NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Rosa

Dengan langkah gontai dan wajah merengut, Galang akhirnya menurut.

Galang: Nggak bisa keluar, Zidan. Mama balik. Gue dikurung. Macak kalem dulu malam ini.

Zidan: Ckckck. Kena juga, lo. Padahal gue udah tungguin.

Galang: Ya mau gimana? Gue udah mau kabur tapi ketangkap.

Zidan: Bodoh.

Galang: Terpaksa nurut gue. Tapi yaudahlah, biar aman dulu. Besok baru kita gas lagi.

Zidan: Terserah. Jangan sampe ketangkep lagi.

Galang: Iya, iya. Lo pikir gue mau kena ceramah lagi? Males.

...****************...

Beberapa jam yang lalu di rumah lama Arkan.

"Kenzie makin ke sini makin nggak sopan, Arkan. Masih kecil udah berani sama orang dewasa." ketus Rosa begitu Arkan menginjakkan kakinya di rumah itu.

"Ada apalagi, Mom?" tanya Arkan malas. Dulu, mungkin dia akan langsung menanyai Kenzie, tapi sekarang dia yakin Rosa hanya mengada-ada.

"Tadi Mommy suruh Luna jemput Kenzie, tapi Kenzie nolak dan malah ngatain Luna. Mommy jadi malu! Ini nggak bisa dibiarkan, kamu harus segera nikah biar ada yang bisa mendidik Kenzie dan Zidan dengan benar kalau kamu terlalu sibuk kerja. Dan Luna itu pasangan yang tepat buat kamu." cerocos Rosa tanpa jeda.

Arkan menghela napas panjang, duduk di sofa sambil menahan kesal. "Sampai kapan sih, Mom, paksa Arkan buat sama Luna? Jawabannya nggak akan berubah. Nggak akan pernah bisa."

"Jangan ngeyel. Kalau kamu nggak mau, Mommy nggak mau makan!" ancam Rosa.

"Ya udah, puasa aja kalau gitu." balas Arkan datar, membuat Rosa mendelik kesal.

"Kamu udah nggak sayang sama Mommy lagi, ya?" suara Rosa terdengar kecewa.

"Nggak usah mulai drama, Mom." tukas Arkan tegas. "Arkan ke sini cuma mau bilang kalau mulai hari ini, Arkan dan anak-anak resmi pindah."

Rosa terbelalak, "Kamu lupa perjanjian sama Mommy? Kamu harus nikah dulu baru bisa pindah dari sini!"

"Mom!" potong Arkan cepat. "Wati udah mengakui semuanya."

"M-mengaku apa?" Rosa tampak gugup.

"Semua. Mulai dari kekerasan yang dia lakukan ke Kenzie sampai keterlibatan Mommy yang menutup mata dan menganggap semuanya baik-baik saja."

"Arkan, kamu... ngancam Mommy?" suara Rosa mulai bergetar antara marah dan takut.

"Arkan cuma mau menegaskan. Arkan nggak akan perpanjang masalah ini ke pengadilan. Sebagai gantinya, perjanjian kita batal. Arkan berhak pindah tanpa perlu menikah dulu, seperti yang Mommy minta. Tapi kalau Mommy masih ngotot, jangan salahkan Arkan kalau nanti nama Mommy ikut terseret di pengadilan kasus Wati."

"Mommy cuma ingin mendisiplinkan anak-anak kamu, Arkan. Memangnya itu salah?" Rosa berusaha membela diri.

"Memaksa tutup mata atas kekerasan yang dilakukan Sus Wati ke Kenzie itu jelas salah, Mom. Apalagi Mommy sendiri sering menghukum Zidan dengan cambukan. Itu penganiayaan, bukan disiplin!" Arkan menatap ibunya dengan mata dingin.

Rosa terdiam, tak bisa membantah.

Ya, Arkan sudah mengetahui semua hal mengerikan yang terjadi pada putra-putranya selama dia di Jepang. Pengakuan Sus Wati dan berbagai bukti lain yang dia kumpulkan membuka matanya akan perlakuan buruk yang diterima Kenzie dan Zidan di bawah pengawasan Rosa. Semuanya menyakiti Arkan.

Dia merasa bersalah karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Jepang hingga tak menyadari penderitaan anak-anaknya. Selama ini, dia mengira menitipkan mereka pada Rosa adalah keputusan terbaik. Ternyata, justru itu yang membuat luka di hati putra-putranya.

Wati mungkin sudah mendapatkan hukumannya, tapi Rosa... Itu lebih sulit.

Apakah bisa dia menghadapi kenyataan bahwa ibunya sendiri terlibat dalam penganiayaan terhadap anak-anaknya?

Arkan menghela napas panjang. Amarah, kecewa, dan rasa bersalah mengaduk di dalam dirinya. Tapi dia memilih beranjak dari duduknya. "Arkan pulang, Mom." pamitnya tanpa perlu berlama-lama di sana. Toh, dia sudah menyampaikan semua yang perlu dia katakan pada Rosa.

Di dalam mobil, Arkan mengirim pesan singkat pada Nathan.

Arkan: Tempat biasa, Nath.

Suasana klub malam terasa bising dan gemerlap. Namun, di ruang pribadi yang

agak terisolasi, suara musik hanya menjadi latar samar. Arkan sudah menenggak beberapa gelas minuman keras. Wajahnya terlihat lelah dan murung.

Nathan hanya duduk di sudut ruangan, tidak menyentuh alkohol sedikit pun. Dia memang hanya menemani, memastikan bahwa Arkan baik-baik saja.

"Lu terlalu banyak minum, Ar," ucap Axel memperingatkan ketika melihat Arkan menuang minuman lagi.

"Anak-anak gue menderita selama ini." balas Arkan dengan suara serak.

"Terus dengan lu mabuk bisa bikin semua berubah? Nggak, udah terlanjur." sahut Axel mencoba menyadarkan sahabatnya.

Arkan mendengus kecil. "Kadang gua mikir, El.. Gua gagal jadi ayah. Gua juga gagal jadi anak."

"Bagus kalau lu sadar." jawab Axel dengan nada serius. Arkan melotot kesal, tapi Axel hanya tergelak, sama sekali tak terintimidasi.

"Ar, dari awal lu nikah, Tante Rosa nggak pernah setuju. Lu berharap apa dari orang yang bahkan nggak bisa menerima istri lu dulu?" lanjut Axel, mengungkapkan kenyataan pahit yang sudah terlalu lama dibiarkan menggantung.

Arkan menatap gelasnya dengan tatapan kosong, tangan bergetar menahan amarah yang tak pernah terluapkan. "Zidan dan Kenzie darah daging gue, El. Gue bisa ngerti kalau Mommy nggak pernah bisa menerima istri gue dulu, tapi anak-anak gue? Di mereka, darah gue sendiri yang mengalir. Kenapa Mommy nggak bisa luluh juga?" Desahnya dengan suara parau, sebelum mengusap wajahnya kasar.

"Luluh kalau lu nikah sama Luna." Suara Nathan terdengar datar, tapi tetap saja membuat darah Arkan mendidih.

"Jangan sebut nama itu, Bangsat!" bentak Arkan sambil melempar gelas ke dinding. Suara pecahan kaca menggema di ruang pribadi itu.

...****************...

Pagi hari di kediaman Arkan.

"Kok ada Om Nathan?" tanya Kenzie ketika melihat Nathan duduk di ruang makan.

"Om mau numpang sarapan, Kenzie. Boleh?" balas Nathan lembut sambil tersenyum.

"Boleh, dong." jawab Kenzie dengan anggukan polosnya.

"Daddy belum turun?" Zidan baru saja datang dan bergabung dengan mereka di ruang makan.

"Kenzie panggil-panggil tapi Daddy nggak nyaut." jawab Kenzie dengan ekspresi menggemaskan.

"Daddy kalian mungkin bangun siang. Jangan diganggu dulu. Semalam ada lembur sampai pagi." ucap Nathan, mencoba memberi alasan yang masuk akal meski tak sepenuhnya jujur.

Zidan memperhatikan Nathan dengan dahi berkerut, jelas menaruh curiga.

"Kobam." ucap Nathan tanpa suara, hanya menggerakkan bibir sambil memberi isyarat yang membuat Zidan mengerti. Zidan hanya bisa mendengus, merasa kesal sekaligus khawatir.

Apa yang membuat ayahnya sampai mabuk? Apakah ada masalah serius yang dia tidak tahu?

"Perusahaan lagi ada masalah, Om?" tanya Zidan dengan nada curiga.

"Aman."

"Terus?"

"Masalah lain." jawab Nathan singkat. "Hanya itu yang bisa Om jawab."

Zidan mengangguk pelan, memilih tidak menekan lebih jauh.

"Boleh nggak Kenzie nggak sekolah? Kenzie mau nemenin Daddy." ucap Kenzie tiba-tiba dengan mata bulat penuh harap.

Zidan menatap adiknya sejenak lalu mengangguk. "Boleh. Siapa tahu Kenzie bisa bikin Daddy lebih baik."

Setelah itu, Zidan bersiap pergi ke sekolah, dan Nathan juga bergegas ke kantor karena ada pertemuan penting yang harus dia hadiri menggantikan Arkan.

Ditemani seorang pelayan, Kenzie membuka pintu kamar Arkan. Begitu pintu terbuka, dia langsung menyuruh pelayan itu pergi.

Dengan langkah kecil yang cepat, Kenzie berjalan ke arah tempat tidur dan melihat sang ayah terbaring tak sadarkan diri.

Kenzie memanjat naik ke atas tempat tidur dan duduk dengan kaki terlipat ke belakang. "Daddy... bangun!" panggilnya sambil menggoyang-goyangkan lengan Arkan. Tapi tidak ada respons.

"Bangun, Daddy!" serunya lagi, kali ini lebih keras. Berulang kali dia memanggil tapi tetap tidak ada sahutan dari Arkan. Wajah mungilnya mulai memucat, ketakutan menjalari dirinya.

Menahan isakan yang mulai pecah, Kenzie turun dari tempat tidur dan berlari keluar mencari pelayan.

"Kenapa, Den?" tanya salah satu pelayan, bingung melihat wajah Kenzie yang panik.

"Daddy-nya Kenzie nggak bernapas, Bibi. Tolong teleponin Tante Rania." pinta Kenzie dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!