Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Tae-jun melepas jas mewahnya secara kasar dan menghempaskannya begitu saja ke atas lengan sofa. Ia melonggarkan ikatan dasinya, melepas dua kancing teratas kemejanya, lalu menyandarkan kepala pada sandaran sofa dengan mata terpejam rapat. Pikiran pria itu teramat kacau. Seperti biasa, makan malam keluarga memang tidak pernah berjalan baik, hanya meninggalkan rasa sesak dan beban emosi yang menghimpit dada. Ucapan sang ayah mengenai perjodohan dengan Yoon Chae-won terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Denting.
Suara notifikasi ponsel di saku celananya memecah keheningan apartemen yang remang. Tae-jun merogoh ponselnya dan mendapati sebuah pesan singkat masuk dari Han Ji-eun:
Bagaimana dengan acara makan malamnya? Apa berjalan dengan lancar?
Tae-jun menatap layar ponsel itu lama. Ibu jarinya mengusap pelan nama Ji-eun di layar, mengukir senyum tipis di tengah rasa frustrasinya. Baru saja jarinya hendak menari menyusun balasan agar perempuan itu tidak cemas, denting bel pintu apartemennya mendadak berbunyi.
Tae-jun mengernyitkan alis. Ia bangkit, melangkah menuju layar interkom dekat pintu. Di layar monitor digital, sosok Soo-yeon berdiri menunggunya dengan mantel cokelat elegan. Tae-jun menekan tombol pembuka kunci, dan beberapa detik kemudian pintu apartemennya terdorong terbuka. Soo-yeon melangkah masuk, membiarkan aroma parfum mewahnya memenuhi lorong apartemen.
"Kau baik-baik saja?" tanya Soo-yeon langsung, menatap adiknya dengan raut cemas yang kentara.
Tae-jun yang tidak terbiasa atas kedatangan mendadak sang kakak hanya mengangguk pelan. Meski jarang menunjukkan kedekatan secara terbuka, Tae-jun tahu betul bahwa Soo-yeon sangat mengkhawatirkannya usai perselisihan hebat di rumah utama tadi.
"Mau minum apa?" tanya Tae-jun berusaha memecah kecanggungan.
Soo-yeon melepaskan mantelnya, melemparkannya ke sandaran sofa lalu menyunggingkan senyum tipis. "Aku yakin kau pasti punya alkohol. Aku sedang ingin minum sekarang."
Tae-jun terheran-heran sejenak. Tidak biasanya kakaknya bertandang di tengah malam hanya untuk mengajaknya minum bersama. Namun, ia tidak bertanya lebih lanjut. Tae-jun berjalan menuju dapur, membuka salah satu kabinet khusus yang menyimpan beberapa koleksi botol alkohol mahal, lalu mengambil dua gelas kristal berkaki tinggi.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tenang. Di atas sofa empuk, mereka berdua duduk berdampingan, menikmati seteguk demi seteguk red wine bernuansa pekat yang mengalir hangat di tenggorokan.
Namun, keheningan itu mendadak buyar ketika Soo-yeon memutar gelasnya pelan dan melontarkan pertanyaan tanpa aba-aba:
"Kau sedang mengencani seseorang?"
Uhuk!
Tae-jun hampir saja tersedak anggur yang baru saja diteguknya. Pria itu terbatuk pelan, menyapu sudut bibirnya dengan saputangan, lalu menatap kakaknya dengan pandangan terkejut.
Tae-jun terdiam sejenak, menimbang situasi. Di keluarga Seo yang penuh intrik dan kepura-puraan, Soo-yeon adalah satu-satunya orang yang paling bisa ia percayai. Meskipun mereka tidak memiliki ikatan darah, Tae-jun sudah menganggapnya seperti kakak kandungnya sendiri sejak mereka masih kecil. Soo-yeon selalu bersikap tulus dan berdiri di sisinya saat sang ayah menuntut terlalu banyak.
Dinding pertahanan Tae-jun perlahan meluruh. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Ya. Aku sedang mengencani seseorang."
Soo-yeon tersenyum tipis, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang hangat. "Bagaimana kakak tahu?" tanya Tae-jun penasaran.
"Sikapmu di meja makan tadi," jawab Soo-yeon terkekeh pelan. "Saat Ayah membahas pernikahan, penolakanmu bukan sekadar rasa benci pada perjodohan. Reaksimu sangat defensif, seperti sedang melindungi seseorang. Jadi... apa dia orang perusahaan?"
Tae-jun tertegun sejenak dengan kejelian kakaknya, lalu menghela napas pasrah. "Dia bekerja di hotel."
Mendengar hal itu, mata Soo-yeon berbinar terang. Ia bersandar di sofa, menatap adiknya dari atas ke bawah. "Seo Tae-jun... Kau benar-benar sudah dewasa rupanya. Jujur saja, selama ini aku sempat takut kau tidak akan pernah berkencan dan berakhir menjadi pria dingin yang membosankan seumur hidupmu."
Tae-jun menyipitkan mata, tidak begitu mengerti dengan godaan Soo-yeon, tetapi melihat raut wajah kakaknya yang tampak begitu lega dan gembira, perasaan hangat menyelimuti dadanya.
"Kau sangat menyukainya?" tanya Soo-yeon lagi dengan nada suara yang lembut.
Tanpa keraguan sedikit pun, Tae-jun mengangguk mantap. Tatapan matanya berubah menjadi teramat dalam dan hangat. "Dia adalah wanita yang sangat baik. Sangat tulus, pekerja keras, dan... dia satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa menjadi manusia biasa."
Soo-yeon tertawa renyah menggelengkan kepalanya. "Sepertinya adiku yang kaku ini benar-benar sedang dimabuk cinta setengah mati."
Tae-jun tak mampu menahan tawa kecilnya. Rasa sesak akibat amarah pada sang ayah mendadak menguap begitu saja digantikan oleh kenyamanan berbincang dengan kakaknya.
"Ah, soal ucapan Ayah tadi..." ujar Soo-yeon hendak mengungkit masalah perjodohan.
"Aku tidak ingin membahasnya lagi malam ini," potong Tae-jun cepat, memutar gelas anggurnya. "Jadi malam ini kita cukup menikmati minuman ini, dan aku akan menceritakan banyak hal soal pacarku. Bagaimana?"
Mata Soo-yeon membelalak antusias. "Setuju! Aku ingin tahu wanita hebat mana yang berhasil menaklukkan es batu sepertimu."
Malam yang semula dingin dan mencekam itu berubah menjadi momen keakraban yang amat langka bagi dua bersaudara tersebut. Tae-jun menceritakan betapa mengagumkannya Ji-eun, bagaimana gigihnya perempuan itu bekerja, hingga momen-momen kecil yang membuat Tae-jun jatuh hati setiap harinya. Soo-yeon mendengarkan setiap detail cerita itu dengan tawa dan godaan hangat.
Dua botol anggur merah habis tak tersisa seiring berjalannya waktu. Kehangatan alkohol dan tawa yang jujur akhirnya merobohkan pertahanan Soo-yeon. Tanpa sadar, untuk pertama kalinya dalam hidup, Soo-yeon tertidur lelap di atas sofa empuk apartemen Tae-jun dengan selimut tebal yang dipasangkan oleh adiknya.
Tae-jun berdiri di dekat jendela kaca besar apartemennya, menatap pendar lampu kota Seoul yang indah sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya karena ia sudah sedikit mabuk.
...****************...