Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Sobek Di Atas Panggung
"Jangan naik, Isyana."
Bisikan itu terdengar tepat di belakang telingaku. Dingin. Tajam. Aku hafal betul suara itu.
Lalita.
Aku mematung di depan cermin besar ruang backstage. Di cermin itu, aku melihat diriku sendiri. Isyana. Model yang malam ini seharusnya menjadi penutup acara fashion show terbesar di Jakarta. Gaun hijau zamrud dengan payet emas yang menjuntai, seharga hampir 50 juta, membalut tubuhku dengan sempurna. Rambutku ditata bergelombang, makeup ku flawless. Semua orang di luar sana meneriakkan namaku. "Isyana! Isyana!"
Diluar, aku dipuja.
Tapi di dalam ruangan pengap ini, aku tidak pernah merasa sehina ini.
Sebelum aku sempat menoleh, aku merasakan tarikan kasar di punggungku.
KREKKKK!
Suara kain robek yang memekakan telinga.
"AAAA!"
Aku berbalik dengan napas terputus. Lalita berdiri sambil memegang gunting rias tajam. Senyumnya puas. Di tangannya, sisa kain gaunku yang berkilauan. Punggung gaunku yang indah, kini robek menganga dari leher hingga pinggang. Kulit punggungku yang mulus terekspos, terasa dingin oleh AC backstage.
"Apa... apa yang kamu lakukan, Lalita? Ini gaun desainer!" suaraku bergetar, air mata mulai menggenang.
Lalita tertawa kecil, lalu mendekatiku dan berbisik, "Mama bilang, perempuan pelayan sepertimu tidak pantas dapat tepuk tangan, Kak. Kamu pantasnya di dapur. Mengepel lantai. Bukan di atas panggung."
Kata-kata itu menghujam lebih sakit daripada gunting tadi.
Tepat saat itu, pintu terbuka. Ibu tiriku, Rina, masuk dengan gaun mewah dan tas bermerek. Ia melihat gaunku yang robek, melihat aku yang hampir menangis, tapi wajahnya tidak menunjukkan rasa kaget sama sekali. Ia hanya tersenyum tipis.
"Oh, jadi sudah kamu lakukan, Lalita? Bagus."
"Bu... Ibu... lihat apa yang Lalita lakukan pada gaunku..." Aku mengadu, bodohnya aku masih berharap ada keadilan.
Rina berjalan mendekat, sepatu haknya beradu keras dengan lantai. Ia tidak menyentuhku. Ia malah melemparkan sebuah map coklat tebal tepat ke dadaku. Map itu jatuh, isinya berhamburan. Foto-foto, surat-surat.
"Berhenti drama, Isyana. Kamu tidak akan naik ke panggung malam ini. Penonton di luar bisa menunggu model lain. Kamu ada pekerjaan lain yang lebih penting."
Aku memungut kertas itu dengan tangan gemetar. Di atasnya tertulis: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN.
"Besok pagi, jam 9, kamu akan menikah."
"Menikah? Dengan siapa?" bisikku pelan.
Rina berjongkok agar sejajar denganku yang hampir terduduk di lantai. Ia berbisik dengan racun, "Dengan Brayen Lucian Alkantara."
Dunia ku berhenti.
Brayen Lucian Alkantara. Nama itu bukan nama, itu adalah peringatan. CEO dari Alkantara Group. Pria berusia 28 tahun yang menguasai setengah Jakarta. Tampan seperti patung, tapi hatinya dikabarkan sedingin es. Kejam. Tidak punya ampun. Pernah membuat seorang direktur bangkrut hanya karena menumpahkan kopi ke mejanya. Semua wanita menginginkannya, semua pria takut padanya.
"Kenapa... kenapa harus aku?"
"Karena ayahmu," jawab Rina santai. "Ayahmu yang tidak berguna itu punya hutang 2 Miliar ke bank, dan jaminannya adalah perusahaan Brayen. Lalita seharusnya yang menikah dengannya untuk melunasi hutang itu. Tapi anakku terlalu berharga untuk menikah dengan iblis seperti dia. Jadi kamu yang akan menggantikannya."
Lalita menyilangkan tangan. "Benar. Aku gak mau menikah sama pria sedingin kulkas itu. Kamu aja, Kak. Kan kamu sudah biasa hidup menderita."
Air mataku akhirnya jatuh deras. Bukan karena gaun sobek. Tapi karena lagi-lagi, aku dijual. Sejak Ibu kandungku meninggal 5 tahun lalu, sejak ayah membawa Rina dan Lalita ke rumah kami, aku memang bukan lagi anak. Aku adalah pembantu. Yang mencuci, mengepel, memasak, sambil tetap harus bekerja sebagai model untuk menghidupi mereka.
"Di luar, semua orang memujamu, Isyana. Model cantik, model berbakat," Rina menarik daguku dengan kasar. "Tapi di dalam rumah ini, kamu hanyalah sampah yang kami pungut. Ingat itu."
Aku terisak. Gaun sobek. Punggung terbuka. Hinaan. Surat pernikahan.
BRAKKK!
Pintu backstage didobrak dengan sangat keras hingga semua penata rias dan model lain menjerit kaget.
Semua mata tertuju ke pintu.
Di sana berdiri seorang pria.
Tinggi. Bahu lebar. Jas hitam yang dijahit sempurna membungkus tubuh atletisnya. Rambut hitamnya tertata rapi ke belakang. Wajahnya... ya Tuhan... wajahnya tampan luar biasa, rahang tegas, hidung mancung, tapi matanya. Matanya hitam pekat, dalam, dan sedingin malam tanpa bintang. Tidak ada senyum. Tidak ada emosi.
Brayen Lucian Alkantara. Datang langsung.
Rina dan Lalita langsung pucat. Senyum licik mereka hilang.
"Tuan... Tuan Brayen? Kenapa... kenapa Tuan datang ke sini? Bukannya besok..." Rina terbata-bata.
Brayen tidak menjawab Rina. Tatapannya lurus, terkunci padaku. Pada wanita yang duduk di lantai dengan gaun robek dan air mata.
Ia berjalan. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar. Semua orang otomatis minggir.
Ia berhenti tepat di depanku. Aku bisa mencium parfum mahalnya. Aroma kayu dan hujan. Aroma yang mahal dan dominan.
Aku menunduk, mencoba menutupi punggungku yang terbuka dengan tanganku yang kecil. Aku merasa sangat malu. Sangat hina.
Perlahan, ia berjongkok. Gerakannya pelan, tapi penuh kuasa.
Ia tidak menyentuh luka di hatiku. Ia mengangkat daguku dengan satu jari telunjuknya. Sentuhannya dingin, tapi anehnya tidak kasar.
Matanya menatap mataku yang bengkak karena menangis. Lama.
"Jadi ini..." suaranya rendah, berat, dan serak. Suara yang membuat semua orang di ruangan itu menahan napas. "Istri pengganti yang kalian jual padaku?"
Aku tidak bisa menjawab. Hanya air mata yang semakin deras.
Ia melihat gaun sobekku. Melihat bahuku yang bergetar. Melihat map pernikahan yang ada di lantai.
Lalu, sesuatu yang tidak pernah kuduga terjadi.
Dengan gerakan yang sangat cepat, ia melepas jas hitam mahalnya. Jas yang masih hangat oleh tubuhnya.
Dan sebelum aku sempat menolak, ia menyampirkan jas itu ke bahuku. Dengan sangat lembut.
Jas itu besar, panjang, dan hangat. Menutupi punggungku yang terbuka, menutupi tubuhku yang gemetar, menutupi rasa maluku. Aromanya langsung menyelimutiku. Aroma Brayen.
Ia merapatkan jas itu di depan dadaku, tangannya sempat menyentuh jemariku yang dingin.
"Tutup tubuhmu," bisiknya, hanya untukku yang bisa mendengar. Suaranya tidak lagi sekedar kejam. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang dalam dan melindungi. "Kau sekarang adalah milikku, Isyana. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun melihat milikku dalam keadaan seperti ini. Apalagi menghina milikku."
Ia berdiri, menarikku ikut berdiri bersamanya. Tangannya masih memegang erat jas itu agar tidak terlepas dari tubuhku.
Lalu ia menatap Rina dan Lalita dengan tatapan yang bisa membunuh.
"Gaun ini... siapa yang merobeknya?"
---Besambung---