NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Dua jam kini berlalu beruntung Raisa kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, Laluna, Arni dan Tina yang baru saja diperbolehkan masuk untuk menjenguk wanita itu sama terkejutnya melihat bagaimana penampilan Raisa kini berubah drastis.

"Dia tidak seperti Raisa!" Ujar Tina.

"Tidak mungkin, kenapa Raisa sangat mirip dengan orang yang viral itu? Orang itu tidak mungkin Raisa, aku yakin itu" batin Arni tak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya.

Rina menatap anak tirinya itu mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Kapan dia berubah?" Tanyanya.

Besannya itu menghela nafas lalu melipat kedua tangan didada.

"Siang tadi, entah apa yang membuatnya begitu berubah sejak hilang beberapa hari lalu. Jeng, apa kamu yang memintanya untuk bercerai dengan anak saya, Angga?"

"Bercerai? Mama bilang Raisa meminta cerai dari Angga?"

"Iya benar, kemarin malam dia meminta bercerai dengan Angga. Apa jangan-jangan dia dan Steven masih saling menyukai? Aku jadi takut memikirkannya"

Arni menggelengkan kepalanya pertanda bahwa ia tidak setuju jika sampai Raisa bercerai dengan Angga, sebab rencananya dengan Tina kemarin mungkin tidak akan berjalan dengan lancar. Sama halnya dengan Tina yang tak ingin kehilangan sumber uangnya sebab selama ini Raisa lah yang memenuhi seluruh kebutuhan rumah dan pribadinya. Uang bulanan yang diberikan Angga setiap bulannya pada mereka bukanlah nominal kecil.

"Ma, bagaimana ini Ma?" bisik Arni mengguncangkan tangan Tina.

"Tenang, kita bujuk Raisa agar dia tidak jadi bercerai" jawab wanita itu.

***

Steven menatap Indra yang sudah tak sadarkan diri dihadapannya kini, angin kencang malam itu melambai-lambaikan rambut hitamnya dibawah sinar bulan yang begitu terang itu.

"Apa sebenarnya yang di rencanakan kak Angga pada Raisa? Dia tidak mencintainya tapi tak ingin melepaskannya? Jika Raisa tinggal dirumah saat aku dan Arni menikah nanti apa situasinya akan berubah jadi lebih baik atau malah sebaliknya? Aku sangat kasihan padanya, apa sebaiknya aku bujuk kak Angga sana agar mau menceraikan Raisa?" Batinnya.

Sementara itu saat ini Laluna pamit untuk pulang pada Tina dan Arni, keduanya lalu mengantarkan Laluna ke parkiran rumah rumah sakit, begitu mobil wanita itu melaju jauh ke jalanan Arni segera menarik tangan Tina menjauh dari keramaian.

"Ma, apa Mama tahu Raisa tengah viral hari ini dan banyak agency sedang mencarinya untuk menjadikan dia model dan brand ambassador mereka. Kalau begini kan aku bisa kalah populer dari dia Ma"

"Benarkah? Mama tidak tahu itu"

"Makanya Mama buka dong media sosial Mama, jangan kudet"

Tina segera membuka ponselnya dan benar saja bahwa wanita yang tengah viral itu merupakan anak dari mendiang suaminya.

"Tapi tidak mungkin Raisa bisa jadi model, secara bekas lukanya banyak sekali, menurutmu apa orang-orang mau melihatnya yang buruk rupa itu? Sementara anak Mama begitu cantik, kulitmu mulus serta tak ada cacat sedikitpun. Kamu tenang saja sayang, tugasmu hanyalah mempercantik diri secantik-cantiknya dan pastikan hubunganmu dengan Steven tetap berjalan dengan baik, kau juga bisa memanfaatkan wajah tampan Steven untuk menarik kembali perhatian orang-orang di media sosial" ujar wanita licik ini menghasut anaknya.

"Kalau tidak berhasil, bagaimana?"

"Kita pikirkan cara lain, hidup ini harus penuh permainan Arni. Kalau tidak kau yang dipermainkan oleh kehidupan, sudahlah. Ayo kita pulang, Mama tidak sudi menemani anak sial itu disini"

Tina lalu mengajak Arni untuk pulang kerumah mereka sementara Raisa masih terbaring lemah tampa seseorang disampingnya. Sama seperti Steven yang tengah dilanda kegelisahan, Angga tak dapat tidur dengan tenang mengingat kejadian beberapa jam lalu.

Saat dimana Raisa mengayunkan tangannya yang tengah menggenggam pisau kearah Angga namun malah tertancap diperutnya sendiri, Angga tak habis pikir alasan istrinya melakukan hal tersebut setelah seharian tadi menghabiskan hampir seluruh uang tabungan miliknya.

"Aku yakin dia sengaja melakukannya, tapi untuk apa?"

"Apa dia ingin balas dendam padaku? Tapi kenapa harus melukai dirinya sendiri?" batinnya.

Waktu terus berjalan seperti biasa namun laki-laki ini masih membuka matanya lebar-lebar, sesekali ia tidur menghadap tembok, sesekali juga membelakangi tembok.

"Huffff" ia lalu membuang nafas panjang.

Dilihatnya jarum jam telah menunjuk pukul dua lewat empat puluh tiga namun matanya masih segar, diraihnya ponselnya namun sama sekali belum ada pesan dari Steven, sementara Laluna yang telah mengantuk sewaktu pulang dari rumah sakit tadi langsung tertidur tanpa memberitahu apapun pada Angga.

Di sisi lain Raisa mulai membuka matanya perlahan, meski tak melihat siapapun di ruangan itu ia tersenyum sebab selangkah rencananya mulai berjalan dengan lancar.

"Aaahhh, sakit kalau tertawa!" Ucapnya sembari menyingkirkan selang oksigen di hidungnya.

Tak lama perawat datang memeriksa keadaannya, melihat Raisa mengangkat salah satu tangannya di bawah lampu membuat mereka lega sebab tadi wanita itu hampir koma.

"Sus, apa keluarga saya tidak datang?"

"Datang, tapi sepertinya sudah pulang" jawab perawat tersebut sembari mengganti cairan infus ditangan wanita tersebut.

"Baguslah, setidaknya aku bisa tidur dengan tenang" batinnya.

Sementara ia kembali tidur dengan pulas ada suaminya yang sampai sekarang masih gelisah, sudah beberapa kali ia meneguk air dari gelasnya untuk menenangkan pikirannya namun tampaknya itu tak bekerja. Tanpa disadarinya dibawah mejanya ponsel istrinya masih menyala dan merekam sudut dimana sebelumnya ia dan istrinya tersebut berada.

***

Keesokan harinya Raisa terbangun dari tidurnya, meski perutnya masih sakit namun ia sudah dapat duduk dengan sangat hati-hati. Ia meneguk air liurnya karena haus namun belum diijinkan untuk makan oleh perawat yang menjaganya. Sementara itu Steven tengah bersusah payah membangunkan Indra sebab matahari sudah mulai meninggi dan orang-orang yang berlalu lalang menatap mereka aneh.

"Indra, bangun!" Serunya membangunkan lelaki itu.

Indra membuka matanya perlahan, tercium bau alkohol yang begitu kuat dari mulutnya membuat Steven harus menutup hidungnya sesaat.

"Cepat bangun, sudah pagi. Kau tidak pergi bekerja?" Tanya Steven dijawab lambaikan tangan oleh Indra.

"Cutiku masih lama" ucapnya pelan sambil melanjutkan tidurnya diatas meja.

"Meski begitu kau harus pulang, ayo biar ku antar!"

"Heummm, no, no, no. Aku bisa pulang sendiri, aku membawa mobil" balasnya.

Merasa Indra tengah mempermainkannya Steven segera masuk kedalam supermarket untuk membeli sebotol besar air minum, ia membawanya keluar lalu.

Byurrrrr

"Aaaaa"

Lelaki itu terbangun saat diguyur air dingin yang baru saja keluar dari kulkas, mendadak matanya segar bahkan badannya menggigil kedinginan.

"Minum ini dan pulanglah. Aku masih ada urusan ke rumah sakit!" Titah Steven dingin sebelum ia berlalu meninggalkan lelaki itu.

"Kenapa dia itu? Dingin sekali!" Ucap Indra melangkah masuk kedalam mobilnya.

Keduanya berlalu kearah yang berlawanan, Steven yang pergi menuju rumah sakit sementara Indra yang pulang kerumahnya. Setibanya ia dirumah dengan pemandangan aliran laut luas itu ia segera berendam di kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelahnya ia beranjak ke dapur dengan hanya menggunakan sepotong handuk yang melilit di pinggangnya, tangan kekarnya yang berurat membuka kulkas dan mengeluarkan bahan masakan ke atas meja, sambil memanaskan air ia membuat beberapa bumbu hidangan untuk ia masak nanti. Setengah jam ia berada disana memasak sop tauge dengan daging sapi diatasnya, juga semangkok mie udon buatannya sendiri.

Ia membawanya ke depan televisi untuk didinginkan, tak lupa ia mengenakan pakaiannya dengan sebuah celana pendek berwarna abu-abu juga kaos polos berwarna hitam, lelaki ini duduk diatas sofa menikmati masakan juga siaran drama favoritnya. Sesekali ia membuka ponselnya, melihat berita viralnya istri dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja itu mengalihkan sejenak perhatiannya, tak sadar ia tersenyum menatap potret gambar Raisa.

"Cantik" pujinya.

Lama membaca artikel tentang Raisa tiba-tiba kabar Raisa yang masuk rumah sakit karena tertikam sebuah pisau membuatnya tersedak. Lelaki ini mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa ia tak salah membaca, tiba-tiba ia teringat akan perkataan Steven sebelum mereka berpisah pagi tadi.

"Raisa masuk rumah sakit?" tanyanya pada dirinya sendiri sambil menaikkan kedua alisnya.

"Aku masih ada urusan kerumah sakit" perkataan Steven padanya sebelumnya kembali terdengar di telinganya.

Bergegas ia bangkit dari sofa dan segera mematikan televisi, dengan buru-buru ia berlari meraih dompetnya ke dalam kamar lalu menyimpan piringnya ke dapur, dari sana ia keluar melalui pintu belakang sebab tadi ia masuk dari sana. Setelah mengunci pintu, ia bergegas naik ke mobil dan begitu mesin menyala ia bergegas menuju rumah sakit tempat Raisa dirawat sesuai dengan lokasi yang ia baca dalam artikel tadi.

Roda empat itu melaju cepat melewati puluhan kendaraan diatas jalan, tampaknya ia sangat terburu-buru hanya untuk menemui wanita yang pernah ditolongnya itu.

"Seperti Pak Angga punya niat lain padanya, aku harus menolongnya" ucapnya memutar kemudi kearah parkiran rumah sakit.

Setibanya di lobi ia menanyakan diruangan mana wanita muda itu dirawat, setelah mendapatkan informasi ia lalu bergegas mencari ruangan yang diberitahukan oleh perawat yang ia tanyai tersebut.

Sambil melewati beberapa lorong itu ia mencoba menghubungi nomor ponsel Raisa yang kini sudah kehabisan daya, sambil celingak-celinguk menatap sekitar ia tiba-tiba melihat Raisa yang tengah duduk diatas bed melalui pintu kaca salah satu ruangan yang ia lewati itu.

"Disana"

"Raisa!" Panggilnya.

"Kau, untuk apa kau datang kesini?"

"Raisa!" Panggilnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!