Bagi Roselia, musuh dia hanya satu: Gabriel, putra Adipati saingan keluarganya.
Dua keluarga Adipati itu sudah bermusuhan turun-temurun, jadi tontonan seluruh istana.
Sampai sebuah fitnah keji dari Pangeran Ke-4 menjatuhkan keluarga Roselia. Ia dibuang ke perkebunan terpencil yang kumuh.
Roselia pikir hidupnya sudah berakhir.
Sampai takdir mempertemukan mereka lagi.
Ia menemukan Gabriel — sang musuh bebuyutan yang sombong itu — hanyut pingsan di sungai dekat perkebunannya.
Saat terbangun, Gabriel menatapnya kosong.
"Siapa... aku?"
Dia hilang ingatan!
Dendam Roselia membara. Inilah kesempatannya!
Ia menjadikan pewaris Duke yang angkuh itu sebagai pesuruh kebunnya. Disuruh mencuci, memanen, tidur di gudang!
Balas dendam kecilnya terasa manis... sampai Roselia sadar, Pangeran Ke-4 yang menghancurkan keluarganya, ternyata juga dalang di balik kecelakaan Gabriel.
Mereka dijebak. Diadu domba sejak awal.
Kini, saat ingatan Gabriel perlahan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Manis Sang Putri
Setelah Lily dan pengasuhnya diantar ke kamar di lantai dua oleh Nina, keheningan tebal menyelimuti ruang kerja Roselie.
Lilin di atas meja meliuk-liuk tertiup angin malam. Gabriel berdiri kaku di tengah ruangan, tangannya mengepal erat di samping paha. Tatapannya liar, dipenuhi kebingungan dan rasa bersalah yang teramat sangat. Panggilan "Kak Gabriel" dari bibir adik kecilnya serta kisah tentang penyerangan di ibukota terus berputar bak angin ribut di kepalanya.
"Nona..." suara Gabriel terdengar sangat serak dan bergetar. Dia menatap Roselie yang sedang berdiri di dekat jendela, membelakanginya. "Gadis kecil tadi... Lily... dia memanggil saya Gabriel. Apakah... apakah saya benar-benar Gabriel von Valerius yang Nona benci itu?"
Roselie memutar tubuhnya perlahan. Dia menatap Gabriel dengan pandangan yang sulit diartikan—dingin, namun ada pijar tipis kepuasan di mata indahnya.
Nampaknya permainan Majikan dan Pelayan yang sudah dia susun tidak bisa dia mainkan lagi. Roselie menatap Gabriel dan tersenyum.
"Ya," jawab Roselie pelan namun menusuk. "Kamu adalah Gabriel von Valerius. Pewaris tunggal Adipati Valerius. Musuh bebuyutan keluarga Hazel di ibukota."
Brak!
Kata-kata itu menghantam Gabriel seperti pukulan fisik. Pria itu mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi. "Lalu... kenapa Nona membohongi saya? Kenapa Nona menamai saya 'Leo' dan berpura-pura saya hanya pekerja perkebunan?!"
Roselie melangkah mendekati Gabriel secara perlahan. Sepatu tingginya berdenting halus di atas lantai kayu. Bukannya marah, raut wajah Roselie mendadak berubah melunak—mengukir raut kesedihan dan kekecewaan yang sangat sempurna, sebuah akting kelas atas yang dia pelajari dari panggung politik ibukota.
'Ayo berfikir Roselie! Apa yang harus kamu katakan!' Batin Roselie terus memikirkan langkah apa yang selanjutnya harus dia perankan!
"Karena aku terpaksa, Gabriel," desah Roselie lirih, matanya menatap lurus ke dalam iris biru Gabriel yang panik.
"Terpaksa...?" Gabriel mengerutkan dahi.
Roselie menghentikan langkahnya tepat di hadapan Gabriel. Dia mengadah, menatap pria tinggi itu dengan tatapan sayu yang penuh kebohongan manis.
"Kamu lupa, kan?" Roselie menyuntikkan nada getar di suaranya. "Sebelum Pangeran Cedric menghancurkan kita... kamu dan aku sebenarnya menyembunyikan hubungan rahasia di ibukota."
'Aaaaarggghhh kenapa juga aku kepikiran dengan peran pasangan yang saling mencintai era tak direstui!'
Otak dan perkataan Roselie menolak semua itu, tapi dia sendiri harus memanfaatkan Gabriel.
Dada Gabriel berdesir hebat. "H-Hubungan rahasia...?"
"Di depan publik, keluarga kita memang bersaing. Tapi di belakang mereka..." Roselie menyentuh dada tegap Gabriel dengan ujung jemarinya yang dingin, "...kamu adalah pria yang sangat menyayangiku, Gabriel. Kamu bahkan berniat mempertaruhkan segalanya demi aku."
'Ugghh menjijikan sekali mengatakan hal ini depan musuh yang tidak ingat apa apa!'
Gabriel mematung. Otaknya yang amnesia tidak bisa memverifikasi ingatan itu. Namun desiran aneh di dadanya setiap kali dia berada di dekat Roselie seolah membenarkan kebohongan tersebut.
"Lalu... kenapa saya bisa berdarah-darah dan terdampar di sini?" tanya Gabriel linglung, tenggorokannya kering.
Roselie menurunkan tangannya, memalingkan wajah seraya menghembuskan napas berat yang terdengar sangat terluka.
"Karena kesalahanmu sendiri," bisik Roselie dengan nada kecewa yang dibuat-buat. "Malam itu di ibukota, kita bertengkar hebat. Kamu bertindak ceroboh hingga rencana kita terbongkar oleh Pangeran Cedric. Aku sangat marah padamu, Gabriel. Aku menyuruhmu pergi dan tidak sudi melihat wajahmu lagi."
'Ya ampun, aku harusnya jadi pemain opera saat ini!' Kebohongan Roselie nyaris terlihat sempurna.
Gabriel menahan napasnya. Rasa bersalah yang teramat besar mendadak melingkupi seluruh dadanya.
"Jadi... kesalahan saya yang membuat Nona berada di tempat terpencil ini? Kesalahan saya yang membuat keluarga kita dalam bahaya?" suara Gabriel terdengar hancur.
"Saat orang-orangku menemukan tubuhmu yang sekarat di tepi sungai," lanjut Roselie, melirik Gabriel dari sudut matanya, "aku memutuskan untuk menyembunyikan identitasmu. Aku memberimu nama 'Leo' agar prajurit Pangeran Cedric tidak membunuhmu, sekaligus... untuk menghukummu atas kesalahan masa lalumu."
Gabriel menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Roselie. Hati pria amnesia itu sepenuhnya luluh. Dia sama sekali tidak sadar bahwa wanita di hadapannya sedang menenun jaring manipulasi yang sangat beracun.
"Nona..." Gabriel berlutut di hadapan Roselie dengan satu kaki, mengangkat wajahnya yang dipenuhi ketulusan dan penyesalan mendalam. "Maafkan saya... Maafkan atas kesalahan bodoh saya di masa lalu yang telah menyakiti Nona."
Roselie menatap pria yang dulu begitu angkuh kini berlutut di kaki gaunnya. Kemenangan dingin meletup di dadanya.
"Apakah kamu benar-benar ingin menebus kesalahanmu, Gabriel?" tanya Roselie dengan suara anggun nan menekan.
"Sebutkan apa saja, Nona," jawab Gabriel tanpa ragu sedikit pun. "Nyawa saya, pedang saya, dan seluruh sisa hidup saya adalah milik Nona. Gunakan saya untuk melindungi Nona dan menghancurkan Pangeran Cedric."
"Bagus, Hahaha" Batin Roselie tertawan gembira.
"Itu.... Gabriel..." panggil Roselie seraya membelai rambut berdebu Gabriel dengan lembut. "Lily bilang sebelum kamu diserang, kamu memegang dokumen penting soal pemalsuan stempel Pangeran Cedric. Di mana dokumen itu sekarang?"
Gabriel mengerutkan dahi rapat-rapat. Dia mencoba memaksakan otaknya menggali malam tragis itu—mencari letak surat atau dokumen rahasia tersebut. Namun, makin keras dia memaksanya, rasa seperti tusukan jarum beracun mendadak menusuk tempurung kepalanya!
"Ugh...!" Gabriel memegangi kepalanya dengan kedua tangan, merintih kesakitan saat kepalanya berdenyut hebat. Keringat dingin keluar di pelipisnya. "S-Saya... saya tidak bisa mengingatnya, Nona... Kepala saya serasa mau pecah..."
Roselie menatap Gabriel yang merintih di bawah kakinya. Dia menyadari bahwa memaksakan ingatan pria ini saat ini hanya akan membuatnya pingsan sia-sia.
"Cukup," cegah Roselie tegas seraya menepuk bahu Gabriel. "Jangan dipaksa jika itu membuat otakmu makin rusak. Kita punya waktu."
Gabriel menetralkan napasnya yang terengah-engah, menunduk dengan rasa bersalah yang makin membuncah. "Maafkan saya, Nona... saya masih belum berguna bagi Nona."
'Ya memang, kamu yang hilang ingatan ini sangat merepotkan Gabriel!'
"Berdirilah," perintah Roselie dingin. "Mulai besok, kamu harus berada di sisiku. Ingat, di depan Lily dan pengasuhmu, bersikaplah seolah hubungan kita sangat baik dan manis seperti dulu. Aku tidak mau adikmu curiga atau cemas."
"Baik, Nona Roselie," janji Gabriel mantap, walau di dalam hatinya dia merasa sangat asing dan bingung harus bersikap "manis" seperti apa pada sang putri.
panik Khan Rosalie..
kebayang malunya gimana 🥲. Rosalie udh donk jangan sandiwara trus. Gabriel udh inget itu 😭😭😭
eeehhhh🤭🤭🤭
trus gimana donk.. satu2nya jalan keluar Gabriel terjun ke sungai.. tapi..... 😮💨😮💨
. Gabriel udh inget lagi...🤭🤭🤭 gmNa nasib Rosalie yang mentah2 membohongi Gabriel..🤣🤣🤣 aduuhh pasti abis ini Gabriel pura2 deh sama Rosalie.. mau ngapain coba dia🤣, nggak mungkin kalo nggak balas dendam