Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan Damien
Keesokan harinya, sesuai kesepakatan, Clyrine sudah berdiri di gang sepi persimpangan gerbang samping sekolah. Ia mengenakan seragam Rexanswood Academy yang tampak rapi—sebuah pemandangan langka.
Tepat pukul 07.44, sebuah sedan hitam meluncur pelan dan berhenti tepat di hadapannya. Pintu kaca diturunkan, memperlihatkan Damien yang mengenakan kemeja putih berlapis jas kasual berwarna abu-abu gelap, rambutnya tertata rapi, memancarkan aura tegas dan sangat profesional.
"Masuk," ujar Damien pendek.
Clyrine cepat-cepat membuka pintu penumpang depan dan duduk di sampingnya. Bau harum maskulin khas cedarwood menyambut indra penciumannya.
"Kakak kelihatan beneran kayak pengacara atau wali murid dewasa," celetuk Clyrine memecah kekakuan, mencoba bercanda.
Damien meliriknya sekilas sebelum menatap lurus ke depan, melajukan mobil memasuki area parkir khusus tamu Rexanswood Academy. "Gue bantu lo kali ini bukan berarti gue mendukung kenakalan lo di sekolah, Clyrine. Gue bakal denger penjelasan versi lo nanti."
Gadis itu menelan ludah pelan. Tatapan dingin dan berwibawa dari Damien mendadak membuatnya segan, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan pada orang lain.
Keduanya berjalan berdampingan menyusuri koridor lantai tiga yang mulai dipenuhi pasang mata para murid. Bisik-bisik langsung terdengar dari kanan dan kiri—melihat Clyrine Elamora walked in bersama seorang pria tampan yang asing.
Di sudut koridor dekat ruang BK, Claire, Genevieve, dan Victoria yang sedang berdiri langsung menghentikan obrolan mereka. Mata Claire membelalak kaget saat mengenali sosok di samping saudara tirinya.
Clyrine tidak mengabaikan tatapan itu. Ia melirik Claire dengan senyum miring yang penuh kemenangan, lalu menepuk pelan lengan Damien.
"Yuk masuk, Kak. Pak Antonio Roberto udah menunggu di dalam."
Pintu ruang BK terbuka. Bau kayu tua dan aroma kopi pahit menyambut Clyrine dan Damien. Pak Antonio Roberto yang tengah memeriksa tumpukan berkas di mejanya langsung menengadah, membetulkan letak kacamatanya.
"Selamat pagi, Pak Antonio," sapa Damien tenang namun penuh wibawa. Suara beratnya memenuhi ruangan, seketika mengubah atmosfer di sana.
Pak Antonio mengerutkan dahi, tatapannya berpindah dari Clyrine ke sosok pria tinggi tegap di sampingnya. "Selamat pagi. Maaf, Anda... Tuan Rexander? Saya rasa raut wajah Anda terlalu muda untuk menjadi ayah Clyrine."
"Bukan, Pak. Saya Damien Lysander Vance," jawab Damien mantap seraya melangkah maju dan mengulurkan tangannya dengan gestur tegas.
"Saya perwakilan resmi yang diutus keluarga Rexander untuk menyelesaikan masalah Clyrine pagi ini. Orang tuanya ada kesibukan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan, jadi seluruh kuasa penyelesaian ada di tangan saya."
Clyrine yang berdiri di samping Damien menahan napas. Pria di sebelahnya ini bertindak begitu natural dan meyakinkan, membuat aura intimidasi Pak Antonio perlahan luntur.
Pak Antonio menjabat tangan Damien ragu-ragu, lalu mempersilakannya duduk. "Baik, Tuan Vance. Seperti yang sudah saya sampaikan pada Clyrine kemarin, masalah ini sangat serius. Dia terlibat perkelahian lagi, mendorong Claire hingga cedera, dan mengancam murid lain. Perilaku ini sudah di luar batas untuk standar Rexanswood Academy."
Damien mendengarkan dengan raut wajah datar yang sulit ditebak. Ia melirik Clyrine sekilas—gadis itu menunduk rapat, menggigit bibir bawahnya.
"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Pak Antonio," ujar Damien dengan suara dingin yang terukur.
"Namun, boleh saya tahu apakah sekolah sudah memeriksa seluruh bukti? Apakah ada rekaman CCTV koridor yang mengonfirmasi bahwa Clyrine benar-benar mendorong Claire dengan sengaja?"
Pak Antonio sedikit terkejut dengan pertanyaan mendadak itu. "Eks-ekspresi dan kesaksian para murid di lokasi sudah cukup jelas, Tuan Vance. Genevieve dan Victoria ada di sana, dan Claire sendiri yang terluka."
"Kesaksian pihak yang terlibat perselisihan tentu penuh bias, Pak," potong Damien cepat tanpa ada keraguan. "Keluarga Rexander sangat menghargai nama baik dan kedisiplinan, tapi kami juga tidak akan membiarkan keputusan diambil berdasarkan asumsi sepihak. Sebelum surat skorsing ini ditandatangani, saya minta salinan rekaman CCTV koridor jam istirahat kemarin."
Clyrine mendongak, matanya membelalak menatap Damien. Pria itu tidak cuma berpura-pura menjadi walinya—ia benar-benar membentenginya di depan guru yang paling ditakuti murid-murid.
Pak Antonio berdeham canggung, wajahnya agak memerah. "CCTV di koridor lantai tiga sedang dalam perbaikan sejak minggu lalu, Tuan Vance. Tapi—"
"Berarti sekolah tidak punya bukti objektif," sangkal Damien tajam namun tetap sopan. "Jika tidak ada bukti valid, dakwaan kekerasan sepihak terhadap Clyrine tidak bisa sepenuhnya dijatuhkan. Saya bersedia menandatangani surat teguran atas kegaduhan yang terjadi, tapi untuk hukuman skorsing tiga hari dan tuduhan penganiayaan, saya rasa itu tidak adil."
Ruangan mendadak hening. Pak Antonio terdiam membisu, tak mampu menyanggah argumentasi hukum dan logika yang dilontarkan Damien.
Setelah beberapa menit negosiasi yang menegangkan, Pak Antonio akhirnya menghela napas pasrah. "Baiklah. Hukuman skorsing dibatalkan, diganti dengan tugas pembersihan perpustakaan selama dua hari setelah jam sekolah. Tapi jika ini terulang lagi..."
"Saya yang akan memastikan dia tidak mengulanginya, Pak. Terima kasih atas pengertiannya," pungkas Damien tegas seraya menandatangani kertas di meja.
Begitu keluar dari ruang BK, Clyrine berjalan mengekor di belakang Damien. Langkah kaki pria itu lebar dan cepat menyusuri koridor yang mulai ramai. Di dekat deretan loker, Claire, Genevieve, dan Victoria masih berdiri memperhatikan dengan raut wajah syok melihat Clyrine keluar tanpa membawa surat skorsing.
Clyrine menyempatkan diri melirik Claire dengan senyuman miring yang penuh kemenangan, membuat saudara tirinya itu mengepalkan tangan menahan kekesalan.
Mereka terus berjalan sampai tiba di area parkir luar yang sepi. Damien menghentikan langkahnya tepat di sebelah mobil sedan hitamnya, lalu berbalik menatap Clyrine dengan mata menajam.
"Jangan senang dulu, Clyrine," tegur Damien dingin, melipat kedua tangannya di dada.
Senyum kemenangan Clyrine perlahan luntur. "Kenapa, Kak? Kan tadi Kakak keren banget! Pak Antonio sampai mati kuis—"
"Gue bantu lo lolos dari guru lo, bukan berarti gue percaya penuh sama lo," potong Damien tegas. Tatapannya menusuk tajam, membuat Clyrine mendadak bungkam dan salah tingkah. "Sekarang jelaskan ke gue. Cerita sebenarnya yang terjadi kemarin... dan kenapa lo selalu pakai cara kasar buat menyelesaikan masalah?"
Clyrine terdiam di samping pintu mobil sedan hitam Damien. Hawa sejuk dari pepohonan di luar area parkir Rexanswood Academy tidak sanggup mengusir ketegangan yang mendadak mengepungnya. Tatapan mata gelap Damien begitu pekat, seolah sanggup menguliti setiap kebohongan yang coba ia sembunyikan.
"Kenapa diam?" suara Damien terdengar rendah namun penuh tekanan. "Gue butuh alasan yang masuk akal, Clyrine. Gue nggak mau jadi orang bodoh yang baru aja membela tindakan kriminal di ruang BK."
Clyrine menghembuskan napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu mobil, menyilangkan tangan di dada, lalu membuang muka ke arah deretan pohon cemara.
"Gue nggak melakukan tindakan kriminal, Kak," ujar Clyrine pelan, mengubah nada bicaranya menjadi lebih defensif. "Anak beasiswa di kelas sepuluh itu... dia udah disudutkan dari jam pertama. Claire sama dua anjing peliharannya numpahin minuman ke kepalanya cuma gara-gara tasnya nggak sengaja tersenggol."
Damien tidak memotong, tetap menyimak dengan pandangan yang tak teralih sedikit pun.
"Kalau gue diam aja, gadis itu bakal terus-terusan jadi sasaran empuk," lanjut Clyrine, matanya berkilat marah kenangan kemarin kembali berputar di kepalanya. "Cara paling cepat buat membubarkan mereka ya bikin kegaduhan. Gue gertak Genevieve, dan si Claire akting drama seolah gue mukul dia. Semerah itu skenarionya, dan semua orang di sekolah ini—termasuk Pak Antonio—selalu dengan senang hati percaya sama si anak emas."
Hening merayapi area parkir selama beberapa detik. Damien mengamati wajah gadis enam belas tahun di hadapannya. Di balik seragam sekolah yang berantakan dan ekspresi ketusnya, ada kelelahan emosional yang sangat dalam.
"Kenapa nggak lapor guru?" tanya Damien datar.
Clyrine tertawa sumbang. "Lapor? Ke siapa? Ke guru-guru yang gaji tambahan dan fasilitas sekolahnya didanai sama keluarga teman-temannya Claire? Mereka cuma bakal nyuruh korban minta maaf atau pura-pura nggak lihat. Cuma gertakan kasar yang bisa bikin mereka mikir dua kali kalau mau nyiksa orang lemah di sekolah ini."
Damien menghela napas berat, lalu mengacak rambutnya frustrasi. "Tapi bukan berarti lo harus pakai cara kekerasan, Clyrine. Lo cuma makin memperburuk citra diri lo sendiri. Di mata orang tua lo, di mata sekolah, lo cuma makin kelihatan kayak pembuat onar yang nggak berpendidikan."
"Emang ada yang peduli sama citra gue?" potong Clyrine cepat, matanya menatap Damien tajam. Ada getaran emosi yang tertahan di suaranya. "Daddy sama Mommy cuma peduli sama Claire. Apa pun yang gue lakukan bakal selalu salah di mata mereka. Jadi buat apa gue capek-capek jadi anak baik?"
Melihat mata Clyrine yang mendadak berkaca-kaca meski berusaha ditahannya kuat-kuat, pertahanan ketat di raut wajah Damien perlahan melunak. Pria berusia dua puluh satu tahun itu paham betul situasi dingin di dalam rumah keluarga Rexander—Alaric sering menceritakannya saat mereka berkumpul di kampus.
Damien melangkah satu tapak lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia menyandarkan satu tangannya ke atap mobil tepat di atas kepala Clyrine, membuat gadis itu mendongak kaget.
"Gue peduli," bisik Damien pelan tapi tegas.
Jantung Clyrine serasa berhenti berdetak seketika. Bau wangi cedarwood yang maskulin merengkuh indra penciumannya, dan jarak yang begitu dekat membuat ia bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya di manik mata hitam pria itu.
"Gue peduli, Cly," ulang Damien, suaranya melemah. "Gue nggak suka lihat lo hancurin masa depan lo cuma demi membalas kebusukan orang lain. Kalau lo mau ngelindungin orang, lo harus tahu cara ngelindungin diri lo sendiri dulu. Bukan dengan cara konyol kayak kemarin."
Clyrine terpaku. Belum pernah ada seorang pun—bahkan kedua orang tuanya—yang bicarakan hal seperti itu padanya dengan tatapan sehangat dan seintens ini. Dada gadis itu bergemuruh hebat, sebuah perasaan asing bercampur kehangatan mendadak mekar tanpa permisi.
"Lalu... gue harus gimana?" bisik Clyrine lirih, kehilangan seluruh pertahanan ketusnya.
Damien menatap bibir tipis Clyrine yang sedikit gemetar, sebelum dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke mata gadis itu. Ia sadar betul batas yang harus ia jaga. Clyrine baru enam belas tahun, adik dari sahabat baiknya sendiri, sementara ia sudah dewasa. Ada tembok besar dan tebal bernama usia serta etika yang membatasi mereka.
Damien menarik kembali tangannya dari atap mobil, merengkuh jarak aman di antara mereka seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Sepulang sekolah nanti, tunggu gue di tempat latihan boxing dekat kampus Alaric," kata Damien dengan suara yang kembali formal dan datar. "Gue bakal ajarin lo cara bertarung yang bener. Biar tinju lo punya arah, bukan cuma melampiaskan emosi buta."
Clyrine berkedip pelan, memproses tawaran mendadak itu. "Latihan... boxing?"
"Ya. Kalau lo emang berniat jadi perisai buat orang lain, setidaknya lo harus punya taktik dan ketahanan tubuh yang bener," jawab Damien seraya membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Clyrine. "Sekarang masuk, gue anter lo balik ke area gerbang depan sebelum jam pelajaran kedua mulai."
Clyrine tersenyum tipis—kali ini senyuman tulus yang sangat jarang terlihat di wajahnya. Ia melangkah masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang sama sekali berbeda dari tadi pagi. Langkah awalnya untuk keluar dari bayang-bayang kebusukan Claire mungkin masih panjang, tetapi setidaknya mulai hari ini, ia tahu ia tidak lagi berdiri sendirian di balik bayangan.