Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kereta kuda Kaisar melaju membelah jalanan ibukota dengan kecepatan yang membuat Elara merasa organ-organ dalamnya sedang saling bertabrakan.
"Nira," keluh Elara, memeluk bantal pelukannya erat-erat. "Jika aku mati karena guncangan jalan sebelum dibakar oleh Gereja atau dibunuh oleh barbar, tolong pastikan surat kematiannya menyebutkan bahwa Kaisar Lucian adalah pembunuhnya. Aku akan menuntutnya di pengadilan alam baka."
"Hamba akan mencatatnya, Yang Mulia," jawab Nira, wajahnya pucat karena guncangan yang sama, namun tangannya tetap memegang buku catatan kecilnya dengan setia.
Di seberang Elara, Kaisar Lucian tampak tidak terganggu oleh guncangan tersebut. Ia sedang menatap Elara dengan tatapan yang sulit diartikan. Sementara itu, Jenderal Kael duduk di sudut, terlihat seperti orang yang sedang menantikan hukuman mati.
"Selir Elara," ucap Jenderal Kael dengan suara bergetar. "Gudang Logistik Pusat dijaga oleh seratus prajurit elit. Lord Harris... dia adalah mantan bendahara kerajaan. Dia memiliki ribuan dokumen yang membuktikan bahwa barang-barang itu telah dikirim. Anda tidak bisa sekadar menuduhnya tanpa bukti fisik."
Elara membuka satu matanya. "Jenderal. Di desa kuno saya, ada pepatah Kertas bisa berbohong, tapi timbangan dan kotoran kuda tidak bisa. Tenanglah. Aku akan menyelesaikan ini sebelum waktu makan siangku. Kalau telat, gulaku turun."
***
Gudang Logistik Pusat adalah bangunan raksasa yang berbau debu, gandum kering, dan kayu lapuk.
Lord Harris, seorang pria gemuk dengan jubah sutra yang terlalu ketat untuk perutnya, sedang berdiri di halaman depan bersama dua puluh petugas gudang. Ketika ia melihat kereta Kaisar berhenti, ia segera berlutut, keringat dingin mengucur di pelipisnya yang berminyak.
"Yang Mulia Kaisar! Jenderal Kael!" suara Harris terdengar cengeng. "Hamba tidak menyangka Yang Mulia akan datang langsung ke tempat yang kotor ini. Dan... Selir Elara? Hamba mendengar Anda sedang pemulihan..."
"Simpan basa-basimu, Harris," potong Lucian dingin. Ia turun dari kereta, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Elara turun. Elara menerima tangan itu, mengeluh pelan karena lututnya terasa kaku.
"Lord Harris," ucap Elara, suaranya terdengar sangat malas. "Katakan padaku. Dua puluh ribu ton gandum dan lima ribu ton daging asin. Ke mana perginya?"
Harris langsung berdiri, wajahnya menunjukkan ekspresi terhina. "Selir Elara, hamba sudah menjelaskan pada Jenderal Kael! Semuanya tercatat di Buku Besar Logistik! Dua puluh kereta besar berangkat pada tanggal empat belas bulan ini, menuju Perbatasan Utara. Ada tanda tangan penerima dari komandan garis depan! Semuanya sah secara hukum!"
Harris memberi isyarat pada asistennya, yang segera maju membawa tumpukan gulungan kertas yang tebalnya setengah lengan. "Ini adalah salinan surat jalan, catatan keluar gudang, dan tanda terima. Semuanya lengkap. Tidak ada satu biji gandum pun yang hilang dari catatan istana."
Jenderal Kael tampak putus asa. "Yang Mulia, hamba sudah memeriksa ini berkali-kali. Di atas kertas, angkanya sempurna. Tapi barangnya tidak pernah sampai di garis depan!"
Elara menatap tumpukan kertas itu. Ia tidak menyentuhnya.
"Nira," panggil Elara.
"Y-Ya, Yang Mulia?"
"Ambilkan kertas dan arang. Kita akan menggambar." Elara berjalan menuju sebuah meja kayu kasar di halaman gudang, lalu duduk di atasnya, mengayunkan kakinya yang pendek seperti anak kecil. Ia menatap Lord Harris.
"Harris. Kau bilang dua puluh kereta besar membawa dua puluh ribu ton gandum, kan?"
"B-benar, Yang Mulia. Masing-masing kereta membawa seribu ton," jawab Harris dengan nada meremehkan. Mana mungkin selir istana mengerti matematika logistik, pikirnya.
"Baik," Elara mengangguk. "Kereta besar standar militer Aethelgard ditarik oleh delapan ekor kuda beban, benar?"
"Benar. Delapan kuda pilihan."
"Dan perjalanan dari ibukota ke Perbatasan Utara memakan waktu dua puluh hari pergi, ditambah waktu bongkar muat. Total dua puluh lima hari," Elara menghitung di kepalanya. "Seekor kuda beban militer harus memakan minimal lima belas kilogram pakan biji-bijian dan jeram berkualitas per hari untuk bisa menarik beban satu ton. Kalau kurang dari itu, kuda akan pincang atau mati di jalan."
Harris mengernyit, mulai merasakan ada yang tidak beres. "Tentu saja kuda-kuda itu diberi makan. Itu sudah termasuk dalam anggaran logistik."
"Berapa total kuda beban yang digunakan untuk ekspedisi ini?" tanya Elara cepat.
"Seratus enam puluh ekor kuda," jawab Harris tanpa ragu.
Elara tersenyum. Senyum yang sangat tipis, sangat malas, dan sangat mematikan.
"Nira. Hitung untukku. Seratus enam puluh kuda, dikali lima belas kilogram pakan, dikali dua puluh lima hari perjalanan."
Nira dengan cepat menghitung di atas kertas dengan arang. "Y-Yang Mulia... hasilnya adalah enam puluh ribu kilogram. Atau enam puluh ton pakan kuda."
"Tepat," Elara menatap Harris. "Sekarang, buka Buku Besar Pengeluaran Gudang untuk bulan ini. Cari pos pengeluaran untuk 'Pakan Ternak Ekspedisi Utara'."
Harris dengan tangan gemetar membuka gulungan kertas, mencari halaman yang dimaksud. Matanya menyapu angka-angka itu. Wajahnya perlahan-lahan kehilangan warna, berubah dari merah menjadi putih pucat, lalu menjadi abu-abu.
"B-berapa... berapa yang tercatat?" tanya Elara, menguap lebar.
Harris menelan ludah. "T-tercatat... dua belas ton pakan."
Keheningan yang absolut menyelimuti halaman gudang itu. Angin berhembus, membawa debu yang berputar-putar.
Elara menatap Harris dengan tatapan datar. "Lord Harris. Kau mengklaim dua puluh ribu ton gandum dikirim ke perbatasan. Untuk menarik dua puluh ribu ton gandum, kau butuh seratus enam puluh kuda. Dan untuk menjaga seratus enam puluh kuda itu tetap hidup dan bisa berjalan selama dua puluh lima hari, mereka harus makan enam puluh ton pakan."
Elara melompat turun dari meja, berjalan mendekati Harris yang kini gemetar hebat.
"Tapi di catatanmu, kau hanya membeli dua belas ton pakan. Itu cukup untuk memberi makan seratus enam puluh kuda hanya selama... empat hari. Setelah hari kelima, kuda-kudamu seharusnya sudah mati kelaparan dan tidak bisa bergerak. Jadi, bagaimana mungkin kereta itu bisa sampai di perbatasan?"
Elara mencondongkan tubuhnya, menatap tepat ke mata Harris yang ketakutan.
"Atau... jangan-jangan keretanya tidak ditarik oleh kuda? Apakah dua puluh kereta besar itu ditarik oleh hantu, Lord Harris? Atau mungkin, kereta itu tidak pernah berangkat sama sekali, dan gandum itu menghilang di dalam gudang ini sebelum dimuat?"
"Tidak! Itu... itu kesalahan administrasi!" Harris berteriak panik. "Pencatat gudang yang salah menulis angka! Itu hanya kesalahan pembukuan!"
"Kesalahan pembukuan?" ulang Elara. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita buka Gudang Nomor 4. Gudang tempat gandum itu disimpan sebelum dimuat. Jenderal Kael, tolong suruh prajuritmu membuka segelnya."
Jenderal Kael segera memberi perintah. Para prajurit mendobrak pintu Gudang Nomor 4.
Elara berjalan masuk, diikuti oleh Lucian dan Harris yang tertatih-tatih. Gudang itu besar, namun... kosong. Hanya ada debu dan beberapa tikus yang berlarian.
"Lihat?" Harris mencoba tertawa gugup. "Sudah kosong! Karena gandumnya sudah dikirim!"
"Benar, gandumnya sudah dikirim," Elara menunjuk ke sudut gudang. "Tapi lihat lantai di sudut sana. Ada tumpukan sekam padi dan kulit gandum yang setinggi lutut. Dan lihat dindingnya. Ada noda jamur hitam berbentuk lingkaran besar."
Elara berbalik menatap Harris. "Kamu tidak menjual gandum utuh, Harris. Kamu menjualnya di pasar gelap ibukota. Tapi karena kamu tidak bisa menghilangkan kulitnya dalam waktu singkat, kamu mengupasnya di sini secara diam-diam. Jamur hitam itu tumbuh karena gandum yang dikupas ditumpuk terlalu tinggi tanpa ventilasi, dan kamu menyiramnya dengan air agar beratnya tidak berkurang drastis saat ditimbang sebelum dijual."
Elara menghela napas, tampak sangat lelah. "Kamu menjual gandum basah yang sudah berjamur ke pasar gelap. Dan karena kamu terlalu serakah, kamu bahkan tidak repot-repot menghapus noda jamurnya. Di desa kuno saya, ini namanya sloppy embezzlement atau penggelapan yang tidak rapi. Nilainya: 2 dari 10. Kamu membuatku malu sebagai sesama orang yang suka mengambil jalan pintas."
Lord Harris jatuh berlutut. Kakinya lemas. "Yang Mulia... hamba... hamba mohon ampun..."
Lucian menatap Elara. Matanya berkilat dengan kekaguman yang bercampur dengan amarah yang dingin. Ia menatap Harris.
"Jenderal Kael," suara Lucian terdengar seperti vonis mati. "Bawa dia ke Ruang Bawah Tanah. Sita semua aset pribadinya. Dan suruh Intelijen melacak ke mana gandum basah itu dijual. Aku ingin tahu siapa pembelinya."
"Siap, Yang Mulia!" Jenderal Kael tampak seperti baru saja melihat dewa perang turun ke bumi. Ia menyeret Harris yang merengek-rengek keluar dari gudang.