NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:718
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan 2 x 45 Menit: Teorema Cinta Sang Dosen dan Ratu Rusuh

Sore itu, di sebuah warung tengkleng legendaris di pinggiran Kota Surakarta yang terkenal dengan kuah gulai kambingnya yang pedas gurih, suasana seharusnya terasa santai. Namun, bagi Anna, tempat itu terasa seperti ruang sidang skripsi darurat.

Ia duduk di kursi plastik warna merah, mengenakan kemeja kasual denim dan celana jeans, sementara di seberangnya duduklah sesosok manusia lurus tanpa belok: Surya Adiwinata.

Sang dosen arsitektur itu tampak sangat rapi. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang, kemeja dikancingkan sampai leher atas, rambutnya disisir klimis menyamping, dan kacamata berbingkai perak bertengger sempurna di hidungnya. Di hadapannya, Surya bahkan sudah meletakkan buku catatan kecil lengkap dengan pulpen hitam, seolah-olah ia sedang bersiap mencatat hasil pengamatan lapangan.

Anna menghela napas panjang, menatap piring tengkleng di depannya lalu beralih menatap pria di hadapannya dengan ekspresi setengah jengkel setengah geli.

"Duh, Mas..." protes Anna sambil melipat kedua tangan di dada, memulai percakapan dengan nada ngegas khasnya. "...kalau kenalan gak usah pakai rumusan geometris, geografi, atau istilah mekanika bahan kayak tadi siang di WhatsApp! Bikin kepala orang puyeng tujuh keliling, tahu gak? Emangnya aku ini mau sidang tesis apa?"

Surya tidak langsung menjawab. Ia mengambil tisu, merapikan letak sendok dan garpu di samping piringnya dengan presisi sudut sembilan puluh derajat, lalu menatap Anna di balik kacamatanya dengan pandangan lurus dan serius.

"Mohon maaf, Sdri. Anna," ucap Surya dengan suara bariton yang datar, formal, dan ber-EYD sangat sempurna. "Berdasarkan tinjauan psikologis komunikasi interpersonal, penggunaan diksi struktural dan akademis bertujuan untuk meminimalisasi ambiguitas informasi agar efisiensi waktu tercapai sesuai durasi yang telah kita sepakati, yaitu dua kali empat puluh lima menit."

Anna melongo mendengarnya. Matanya hampir keluar. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun, Tuhan... aku lagi ngobrol sama manusia apa sama robot pabrikan jaman kolonial, sih?!" gerutu Anna frustrasi, membuat beberapa pengunjung warung melirik ke arah mereka. "Dengar ya, Pak Dosen Kaku. Ini namanya kencan, bukan rapat senat universitas! Gak usah pakai durasi dua kali empat puluh lima menit segala kayak jam pelajaran sekolah dasar!"

Surya mengangguk-angguk kecil, mencatat sesuatu di buku kecilnya dengan pulpen, lalu berkata dengan polosnya tanpa rasa bersalah: "Baik, catatan revisi diterima. Durasi kencan akan diubah menjadi sistem fleksibel tanpa batasan paruh waktu, namun dengan tetap mempertahankan prinsip kesopanan normatif."

Mau tidak mau, sudut bibir Anna berkedut menahan senyum. Meski menyebalkan dan kaku luar biasa, ada sesuatu dari kepolosan dan ketulusan cara bicara Surya yang membuatnya merasa gemas sekaligus penasaran. Di dunia ini, jarang sekali ada laki-laki yang menghadapi omelannya dengan kepala dingin alih-alih ikut ngegas balik.

"Hih! Serius amat sih hidupmu, Sur," cibir Anna sambil mulai mengambil sendok, mencicipi kuah tengkleng yang pedas mengepul. "Coba sekali-kali santai gitu. Gak pegal apa otot mukamu kaku terus dari tadi?"

"Otot wajah saya dalam kondisi relaksasi optimal, Anna," jawab Surya kaku, lalu ia ikut mencicipi kuah tengkleng di piringnya. Sesaat kemudian, pria itu terdiam. Kuah pedas rempah khas Solo itu rupanya menghantam lidahnya dengan cukup telak. Surya mulai berkeringat di pelipisnya, namun ia tetap berusaha mempertahankan postur tubuhnya yang tegak lurus.

Anna yang melihat Surya kepedasan langsung tertawa lepas. Ia mendorong gelas es teh manis miliknya ke hadapan Surya. "Tuh kan! Sok cool sih! Minum nih es teh sebelum tenggorokanmu meledak karena kepedasan!"

Surya menatap es teh yang disodorkan Anna, lalu menatap wajah wanita itu yang sedang tertawa lepas tanpa beban. Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, sudut bibir Surya perlahan-lahan terangkat membentuk seulas senyuman tipis—sangat tipis, tapi nyata.

"Terima kasih, Anna," kata Surya pelan, mengambil gelas tersebut dan meneguknya. "Ternyata... rekomendasi kuliner dari kawan Adnan ini memiliki indeks kepedasan di luar estimasi teoretis saya."

Melihat Surya mulai melunak, Anna merasa tertantang untuk menjahili pria itu lebih jauh lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap manik mata Surya penuh selidik.

"Hei, Pak Dosen Kaku. Jujur nih, waktu Adnan pertama kali nyomblangin kita lewat video call kemarin, apa yang ada di kepalamu soal aku? Pasti kamu mikir aku ini cewek berisik yang kerjaannya bikin rusuh hidup orang, kan?" tanya Anna penasaran.

Surya meletakkan gelasnya kembali ke meja, merapikan kacamatanya, lalu menatap mata Anna lekat-lekat tanpa keraguan.

"Tidak," jawab Surya tegas.

Anna mengerjap keningnya, terkejut. "Lalu? Kamu mikir apa?"

"Saya berpikir bahwa variabel acak dalam hidup saya selama ini terlalu monoton," kata Surya dengan nada suara yang mendadak terdengar lebih dalam dan tulus dari sebelumnya. "Semua hal di hidup saya harus diukur, dihitung, dan direncanakan dengan presisi tinggi. Tapi ketika melihat Anda marah-marah di layar ponsel kemarin... untuk pertama kalinya, saya melihat sebuah kekuatan spontanitas yang tidak bisa dihitung dengan rumus apa pun. Dan saya rasa... saya membutuhkan variabel itu dalam hidup saya."

Deg!

Jantung Anna seketika berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka dosen arsitektur yang tampak seperti robot berjalan itu bisa merangkai kalimat gombalan berkedok analisis ilmiah yang begitu mematikan! Pipi Anna spontan merona merah jambu. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke mangkuk tengklengnya, pura-pura sibuk mengaduk kuah biar tidak ketahuan salah tingkah.

"Alah... gombal! Belajar merangkai kata-kata manis begitu dari mana kamu, hah? Jangan-jangan sering nyontek diktat skripsi mahasiswi ya?" cerca Anna menutupi rasa salah tingkahnya dengan nada ketus pura-pura.

Surya tersenyum kecil—kali ini senyumannya terlihat jauh lebih jelas dan manis dari sebelumnya. "Saya tidak pernah berbohong dalam penyusunan data empiris, Anna. Termasuk data mengenai perasaan saya saat ini."

Di kejauhan, tersembunyi di balik pilar warung sebelah, dua sosok pengintai amatiran dengan menyamar mengenakan topi dan masker—siapa lagi kalau bukan Adnan dan Martha—tengah mengamati jalannya kencan tersebut sambil menahan tawa mati-matian.

Martha menyenggol lengan suaminya, berbisik gemas, "Lihat tuh! Strategimu berhasil besar! Dosen kaku itu ternyata jago juga main psikologis terselubung!"

Adnan tersenyum puas, merangkul pinggang istrinya pelan. "Sudah kubilang, Martha. Di balik setiap manusia kaku, selalu ada sisi terpendam yang siap luluh di tangan ratu rusuh."

Kembali ke meja Anna dan Surya. Suasana di antara mereka kini jauh lebih hangat dan cair. Tidak ada lagi jarak formalitas yang kaku. Anna mendengus pelan sambil tersenyum lebar, melempar sepotong kerupuk ke arah Surya yang langsung ditangkap sigap oleh pria itu.

"Oke, Pak Dosen! Tantangan kencan berikutnya: habiskan semangkuk tengkleng super pedas ini tanpa sisa, atau gelarmu sebagai arsitek tercanggih Solo kucabut detik ini juga!" tantang Anna penuh semangat.

Surya tersenyum penuh percaya diri, mengambil sendoknya kembali. "Tantangan diterima, Sdri. Anna."

Dan di bawah temaram lampu warung tengkleng pinggir jalan Kota Solo sore itu, sebuah kisah cinta baru yang unik, absurd, namun sarat akan kehangatan resmi dimulai—membuktikan bahwa cinta sejati memang tidak pernah butuh rumus geometris yang rumit untuk bisa menyatukan dua hati yang berbeda kutub.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!