Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Sakit Hati Sera.
“S-Sera apa maksudnya ini?” Ravin menjadi terbata.
Ia sungguh terkejut.
Sera mengetahui keberadaan Rania di apartemennya. Bagaimana bisa? Darimana sang istri mendapatkan foto - foto itu?
“Justru aku yang harusnya bertanya. Apa maksudnya semua ini? Kenapa dia bisa tinggal di apartemen kakak? Bahkan sejak malam pernikahan kita!”
Suara Sera menggema di dalam ruang tamu rumah mewah itu. Ravin seketika mendekati sang istri.
“Sera. Kamu tenang dulu. Kita bicara baik - baik. Tidak enak jika di dengar oleh bibi dan mas Wira.” Ravin hendak meraih lengan Sera, namun gadis itu menghindar kemudian melangkah menuju kamar mereka.
Ravin pun mengikuti langkah sang istri. Tidak bisa menghindar lagi, karena Sera sudah mengetahui rahasia dirinya.
Setelah sampai di kamar, ia menutup pintu dengan rapat agar suara mereka tak terdengar sampai keluar.
“Sera —
“Jadi apa yang akan kakak jelaskan tentang foto - foto itu? Apa kakak mau mengatakan kalau itu hanya rekayasa?” Sera berbicara sembari bersedekap dada.
Tas yang ia bawa kerja, telah terlempar di atas ranjang.
Ravin menghela nafas kasar. “Darimana kamu mendapatkan foto - foto ini, Sera?” Tanyanya pelan.
“Darimana pun aku mendapatkannya, itu sama sekali tidak penting. Yang aku butuhkan sekarang hanya penjelasan kakak tentang foto - foto itu.” Sera menunjuk lembaran foto di tangan sang suami.
“Kenapa dia bisa tinggal di apartemen kak Ravin? Bahkan sejak malam pernikahan kita? Aku sudah bertanya untuk yang ketiga kalinya! Apa kakak tidak mendengarnya juga? Atau kakak mau aku yang mencari tau sendiri?”
Sera menatap Ravin dengan penuh amarah. Namun, ada kesedihan yang sangat jelas terasa dari nada suara gadis itu.
Hati Ravin tercubit melihat air mata yang menetes di pipi sang istri.
“Maafkan aku, Sera.” Ucap Ravin pelan.
“Maaf untuk apa?! Bicara yang jelas. Karena aku ingin tau kebenarannya sekarang.” Teriak gadis itu.
“Kamu meninggalkan aku di malam pernikahan kita karena menjemput Rania dan membawanya ke apartemen kamu ‘kan?” Tanya Sera kemudian.
Kepingan puzzle yang berceceran sebelumnya, kini mulai terlihat rangkaiannya.
“Jawab aku Ravin Arthadipa! Kenapa kamu hanya diam? Apa kamu sedang merangkai sandiwara seperti di meja makan waktu itu?”
“Aku minta maaf, Sera.” Ucap Ravin sekali lagi.
“Iya. Kamu benar. Aku memang pergi untuk menjemput Rania dan membawanya ke apartemen malam itu. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Aku hanya ingin melindungi Rania dari mama.” Ucap Ravin kemudian.
Sera tertawa mengejek.
Mengejek dirinya sendiri. Karena sang suami bahkan tidak memikirkan perasaan dirinya, demi melindungi mantan kekasihnya.
Hati Sera sungguh sangat sakit mendengar jawaban Ravin.
“Jadi kak Ravin lebih memikirkan Rania daripada aku?” Tanya Sera bersama tangisannya.
“Ra. Bukan begitu maksud aku. Aku hanya tidak ingin mama melakukan sesuatu yang nekat pada Rania. Aku —
“Itu sama saja, kak. Kamu lebih perduli sama dia daripada aku. Kalau kamu memang masih mencintainya, untuk apa menyetujui perjodohan ini? Kenapa kamu memberikan aku harapan, sementara kamu masih berhubungan dengan mantan kekasih kamu?”
Ravin menggelengkan kepalanya. Ia membuang foto - foto Rania itu, kemudian melangkah mendekati Sera.
“Berhenti. Jangan coba untuk menyentuh aku.” Sera menghindari pria itu.
“Sera.”
Sera mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi.
“Aku ingat sesuatu. Kamu tidak pulang di hari jadi pernikahan kita waktu itu, bukan karena ada masalah di Bogor ‘kan? Biar aku tebak, apa kamu pergi menemui dia?”
“Maafkan aku, Ra.” Ucap Ravin pelan.
Dan kalimat itu membuat Sera mengerti, jika Ravin memang pergi menemui Rania waktu itu.
Tinggal menunggu hasil penyelidikan Wira. Apa yang Ravin lakukan di rumah sakit Sehat Medika waktu itu.
‘Mama! Mama Safina waktu itu juga ada di rumah sakit yang sama. Apa mungkin mama melihat kak Ravin?’
“Sera. Aku —
“KELUAR!!” Sera menunjuk ke arah pintu kamar.
“Sera. Dengarkan aku. Meski Rania sekarang tinggal di apartemen, kami tidak memiliki hubungan apapun, Ra. Aku hanya memberi tempat tinggal agar mama tidak menyakitinya.” Ucap Ravin kemudian.
Sera kembali menatap pria itu dengan penuh amarah.
“Tidak memiliki hubungan, tetapi kamu sering mendatanginya. Bahkan di hari istimewa kita. Oh, jangan - jangan selama ini kamu sering berangkat lebih pagi, pulang terlambat, itu karena menemui dia? Iya ‘kan, kak? JAWAB AKU!!” Tuntut Sera.
Ravin tidak memiliki alasan untuk mengelak pertanyaan Sera. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
“KELUAR RAVIN!! Aku tidak mau melihat wajah kamu!!” Teriak Sera lagi.
“Sera —
“Baik. Jika kamu tidak mau keluar. Biar aku saja.” Sera hendak melangkah menuju pintu, namun Ravin dengan cepat mencegahnya.
“Sera. Tunggu. Baiklah. Aku yang akan keluar dari kamar ini. Kamu lebih baik disini.” Ucap pria itu.
Sera memalingkan wajahnya, sama sekali tidak ingin beradu tatap dengan sang suami.
“Aku tidur di kamar sebelah.” Ravin pun keluar dari kamar mereka.
Sera mengunci pintu. Kemudian menjerit sekerasnya. Ia menarik selimut, membuang sembarangan.
Sungguh menyakitkan kebohongan yang telah Ravin lakukan padanya.
“Kenapa kamu masih berhubungan dengan mantan kekasihmu, kak? Apa yang kurang dari aku?” Jerit Sera pilu.
“Sakit, Ravin!! Hati aku hancur karena kamu!!”
.
.
.
Keesokan harinya.
“Bi, apa Sera belum turun?” Tanya Ravin pada bi Sari yang tengah menyiapkan sarapan.
Ia hendak mengambil pakaian ganti ke dalam kamar mereka. Namun, saat mengetuk pintu Sera tak menjawabnya.
“Loh. Tuan tidak melihat nona pergi? Nona ‘kan sudah berangkat setengah jam yang lalu.” Ucap bi Sari.
Mata Ravin membulat sempurna. Sang istri sudah pergi setengah jam yang lalu, dan ia tak mengetahuinya.
“Bibi tau Sera mau pergi kemana? Dia ada berpesan sesuatu?” Tanya pria itu.
Bi Sari menggelengkan kepalanya.
“Nona hanya mengatakan ada urusan penting, tuan. Sama seperti kemarin.” Ucap wanita paruh baya itu.
“Baik, bi. Saya akan bersiap dulu.”
Ravin pun kembali ke kamarnya. Namun ia teringat sesuatu.
Kemarin Sera pamit untuk pergi ke kantor lebih awal, karena ada meeting pagi. Tetapi saat pulang, justru membawa foto - foto Rania di apartemennya.
Apa mungkin kemarin Sera tidak pergi ke kantor? Tetapi justru pergi ke apartemen?
Atau, ada seseorang yang memberikan foto - foto itu pada Sera?
“Dia berubah dengan sangat cepat. Aku bahkan sampai tidak sempat membela diri. Siapa sebenarnya yang terlibat di balik semua ini? Kenapa Sera bisa mencurigai aku?”
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟