NovelToon NovelToon
PENGANTIN YANG DITUKAR

PENGANTIN YANG DITUKAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:77.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.

​Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.

​Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGANTIN YANG DITUKAR

​

​Mobil SUV hitam legam yang dikemudikan oleh Reagan Baskara akhirnya memasuki area parkir VIP Bandara Husein Sastranegara, Bandung, dengan sangat mulus. Setelah memarkirkan kendaraannya di tempat khusus, Reagan dan Kalea Mahika berjalan berdampingan melewati koridor lobi menuju terminal kedatangan domestik yang tampak cukup ramai oleh hilir mudik penumpang siang itu.

​Mahika, yang hari ini mengenakan balutan hijab pashmina berwarna pastel lembut dipadukan dengan blazer kerja kasual bermotif rapi, melangkah anggun sambil menyapu pandangannya ke segala penjuru. Ia mencari sosok wanita paruh baya elegan yang sangat dihormatinya.

​Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk melihat Bu Aura berjalan keluar dari balik pintu kaca gate kedatangan, menyeret sebuah koper kabin berukuran sedang dengan roda yang berderik pelan. Wanita paruh baya berbalut blazer hitam modis berpotongan tegas itu tampak sumringah begitu matanya menangkap sosok keponakan dan desainer kesayangannya berdiri di barisan depan area penjemputan.

​"Mahika! Reagan!" panggil Bu Aura dengan senyum mengembang lebar, melambaikan tangan kanannya antusias menyapa mereka berdua.

​Melihat kedatangan Bu Aura, seketika mata Mahika berbinar cerah. Tanpa sadar, rasa kesalnya terhadap kejadian di jalan tadi langsung menguap begitu saja. Ia mengabaikan keberadaan Reagan yang berdiri tepat di sampingnya. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Mahika melangkah cepat bahkan nyaris berlari kecil melewati Reagan begitu saja demi menyambut sang mentor tercinta.

​Reagan, yang sedari tadi berjalan dengan gaya angkuh dan mengira tantenya akan memeluk dirinya terlebih dahulu atau setidaknya menyambut sapaannya dengan hangat sempat merentangkan kedua tangannya setengah jalan ke depan dengan gestur kaku.

​Namun, bukannya memeluk sang keponakan tersayang, Bu Aura justru melangkah lurus melewatinya dan merentangkan tangan lebar-lebar menyambut Mahika yang datang menerjang.

​Grep!

​Mahika langsung menghambur memeluk tubuh Bu Aura dengan erat, melepaskan rasa rindu setelah beberapa hari disibukkan dengan urusan butik yang melelahkan.

​"Duh, Mahika sayang! Kangen banget sama kamu!" seru Bu Aura tulus sambil menepuk-nepuk punggung Mahika penuh kasih sayang. "Sehat, kan? Wah, makin cantik dan anggun aja lho kamu sekarang, apalagi pakai hijab rapi begitu."

​"Alhamdulillah sehat banget, Bu!" balas Mahika tersenyum lebar di dalam pelukan Bu Aura, suaranya terdengar begitu gembira. "Ibu sendiri gimana perjalanannya dari Jakarta? Lancar, kan? Nggak ada hambatan di jalan atau di pesawat?."

​Sementara itu, Reagan yang telanjur merentangkan tangan di udara hanya bisa terdiam kaku bagaikan patung malang di tengah mal. Pria itu menurunkan tangannya perlahan dengan wajah datar setebal tembok es, melirik sekilas ke arah Mahika yang seolah sengaja menginjak-injak harga diri bos besarnya demi memeluk sang tante.

"​Anak ini... sengaja banget cari gara-gara," batin Reagan mendengus kesal di balik ekspresi dingin andalannya, sementara asisten di dalam hatinya sudah mengibarkan bendera perang kecil.

​Setelah melepas rindu sejenak, bercengkrama ringan, dan membantu mengangkat koper kabin Bu Aura menuju bagasi mobil, mereka bertiga akhirnya masuk kembali ke dalam kabin SUV hitam. Bu Aura duduk nyaman di kursi tengah, sementara Mahika menempati kursi penumpang depan di sebelah Reagan yang bertindak sebagai pengemudi.

​Mobil kembali melaju membelah jalanan Kota Bandung yang sejuk. Di tengah perjalanan, Bu Aura menatap Mahika dan Reagan secara bergantian melalui kaca spion tengah, lalu menyunggingkan senyuman penuh arti yang membuat suasana mendadak terasa sarat makna.

​"Oh iya, Mahika," ujar Bu Aura ramah memecah keheningan kabin. "Jadwal butikmu hari ini kan sudah didelegasikan sepenuhnya ke tim manajerial operasional, ya?"

​Mahika menoleh ke belakang, mengangguk sopan pada sang mentor. "Iya, Bu. Hari ini kebetulan staf senior lagi handle proses fitting gaun pengantin dan pengecekan inventaris bahan baku awal, jadi saya bisa ambil waktu luang tanpa harus stand by di butik seharian."

​"Baguslah kalau begitu," lanjut Bu Aura antusias menyambut jawaban tersebut. "Kalau begitu, selepas dari bandara ini, kita nggak langsung pulang ke rumah dinas di Dago Atas. Kita mampir dulu ke kediaman utama keluarga besar Baskara artinya rumah kakak kandung saya, alias orang tua Reagan."

​Mendengar kalimat pengumuman itu, Mahika langsung tertegun di tempat duduknya. Matanya membelalak kaget, dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

​"Hah? Ke rumah... orang tuanya Pak Reagan?" tanya Mahika spontan dengan nada panik, setengah memutar tubuhnya menghadap Bu Aura di belakang. "Eh, tunggu dulu, Bu... Kalau keluarga besar mau berkumpul dan makan bersama, saya kan orang luar, sama sekali nggak ada kepentingan apa-apa di sana! Nggak enak rasanya sama orang tua Pak Reagan kalau saya ikut nimbrung tanpa diundang."

​Sebelum Bu Aura sempat membuka mulut untuk menjawab, Reagan yang sejak tadi fokus menyetir melirik sekilas lewat kaca spion tengah. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang menyebalkan, lalu melontarkan kalimat bernada menyindir yang langsung membuat darah Mahika mendidih seketika di tempat duduknya.

​"Kenapa, Mahika? Kamu takut?" sindir Reagan datar dengan nada sok tahu yang teramat sangat. "Memangnya kamu pikir Bunda saya itu singa sirkus yang suka menggigit orang asing sampai bikin kamu gemeteran begitu? Santai saja, beliau tidak makan daging desainer kok."

​Seketika, Mahika melotot tajam ke arah kaca spion, menatap mata Reagan lewat pantulan kaca dengan pancaran kemarahan yang luar biasa.

​"Siapa yang takut, hah?!" sewot Mahika tidak terima, pipinya merona merah padam karena geram mendefinisikan dirinya sebagai pengecut. "Bukan masalah takut atau nggak, ya! Masalahnya aku ini desainer mitra butik, bukan anggota keluarga kalian! Tiba-tiba diajak ikut bertamu ke rumah orang tua bos besar tanpa persiapan mental dan tanpa status yang jelas, ya jelas canggung dong, Pak Reagan! Bisa-bisa aku dikira asisten rumah tangga nyasar."

​"Sudah, sudah, nggak usah protes berlebihan begitu!" potong Bu Aura gemas sambil tertawa renyah melihat perdebatan kecil di antara keduanya. "Kamu itu bukan orang lain, Mahika. Kamu adalah aset paling berharga buat Aura Fashion sekaligus anak didik kesayangan saya yang sudah membuktikan kerja kerasnya. Soal orang tua Reagan, mereka justru udah sering banget dengar cerita hebat tentang kamu dari saya, jadi mereka pasti menyambutmu dengan senang hati."

​Bu Aura kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Reagan sekilas, lalu beralih tersenyum jahil pada Mahika yang masih cemberut.

​"Wah... kalau dipikir-pikir, kalian berdua ini kalau diperhatikan diam-diam lucu juga ya," komentar Bu Aura santai, sengaja menggoda dua orang di hadapannya. "Reagan yang biasanya kaku, dingin dan irit bicara, ternyata bisa banget diajak berdebat dan meledek kamu, sementara kamu juga selalu bisa mengimbangi ketusannya tanpa rasa takut sedikit pun. Serasi banget kalau jalan berdua..."

​Deg!

​Mendengar kata serasi yang meluncur begitu saja dari mulut Bu Aura, Mahika langsung tersedak ludahnya sendiri. Batuk kecil lolos dari tenggorokannya. Wajahnya merona merah padam hingga menjalar ke telinga di balik balutan hijab pashmina pastelnya.

​"I-Ibu apa-siih! Nggak usah ngawur dan bikin asumsi aneh-aneh deh!" protes Mahika setengah merajuk, salah tingkah luar biasa di hadapan sang mentor. "Mana ada serasi! Yang ada aku mau kena stroke ringan dan darah tinggi tiap detik kalau harus terus-terusan ngadepin kulkas tujuh pintu berjalan ini."

​Reagan di kursi pengemudi hanya berdehem pelan sebuah deheman singkat untuk menyembunyikan reaksi salah tingkahnya sendiri lalu mengalihkan pandangannya fokus kembali ke jalan raya sambil menyembunyikan senyum tipis penuh kemenangan di sudut bibirnya.

​Meski Mahika terus melancarkan protes dan merajuk sepanjang perjalanan menolak dengan berbagai alasan logis, Bu Aura tetap teguh pada pendiriannya. Mau tidak mau, Mahika harus pasrah terbawa arus rencana sang mentor, langsung menuju kediaman megah keluarga besar Baskara untuk menghadapi ujian mental yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di hari kepulangan Bu Aura ke Kota Bandung.

1
Heni Setiyaningsih
bapak dan ibunya apa gk bisa kerja ya,,,,kok kayak pasrah gitu
Aidil Kenzie Zie
telpon pengawal atau Reagan Mahika
Aidil Kenzie Zie
lah si Mokondo bukannya sadar diri 🤣🤣🤣🤣🤣
Aidil Kenzie Zie
kok mantan suami sih Re mereka kan belum nikah 😓😓
untuk makan aja mereka susah ini malah mau neror Mahika 😝😝😝😝
Aidil Kenzie Zie
penasaran suami Bu Aura sama Martha mana y kok nggak nongol 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
masa nggak ada uang sepersen pun dikantong mereka 🤔🤔🤔
Lucy
huhuyyy bentar lagi kulkas 7pintu akan mencair 😀
Zhafran Althaf
ahhhh so sweet 😍😍😍
Ariany Sudjana
wah selamat menikmati makan siang Mahika and Reagan
Aidil Kenzie Zie
bukannya Mahika berhijab 🤔🤔🤔
kok "tatanan rambut di gulung longgar"🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
penasaran ortunya kerja apa y🤔🤔
posisi Ratu apa yang kamu janjikan Reno 😡😡😡😡toh semuanya Mahika yang biayanya
Aidil Kenzie Zie
Jakarta - Bandung naik pesawat 🤔🤔🤔🤔
Aidil Kenzie Zie
napa masih 30 hari tor🤫🤫🤫🤫
Aidil Kenzie Zie
mampir
Dokkan Battle
AWOKAWOK MAU MATI LU YA
fatmiatun sahono
koq pada bingung ya. kan Gisela kerja juga bukan. pasti adalah uang nya. pesta nikahan kan sdh di byr kan sama mahika toh....ayo berbagi lah ma orang tua ya....🙏
fatmiatun sahono
datang paket mmg sudah lunas dibayarkan sama Malika ya...😆
Dew666
🍎
sutiasih kasih
lucu sekali... siapa yg berulah... siapa yg hianat.... tpi sll mahika yg km salahkn reno🤣🤣
Triana Destiani
good job mahika
kesuksesan mu sedang menunggu di depan 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!