Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Ka-Kak Alina? Kak Alina di sini?"
Suara Kayla semakin dekat. Alina langsung panik, matanya membesar. Ia mendorong pelan dada Revan.
"Revan, sembunyi! Cepat!" bisiknya dengan suara gemetar, tangannya menarik lengan Revan.
Revan tidak langsung bergerak. Ia justru tersenyum tenang, senyum yang selalu membuat Alina kesal karena terlalu santai di situasi genting seperti ini.
"Shhh..."
Dalam sepersekian detik, sebelum Alina sempat protes lagi, Revan menunduk dan mencium bibir Alina dengan cepat. Ciuman singkat, hangat, hanya sekilas, tapi cukup membuat napas Alina tertahan.
Alina membeku.
Revan melepaskannya, lalu dengan gerakan cepat ia bergeser ke balik tembok pilar di samping kamar mandi, tempat bayangan lampu dinding tidak sampai. Tubuhnya yang tinggi dengan jas hitam itu melebur dalam gelap.
Baru dua detik ia bersembunyi, Kayla muncul di tikungan lorong. Napasnya agak terengah karena berjalan cepat.
"Kak Alina! Akhirnya," Kayla langsung menghampiri Alina dan merangkul lengannya. "Kakak lama banget, aku khawatir. Mama nyuruh aku nyusul."
Alina masih berusaha mengatur napasnya yang berantakan karena ciuman tadi. Bibirnya masih terasa hangat. Ia memaksakan senyum.
"A-ada apa, Kay? Kenapa cari Kakak sampai ke sini?" tanya Alina, suaranya masih sedikit serak.
Kayla menunduk, pipinya yang tadi sudah memerah kini semakin merah. Ia memainkan ujung bajunya dengan malu-malu.
Kayla melirik ke kiri dan kanan lorong yang sepi, memastikan tidak ada orang lain, lalu berbisik pelan ke Alina.
"Kak... menurut Kakak... Kak Revan itu orangnya gimana?"
Pertanyaan itu membuat darah Alina seakan berhenti mengalir. Ia menatap Kayla yang ada di depannya. Wajah adik iparnya itu memerah, matanya berbinar-binar penuh harapan seperti anak kecil yang menunggu jawaban.
Alina gugup. Tangannya yang masih memegang pergelangan Kayla terasa dingin.
"Revan? Revan itu… eh…" Alina tergagap, matanya melirik sekilas ke arah pilar tempat Revan bersembunyi. "Dia… dia baik, Kay. Dia asisten yang… yang rajin."
Jawaban itu terdengar kaku dan hampa. Bahkan Alina sendiri benci mendengarnya.
Kayla justru mengangguk semangat, sama sekali tidak sadar kakak‑iparnya sedang panik setengah mati.
"Aku sudah menduga Kakak akan menjawab begitu. Selera kita memang sama kalau soal cowok."
Alina membeku di tempat.
Kalimat itu diucapkan Kayla dengan nada riang dan senyum malu, tapi bagi Alina rasanya seperti air es yang tiba‑tiba disiramkan tepat ke ubun‑ubun.
"Kay… apa maksudmu?" suaranya nyaris tidak terdengar, bergetar halus.
Kayla terkekeh kecil, ia tidak sadar sama sekali bahwa wajah Alina sudah memerah pucat.
"Kak Revan itu sama seperti Kak Rafael. Rajin, tenang, tidak banyak omong, kerja keras… jadi wajar kalau Kakak bilang dia baik."
Ia mendongak, menatap Alina dengan mata polos yang berbinar penuh harapan.
"Sebenarnya aku sudah menyukai Kak Revan sejak pertama kali bertemu. Makanya aku sangat senang saat tadi Papa bilang ingin menjodohkan kami."
Alina merasakan lututnya tiba‑tiba lemas, seolah seluruh kekuatan tubuhnya terbang hilang.
Di balik pilar yang hanya berjarak satu meter itu, Revan masih berdiri diam. Punggungnya menempel ke tembok batu yang dingin. Setiap kata yang keluar dari mulut Kayla terdengar jelas di telinganya. Tangannya di dalam saku jas mengepal begitu keras, sampai kuku menekan dalam ke telapak tangan.
Alina menatap Kayla. Bibirnya yang masih terasa hangat karena ciuman singkat Revan tadi kini terasa kaku dan kelu.
"Kayla…" suaranya akhirnya keluar, pelan dan hampir pecah di tengah jalan. "Kamu… benar‑benar yakin dengan perasaanmu itu?"
Kayla mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Matanya berbinar lebih terang, penuh keyakinan yang polos.
"Yakin, Kak. Aku tidak pernah seyakin ini. Dulu aku kira ini cuma kekaguman biasa… tapi makin lama aku sadar, aku sudah benar‑benar jatuh cinta padanya."
Ia meremas ujung bajunya dengan jari‑jemari yang gemetar halus, suaranya mengecil jadi bisik, "Apa… menurut Kakak aku aneh ya? Suka sama asisten keluarga sendiri?"
Pertanyaan polos itu menghantam dada Alina telak. Di dalam hatinya, ia menyimpan jeritan yang tak bisa dikeluarkan ke luar, jeritan yang mengakui bahwa bukan Kayla yang salah, melainkan dirinya sendiri. Ia yang sudah bersuami, namun diam‑diam menyimpan cinta dan membagikan sentuhan terlarang dengan pria yang seharusnya hanya menjadi orang asing bagi keluarga ini.
"Enggak," jawabnya sambil menggeleng cepat, matanya mulai berkaca‑kaca lagi. "Kamu tidak aneh sama sekali, Kay. Perasaanmu… tulus. Kakak bisa melihat itu jelas."
Kayla tersenyum lega, lalu memeluk lengan Alina dengan erat. "Terima kasih ya, Kak. Aku lega mendengarnya. Aku takut Kakak akan bilang aku kekanak‑kanakan."
Di balik pilar yang gelap, Revan memejamkan mata rapat. Kata‑kata yang baru saja terucap terdengar seperti pisau yang mengiris dua arah, untuk Kayla yang berharap tulus, dan untuk dirinya yang terperangkap di antara rahasia yang berat.
-
-
-
Di dalam ruang kerja yang luas, cahaya lampu kuning temaram memantul di deretan rak buku yang tinggi sampai ke plafon. Aroma kertas tua dan kayu bercampur di udara yang tenang.
Tuan Andika duduk di kursi kulit besarnya, tatapannya menatap lurus ke arah anaknya.
"Kenapa, El? Kamu tidak setuju?" tanyanya langsung, tanpa basa‑basi.
Rafael berdiri di depan meja ayahnya, kedua tangannya terselip di kantong celana. Ia menghela napas panjang yang terasa berat.
"Pa… aku bukannya tidak setuju kalau Kayla menikah nanti. Tapi… kenapa harus Revan, Pa?"
Tuan Andika mengerutkan kening, alisnya bertaut rapat.
"Apa yang salah dengan Revan? Anak itu baik, sopan, dan bekerja keras. Enam bulan ini Papa lihat sendiri bagaimana dia membantu kamu di kantor. Dia setia dan dapat dipercaya."
"Itu yang jadi masalahnya, Pa," jawab Rafael dengan nada rendah. "Baru enam bulan kita mengenalnya. Kita belum tahu latar belakang keluarganya, belum tahu apa yang terjadi di masa lalunya. Papa mau langsung menjodohkan Kayla, adikku satu‑satunya dengan seorang asisten?"
Tuan Andika terdiam sejenak, tatapannya tertuju ke jendela yang gelap di balik kaca.
Rafael melanjutkan, suaranya makin lembut tapi tegas. "Aku sayang Kayla, Pa. Aku tidak mau dia dijodohkan hanya karena Papa merasa kasihan atau menganggap Revan sudah seperti anak sendiri. Perjodohan itu adalah ikatan seumur hidup."
"Apakah kamu meremehkan Revan hanya karena dia seorang asisten?" suara Tuan Andika mulai naik sedikit, ada nada keberatan di sana.
"Bukan begitu, Pa," jawab Rafael cepat, berusaha tenang. "Aku menghargai semua kerja kerasnya. Tapi status keluarga kita dan status dia berbeda. Apa yang akan dibicarakan orang tentang keluarga Mahendra kalau putri kita dijodohkan dengan asisten? Apalagi Kayla baru dua puluh satu tahun, masih kuliah, masih punya banyak hal yang ingin dia kejar. Terlalu cepat untuk menentukan semuanya sekarang."
Tuan Andika bersandar ke sandaran kursi, lalu memijat pelipisnya dengan jari‑jemari yang kaku.
"Papa hanya takut Kayla salah memilih orang di luar sana. Anak‑anak zaman sekarang… banyak yang tidak tulus."
"Aku mengerti maksud Papa baik," potong Rafael dengan nada lembut. "Tapi berikan waktu untuk Kayla. Biarkan dia mengenal banyak orang dulu. Kalau memang Revan jodohnya, nanti juga akan bertemu dengan sendirinya. Tanpa harus dipaksa sekarang."
Keheningan menyelimuti sejenak. Hanya suara detik‑detik jam dinding yang berirama pelan, memecah kesunyian.
Tuan Andika menatap anak sulungnya lama, tatapannya dalam dan tak terbaca.
"El…" suaranya akhirnya keluar, pelan hampir berbisik. "Justru karena Papa sudah mengenal Revan lebih dari enam bulan, makanya Papa yakin."
Ia bangkit dari kursi kulitnya yang besar, lalu berjalan perlahan menuju jendela yang kacanya memantulkan kegelapan malam di luar.
"Anak itu… dia tidak punya siapa‑siapa, El. Tidak ada keluarga yang bisa dia banggakan. Tapi dia tidak pernah mengeluh. Dia membangun dirinya dari nol. Papa melihat bayangan diri Papa sendiri di dalam dirinya, waktu Papa masih muda, sebelum Mahendra Group tumbuh sebesar sekarang."
Rafael mengerutkan kening, ingin membantah. "Pa…"
"Kayla butuh laki‑laki yang bisa menjaganya, bukan laki‑laki yang cuma bisa memanjakannya dengan uang Papa," potong Tuan Andika dengan nada tegas yang tak bisa dibantah. "Revan bisa melakukan itu. Papa tahu dia bisa. Papa tetap ingin Revan jadi menantu laki‑laki Papa. Satu‑satunya."
Rafael mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia tahu, kalau Papanya sudah bicara dengan nada seperti ini, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.
"Baik, Pa. Kalau itu keinginan Papa… aku akan coba bicara dengan Kayla," jawabnya akhirnya, dengan nada yang terasa kalah.
Tuan Andika mengangguk puas, lalu berjalan kembali ke kursinya dan duduk perlahan.
"Omong‑omong, El…" Tatapannya tiba‑tiba menjadi tajam. "Papa dengar Amara sudah kembali dari luar negeri."
Tubuh Rafael seketika menegang.
"Dia sekarang jadi model untuk merek baru di perusahaan kita, kan?"
Rafael terdiam sejenak sebelum menjawab singkat. "Iya, Pa. Tim pemasaran yang memilih dia. Papa tahu sendiri, dia memang cocok."
Tuan Andika tersenyum tipis, "Kamu dan Amara sudah saling mengenal lama, bahkan jauh sebelum kamu mengenal Alina. Dan kalian punya masa lalu sendiri."
Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap tepat ke mata anaknya. "Papa harap kamu bisa menahan dirimu, Rafael."
Satu kalimat saja, diucapkan pelan tapi menghantam dada Rafael sekeras pukulan.
"Jangan buat Alina merasa seperti istri yang tidak penting."
Rafael membeku di tempat. "Pa… aku—"
"Alina itu anak baik," potong Tuan Andika dengan suara yang makin berat. "Dia sabar menghadapimu. Tidak pernah mengeluh meskipun kamu sering mengabaikannya. Papa tidak buta, El. Papa tahu kamu belum benar‑benar bisa menerima Alina sebagai istrimu."
Udara di ruangan luas itu tiba‑tiba terasa pengap dan sulit dihirup.
"Jangan pernah kecewakan Alina… apalagi hanya demi wanita bernama Amara itu, Rafael Mahendra."
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰