Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suara riuh rendah ribuan penonton memenuhi auditorium utama Festival Musik Nusantara.
Hari ini adalah babak semifinal yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh pecinta musik tanah air.
Namun, suasana di dalam gedung raksasa itu terasa sangat tidak bersahabat dan penuh dengan aura kebencian.
Berbagai spanduk bertuliskan Boikot The Zeros dan Tolak Penyanyi Lipsync dibentangkan dengan lebar di tribun penonton.
Dion duduk bersandar di kursi VVIP dengan senyuman yang sangat lebar dan memuaskan.
"Lihatlah mereka, Pak Surya. Publik sudah sangat muak dengan penipu bertopeng itu," ucap Dion dengan nada bangga.
Pak Surya yang duduk di sebelahnya menyesap kopi hitamnya dengan gaya elegan.
"Ini adalah kekuatan media, Dion. Kebenaran adalah apa yang kita bentuk di internet," balas Pak Surya sambil tersenyum licik.
"Hari ini kita akan melihat dua orang cacat itu menangis diusir dari atas panggung oleh jutaan pasang mata."
Dion tertawa pelan membayangkan wajah hancur Stevan yang selalu bersikap sombong itu.
Kejadian preman semalam memang sempat membuatnya panik ketakutan hingga tidak bisa tidur.
Namun saat ia melihat Stevan dan Clara benar-benar datang ke gedung audisi pagi ini, rasa takut Dion langsung menghilang.
"Preman bodoh itu pasti sedang mabuk berat semalam sampai bisa dikalahkan oleh anak bisu," batin Dion sangat meremehkan.
"Sekarang di panggung ini, tidak ada lagi trik peretasan atau keberuntungan yang bisa menyelamatkan mereka."
Di ruang tunggu belakang panggung, Clara berdiri menatap layar televisi yang menampilkan amarah penonton.
Tubuhnya sedikit bergetar melihat botol-botol air mineral kosong yang dilemparkan ke arah panggung kosong.
"Kak Stevan, mereka benar-benar membenci kita," ucap Clara dengan suara parau di balik topeng porselennya.
"Apakah suaraku benar-benar bisa menembus semua teriakan hujatan mereka nanti?"
Stevan berjalan mendekati gadis itu sambil menenteng sebuah kotak gitar akustik di tangan kanannya.
Ia meletakkan kotak itu, merogoh ponselnya, dan mengetik sebuah pesan dengan sangat santai.
"Suara kebencian selalu terdengar nyaring di awal," ketik Stevan di layar ponselnya.
"Tapi suara kebenaran akan membuat mereka semua terdiam selamanya."
"Jangan gunakan mikrofon, jangan gunakan penyaring suara, dan biarkan resonansimu yang berbicara hari ini."
Clara membaca pesan itu dan langsung menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan sangat kuat, membuang semua sisa keraguan di hatinya.
"Aku mengerti, Kak. Aku akan menyanyi dengan seluruh nyawaku hari ini," ucap Clara penuh tekad.
Tiba-tiba, suara pembawa acara bergema keras dari luar panggung melalui pengeras suara.
"Kalian semua bersiaplah! Mari kita sambut peserta pertama di babak semifinal ini, The Zeros!" teriak pembawa acara itu.
Huuuu!
Turunkan penipu lipsync!
Pulang sana anak rumahan!
Sorak-sorai ejekan dan hujatan langsung meledak mengguncang seluruh isi auditorium raksasa tersebut.
Pak Budi dan para juri lainnya yang duduk di kursi depan hanya bisa menelan ludah dengan cemas.
Krieeet...
Pintu belakang panggung terbuka, dan Stevan melangkah keluar diikuti oleh Clara di belakangnya.
Penampilan mereka masih sama persis seperti minggu lalu, misterius dengan balutan pakaian serba hitam dan topeng.
Stevan berjalan menuju tengah panggung dengan langkah yang luar biasa tenang dan berwibawa.
Ia tidak mempedulikan teriakan kasar dari ribuan penonton yang terus menghujani mereka.
Stevan berhenti di depan dudukan mikrofon utama, lalu melakukan sesuatu yang membuat semua orang terdiam sesaat.
Srak!
Stevan mencabut kabel dari mikrofon tersebut, lalu menendang dudukan besinya hingga jatuh berguling ke pinggir panggung.
Brak!
Suara dudukan mikrofon yang jatuh itu terdengar jelas karena auditorium tiba-tiba hening akibat kebingungan.
"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia membuang mikrofonnya?" bisik salah satu penonton di barisan depan.
"Jangan-jangan mereka benar-benar mau mundur karena ketahuan menipu?" balas penonton lainnya.
Di kursi juri, Pak Barata langsung menyeringai lebar melihat tindakan Stevan tersebut.
"Bagus, menyerahlah sebelum kau semakin mempermalukan dirimu sendiri, anak muda," batin Pak Barata dengan sangat senang.
Namun, Stevan sama sekali tidak berniat untuk mundur dari panggung itu.
Ia mengeluarkan gitar akustik kayunya yang sangat sederhana dari dalam kotak.
Stevan menarik sebuah kursi kayu kecil, lalu duduk dan meletakkan gitar itu di pangkuannya.
Ia menoleh ke arah Clara yang berdiri tegak dua meter di depannya tanpa ada penghalang apa pun.
Stevan menganggukkan kepalanya satu kali.
Jreng...
Petikan pertama dari senar gitar akustik itu mengalun di udara yang kosong.
Suaranya sangat jernih dan alami, memantul langsung ke dinding-dinding auditorium tanpa bantuan speaker elektronik.
Para penonton mulai saling berbisik kembali.
"Hei, dia mau main akustikan di gedung sebesar ini?"
"Mana mungkin suaranya kedengaran sampai ke belakang, dasar bodoh!"
Dion yang duduk di bangku VVIP tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya.
"Hahaha! Mereka benar-benar bunuh diri! Pak Surya, rencanamu berhasil sempurna!" seru Dion kegirangan.