"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 32
Siang itu Kaia berada di resort miliknya di kawasan Ubud. Setelah hampir satu jam meeting dengan beberapa karyawan, ia kembali ke ruangannya untuk merapikan barang-barang yang akan dibawanya.
Laptop, charger, sebuah notebook kecil dan beberapa dokumen yang sudah ia siapkan sejak malam sebelumnya.
Siang ini ia akan bertemu dengan salah satu klien dari New York yang kebetulan sedang berlibur di Bali.
Pria itu sudah bekerja sama dengannya selama hampir enam bulan, sejak Kaia masih tinggal di Slovenia.
Semua pekerjaan mereka dilakukan secara daring. Kaia menangani pengembangan dan pemeliharaan beberapa sistem perusahaan milik klien tersebut.
Sesekali ia juga diminta memperbaiki bug atau menambahkan fitur baru sesuai kebutuhan. Pekerjaan yang fleksibel.
Cukup untuk membuatnya tetap produktif tanpa harus terikat pada sebuah kantor dan masih bisa mengurus si kembar.
Kaia memasukkan laptop ke dalam tas. Ia mengenakan dress floral sederhana dengan potongan leher V, rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah.
Sepasang sneakers putih membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dibandingkan ketika ia sedang mengurus resort.
Ia meraih kacamata hitam dari atas meja. Kemudian keluar dari ruangannya. "Mita."
Sekretarisnya yang sedang memeriksa beberapa dokumen langsung menoleh.
"Saya ada perlu sebentar.Mau bertemu klien di kafe dekat sini."
"Baik, Bu."
"Kalau ada sesuatu yang penting, telepon saya."
Mita mengangguk. "Siap, Bu Asha."
Kaia tersenyum kecil sebelum melangkah
meninggalkan resort. Ia tidak menggunakan nama Kaia. Ia tidak ingin dikenal karena masa lalunya bahkan ditemukan oleh Meganthara.
Begitu keluar, udara hangat Ubud langsung menyentuh kulitnya. Matahari siang cukup terik, tetapi angin yang melewati pepohonan membuat udara tidak terasa terlalu menyengat.
Ia mengenakan kacamata hitam. Kemudian masuk ke dalam mobil. Mesin menyala. Beberapa detik kemudian, mobil itu meninggalkan halaman resort.
Langit Bali begitu cerah. Biru tanpa banyak awan. Kaia mengetukkan ujung jarinya di setir mengikuti irama lagu yang mengalun dari Spotify.
Sudah lama ia tidak merasa sesantai ini. Hidupnya mungkin tidak sempurna. Tetapi kini ada dua makhluk kecil yang membuatnya bersemangat kembali.
Hingga sebuah pemandangan di pinggir jalan membuat Kaia spontan mengurangi kecepatan. Matanya tertuju pada seorang penjual jajanan telur gulung yang berdiri di dekat sebuah sekolah dasar.
Kaia langsung tersenyum.Mengingat jajanan murah yang dulu sering ia beli sepulang sekolah saat SMA.
Tanpa berpikir panjang, ia menepikan mobil. Lalu Ia turun dan berjalan mendekati penjual tersebut.
"Beli, telur gulung sepuluh ribu, ya."
Penjual itu tersenyum ramah. Dengan logat khas Balinya ia menjawab. "Siap, Gek. Ditunggu."
Kaia mengangguk. Sambil menunggu, matanya memperhatikan beberapa anak sekolah yang berkerumun di depan penjual jajanan lain.
Senyumnya semakin lebar.Tiba-tiba ia teringat Ocean dan Sea. Keduanya pasti akan menyukai jajanan ini.
Ia bahkan bisa membayangkan ekspresi Sea ketika melihat telur gulung untuk pertama kalinya. Gadis kecilnya pasti akan antusias mencicipinya dan Ocean pasti akan minta nambah.
Kaia terkekeh kecil sendirian. "Lucu banget kalau mereka coba."
Telur gulung itu akhirnya selesai dibuat. Kaia membayarnya, lalu membawanya kembali ke mobil.
***
Di Opaline Skin Center, Seminyak, Elio baru saja menyelesaikan pertemuan terakhirnya. Satu per satu masalah di klinik cabang milik ibunya berhasil dibereskan.
Begitu pintu ruangan tertutup, Elio menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Tangannya terangkat memijat pelipis. Kepalanya terasa berdenyut.
Entah kenapa, rasa lelah seperti itu selalu mengingatkannya pada masa lalu. Dulu, setiap kali pulang dari rumah sakit dalam keadaan seperti ini...
Ada Kaia yang selalu menunggunya. Perempuan itu biasanya akan menyambut membawa segelas air. Atau kadang menawarkan pijatan.
Lalu sebelum Elio menjawab, tangan kecil Kaia sudah lebih dulu bergerak memijat bahunya. Meski dirinya selalu bersikap dingin, Kaia tetap melayaninya.
Dulu ia menganggap semua itu biasa. Tapi sekarang... hal-hal kecil seperti itu yang paling sering muncul dalam ingatannya.
Elio membuka mata.Rahangnya mengeras. "Semoga aku segera menemukanmu, Kai."
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu membuatnya menoleh. Seorang asistennya masuk. "Siang, Dok."
"Ya."
"Setelah ini dokter akan langsung ke Meganthara Medical Center Bali?"
Elio menggeleng. "Lusa saja." Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. "Saya masih punya waktu beberapa hari di Bali." Kemudian ia menatap asistennya. "Kamu ada rekomendasi penginapan yang tenang? Saya butuh suasana yang sejuk dan hijau."
Asistennya tampak berpikir sejenak. "Kalau dokter ingin tempat yang tenang dan banyak pepohonan, Ubud lebih cocok."
"Ubud?"
"Ya, Dok. Udaranya lebih sejuk."
Elio mengetukkan jemarinya pada meja. "Carikan resort yang bagus di sana."
"Baik, Dok." Asisten itu mengangguk lalu keluar.
Elio berdiri. Ia melepaskan jas dokternya dan menggantungkannya di kursi.
Kemeja abu-abunya digulung sampai siku.
Beberapa menit kemudian ia sudah berada di dalam mobil.BMW gran coupe seri 5 warna sophisto Grey miliknya meninggalkan area Seminyak.
Semakin jauh dari keramaian kota, jalanan mulai berubah. Pepohonan semakin banyak. Udara Ubud terasa lebih sejuk.
Sekitar satu jam dua puluh menit kemudian, mobil Elio melaju melewati sebuah persimpangan.
Lampu lalu lintas berubah merah. Mobil berhenti. Elio yang sejak tadi memandang lurus ke depan tiba-tiba mengalihkan pandangan ke sisi jalan.
Ada seorang perempuan berdiri di dekat penjual jajanan anak sekolah. Mengenakan dress floral, rambut panjang, kacamata hitam.
Perempuan itu baru saja menerima sebungkus telur gulung.Elio terdiam. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Wajah itu membuatnya terpaku.
Cara perempuan itu tersenyum, cara ia sedikit memiringkan kepala ketika berbicara. Gerakan sederhana yang sangat familiar.
Elio mengernyit, napasnya tertahan. "Ka... Kaia...?" Suara itu bahkan hanya keluar seperti bisikan.
Perempuan tersebut berjalan menuju sebuah mobil.Elio langsung membuka pintu mobil. Klakson kendaraan di belakangnya bersahutan.
Namun ia tidak peduli.Tatapannya hanya tertuju pada perempuan yang berdiri di tepi jalan itu. Perempuan tersebut membuka pintu mobil.
Satu tangannya sudah memegang gagang pintu ketika tiba-tiba ia menoleh. Tatapan mereka hampir bertemu.
Mata Elio membesar. Untuk beberapa detik, seluruh suara di sekelilingnya seperti menghilang. Yang tersisa hanya Rambut panjang. Wajah yang kini terlihat lebih dewasa.
Tubuh yang jauh lebih berisi dibandingkan Kaia yang terakhir kali ia lihat.Namun mata itu... Senyum itu... Cara perempuan itu menoleh...
Elio sangat mengenalnya. Itu Kaia, istrinya.
empat tahun terakhir Perempuan yang selama membuatnya kehilangan akal karena terus mencari keberadaannya. Perempuan itu.
"Kai..." Bisikan itu bahkan nyaris tidak terdengar. Kakinya spontan hendak melangkah.
Namun sebelum ia benar-benar mengejar, kesadarannya menahan tubuhnya. Ia cepat-cepat menggeleng.
Tidak. Jangan sekarang.Elio berhenti. Ia buru-buru berbalik dan berlindung di balik batang pohon besar di pinggir jalan.
Dadanya naik turun, tangannya mengepal di sisi tubuh. Jika ia muncul sekarang, Kaia pasti akan pergi lagi seperti di pemakaman Kakek Hardja.
Saat itu ia hanya terlambat beberapa detik. Dan perempuan itu kembali menghilang.Elio tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia lantas mengintip dari balik pohon.
Mobil Kaia mulai bergerak meninggalkan tempat itu.Elio menelan ludah. Kali ini ia tidak akan langsung menghampirinya.
Ia ingin tahu di mana Kaia tinggal, dengan siapa dia tinggal, apa yang selama ini dia lakukan.
Dan yang paling penting, mengapa selama empat tahun perempuan itu tidak pernah sekalipun mencoba kembali kepadanya.
Elio kembali ke mobilnya.Mesin segera dinyalakan. Ia menjaga jarak aman, cukup jauh dari mobil Kaia.
Tidak terlalu dekat hingga mudah dicurigai, tetapi juga tidak terlalu jauh hingga kehilangan jejak.
Matanya terus mengikuti kendaraan hitam di depannya.Hingga akhirnya mobil Kaia berbelok menuju sebuah kafe.Membuat Elio mengurangi kecepatan.
Mobil Kaia berhenti. Perempuan itu turun sambil membawa tas di bahunya. Ia merapikan bagian bawah dress floral yang dikenakannya sebelum melangkah masuk ke dalam kafe.
Elio menatapnya dari balik kaca mobil. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Dulu... Baginya, Kaia selalu terlihat seperti gadis kecil yang tidak terlalu peduli pada penampilannya. Rambut bob pendek. Sering mengenakan kaos oversize dan celana jeans, juga hoodie.
Sekarang semuanya berbeda. Rambutnya kini panjang, gayanya lebih feminin. Ada ketenangan yang tidak pernah Elio lihat sebelumnya.
Dan entah kenapa, perubahan itu membuat dadanya terasa aneh. Kaia semakin cantik. Elio segera mengalihkan pandangan. Tanpa sadar ia sedang mengagumi istrinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Kaia duduk bersama dua pria asing di sebuah meja dekat jendela.
Mereka berjabat tangan. Salah satu pria bahkan tertawa sambil menepuk bahu Kaia dengan ramah.
Dahi Elio berkerut. Siapa mereka? Teman? Rekan kerja? Atau... Klien?
Rasa penasaran kian menumpuk di dadanya. Ia membuka dashboard. Meraih sebuah topi, kacamata dan masker.
Ia mengenakannya satu per satu. Setelah memastikan penampilannya cukup berbeda, Elio keluar dari mobil.
Ia berjalan masuk ke kafe. Matanya tidak sekalipun menatap langsung ke arah Kaia. Ia memilih meja yang letaknya beberapa meter dari mereka, membelakangi meja Kaia.
Seorang pelayan datang, menawarkan menu. "Good afternoon, sir. What would you like to order?"
"Coffee. Black."
"Anything else?"
Elio melirik daftar menu."Just some sandwiches." "Certainly, sir."
Setelah pelayan itu pergi. Elio menyandarkan tubuhnya, ia berpura-pura melihat ponsel.
Padahal telinganya fokus pada suara di belakangnya.
"...the system is running much better now." Suara seorang pria terdengar. "Honestly, Asha Calina, I'm impressed."
"Thank you "Kaia terkekeh kecil.
"I've worked with several developers before, but the way you handle our system is different. You don't just fix the problem. You actually understand what our company needs."
Kaia tersenyum.
I try to understand the business first before writing the code. Otherwise, we might solve the technical problem but create another problem for the users."
Pria itu tertawa kecil."Exactly. That's why I want to extend our contract."
Jari Elio yang sejak tadi mengetuk meja berhenti.Developer? Coding? Jadi selama ini Kaia masih bekerja di bidang IT freelance?
Ada sesuatu yang menggelitik pikirannya. Ia tidak pernah tahu kehidupan Kaia setelah meninggalkannya.
Empat tahun yang ternyata dipenuhi kehidupan yang sama sekali tidak ia kenal.
Obrolan mereka kemudian bergeser ke hal-hal ringan.Sampai salah seorang pria itu bertanya, "So, will you be staying in Bali from now on?"
Kaia terdiam sebentar sebelum mengangguk. "Yes. I think I'll be staying here for quite some time."
Elio menegang. Bali? Berarti Kaia baru berada di Bali. Lalu selama ini... di mana dia tinggal?
Pria itu tersenyum. "That's nice. I remember you used to work from Slovenia."
Kaia tertawa kecil. "I did."
"So you've really left Slovenia?"
"Yes." Kaia merapikan rambut panjang yang jatuh di sisi wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga. "There are a lot of memories there. It's a country I'll never forget." Ada jeda singkat. "But I had to come back to Indonesia. My grandma needs me."
Pria itu mengangguk. "I'm sorry about your grandfather, by the way."
Kaia tersenyum tipis."Thank you."
Elio membeku. Jadi selama ini Kaia berada di Slovenia? Negara yang bahkan tidak pernah masuk dalam daftar pencariannya.
Empat tahun. Ia mencarinya ke berbagai negara. Memeriksa berbagai kemungkinan. Mengikuti setiap petunjuk. Sementara Kaia... ternyata hidup dengan tenang di Slovenia.
Rahang Elio mengeras. Pantas... Pantas saja ia tidak pernah menemukan perempuan itu. Ada seseorang yang sengaja menyembunyikannya.
Dan hanya ada satu orang yang sejak awal memiliki alasan untuk melakukan itu. Ia adalah Fadlan, Papa mertuanya.
Elio menundukkan wajah, menatap cangkir kopi yang baru saja diletakkan pelayan di depannya. Tangannya mengepal di bawah meja.
Jadi selama ini... Papa Fadlan sengaja menyembunyikan Kaia darinya.
Namun satu pertanyaan justru terasa jauh lebih menyakitkan. Jika Kaia memang hidup selama ini... mengapa dia tidak pernah pulang?
Mengapa tidak pernah menghubunginya? Dan mengapa, setelah empat tahun... perempuan itu masih memilih hidup tanpanya?
Elio perlahan mengangkat wajah. Dari sudut matanya, ia melihat bayangan Kaia di kaca jendela.
Perempuan itu sedang tersenyum. Senyum yang dulu pernah ia dapatkan setiap hari. Kini... senyum itu terasa jauh, entah ia bisa memilikinya lagi atau tidak.
...----------------...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih🙏*
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara