Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Wushhh.
Angin malam berhembus kencang menyapu daun-daun kering di Hutan Larangan.
Sraaat.
Sraaat.
Dua sosok manusia berjalan tergesa-gesa membelah semak belukar yang rimbun.
"Cepat sedikit, Mas."
Seorang wanita bernama Siska berbisik dengan suara bergetar.
Ia terus menoleh ke belakang karena ketakutan.
"Aku tidak mau ada warga desa yang melihat kita masuk ke hutan ini."
Pria di depannya yang bernama Raka mendengus kesal.
Raka membawa sebuah keranjang bambu kecil di pelukannya.
"Kau pikir aku tidak takut, Siska?"
Raka menghentikan langkahnya di bawah sebuah pohon beringin yang sangat besar.
"Hutan ini penuh dengan binatang buas."
Ia meletakkan keranjang bambu itu perlahan di atas akar pohon yang menonjol.
Oee.
Oee.
Suara tangisan bayi tiba-tiba memecah keheningan hutan yang mencekam.
"Ssst, diamlah."
Siska menutup telinganya rapat-rapat.
"Tinggalkan saja dia di situ, Mas."
Siska menarik lengan baju suaminya dengan kasar.
"Kita harus segera pergi sebelum serigala mencium baunya."
Raka menatap bayi di dalam keranjang itu dengan tatapan redup.
"Maafkan bapakmu ini, nak."
"Makanan di rumah sudah benar-benar habis karena gagal panen tahun ini."
"Kami tidak sanggup lagi memberimu makan di masa paceklik ini."
Raka memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Jika kami memaksakan diri, kita bertiga akan mati kelaparan di gubuk reyot itu."
Siska menarik tangan Raka semakin keras.
"Jangan membuang waktu dengan meminta maaf."
"Ini semua juga salah bayi itu."
Siska menatap keranjang itu dengan pandangan jijik.
"Sejak dia lahir, panen kita selalu gagal dan hutang kita menumpuk pada rentenir."
"Dia memang pembawa sial di keluarga kita."
Raka mengangguk pelan dan berbalik membelakangi keranjang tersebut.
"Semoga ada keajaiban yang menyelamatkanmu."
Grep.
Raka menggandeng tangan istrinya dan mereka berlari meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Kegelapan malam menelan bayangan kedua orang tua yang tidak bertanggung jawab tersebut.
Oee.
Oee.
Tangisan bayi itu terdengar semakin keras seolah merasakan rasa dingin yang menusuk kulitnya.
Malam semakin larut dan suhu udara turun drastis.
Krak.
Krak.
Suara ranting kering yang terinjak sepatu bot menghentikan tangisan bayi itu sesaat.
Dari arah berlawanan, dua orang pejalan kaki muncul dengan membawa obor yang menyala terang.
"Kau dengar itu, Mira?"
Seorang pria bertubuh kekar bernama Arga menghentikan langkahnya.
Arga mengangkat obornya tinggi-tinggi untuk menerangi area sekitar hutan yang gelap.
Seorang wanita paruh baya di sebelahnya merapatkan jaket tebalnya.
"Dengar apa, Mas Arga?"
Mira menatap suaminya dengan kening berkerut bingung.
"Kita harus cepat pulang karena udara semakin dingin dan hasil buruan kita tidak seberapa."
Arga meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Ssst, dengarkan baik-baik."
Oee.
Oee.
Mata Mira membelalak lebar saat mendengar suara tangisan yang terbawa angin malam.
"Itu suara bayi, Mas."
Mira langsung berlari mendahului suaminya tanpa mempedulikan semak berduri yang menggores kakinya.
"Hati-hati, Mira."
Arga bergegas menyusul istrinya dari belakang dengan langkah lebar.
Langkah Mira terhenti tepat di depan pohon beringin raksasa.
Cahaya obor Arga menerangi keranjang bambu yang tergeletak pasrah di atas akar pohon.
"Ya Tuhan."
Mira jatuh berlutut dan membuka kain lusuh yang menutupi keranjang itu.
Seorang bayi perempuan mungil sedang menangis dengan wajah membiru kedinginan.
"Siapa yang tega melakukan hal sekejam ini?"
Air mata Mira langsung menetes membasahi pipinya yang kotor oleh debu.
Ia segera mengangkat bayi itu dan mendekapnya erat di dadanya.
"Berikan kehangatan dari tubuhmu, Mira."
Arga melepaskan mantel kulitnya dan menyelimutkannya ke tubuh istri serta bayi tersebut.
"Orang tua macam apa yang membuang darah dagingnya sendiri ke Hutan Larangan?"
Arga mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan tangan bersiap di gagang pisaunya.
"Hanya orang yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat kelaparan."
Mira mengelus pipi bayi itu dengan penuh kasih sayang.
Ajaibnya tangisan bayi itu perlahan mereda.
Bayi perempuan itu membuka mata kecilnya dan menatap wajah Mira dengan polos.
Sebuah senyuman kecil muncul di bibir bayi tersebut.
"Mas, lihatlah."
Mira menatap suaminya dengan mata berbinar bahagia.
"Dia tersenyum padaku."
Arga menghela napas panjang melihat pemandangan mengharukan di depannya.
"Kita tidak bisa meninggalkannya di sini untuk dimakan binatang buas."
"Bawa dia pulang sekarang juga."
Arga berbalik dan memimpin jalan pulang untuk memastikan rute mereka aman.
"Tapi Mas, bagaimana dengan persediaan makanan kita?"
Mira berjalan mengikuti suaminya dari belakang sambil terus mendekap bayi itu.
"Hasil buruan kita akhir-akhir ini sedang tidak menentu."
Arga menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.
"Rezeki anak selalu ada, Mira."
"Kita mungkin miskin harta, tapi kita masih punya hati nurani."
Mira tersenyum lega mendengar jawaban suaminya yang tegas.
"Terima kasih, Mas."
Mira kembali menatap bayi mungil di dekapannya.
"Mulai sekarang, kau adalah putri kami satu-satunya."
Bayi itu hanya menggeliat nyaman menikmati kehangatan di dalam pelukan barunya.
"Aku akan menamainya Natasya."
Mira menggumamkan nama itu dengan nada lembut.
"Natasya."
Arga mengulangi nama itu sambil tersenyum tipis dalam kegelapan.
"Nama yang sangat indah untuk anak kita."
Wushhh.
Angin kembali berhembus mengiringi langkah mereka keluar dari hutan yang lebat.
Namun kali ini, tidak ada lagi rasa dingin yang menusuk tulang.
Hanya ada kehangatan dari sebuah keluarga baru yang baru saja terbentuk.
Keesokan harinya, matahari bersinar cerah menyinari desa kecil di pinggir hutan.
Berita tentang Arga dan Mira yang menemukan bayi menyebar dengan sangat cepat.
Banyak tetangga yang datang berkunjung ke gubuk sederhana mereka karena penasaran.
"Kalian ini terlalu nekat."
Seorang tetangga bernama Bu Rini menggelengkan kepalanya dengan pandangan meremehkan.
"Merawat diri sendiri saja kalian masih kesusahan."
Bu Rini menatap Natasya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang bambu beralaskan kain seadanya.
"Apalagi ditambah mulut baru untuk diberi makan setiap hari."
Mira yang sedang membuat bubur dari sisa beras hanya tersenyum maklum.
"Tuhan pasti akan memberikan jalannya, Bu Rini."
"Lagi pula kami tidak tega melihat bayi selucu ini kedinginan di hutan kemarin malam."
Bu Rini mendesah pelan sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Semoga saja keputusan kalian tidak membawa malapetaka bagi desa kita."
"Banyak yang bilang bayi yang dibuang ke Hutan Larangan adalah bayi kutukan pembawa sial."
Arga yang baru pulang membawa kayu bakar langsung meletakkan barang bawaannya dengan kasar.
Brak.
Suara tumpukan kayu yang jatuh ke tanah membuat Bu Rini terperanjat kaget.
"Tolong jaga ucapanmu, Bu Rini."
Arga menatap tetangganya itu dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras.
"Natasya bukan bayi kutukan."
"Dia adalah anugerah terbesar untuk keluarga kami."
Bu Rini langsung pamit pulang dengan wajah kesal dan malu.
"Terserah kalian saja kalau begitu."
Sepeninggal Bu Rini, Mira mendekati suaminya dan menepuk bahunya pelan.
"Sabar, Mas."
"Biarkan saja orang berkata apa, yang penting kita menyayanginya."
Arga menatap Natasya yang masih tertidur dengan napas teratur.
"Aku berjanji akan membesarkannya dengan baik, Mira."
"Aku tidak peduli seberapa keras aku harus bekerja berburu mulai sekarang."
Waktu terus berlalu tanpa terasa mengubah banyak hal.
Musim kemarau yang panjang berganti dengan musim hujan yang membawa harapan baru.
Keluarga kecil Arga dan Mira hidup dalam kesederhanaan namun selalu dipenuhi tawa.
Kehadiran Natasya seolah benar-benar membawa keberuntungan kecil dalam hidup mereka berdua.
Setiap kali Arga pergi berburu ke hutan, ia selalu pulang membawa hasil yang lebih dari cukup.
Perlahan namun pasti, Natasya tumbuh menjadi balita yang sehat, lincah, dan penuh rasa ingin tahu.
Kaki kecilnya mulai berlarian bebas di sekitar gubuk mereka yang asri.
Tawa riangnya selalu menghiasi hari-hari Arga dan Mira yang melelahkan setelah bekerja.
Hingga suatu hari, sebuah kejadian aneh mulai terjadi di halaman belakang.
Saat Natasya baru berusia tiga tahun, ia sedang bermain tanah sendirian.
Mira sedang mencuci pakaian di pinggir sumur yang tidak jauh dari tempat Natasya bermain.
Ciap.
Ciap.
Seekor burung kecil dengan sayap terluka jatuh berdentum pelan di dekat kaki Natasya.
Natasya kecil berjongkok dan menatap burung itu dengan mata bulat yang penasaran.
"Sakit ya?"
Natasya bergumam pelan dengan bahasa balitanya yang masih sedikit cadel.
Burung itu mencicit seolah menjawab pertanyaan tulus dari Natasya.
Mira yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya tersenyum menganggapnya hal biasa.
"Jangan diganggu burungnya ya, sayang."
Mira berteriak pelan sambil memeras pakaian basahnya.
Natasya menoleh ke arah ibunya sejenak lalu kembali menatap burung tersebut lekat-lekat.
"Tunggu di sini sebentar."
Natasya berlari masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa sedikit remah-remah nasi di tangannya.
Ia meletakkan nasi itu tepat di depan paruh burung yang sedang kesakitan.
"Makan ini biar sayapmu cepat sembuh."
Burung itu mematuk dan memakan nasi tersebut dengan sangat lahap.
Setelah selesai makan, burung itu kembali mencicit panjang ke arah Natasya.
Natasya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah ia mengerti dengan jelas apa yang dikatakan hewan kecil itu.
"Sama-sama, burung kecil."
Natasya tertawa kegirangan saat burung itu mencoba mengepakkan sayapnya dan melompat pelan.
Mira yang masih mengamati dari jauh merasa ada sesuatu yang unik pada putrinya.
"Anak itu sepertinya sangat menyayangi binatang."
Mira bergumam sendiri sambil menjemur pakaian di bawah sinar matahari pagi.
Ia tidak pernah tahu bahwa itu hanyalah awal mula dari rahasia besar yang dimiliki putrinya.