NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Hakim Dari Kegelapan The Prequel 01

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aqiqah Arya Arsyad Sikumbang di Pande Sikek

Pagi itu di Pande Sikek embun masih menggantung di ujung daun pisang. Udara Tanah Datar yang sejuk menyelinap di sela-sela rumah-rumah gadang yang berjejer rapi dengan gonjongnya yang runcing menantang langit. Di salah satu rumah yang halamannya ditumbuhi pohon mangga dan jambu, terdengar tawa riang seorang bayi. Bayi itu adalah Arya Arsyad Sikumbang, putra kecil dari pasangan Abdullah bin Rais Payobadar dan Siti Aminah Sikumbang. Waktu itu, umur Arya sudah genap enam bulan.

Abdullah bin Rais Payobadar duduk di beranda rumahnya, memangku putranya yang sudah mulai pandai tengkurap dan tertawa. Wajahnya yang teduh memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan, namun di sudut hatinya ada sedikit rasa bersalah. Setelah penantian yang panjang, Allah akhirnya menitipkan seorang anak laki-laki kepadanya enam bulan yang lalu. Karena kondisi ekonomi dan juga karena Siti Aminah sempat sakit cukup lama setelah melahirkan, aqiqah yang seharusnya dilaksanakan pada hari ketujuh terpaksa ditunda.

Baginya, kelahiran Arya bukan sekadar kebahagiaan pribadi, tetapi juga amanah besar untuk melanjutkan silsilah keluarga Payobadar yang selama ini dikenal sebagai keluarga yang memegang teguh adat dan agama. Maka hari itu, setelah melihat Arya sudah sehat, montok, dan Siti Aminah sudah pulih sepenuhnya, Abdullah memantapkan niatnya.

Sejak semalam, ia memikirkan satu hal dengan sungguh-sungguh. Ia ingin melaksanakan aqiqah yang tertunda itu untuk putra kecilnya. Bukan sekadar menyembelih hewan dan membagikan daging, tetapi ia ingin menjadikannya sebagai momentum untuk mempererat kembali tali silaturahmi dengan keluarga besar sekampung Pande Sikek. Keinginannya begitu besar, hingga ia tak bisa tidur semalaman.

Di dalam rumah, Siti Aminah Sikumbang sedang menyiapkan bubur halus untuk Arya. Wajahnya kini sudah tidak pucat lagi seperti enam bulan lalu, sudah berseri-seri kembali. Sebagai seorang ibu dari suku Sikumbang yang terkenal dengan kelembutan dan kesabarannya, ia sangat memahami arti penting dari sebuah aqiqah. Dalam adat Minangkabau, aqiqah bukan hanya sunnah Rasulullah, tetapi juga menjadi tanda syukur dan pengenalan seorang anak kepada kaumnya, kepada mamak dan kepada ninik mamaknya, walaupun sudah lewat waktunya.

"Uda Abdullah," panggil Siti Aminah dengan suara lembut sambil membawa semangkuk bubur, "Apa yang Uda pikirkan sejak tadi? Dari tadi Uda hanya diam memandang Marapi sambil memangku Arya."

Abdullah tersenyum dan mencium kening putranya yang harum.

"Aminah, Adiak denai," kata Abdullah dengan suara berat namun hangat, "Arya kini sudah enam bulan umurnya. Alhamdulillah kini ia sehat, Adiak pun sudah sehat. Rasanya sudah menjadi kewajiban kita untuk melaksanakan aqiqahnya yang tertunda dulu. Rasulullah mengajarkan bahwa setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Walaupun sudah enam bulan, tidak ada kata terlambat untuk bersyukur. Dan denai ingin, aqiqah Arya kali ini kita buat agak besar. Denai ingin mengundang paman-paman kita dan seluruh keluarga satu kampung Pande Sikek ini, sebagai penebus rasa rindu kita kepada kaum."

Siti Aminah terkejut sekaligus senang mendengar keinginan suaminya. Matanya berbinar.

"Alhamdulillah, Uda. Itu niat yang sangat mulia. Ambo pun sangat setuju. Selama enam bulan ini banyak keluarga yang datang menjenguk Arya dan selalu bertanya kapan aqiqahnya. Dengan aqiqah Arya sekarang, kita bisa kembali duduk bersama, makan bersama, seperti dahulu. Ambo sudah sangat rindu makan bajamba bersama keluarga besar," jawab Siti Aminah.

"Tapi Uda," lanjutnya, "Kalau kita ingin mengundang semua keluarga sekampung, itu bukan acara kecil. Kita butuh persiapan yang matang. Kita perlu memberitahu mamak-mamak kita terlebih dahulu. Apalagi Arya sudah enam bulan, pasti mamak-mamaknya sudah menanti-nanti."

Abdullah mengangguk. "Itulah yang denai pikirkan. Denai ingin mengundang secara khusus para paman kita yang menjadi tunggak adat di kampung ini. Denai ingin mengundang Tigo Tungku Sajarangan kita."

Yang dimaksud Abdullah dengan Tigo Tungku Sajarangan adalah tiga tokoh adat yang menjadi panutan dan juga merupakan paman-pamannya sendiri dari jalur ibunya. Mereka adalah Datuk Rajo Alam Nan Sati dari suku Payobadar, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak dari suku Sikumbang, dan Datuk Rajo Alam Nan Gampo dari suku Chaniago. Ketiganya adalah sosok yang sangat dihormati, bukan hanya karena gelar adatnya, tetapi karena kebijaksanaan dan kealiman mereka. Mereka adalah tempat orang bertanya tentang adat dan agama, dan mereka adalah paman kandung dari ibu Abdullah.

"Jika ketiga Datuk itu hadir, maka seluruh anak kemenakan pasti akan hadir. Kehadiran mereka akan menjadi restu besar bagi Arya, walaupun aqiqahnya baru terlaksana di usia enam bulan ini. Biarlah mereka yang mendoakan langsung," kata Abdullah dengan penuh keyakinan.

Siti Aminah mengangguk setuju. Ia tahu betapa pentingnya restu dari ninik mamak dalam setiap langkah kehidupan orang Minang. Seorang anak tidak hanya milik ayah dan ibunya, tetapi juga milik kaumnya. Apalagi Arya sudah enam bulan, sudah seharusnya diperkenalkan secara resmi kepada kaumnya.

Setelah shalat Zuhur, Abdullah memutuskan untuk pergi ke pasar di kota. Ia tidak ingin aqiqah anaknya yang sudah berusia enam bulan ini hanya dengan kambing biasa. Ia ingin sesuatu yang lebih istimewa, sebagai bentuk rasa syukur yang tertunda namun lebih besar. Ia ingin mencukupi untuk menjamu satu kampung. Ia sudah berniat untuk membeli seekor sapi yang gemuk dan sehat. Niatnya ini ia dasari pada sebuah hadis bahwa untuk anak laki-laki disunnahkan dua ekor kambing, dan sapi bisa menjadi pengganti yang nilainya lebih besar dan manfaatnya lebih luas untuk dibagi-bagikan, apalagi untuk anak yang sudah besar dan montok seperti Arya.

Perjalanan ke pasar kota ditempuh dengan mobil bak yang ia pinjam dari sepupunya. Jalan berkelok-kelok dari Pande Sikek menuju Batusangkar dan Padang Panjang masih diselimuti kabut tipis. Di pasar ternak, suasana sangat ramai. Suara sapi melenguh, kambing mengembik, dan tawar-menawar antara pembeli dan penjual terdengar bersahutan.

Abdullah berjalan pelan, matanya jeli memperhatikan setiap sapi yang ada. Ia mencari sapi yang tidak cacat, matanya jernih, bulunya bersih, dan kakinya kokoh. Karena ini untuk aqiqah anaknya yang sudah enam bulan, ia ingin sapi yang terbaik. Setelah hampir dua jam berkeliling, akhirnya ia menemukan seekor sapi jantan berwarna coklat kemerahan yang sangat gagah. Sapi itu terlihat sehat, jinak, dan usianya cukup.

Setelah melakukan tawar-menawar yang cukup alot dengan cara Minang yang penuh dengan basa-basi dan filosofi, akhirnya sapi itu berhasil ia beli dengan harga yang disepakati bersama. Ia tidak lupa mengucapkan Alhamdulillah berulang kali. Sapi itu kemudian diikat di belakang mobil bak dan dibawa pulang ke Pande Sikek.

Menjelang Ashar, mobil bak itu memasuki halaman rumah Abdullah. Siti Aminah yang sedang menjemur kain batik di halaman sambil menggendong Arya yang berusia enam bulan itu langsung terkejut dan gembira melihat apa yang dibawa suaminya.

"Ya Allah, Uda... Sapi?" seru Siti Aminah sambil bergegas mendekat. Arya yang berusia enam bulan itu pun tertawa melihat sapi besar di depan matanya, tangannya menepuk-nepuk paha ibunya.

"Betul, Aminah," jawab Abdullah sambil turun dari mobil dan mengelus leher sapi tersebut. "Denai ingin aqiqah Arya yang sudah enam bulan ini menjadi berkah bagi banyak orang. Selama enam bulan ini kita telah diberi kesehatan dan rezeki oleh Allah melalui Arya. Dengan sapi ini, insyaAllah cukup untuk kita makan bersama satu kampung dan masih bisa kita bagikan kepada yang membutuhkan. Biarlah kegembiraan kita selama enam bulan ini dirasakan oleh semua."

Siti Aminah tersenyum haru. Ia mendekatkan Arya ke sapi itu agar Arya melihat. "Lihat nak, ini sapi untuk aqiqah Arya. Semoga menjadi amal jariyah untuk Arya, Uda. Semoga ia tumbuh menjadi anak yang dermawan seperti ayahnya. Walaupun aqiqahnya di umur enam bulan, semoga pahalanya sama dengan yang di hari ketujuh."

Malam harinya, setelah sapi itu diikat dengan aman di kandang belakang rumah dan diberi makan rumput yang segar, Abdullah tidak bisa diam. Semangatnya untuk mengundang keluarga semakin membara. Ia kemudian memanggil kakak ipar laki-lakinya, yaitu kakak kandung Siti Aminah, yang bernama Usman bin Rauf Sikumbang.

Usman bin Rauf Sikumbang adalah seorang pemuda yang gagah, tutur katanya santun, dan sangat dihormati di kalangan pemuda Pande Sikek. Sebagai mamak dari Arya Arsyad Sikumbang, peran Usman sangat penting. Dalam adat Minangkabau, seorang anak lebih dekat tanggung jawab adatnya kepada mamaknya daripada kepada ayahnya sendiri. Oleh karena itu, setiap hajatan besar harus selalu melibatkan mamak, apalagi aqiqah anak yang sudah berumur enam bulan ini, restu mamak adalah yang utama.

"Assalamualaikum, Uda Usman," sapa Abdullah ketika sampai di rumah Usman yang hanya berjarak tiga rumah dari rumahnya.

"Waalaikumsalam, Abdullah. Masuklah," jawab Usman sambil mempersilakan duduk di ruang tamu yang beralaskan tikar pandan. Di sudut ruangan, terlihat foto Arya waktu baru lahir.

Setelah berbasa-basi dan minum kopi pahit khas Pande Sikek, Abdullah menyampaikan maksud kedatangannya.

"Begini, Uda Usman. Seperti yang Uda ketahui, Arya kini sudah berusia enam bulan. Alhamdulillah kini ia dan Aminah sudah sehat. Denai dan Aminah berniat untuk melaksanakan aqiqahnya yang tertunda dulu, lusa hari Jumat, setelah shalat Jumat. Denai sudah membeli seekor sapi di pasar kota tadi. Niat denai, denai ingin mengundang seluruh keluarga satu kampung Pande Sikek, terutama sekali Tigo Tungku Sajarangan kita, yaitu Datuk Rajo Alam Nan Sati Payobadar, Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang, dan Datuk Rajo Alam Nan Gampo Chaniago. Mereka adalah paman-paman kita sendiri, dan restu mereka sangat denai harapkan untuk Arya yang sudah enam bulan ini."

Usman bin Rauf Sikumbang terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca mendengar niat mulia adik iparnya itu. Ia merasa sangat tersanjung karena Abdullah begitu menghormati posisinya sebagai mamak, dan ia pun memang sudah lama menantikan kapan kemenakannya yang sudah enam bulan itu akan diaqiqahi.

"Subhanallah, Abdullah. Niat angku sangat mulia sekali. Ambo sebagai mamak dari Arya yang kini sudah enam bulan, memang sudah menunggu-nunggu niat baik ini. Ambo sangat bersyukur dan berterima kasih. Angku telah memuliakan kemenakan ambo dan juga kaum ambo, suku Sikumbang. Tentu saja ambo sangat mendukung. Ini bukan hanya aqiqah biasa, ini adalah aqiqah yang akan memperkokoh kembali persaudaraan kita. Umur enam bulan adalah umur yang baik, umur dimana anak sudah mulai mengenal orang-orang di sekelilingnya," kata Usman dengan suara bergetar.

"Kalau begitu, Uda, bagaimana kalau malam ini juga kita berjalan memberitahu para tetangga sebelah yang juga para sepupu kita? Kita mulai dari yang terdekat, dari rumah Mak Etek Derita dan Mak Etek Upik. Kita sampaikan bahwa Arya sudah enam bulan dan baru sempat diaqiqah," usul Abdullah.

"Baik, itu ide yang sangat bagus. Kita harus datang dari rumah ke rumah, itu lebih beradab daripada hanya mengirim pesan. Dengan berjalan kaki, kita menunjukkan kesungguhan kita mengundang, apalagi untuk aqiqah yang sudah ditunggu enam bulan ini," jawab Usman.

Maka, berangkatlah mereka berdua di malam yang diterangi bulan purnama. Jalan setapak di Pande Sikek yang terbuat dari batu-batu yang disusun rapi terasa sejuk di kaki. Lampu-lampu teplok dari rumah-rumah gadang menambah suasana syahdu. Mereka berjalan sambil menggendong foto kecil Arya yang berusia enam bulan untuk ditunjukkan kepada keluarga.

Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Mak Etek Derita Chaniago, yang merupakan sepupu satu nenek dari Abdullah.

"Assalamualaikum, Mak Etek..." sapa Abdullah.

Dari dalam terdengar jawaban, "Waalaikumsalam, siapakah di luar?"

"Denai, Abdullah Payobadar dan Uda Usman Sikumbang, Mak Etek."

Pintu pun dibuka. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum lebar. Setelah duduk, Abdullah menjelaskan bahwa aqiqah Arya yang kini sudah berumur enam bulan akan dilaksanakan.

"Ya Allah, Alhamdulillah. Ambo kira kapan aqiqah si Arya yang ganteng itu. Rupanya kini sudah enam bulan ya. Pantas sudah pandai tertawa. Tentu Mak Etek akan datang. Mak Etek akan bawa serta anak-anak dan cucu-cucu Mak Etek. Semoga Arya menjadi anak yang sholeh dan menjadi kebanggaan kampung Pande Sikek," kata Mak Etek Derita dengan gembira.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah-rumah berikutnya. Di setiap rumah, sambutan yang mereka terima sangat hangat. Semua orang memaklumi mengapa aqiqah Arya baru dilaksanakan di usia enam bulan. Mereka semua berjanji akan datang dan akan membantu persiapan acara. Para ibu-ibu bahkan sudah menawarkan diri untuk membantu memasak gulai sapi untuk acara lusa.

Perjalanan mereka malam itu berakhir di surau kecil di ujung kampung. Di sana, mereka bertemu dengan Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang yang baru saja selesai shalat Isya.

"Alah datang kemenakan denai ruponyo," sapa Datuk.

Abdullah dan Usman langsung bersalaman dan mencium tangan Datuk. Dengan penuh takzim, Abdullah menyampaikan undangan aqiqah anaknya yang sudah berumur enam bulan tersebut.

Datuk Rajo Alam Nan Cadiak Sikumbang mengelus jenggotnya yang sudah memutih dan tersenyum bijak.

"Alhamdulillah, kemenakan denai Abdullah bin Rais. Tidak mengapa aqiqah dilaksanakan di umur enam bulan, yang penting niat dan pelaksanaannya. Dalam syarak memang lebih utama tujuh hari, tapi jika ada halangan, maka kapan pun selagi mampu tetap menjadi kebaikan. Denai sebagai mamak angku dan juga sebagai Datuk di kampung ini, dengan senang hati akan hadir. Denai juga akan menyampaikan kepada dua orang kawan denai, Datuk Rajo Alam Nan Sati dan Datuk Rajo Alam Nan Gampo, agar mereka juga bisa hadir. Kita akan duduk bersama di rumah angku, kita doakan Arya Arsyad Sikumbang yang kini sudah enam bulan ini agar menjadi anak yang berilmu, beramal, dan menjadi pemimpin bagi kaumnya kelak."

Mendengar jawaban dari Datuk tersebut, dada Abdullah terasa lapang. Malam itu, ketika ia pulang ke rumahnya, Siti Aminah masih terjaga menunggu sambil memangku Arya yang berusia enam bulan yang sudah tertidur pulas di pangkuannya dengan pipi yang gembul.

Siti Aminah hanya bisa menangis haru. "Terima kasih, Uda. Uda telah membuat Arya yang sudah enam bulan ini menjadi anak yang paling beruntung di Pande Sikek. Ia sudah bisa tertawa dan ia sudah dicintai oleh satu kampung."

Dan di Pande Sikek malam itu, kabar tentang aqiqah besar-besaran yang akan diadakan oleh Abdullah bin Rais Payobadar untuk putranya Arya Arsyad Sikumbang yang kini telah berusia enam bulan telah menyebar dari satu rumah ke rumah lainnya, dibawa oleh angin malam yang sejuk, membawa kebahagiaan dan rasa kebersamaan bagi seluruh anak cucu Payobadar, Sikumbang, dan Chaniago.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!