Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Langkah Pertama Keluar dari Toko Buku
Lima belas tahun telah berlalu sejak malam badai itu. Sejak seorang ibu yang dikuasai putus asa dan dendam melakukan sebuah kejahatan besar yang tak termaafkan di sebuah rumah sakit bersalin.
Toko buku kecil itu masih berdiri di tempat yang sama, seakan menolak untuk menua. Namun, dunia di luar dinding-dindingnya sudah berubah drastis.
Dahulu, setiap pagi Clara harus bergegas membuka pintu besi toko lebih awal karena para pelanggan sudah mengantre menunggu di luar. Ada anak-anak sekolah yang datang mencari buku pelajaran yang hilang, orang tua yang berburu novel akhir pekan, hingga pekerja kantoran yang mampir sebentar untuk membaca koran pagi sebelum berangkat kerja. Suara dentang lonceng kecil yang tergantung di atas pintu hampir tidak pernah berhenti berbunyi, mendengungkan irama kehidupan yang sibuk.
Sekarang... lonceng itu lebih sering terdiam bisu.
Pagi itu, cahaya keemasan matahari menerobos masuk melalui kaca depan toko yang buram. Debu-debu kecil terlihat menari-nari melayang di udara yang tenang.
Clara duduk membisu di belakang meja kasir. Di hadapannya, buku catatan penjualan mingguan terbuka lebar. Wanita paruh baya itu menghitung deretan angka di atas kertas itu sekali. Keningnya berkerut. Ia kemudian menghitungnya lagi dari awal, memastikan tidak ada angka yang terlewat. Namun, hasilnya tetap saja sama.
Sedikit. Terlalu sedikit untuk menutupi biaya operasional dan kebutuhan hidup mereka yang terus merangkak naik.
Clara menghela napas panjang dan menutup buku besar tersebut dengan gerakan lelah.
Di area rak bagian depan, Maya sedang sibuk membersihkan debu menggunakan kemoceng. Gadis itu kini sudah genap berusia lima belas tahun. Tubuhnya tidak lagi kecil dan rapuh seperti dahulu; ia tumbuh tinggi dan semampai. Wajahnya mulai memancarkan gurat kedewasaan yang tenang, sebuah kecantikan yang meneduhkan hati siapa pun yang melihatnya. Tetapi, pakaian yang menempel di tubuhnya masih saja sederhana—satu kaus lama yang warnanya sudah memudar, celana kain yang sudah beberapa kali dijahit ulang agar tidak robek, dan sepasang sepatu kanvas yang sol bawahnya mulai menipis tergerus aspal.
Maya menghentikan gerakannya menyapu debu. Ia memutar tubuhnya, memandang jauh ke arah jalan raya di luar kaca toko.
Hampir sepuluh menit berlalu sejak toko dibuka, dan tidak ada satu orang pun yang melangkah masuk. Ia kemudian menoleh ke belakang, melihat Clara yang masih duduk diam dengan tatapan kosong menatap meja kayu.
Maya meletakkan kemocengnya. Ia merapikan sedikit kausnya, lalu melangkah perlahan menuju meja kasir.
“Ibu,” panggilnya lembut.
Clara mengangkat kepalanya dari lamunan. “Apa?”
“Boleh aku bicara sebentar?”
Clara mengangguk tipis. “Bicara saja.”
Maya berdiri tepat di depan meja. Ia terdiam selama beberapa detik, mengatur napasnya seolah sedang mencari serpihan keberanian di dalam dadanya.
“Aku ingin bekerja,” ucap Maya akhirnya, dengan nada yang tenang namun tegas.
Alis Clara langsung bertaut, keningnya mengerut dalam. “Bekerja?”
“Iya, Bu.”
“Di mana?”
“Aku belum tahu pasti, aku akan mencari lowongannya.”
“Lalu kenapa tiba-tiba pikiranmu melayang ingin bekerja di luar?” cecar Clara, nada suaranya sedikit meninggi.
Maya menundukkan pandangannya, menatap buku catatan yang baru saja ditutup oleh ibunya. “Karena toko ini semakin sepi, Bu.”
Clara tidak segera menjawab. Ada kebenaran pahit dalam kalimat itu yang tak bisa ia sangkal.
Melihat ibunya terdiam, Maya melanjutkan kata-katanya dengan sangat hati-hati. “Aku melihat Ibu sering terjaga dan menghitung pengeluaran kita sampai larut malam. Aku tahu keuangan kita sedang tidak baik-baik saja.”
“Jangan ikut memikirkan urusan orang dewasa,” potong Clara cepat, mencoba mempertahankan otoritasnya.
“Aku bukan anak kecil lagi, Ibu.”
Clara menatap lurus ke dalam mata putrinya.
Maya membalas tatapan itu dengan seulas senyum tipis yang sarat akan kedewasaan. “Aku sudah lima belas tahun, Bu.”
Kalimat pendek itu sukses membuat Clara terpaku. Lidahnya kelu.
Lima belas tahun. Entah kapan dan bagaimana waktu berlalu dengan kecepatan yang begitu brutal. Sepertinya baru kemarin sore Maya adalah seorang anak kecil kurus yang bahkan belum bisa membaca kalimat sederhana, yang meringkuk ketakutan setiap kali dibentak. Dan sekarang... gadis itu sudah berdiri setinggi bahunya, memandangnya dengan tatapan mantap, berbicara tentang mencari pekerjaan demi bertahan hidup.
Clara buru-buru mengalihkan pandangannya, menatap ke arah luar jendela untuk menyembunyikan keterkejutannya. “Pekerjaan apa yang kamu mau di luar sana?”
“Apa saja, Bu. Yang penting halal.”
“Tidak semudah itu, Maya.”
“Aku tahu, Bu.”
“Kamu tidak punya pengalaman kerja sedikit pun di luar toko ini.”
“Aku bisa belajar dengan cepat.”
“Dan ijazah?” Clara melepaskan pertanyaan yang paling menyesakkan.
Maya terdiam seketika. Pertanyaan itu adalah dinding batu dalam realitasnya. Ia tidak pernah bersekolah seperti anak-anak normal lainnya. Ia tidak memiliki selembar pun kertas berstempel resmi yang bisa membuktikan kemampuannya.
Namun, selama bertahun-tahun ia tidak pernah berhenti belajar dari ribuan buku di toko ini. Ia pandai membaca. Ia mampu menulis dengan diksi yang baik. Ia ahli menghitung tanpa kalkulator. Bahkan, ia mempelajari berbagai hal tentang sejarah, sains, dan geografi yang kadang tak dipahami oleh Clara sendiri. Pengetahuannya jauh melampaui usianya.
Melihat kebungkaman putrinya, Clara menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. “Kenapa kamu begitu ngotot ingin bekerja, Maya?”
Maya terdiam cukup lama. Ia menatap wajah ibunya yang mulai dihiasi garis-garis keriput halus, lalu menjawab dengan suara yang sangat jernih.
“Karena aku ingin membantu Ibu.”
Sangat sederhana. Tidak ada alasan rumit lainnya. Tidak ada ambisi pribadi untuk membeli baju bagus atau ponsel pintar. Hanya satu keinginan mutlak: meringankan beban ibunya.
Clara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jari-jarinya bergerak pelan, mengusap permukaan buku catatan kas yang usang.
“Uang yang kamu dapatkan nanti sebagai pekerja pemula tidak akan banyak, Maya.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Pekerjaan pertamamu nanti pasti akan sangat berat dan menguras tenaga.”
“Tidak apa-apa.”
Clara mendongak, menatap mata putrinya lekat-lekat. “Orang-orang di luar sana... mereka mungkin akan memandang rendah kamu karena kamu tidak punya ijazah.”
Mendengar hal itu, Maya justru tersenyum kecil. Sebuah senyum yang menyimpan luka lama. “Aku sudah biasa dipandang rendah, Bu.”
Clara tersentak. Matanya seketika melebar.
Maya sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat jujurnya barusan melesat tajam dan menusuk tepat di jantung ibunya sendiri. Anak itu hanya melanjutkannya dengan nada polos yang memilukan, “Yang penting, aku bisa menghasilkan uang dan membantu Ibu.”
Clara segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Dadanya bergemuruh menahan rasa perih.
“Cari saja kalau begitu,” ucap Clara parau.
Mata Maya langsung berbinar-binar seperti bintang pagi. “Benarkah, Bu? Ibu mengizinkanku?”
“Kalau kamu memang menemukan pekerjaan yang cocok dan mau menerimamu.”
Maya tersenyum sangat lebar. “Terima kasih, Ibu!”
Clara tidak menjawab, berpura-pura sibuk merapikan laci. Maya membalikkan badannya, kembali mengambil kemoceng dan meneruskan pekerjaannya menyapu debu. Namun kali ini, ayunan tangannya dan langkah kakinya terlihat jauh lebih ringan, seolah beban berton-ton baru saja diangkat dari pundaknya.
Beberapa hari berikutnya, Maya memulai perjuangannya.
Setiap pagi ia tetap disiplin membantu Clara membuka toko dan menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Begitu jam sepuluh tiba dan tugasnya selesai, ia akan keluar membawa selembar kertas kecil berisi daftar alamat lowongan pekerjaan yang ia salin dari koran bekas.
Ia berjalan kaki dari satu alamat ke alamat lain di bawah teriknya matahari kota.
Ada tempat yang menolaknya mentah-mentah begitu melihat usianya. Ada perusahaan yang mengusirnya secara halus karena ia tidak bisa melampirkan ijazah sekolah menengah. Dan ada pula beberapa tempat yang bahkan tidak mau memberikannya kesempatan untuk berbicara atau menjelaskan kemampuannya, hanya karena melihat penampilannya yang terlalu sederhana.
Maya tidak pernah marah. Ia tidak memaki keadaan. Setiap kali ditolak, ia hanya akan membungkukkan badannya dengan sopan, mengucapkan terima kasih atas waktunya, lalu berjalan pergi menuju alamat berikutnya.
Hari kedua berlalu tanpa hasil.
Hari ketiga masih sama nihilnya.
Hari keempat, kenyataan pahit itu masih terus berulang.
Sore harinya, Maya pulang dengan langkah kaki yang jauh lebih lambat dari biasanya. Pundaknya sedikit merosot karena lelah.
Clara sedang menghitung sisa koin di meja kasir ketika pintu berderit terbuka. Begitu ia mendongak dan melihat raut wajah Maya, wanita itu sudah tahu jawabannya.
“Tidak dapat lagi?” tanya Clara pelan.
Maya meletakkan tas kain kecilnya di atas kursi, lalu menggeleng. “Belum, Bu.”
“Kenapa kali ini?”
“Sama seperti kemarin. Mereka mencari orang yang lebih tua, atau mensyaratkan ijazah sekolah resmi.”
Clara terdiam, menatap tumpukan koin di depannya.
Maya mengambil kain lap dari laci bawah. “Besok aku akan coba cari lagi di tempat lain.”
“Kalau besok tidak ada yang mau menerima juga bagaimana?” uji Clara.
“Aku akan coba lagi lusa, Bu,” jawab Maya tanpa keraguan sedikit pun.
Clara menatap punggung putrinya. “Jangan terlalu memaksakan diri sampai kamu sakit.”
Maya menoleh dan tersenyum tulus. “Aku tidak apa-apa, Bu.”
Kemudian, gadis itu kembali mengelap meja dan merapikan buku, seolah-olah penolakan dan kegagalan hari ini bukanlah sesuatu yang penting untuk diratapi.
Clara terus memperhatikan punggung ramping yang sibuk bekerja itu. Ada sesuatu yang terasa aneh dan asing berdenyut di dalam dadanya. Gadis ini benar-benar terbuat dari bahan yang berbeda dari dirinya. Jika Clara yang berada di posisi itu—menelan penolakan demi penolakan yang merendahkan harga diri—ia pasti akan mengingat dan mengutuk kegagalan itu selama berhari-hari.
Tetapi Maya tidak. Kegagalan tidak membuatnya hancur; itu hanya membuatnya mencoba lagi keesokan harinya.
Pada hari berikutnya, kegigihan Maya akhirnya membuahkan hasil. Ia menemukan sebuah perusahaan besar yang memasang pengumuman sedang mencari tambahan petugas kebersihan atau cleaning service.
Maya berdiri cukup lama di seberang jalan, menatap lekat-lekat ke arah gedung tersebut. Gedung itu sangat tinggi dan megah. Fasad kacanya memantulkan cahaya matahari dengan sangat menyilaukan. Dari pintu masuk otomatisnya, orang-orang dewasa keluar masuk dengan mengenakan pakaian kerja yang rapi dan sepatu mengkilap. Beberapa mobil mewah tampak melaju perlahan dan berhenti di lobi untuk menurunkan penumpangnya.
Maya menundukkan kepala, melihat ke arah penampilannya sendiri. Pakaiannya sangat sederhana. Sepatunya usang. Tas yang disandangnya hanyalah tas kain murah. Ia merasa bagaikan sebutir debu di antara kemegahan itu.
Sebuah dorongan kuat menyuruhnya untuk berbalik dan pulang. Ia merasa tidak pantas berada di tempat seperti ini.
Namun, tepat sebelum kakinya melangkah mundur, bayangan wajah Clara yang kelelahan saat menghitung uang receh di meja kasir kembali berputar di kepalanya.
Maya menarik napas dalam-dalam, membusungkan dadanya. “Coba dulu.”
Ia menyeberang jalan dan melangkah masuk ke dalam gedung ber-AC itu.
Proses seleksinya memang tidak mudah. Ia harus menghadapi wawancara dengan manajer personalia yang bermata tajam dan menceritakan kondisinya dengan sejujur-jujurnya. Namun, berkat pembawaannya yang luar biasa sopan, kemampuan berbicaranya yang tertata rapi hasil dari membaca ribuan buku, serta auranya yang jujur, keajaiban itu datang. Ia akhirnya diterima bekerja sebagai petugas kebersihan.
Ketika menerima secarik kertas konfirmasi itu, Maya sampai menahan napas.
“Benar... saya diterima di sini, Pak?” tanya Maya dengan mata membelalak, memastikan ia tidak sedang bermimpi.
Petugas di depannya tersenyum melihat reaksi polos itu dan mengangguk. “Iya. Kamu bisa mulai bekerja minggu depan. Lapor ke bagian operasional di lantai dasar.”
Maya membungkuk berkali-kali. “Terima kasih banyak, Pak! Terima kasih!”
Ia melangkah keluar dari gedung pencakar langit itu dengan langkah kaki yang seringan kapas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ia memiliki pekerjaan resmi.
Memang bukan pekerjaan besar dengan jabatan mentereng. Bukan pekerjaan duduk di balik meja yang membuat orang-orang berdecak kagum. Tugasnya hanyalah mengepel lantai, membersihkan ruangan, dan menjaga agar gedung besar itu tetap berkilau bersih.
Tetapi bagi Maya... ini adalah mahkota dari perjuangannya. Pekerjaan pertamanya. Dan ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri.
Sore itu, lonceng pintu toko buku berbunyi nyaring. Maya pulang jauh lebih cepat dari jadwal biasanya.
Clara, yang sedang menata tumpukan buku baru yang baru saja dikirim agen, menoleh ke arah pintu.
“Ibu!” panggil Maya dengan suara yang meluap oleh kegembiraan.
Melihat wajah putrinya yang berseri-seri, Clara menghentikan gerakannya.
Maya tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan giginya. “Aku diterima bekerja, Bu!”
Tangan Clara yang memegang buku perlahan turun. “Diterima? Di mana?”
Maya menyebutkan nama perusahaan besar tempat ia mendaftar tadi siang dengan bangga.
Clara tertegun. Ia mengenal nama perusahaan itu. Siapa pun yang hidup di negara ini pasti mengenal nama perusahaan raksasa tersebut. Perusahaan besar dengan gedung megah yang nilainya jauh lebih besar dari ribuan toko buku kecil miliknya ini.
Clara menatap mata putrinya yang berbinar. “Diterima bekerja sebagai apa di sana?”
“Sebagai cleaning service, Bu,” jawab Maya jujur.
Clara terdiam membisu. Ia butuh waktu untuk mencerna fakta bahwa anak gadisnya akan bekerja membersihkan kotoran di gedung mewah tersebut.
“Mulai kapan kamu bekerja?”
“Minggu depan, Bu.”
“Bagaimana dengan jam kerjanya?”
Maya dengan fasih menjelaskan jadwal kerjanya secara rinci, persis seperti yang dijelaskan oleh pihak personalia kepadanya. Clara mendengarkannya dalam diam sampai anak itu selesai berbicara.
“Tempatnya jauh dari sini?” tanya Clara kemudian.
“Lumayan, Bu.”
“Lalu bagaimana caramu pergi ke sana setiap hari?”
“Naik kendaraan umum. Aku sudah menghitung ongkosnya, biayanya cukup kok, Bu.”
Clara perlahan mengangguk, mencoba menerima kenyataan itu. Ia menatap wajah Maya lekat-lekat, lalu berkata dengan nada yang sedikit melembut, “Kalau pekerjaan itu terasa terlalu berat dan kamu terlalu lelah... jangan memaksakan dirimu.”
Maya tersenyum hangat, merasa bersyukur atas perhatian kecil itu. “Iya, Bu.”
Clara kembali membalikkan tubuhnya, meneruskan pekerjaannya menyusun buku-buku di rak.
Namun Maya masih berdiri di tempatnya, menatap punggung ibunya. “Ibu.”
“Apa lagi?” sahut Clara tanpa menoleh.
“Aku benar-benar bisa menghasilkan uang dan membantu Ibu sekarang.”
Gerakan tangan Clara mendadak berhenti total di udara.
Maya tersenyum tulus. “Jadi... Ibu tidak perlu terlalu khawatir lagi sampai tidak bisa tidur karena memikirkan nasib toko kita.”
Clara menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi wajahnya yang rumit. “Sudah, jangan berpikir terlalu banyak. Siapkan saja dirimu untuk bekerja.”
“Iya, Bu.”
Maya berbalik dan berjalan dengan riang menuju ruangan belakang untuk menyimpan tasnya.
Clara tetap berdiri kaku di tempatnya. Ia mendengar suara langkah kaki Maya yang menjauh, diikuti oleh suara gemerisik gadis itu yang mulai membereskan barang-barangnya di dalam kamar kecil mereka.
Perlahan, Clara memejamkan kedua matanya.
Lima belas tahun.
Selama lima belas tahun yang panjang dan menyakitkan, anak itu hidup bernapas bersamanya di bawah atap yang sama.
Di masa-masa awal, Clara selalu berdoa dalam hati agar Maya tumbuh besar tanpa memiliki secercah pun masa depan. Ia pernah sangat menginginkan anak itu tetap menjadi sosok yang bodoh, tetap lemah, dan selamanya bergantung kepadanya tanpa daya. Ia ingin membentuk Maya menjadi sampah masyarakat... agar suatu hari nanti, saat waktunya tiba, ia bisa menyeret anak itu dan mengembalikannya ke hadapan Vera dalam keadaan yang sudah hancur lebur tanpa sisa.
Namun sekarang...
Sekarang, ketika Maya benar-benar mulai melangkahkan kaki keluar dari cangkangnya untuk mencari kehidupannya sendiri, menghadapi kerasnya dunia luar... Clara justru merasakan sebuah emosi yang sangat aneh menggerogoti dadanya.
Ia merasa takut.
Ia takut gadis itu pergi terlalu jauh dari jangkauannya. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak itu di luar sana. Ia takut dunia yang kejam ini memperlakukan Maya dengan kasar dan menghancurkan senyum tulusnya.
Perasaan takut itu paradoks, membuat Clara mendadak marah kepada dirinya sendiri.
Kenapa aku harus merasa takut? batin Clara memberontak, mencengkeram tepi rak kayu hingga ruas jarinya memutih.
Ia menatap kosong ke arah deretan buku di depannya.
Bukankah selama ini... aku memang ingin melihatnya menderita?
Tidak ada jawaban yang datang dari kepalanya. Hanya keheningan toko yang menjadi saksi atas kehancuran perlahan dari sebuah dendam yang mulai kehilangan arahnya.
Malam itu, setelah makan malam, Maya sibuk di dalam kamar. Ia sedang menyiapkan seragam kerja perusahaannya yang baru saja ia ambil sore tadi.
Ia melipat kemeja dan celana seragam itu dengan sangat rapi, menyetrikanya dengan hati-hati, kemudian meletakkannya di tempat yang paling bersih di samping tempat tidurnya.
Gadis itu duduk bersila, memandangi tumpukan seragam itu selama beberapa saat. Besok pagi, ia akan melepaskan statusnya sebagai anak penjaga toko buku, dan resmi menjadi seorang pekerja. Ada kebanggaan yang mengalir hangat di darahnya. Ia tersenyum puas.
Setelah memastikan semuanya siap, Maya berbalik dan mengambil sebuah buku sejarah tebal. Ia membuka halamannya yang sudah diberi tanda pembatas. Seperti rutinitas yang tak pernah putus selama bertahun-tahun, sebelum memejamkan mata, ia harus membaca dan belajar.
Di luar kamar kecil itu, Clara berdiri diam dalam kegelapan.
Melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna, Clara bisa melihat cahaya lampu temaram menyorot wajah Maya yang sedang serius membaca.
Clara tidak menyibak tirai itu. Ia juga tidak melangkah masuk. Ia hanya berdiri mematung di sana selama beberapa menit, memandangi putrinya dalam diam, sebelum akhirnya membalikkan badan dan berjalan kembali ke meja kerjanya.
Setibanya di meja kasir, tangannya secara otomatis bergerak membuka laci kecil yang terkunci di bagian bawah.
Kotak kayu usang itu masih berada di tempat asalnya. Clara mengeluarkannya dan membuka penutupnya.
Di dalamnya, barang-barang peninggalan Elena masih tersimpan dengan rapi tanpa kurang satu pun. Dan di antara semua kenangan masa lalu yang membekukan waktu itu... lukisan Hari Ibu buatan Maya bertahun-tahun lalu masih terlipat manis di sana.
Clara mengulurkan jarinya, menyentuh permukaan lukisan kusam itu dengan kelembutan yang menyayat hati. Setelah beberapa saat bergelut dengan keheningan, ia menutup kembali kotak tersebut dan mendorong lacinya hingga rapat.
Malam perlahan-lahan semakin larut merangkul kota.
Di dalam kamar kecil di belakang toko buku yang berdebu itu, Maya akhirnya tertidur pulas dengan buku tebal yang masih terbuka di samping kepalanya.
Esok pagi, saat fajar menyingsing, ia akan melangkah meninggalkan pintu toko buku ibunya untuk pertama kalinya sebagai seorang pekerja. Ia belum tahu, bahwa langkah pertamanya ke gedung perusahaan raksasa itu adalah awal dari benang takdirnya yang akan kembali terhubung, menyeretnya ke dalam pusaran masa lalu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya.