Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 KEKUATAN DI BALIK SEBUAH SENYUM
Beberapa hari berlalu, dan perubahan kecil mulai terasa di mana-mana. Dina yang biasanya selalu sendirian, kini sering terlihat berjalan bersama Keira menuju ruang makan. Aldo yang dulu selalu terlihat bermuka masam dan sendirian, perlahan mulai ikut bergabung saat kegiatan kelompok belajar, meski masih agak canggung. Keira tidak melakukan hal yang luar biasa ia hanya hadir, mendengarkan, dan tidak menghakimi. Namun hal sederhana itu ternyata memiliki kekuatan yang besar.
Suatu sore, asrama mengadakan kegiatan gotong royong membersihkan gudang lama di bagian belakang gedung. Banyak barang yang perlu dipilah, dibersihkan, atau disusun kembali. Keira ditugaskan bekerja bersama Dina dan beberapa gadis lain, saat sedang memindahkan tumpukan kotak tua, salah satu kotak itu tergelincir dari tangan Dina dan isinya berantakan di lantai. Pecahan piring keramik tua berserakan di lantai yang keras.
Dina terlihat sangat panik, wajahnya pucat seketika.
"Maaf, aku tidak sengaja. Jangan marah padaku" Gadis itu seakan siap dimarahi, matanya berkaca-kaca dan tubuhnya sedikit gemetar. Beberapa gadis lain yang melihat mulai berbisik-bisik, menatap takjub sekaligus cemas.
Belum ada yang sempat berbicara, Keira sudah berlutut di lantai dan mengambil sapu kecil.
"Tidak apa-apa, Dina. Mari kita bersihkan bersama, piring saja kok, bisa dibeli lagi kalau perlu. Kamu tidak terluka kan ? Tanganmu tidak tergores ?" Balas Keira
Dina menggeleng pelan, air matanya menetes di pipi.
"Tapi Bu Pengawas pasti akan memarahiku" Jawab Dina denga pipi yang sudah bawah
"Aku yang akan bicara pada beliau kalau ada yang bertanya, kamu tidak perlu takut. Kesalahan kecil bukan berarti kamu orang yang ceroboh, kan ?" Ujar Keira tersenyum menenangkan, lalu Dina ikut berlutut membantu merapikan pecahan itu dengan lebih tenang.
Gadis-gadis lain yang awalnya hanya berdiri menonton, akhirnya ikut membantu juga. Keheningan yang canggung berubah menjadi kerja sama yang hangat. Tidak jauh dari sana, di area halaman asrama bagian depan, ada masalah lain yang sedang terjadi. Aldo sedang berdebat dengan beberapa siswa lain soal pembagian tugas, suara mereka terdengar semakin meninggi.
"Kamu selalu saja menyalahkanku, sejak awal kalian tidak pernah percaya padaku hanya karena siapa ayahku" seru Aldo dengan dada yang naik turun, tangannya terkepal kuat menahan amarah.
Zain dan Rian yang sedang bekerja di dekat sana berjalan mendekat, namun Keira lebih dulu tiba. Ia tidak langsung menengahi dengan menasihati, sebaliknya ia berdiri di samping Aldo namun menatap teman-teman yang lain.
"Kita semua lelah bekerja seharian ini, bukan?" Ucap Keira dengan suara yang tenang namun terdengar jelas.
"Mari kita tenang dulu, Aldo. Kamu tidak harus membuktikan siapa pun kepada mereka hari ini, dan kalian tolong ingat, Aldo adalah Aldo. Dia bukan siapa-siapa selain dirinya sendiri, alau tugasnya berat, kita bagi rata saja. Semua orang sama lelahnya, jadi mari kita saling bantu, bukan saling menekan" Lanjut Keira
Suasana perlahan mereda, Aldo menghela napas panjang, menunduk menahan emosinya.
"Maaf... aku terlalu sensitif soal ini" Lirih Aldo
"Itu bukan salahmu, itu wajar" Jawab Keira lembut.
"Tapi kita belajar bersama-sama ya, untuk berbicara dengan tenang daripada berteriak. Kami ada di sini untuk mendengarkanmu, bukan untuk melawanmu" Tambah Keira
Saat kegiatan selesai dan matahari mulai terbenam, semua siswa berkumpul di halaman depan untuk beristirahat. Dina berjalan mendekat kepada Keira sambil memegang selembar kertas kecil.
"Ini gambar yang aku buat, tidak bagus mungkin, tapi terima kasih sudah memperlakukanku seperti teman tapi aku merasa lebih tenang di sini sekarang." Ucap Dina malu-malu.
Keira menerima kertas itu dengan senyum tulus, gambar itu sederhana ada matahari terbit di atas bukit, dan beberapa orang berdiri melingkar berpegangan tangan.
"Ini indah sekali, Dina. Aku akan menyimpannya baik-baik di kamarku" Ujar Keira
Di sudut lain, Aldo berjalan mendekat juga. Ia tampak ragu, lalu menyodorkan sebungkus biskuit sederhana.
"Ini kiriman dari rumahku, boleh aku berbagi denganmu ? Terima kasih sudah membela aku tadi. Tidak banyak yang berani berdiri di sisiku saat aku sedang dimusuhi banyak orang" Ucap Aldo
Keira tersenyum tulus …
"Terima kasih, Aldo. Tapi ini bukan aku yang membela kamu, tapi kebenaran yang membela kamu. Kamu pantas diperlakukan sama seperti siapa pun di sini" Jawab Keira
Zain memperhatikan semua itu dari kejauhan, hatinya terasa hangat sekaligus bangga. Keira tidak berubah dalam semalam. Masih ada hari-hari saat ia merasa cemburu atau takut, tapi gadis itu berusaha setiap hari untuk menjadi lebih baik dan usaha tulus itu justru yang perlahan mengubah suasana di asrama ini satu senyum, satu kalimat jujur, satu tangan yang terulur untuk membantu.
Malam itu saat mereka berjalan kembali menuju gedung asrama bersama-sama, langit terasa lebih terang dari biasanya. Bukan karena bulan bersinar terang, tapi karena di hati mereka masing-masing, ada cahaya harapan yang perlahan tumbuh dan menyala bersama-sama.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...