tidak akan meninggalkan seseorang hanya karena ada tawaran kontrak.” Raka berdiri. “Saya tolak. Cari pebalap lain untuk slot itu. Saya akan tetap turun di semua balapan domestik yang sudah dijadwalkan. Tapi internasional dua minggu ke depan... tidak.”
Pak Dhiren tidak berdiri. Dia hanya menatap Raka dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kamu tahu konsekuensinya. Kalau kamu menolak tawaran ini, sponsor global mundur. Dan kami, sebagai sponsor utama saat ini, akan mengevaluasi ulang dukungan untuk sisa musim. Tim bisa kehilangan setengah dana operasional.”
“Saya tahu.”
“Mekanik, kru, orang-orang yang menggantungkan hidup pada tim ini—mereka akan kena dampaknya.”
“Saya tahu.” Raka tidak mengalihkan pandangan. “Saya akan cari cara lain. Tapi saya tidak akan pergi.”
Toni berdiri, suaranya hampir memohon. “Raka, setidaknya pikirkan semalam. Jangan jawab sekarang. Kita bisa bilang ke mereka bahwa kamu butuh waktu.”
“Saya sudah berpikir.” Raka mendorong kursi ke belakang. “Jawaban saya tidak. Hari ini, besok, lusa. Sama.”
Dia berbalik menuju pintu. Pak Dhiren masih berbicara di belakangnya. “Kamu akan menyesal, Raka. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Perempuan bisa menunggu. Kontrak tidak.”
Raka berhenti sejenak di ambang pintu, tapi tidak menoleh. “Perempuan itu sudah hampir mati tiga kali dalam seminggu terakhir. Saya tidak akan biarkan yang keempat terjadi hanya karena saya sedang berada di negara lain demi logo di mobil.”
Pintu ditutup. Di luar ruang meeting, udara garasi terasa lebih panas dan jujur. Bau ban dan keringat menyambutnya kembali. Beberapa mekanik menatapnya dengan pertanyaan di mata. Raka hanya mengangguk singkat, lalu berjalan menuju pojok yang lebih sepi.
Dia mengeluarkan ponsel. Ada dua pesan dari pengawal rumah putih yang Reza teruskan. "Aira makan, kondisi stabil, tidak ada kontak baru. Tapi pesan Arya pagi tadi masih terasa seperti duri yang belum dicabut."
Raka menekan nomor Aira. Diangkat cepat.
“Raka,” suara Aira terdengar datar, tapi ada sedikit kelegaan di sana. “Balapanmu bagaimana?”
“Mobil rusak. Bisa diperbaiki.” Dia bersandar ke dinding beton. “Sponsor minta saya ke luar negeri. Balapan internasional. Dua minggu.”
“Lalu?”
“Saya tolak.”
Aira terdiam beberapa detik. “Karena saya?”
“Karena saya tidak mau berada di negara lain saat kamu masih bisa menerima pesan dari orang yang ingin mengambilmu.” Raka menghela napas. “Mereka marah. Tim bisa kehilangan dana. Tapi saya tetap tidak pergi.”
“Kamu bodoh,” kata Aira pelan. “Uang sebanyak itu… timmu… orang-orang yang bekerja untukmu.”
“Saya tahu saya bodoh. Tapi saya lebih bodoh kalau meninggalkanmu sekarang.” Raka menatap ke arah pit yang masih ramai. “Reza di markas. Keenan di rumah sakit ayahnya. Saya di sini. Kita semua dipaksa pergi. Jangan buat saya menyesal sudah menolak tawaran itu dengan cara menerima pesan aneh lagi dari Arya.”