Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 GENDERANG PERANG DI RUANGAN
Udara pagi di kawasan pusat Kota Bandung terasa begitu padat dan menyengat, kontras dengan ketenangan sejuk di pekarangan pendopo Ciumbuleuit tempat Raka Ardian dan Nadia menghabiskan detik-detik terakhir persiapan mereka sebelum badai sesungguhnya meletus. Hari Selasa yang dinanti-nanti dengan penuh debar ketegangan itu akhirnya tiba.
Di hadapan gedung pencakar langit PT Cimanuk Perkasa—sebuah menara kaca megah berlantai tiga puluh yang menjulang sangat angkuh di jantung kota—arus lalu lintas tampak sibuk dipadati kendaraan mewah para pemegang saham, investor asing, dan deretan mobil pers nasional yang mulai berkerumun di halaman lobi.
Di dalam mobil sedan hitam berpelat nomor khusus milik keluarga Hartono yang melaju tenang memasuki area pengamanan basement gedung, suasana di dalam kabin terasa sangat hening, tegang, dan dipenuhi konsentrasi tingkat tinggi. Tuan Wiratman duduk di kursi belakang dengan mengenakan setelan jas hitam formal bergaris tajam yang rapi.
Wajahnya yang kini telah pulih sepenuhnya memancarkan aura kepemimpinan yang dingin, berwibawa, dan mematikan, jauh sekali dari bayang-bayang seorang pria tua rapuh yang beberapa pekan lalu hampir kehilangan nyawa akibat racun mematikan di kamar tidurnya sendiri.
Di samping Tuan Wiratman duduklah Raka Ardian. Pemuda desa itu mengenakan kemeja gelap berbalut jaket semi-formal rapi, di mana di dalam saku dalamnya tersimpan gulungan jarum perak steril serta kantong dokumen fisik hasil penyelidikan dan barang bukti malam penyusupan. Sementara di kursi bagian depan, Nadia duduk berdampingan dengan Larasati—jurnalis investigasi independen handal yang telah menyiapkan seluruh berkas publikasi media massa untuk disiarkan secara serentak ke jaringan berita nasional begitu sinyal komando akhir diberikan.
Nadia sempat menolehkan kepalanya ke samping, menatap lekat ke arah Raka, lalu tanpa ragu menggenggam erat tangan pemuda itu sesaat sebelum mobil berhenti sempurna di depan lobi utama gedung. Sorot mata Nadia jelas menyiratkan gelombang kecemasan yang mendalam, namun juga keyakinan yang bulat.
"Raka..." bisik Nadia pelan dengan suara bergetar halus. "Pastikan kau tetap berada di sisiku setelah badai di dalam sana selesai."
Raka membalas genggaman tangan Nadia dengan kehangatan yang menenangkan, memberikan senyuman tipis yang langsung meredakan badai ketakutan di dada gadis itu.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Nadia. Mari kita selesaikan apa yang harus kita tuntaskan hari ini demi keadilan."
Pintu mobil terbuka lebar. Pengawal pribadi berjas hitam membukakan jalan bagi Tuan Wiratman. Langkah kaki tegap sang pendiri perusahaan memecah keheningan lobi gedung pencakar langit itu, diikuti dengan penuh wibawa oleh Raka, Nadia, dan Larasati yang berjalan tepat di belakangnya bagaikan barisan eksekutor keadilan yang tak terhentikan.
Kedatangan Tuan Wiratman ke gedung markas utama PT Cimanuk Perkasa ini dilakukan secara rahasia dan mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, membuat para petugas keamanan lobi terperanjat kaget setengah mati, seolah-olah mereka sedang melihat hantu karena seluruh jajaran direksi perusahaan tahu persis bahwa Tuan Wiratman seharusnya sudah lumpuh total atau bahkan tewas di pembaringannya.
Di lantai dua puluh lima, di dalam Ruang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang sangat mewah dan luas, suasana riuh rendah oleh suara para pemegang saham dan dewan komisaris yang sedang berdebat alot mengenai arah kebijakan proyek. Di ujung meja rapat panjang berlapis kayu mahoni impor, Prabu Baskara duduk di kursi kepemimpinan utama dengan senyuman penuh kemenangan dan kesombongan tersungging lebar di bibirnya.
Mengenakan jas putih gading berpotongan mahal, Prabu Baskara sedang bersiap membacakan proposal final pengesahan akta pengalihan hak atas tanah wilayah Ciherang dan konsolidasi total aset keluarga Hartono di bawah kendali penuh korporasinya.
"Dengan disahkannya dokumen penting ini secara mutlak, maka seluruh hak pengelolaan wilayah pedesaan Ciherang dan aset inti perusahaan resmi berpindah sepenuhnya di bawah kendali operasional saya sebagai Direktur Utama tunggal..." ucap Prabu Baskara dengan suara lantang, menggelegar, dan penuh keangkuhan di hadapan puluhan hadirin dewan direksi.
Namun, tepat sebelum palu sidang diketok oleh pimpinan rapat untuk mengesahkan keputusan tersebut, suara derit engsel pintu utama ruang rapat terbuka lebar secara perlahan dengan hantaman angin dingin yang menusuk ruangan, menghentikan seluruh detak jantung di dalam sana.
Ceklek... Sreeet! Brakkk!
Semua pasang mata di dalam ruangan mewah ber-AC sentral itu menoleh serentak ke arah pintu masuk. Wajah Prabu Baskara yang tadinya berseri-seri penuh kemenangan seketika memucat pasi dalam hitungan detik, berubah pucat pasi bagaikan mayat hidup yang melihat malaikat maut. Darahnya seolah berhenti mengalir ketika ia mendapati sosok pria tua berwajah dingin yang seharusnya sudah bersemayam di dalam kuburan kini melangkah masuk dengan sangat tegap ke dalam ruangan sidang.
"Maafkan saya, Prabu... sepertinya rapat darurat penuh kelicikan ini belum bisa kau putuskan sebelum mendengarkan laporan pertanggungjawaban resmi dari pemilik sah perusahaan ini!" suara berat, dingin, dan berwibawa milik Tuan Wiratman menggema ke seluruh penjuru ruangan, menggetarkan nyali setiap dewan komisaris yang mendengarnya.
Di belakang Tuan Wiratman, Raka Ardian melangkah masuk dengan tatapan setajam mata elang, memindai seluruh penjuru ruangan secara cermat dan mengunci setiap pergerakan Prabu Baskara yang mulai gemetar ketakutan di singgasana direksinya. Genderang perang telah resmi ditabuh di jantung kekaisaran korporasi hitam.