NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 — Peringatan dari Atas

Menyelidiki sesuatu sebesar konspirasi di tengah perang aktif ternyata jauh lebih sulit daripada yang Ardan bayangkan.

Hari-hari mereka masih dipenuhi tugas jaga, patroli, dan sesekali pertempuran kecil dengan pasukan pengintai Ravharn yang mencoba menguji pertahanan gabungan Valdren-Sylvaris. Waktu untuk menyelidiki hanya tersisa di sela-sela tugas, momen-momen curian di malam hari atau saat istirahat singkat.

"Kita butuh pendekatan yang lebih sistematis," kata Kael suatu malam, ketika mereka bertiga berkumpul jauh dari telinga orang lain. "Kita tidak bisa hanya menunggu informasi jatuh ke pangkuan kita."

"Apa yang kau sarankan?" tanya Ardan.

"Surat-surat," jawab Kael. "Setiap kali logistik datang, ada surat-surat resmi yang menyertainya—perintah, laporan, kadang bahkan korespondensi pribadi para perwira senior. Jika ada pola pergerakan uang atau senjata yang aneh, mungkin ada jejaknya di sana."

"Itu bisa dianggap pengkhianatan jika ketahuan," Tobin memperingatkan.

"Kita tidak mencuri, hanya memperhatikan," Kael membela idenya. "Aku bekerja di dekat tenda logistik beberapa kali seminggu untuk urusan perbekalan panah. Aku bisa memperhatikan tanpa terlalu mencolok."

Ardan mempertimbangkan risikonya. Ia tahu apa yang mereka lakukan berbahaya, bukan hanya bagi karier mereka tapi mungkin bagi nyawa mereka jika pihak yang bertanggung jawab atas konspirasi ini seserius yang Elowen duga.

"Hati-hati," katanya akhirnya. "Jangan mengambil risiko yang tidak perlu. Kita mengumpulkan informasi, bukan menjadi mata-mata heroik yang mencari kematian."

---

Selama beberapa minggu berikutnya, mereka mulai mengumpulkan potongan-potongan informasi kecil, masing-masing tidak signifikan sendirian tapi mulai membentuk pola yang mengkhawatirkan ketika disatukan.

Kael menemukan referensi berulang pada sebuah perusahaan dagang bernama "Serikat Fajar Baru" dalam beberapa dokumen logistik, selalu terlibat dalam pengiriman senjata dan perbekalan dalam jumlah besar, dengan harga yang jauh di atas rata-rata pasar.

Serena, yang mulai dipercaya sepenuhnya setelah menunjukkan kompetensi dan integritasnya berulang kali dalam pertempuran, menambahkan perspektif berharga dari latar belakang bangsawannya.

"Aku ingat nama itu," katanya suatu sore, ketika Ardan akhirnya memutuskan untuk memercayainya dengan sebagian dari apa yang mereka temukan. "Serikat Fajar Baru. Ayahku pernah menyebutkannya sekali, dengan nada yang aneh. Ia bilang mereka salah satu penyumbang terbesar untuk kampanye militer, tapi juga salah satu yang paling misterius soal kepemilikan sebenarnya."

"Misterius bagaimana?"

"Tidak ada yang benar-benar tahu siapa yang memimpin mereka. Mereka beroperasi melalui perwakilan dan perantara, tidak pernah menunjukkan wajah asli di balik organisasi itu." Serena mengerutkan kening, mengingat detail lebih lanjut. "Ayahku pernah bercanda bahwa mungkin mereka bahkan bukan hanya dari Valdren. Mungkin mereka punya kepentingan di banyak kerajaan sekaligus."

Kata-kata itu menghantam Ardan dengan kekuatan yang tidak terduga. Sebuah organisasi yang beroperasi lintas kerajaan, mendapat keuntungan dari penjualan senjata dalam skala besar, sengaja menyembunyikan identitas para pemimpinnya—semua ini semakin mengarah pada gambaran yang mengerikan tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perang berkepanjangan ini.

---

Suatu malam, ketika Ardan sedang memeriksa perlengkapan regunya sebelum tidur, seorang utusan datang dengan pesan darurat.

"Sersan Ardan, Kapten Orwin memanggil Anda ke tenda komando. Segera."

Ardan merasakan firasat buruk saat berjalan menuju tenda komando, dan firasat itu terbukti benar ketika ia menemukan Orwin dengan wajah tegang, ditemani seorang perwira intelijen yang belum pernah Ardan temui sebelumnya.

"Sersan," kata Orwin, nadanya lebih formal dari biasanya. "Ini Kapten Dresden, dari unit intelijen markas pusat. Ia punya beberapa pertanyaan untukmu."

Dresden, lelaki bertubuh kurus dengan mata yang tajam dan mengamati, menatap Ardan dengan cara yang membuatnya merasa seperti sedang diperiksa dengan sangat teliti.

"Sersan Ardan," katanya, suaranya datar dan profesional. "Kami menerima laporan bahwa kau telah melakukan pertemuan berulang dengan diplomat Sylvaris, Lady Elowen, membahas topik-topik yang berada di luar yurisdiksi militer normal."

Jantung Ardan berdegup cepat. Seseorang telah mengawasi mereka. "Kami membahas strategi pertahanan bersama, Kapten. Lady Elowen adalah bagian penting dari koordinasi militer di sini."

"Benarkah hanya itu?" Dresden mengeluarkan sebuah kertas dari tasnya, dan meski Ardan tidak bisa membaca detailnya dari jarak itu, ia bisa melihat bahwa itu adalah semacam laporan pengawasan. "Karena sumber kami menyebutkan diskusi tentang 'Serikat Fajar Baru' dan kemungkinan manipulasi dalam eskalasi perang ini."

Ardan menatap Orwin, mencoba membaca apakah kaptennya tahu tentang penyelidikan mereka. Ekspresi Orwin sulit dibaca, campuran kekhawatiran dan sesuatu yang mungkin peringatan tersembunyi.

"Kapten Dresden," kata Ardan hati-hati, memilih kata-katanya dengan seksama, "sebagai prajurit yang telah kehilangan keluarga dan banyak sahabat dalam perang ini, wajar jika saya ingin memahami akar penyebabnya dengan lebih baik."

"Rasa ingin tahu bisa berbahaya, Sersan. Terutama ketika menyentuh kepentingan pihak-pihak yang lebih berkuasa daripada seorang sersan biasa." Dresden menyimpan kembali kertasnya, nada suaranya menjadi lebih tajam. "Aku menyarankan kau fokus pada tugasmu sebagai prajurit. Pertanyaan tentang siapa yang mendanai perang ini sebaiknya diserahkan pada mereka yang berwenang menanyakannya."

Ia berbalik dan meninggalkan tenda tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Ardan dengan Orwin dalam keheningan yang berat.

"Kapten," kata Ardan akhirnya, "apakah Anda tahu tentang penyelidikan kami?"

Orwin menghela napas panjang, matanya menatap ke arah pintu tenda yang baru saja ditinggalkan Dresden. "Aku tahu lebih dari yang seharusnya kuketahui, Ardan. Dan aku takut kau baru saja menarik perhatian dari orang-orang yang tidak ingin ditarik perhatiannya."

---

Setelah Dresden pergi, Kapten Orwin menyuruh penjaga di luar tenda untuk memastikan tidak ada yang mendekat, sebelum akhirnya duduk berhadapan dengan Ardan, wajahnya lebih lelah daripada yang pernah Ardan lihat.

"Duduklah," katanya. "Kita perlu bicara, dan aku perlu kau mendengarkan dengan sangat hati-hati."

Ardan duduk, jantungnya masih berdebar dari kunjungan Dresden.

"Aku sudah menjadi perwira selama dua puluh tahun lebih," mulai Orwin. "Dalam waktu itu, aku telah melihat banyak hal yang tidak masuk akal jika perang ini benar-benar sesederhana yang digambarkan pada prajurit biasa. Perintah yang datang tanpa alasan jelas. Pasukan yang dikirim ke posisi yang tidak memiliki nilai strategis nyata. Persediaan yang menghilang tanpa penjelasan."

"Anda sudah lama mencurigai ini?"

"Mencurigai, ya. Tapi tidak pernah berani menyelidiki secara terbuka seperti yang kau lakukan." Orwin menghela napas, matanya menatap jauh, seolah melihat kenangan-kenangan yang telah lama ia simpan. "Aku punya keluarga, Ardan. Seorang istri dan dua anak di ibu kota. Aku punya lebih banyak untuk dipertaruhkan jika aku bertindak gegabah."

"Jadi Anda menyarankan saya berhenti menyelidiki."

"Aku menyarankan kau lebih berhati-hati." Orwin menatapnya tajam. "Dresden bukan orang sembarangan. Ia bekerja langsung di bawah komando yang berhubungan dengan lingkaran dalam istana. Jika ia sudah tahu tentang penyelidikanmu, itu berarti seseorang di atas telah memperhatikanmu."

Kata-kata itu mengirim dingin ke tulang punggung Ardan. "Apa yang akan mereka lakukan?"

"Aku tidak tahu pasti. Tapi aku sudah melihat prajurit-prajurit yang terlalu banyak bertanya tiba-tiba dipindahkan ke misi bunuh diri, atau mengalami 'kecelakaan' yang mencurigakan." Orwin mencondongkan tubuhnya ke depan. "Aku tidak mengatakan ini untuk menakutimu agar berhenti mencari kebenaran, Ardan. Aku mengatakan ini agar kau melakukannya dengan lebih bijaksana."

---

"Apa yang Anda sarankan?" tanya Ardan setelah keheningan yang panjang.

"Untuk sementara, hentikan penyelidikan terbuka. Jangan lagi bertemu Lady Elowen secara mencolok. Jangan membicarakan Serikat Fajar Baru di tempat yang bisa didengar orang lain." Orwin berdiri, berjalan ke arah pintu tenda untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan. "Tapi itu tidak berarti berhenti sepenuhnya. Kumpulkan informasi secara diam-diam, simpan dalam ingatanmu atau dalam kode yang hanya kau dan orang-orang kepercayaanmu pahami. Suatu hari, ketika saatnya tepat, informasi itu mungkin bisa digunakan."

"Kapan saat yang tepat itu?"

"Aku tidak tahu. Mungkin ketika kau memiliki cukup pangkat dan pengaruh untuk didengar tanpa langsung dibungkam. Mungkin ketika perang ini mencapai titik di mana kebenaran tidak bisa lagi disembunyikan." Orwin menatapnya dengan sesuatu yang mendekati permintaan maaf. "Aku tahu ini bukan jawaban yang kau inginkan, Ardan. Tapi bertindak terlalu cepat, tanpa perlindungan yang cukup, hanya akan membuatmu—dan mereka yang kau lindungi—menjadi target."

Ardan memikirkan Tobin, Kael, Serena, seluruh regunya yang telah mempercayakan nyawa mereka padanya. Jika keputusannya untuk mencari kebenaran membahayakan mereka, apakah itu keputusan yang layak diambil?

"Baiklah," katanya akhirnya. "Saya akan lebih berhati-hati."

"Bagus." Orwin tampak sedikit lega. "Dan Ardan—untuk apa pun nilainya, aku bangga bahwa kau peduli cukup dalam untuk mempertanyakan ini. Banyak yang memilih untuk tidak tahu, karena tidak tahu lebih mudah dijalani. Kau memilih jalan yang lebih sulit."

---

Ardan menyampaikan peringatan Orwin pada Tobin, Kael, dan Serena malam itu, dan meski kekecewaan jelas terlihat di wajah mereka, semua sepakat bahwa kehati-hatian adalah pilihan bijak.

"Jadi kita menunggu," gumam Kael, nadanya penuh frustrasi yang tertahan.

"Kita menunggu, tapi tidak berhenti," koreksi Ardan. "Kita tetap memperhatikan, tetap mengumpulkan, hanya dengan lebih hati-hati."

Serena, yang duduk agak terpisah dari yang lain, akhirnya bicara. "Aku bisa membantu dengan cara yang berbeda. Suratku pada ayahku, sebagai putrinya, tidak akan mengundang kecurigaan yang sama seperti pertanyaan langsung dari seorang sersan. Aku bisa mencoba menggali informasi melalui koneksi keluarga tanpa menimbulkan tanda tanya."

"Itu berisiko bagi keluargamu juga," Ardan memperingatkan.

"Aku tahu risikonya," jawab Serena tegas. "Tapi aku juga sudah melihat cukup banyak kematian di garis depan untuk tahu bahwa duduk diam bukan pilihan yang lebih aman, hanya pilihan yang lebih nyaman."

Malam itu, ketika mereka akhirnya berpisah untuk beristirahat, Ardan menatap sabit tua, pedang Halric, dan liontin Elowen yang tersimpan bersama di antara barang-barangnya—tiga pengingat tentang perjalanan yang telah membawanya sejauh ini, dan janji diam-diam bahwa perjalanan itu, betapa pun berbahayanya, belum berakhir.

Ia tidak tahu berapa lama mereka harus menunggu sebelum bisa bertindak lebih jauh. Tapi untuk pertama kalinya, ia memiliki sesuatu yang lebih kuat dari sekadar dugaan—ia memiliki sekutu-sekutu yang percaya, dan tekad yang, meski harus ditahan sementara, tidak akan pernah benar-benar padam.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!