🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Sabtu pagi Menara Mahendra lebih sepi dari hari kerja. Lobi tidak penuh dasi. Resepsionis hanya satu, dan suara lift terdengar lebih jelas karena tidak tertutup langkah orang. Hanya sebagian tim yang masuk. Alina tiba di lobi pukul sembilan, diantar Sari dari pintu putar. Tali pengunjung dipasang lagi di lehernya, meski hari ini terasa seperti formalitas yang tinggal sisa.
Ponselnya masih di laci. Ia sudah empat hari tanpa perangkat itu, dan setiap pagi rasanya seperti kehilangan satu tangan. Di trotoar tadi tangannya sempat masuk ke saku jaket, mencari benda yang tidak ada, lalu keluar lagi sebelum Sari melihat.
"Lantai yang sama," kata Sari. "Ruang baca. Saya tunggu di luar."
"Pak Adrian sudah di atas?"
"Belum saya lihat."
Lift naik. Angka lantai berganti pelan. Alina memegang tali pengunjung supaya tidak berputar. Di ruang baca terbatas, Dimas sudah menunggu. Adrian belum datang. Monitor menyala dengan draf yang sama. Buku catatan kemarin ada di sisi meja, tertutup, tapi pena masih di tempatnya.
"Hari ini singkat," kata Dimas. "Pak Adrian minta Anda melihat satu bagian lagi, lalu kita bicara."
"Bagian yang mana?"
"Yang kemarin Anda tinggalkan. Jangan buka folder lain. Kalau layar berpindah ke tempat yang tidak saya kenali, saya tutup."
Alina duduk. Ia tidak bertanya apa yang akan dibicarakan. Pertanyaan itu, kalau dilempar sekarang, hanya akan dapat jawaban yang belum siap. Ia langsung membuka halaman yang kemarin sempat ia tinggalkan. Tiga transaksi masih di sana. Lazuardi masih hidup. Ia menambahkan catatan di kepala: pola pemindahan konsisten, tanggal berdekatan, status ringkasan dibuat seolah sudah selesai.
Ia menggulir sekali ke bawah, lalu kembali. Tidak ada baris yang tiba-tiba hilang semalam. Itu saja yang ia perlu pastikan sebelum Adrian masuk. Dimas duduk di seberang, tidak membuka laptop. Jarinya mengetuk pena sekali, kemudian berhenti, seolah ingat bahwa suara kecil di ruangan sepi terdengar seperti tidak sabar.
Setengah jam kemudian Adrian masuk. Ia membawa map tipis dan kunci laci yang biasa ia bawa. Kunci itu ia letakkan di atas map, bukan dimasukkan kembali ke saku. Bunyinya pendek di atas meja. Ia duduk di kursi kosong, bukan berdiri di belakang seperti kemarin.
"Saya sudah melihat catatan Dimas," kata Adrian. "Tiga transaksi utama, dua tambahan, pola sama. Saya tidak bisa menganggap ini tipuan."
Alina menunggu. Ia tidak mengisi jeda itu dengan terima kasih.
"Saya akan melepas Anda hari ini," lanjut Adrian. "Tanpa polisi. Tanpa berita acara resmi. Dengan satu syarat."
"Syarat apa?"
"Identitas asli. Besok. Bukan nama di buku tamu. Nama lengkap, dan alasan Anda memakai nama itu. Kita bertemu di tempat yang saya tentukan. Bukan di sini."
Alina menatapnya. Kunci di atas map tidak ia lihat lama-lama. "Kalau saya menolak?"
"Maka laporan sekuriti yang sudah saya tahan akan saya teruskan. Anda masuk dua kali tanpa izin. Ada rekaman. Ada buku tamu. Saya sudah memberi Anda lebih banyak waktu daripada yang seharusnya."
Dimas duduk diam di sisi meja, tidak ikut campur. Penanya ia pindahkan ke buku, supaya tangannya ada kerjaan yang tidak berupa pendapat.
Alina menimbang. Ia tahu Adrian tidak bluff. Angka sudah membuatnya menahan polisi, tapi kesabaran itu ada batasnya. Kalau ia menolak di ruangan ini, ia keluar sebagai penyusup yang catatannya bisa disalin tanpa dirinya. Kalau ia menerima, ia keluar dengan nama yang harus dibayar besok.
"Baik. Besok. Tapi saya yang pilih tempatnya. Tempat netral. Bukan kantor Anda, bukan tempat yang bisa Anda kendalikan penuh."
Adrian terdiam sejenak. Jari di tepi map tidak bergerak. "Dimas yang atur. Tempat netral. Satu hari. Anda datang dengan identitas yang bisa diverifikasi."
"Dan ponsel saya?"
"Kembali setelah pertemuan itu. Kalau Anda tidak datang, ponsel tetap di sini dan laporan jalan."
"Isinya tidak Anda buka?"
"Saya tidak sedang menawar isi ponsel. Saya menawar kehadiran Anda besok."
Alina mengangguk. "Saya datang."
Adrian berdiri. Ia mengambil kunci, bukan map. Map tipis itu ia biarkan, lalu Dimas yang menutupnya. Adrian membuka pintu. "Sari akan antar Anda ke lobi. Jangan coba masuk lagi sebelum pertemuan. Kalau Anda mencoba, kesepakatan ini batal."
"Saya dengar."
Alina keluar. Di lift, Sari tidak berbicara. Tangannya memegang kartu akses, ibu jari mengusap tepinya sekali, lalu berhenti. Di lobi, tali pengunjung dilepas. Sari menerimanya dengan dua tangan dan meletakkannya di nampan resepsionis, bukan melemparnya ke laci.
"Sampai besok tidak perlu kembali ke sini," kata Sari.
"Saya tidak akan."
Alina melangkah ke luar Menara untuk pertama kali dalam beberapa hari tanpa merasa langsung dikejar. Udara Sudirman terasa lebih tajam. Panasnya menempel di wajah, dan klakson dari seberang tidak lagi terdengar seperti suara dari balik kaca. Ia berdiri sebentar di tepi trotoar, memastikan tidak ada sekuriti yang mengikuti sampai pagar, lalu mengangkat tangan untuk taksi.
Ia naik taksi ke Tebet. Pengemudi bertanya sekali jalan mana. Alina menyebut gang belakang, bukan nama studio. Di perjalanan ia menatap tangannya yang kosong. Tidak ada ponsel untuk dicek. Tidak ada pesan untuk ditunda. Yang ada hanya janji besok dan kunci yang tetap bukan miliknya.
Di studio, ia langsung membuka lemari dan memeriksa kamera saku. Masih di belakang map kosong. Map itu ia geser, bukan dicabut semua, supaya posisi benda di belakangnya tidak berubah kalau ada orang lain yang nanti mengingat letaknya. Foto-foto masih utuh. Ia menyalin beberapa ke laptop lewat kabel, lalu menyimpan ulang di tempat yang sama. Kabel ia gulung. Kamera ia kembalikan. Pintu lemari ia tutup sampai bunyi kliknya pelan.
Sore itu Mei datang membawa makanan. Bau sayur dan nasi masuk lebih dulu daripada salam. Mei meletakkan bungkusan di meja lipat, menggeser kertas coretan Alina supaya tidak kena kuah, lalu duduk. Ia tidak marah seperti sebelumnya. Ia hanya duduk dan menatap Alina.
"Kau sudah keluar."
"Dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Besok saya harus memberi nama asli."
Mei menghela napas. Tutup wadah makanan belum ia buka. "Ibu Diah?"
"Belum. Jangan bilang dulu."
"Kalau dia menelepon saya?"
"Bilang saya sedang kerja. Itu tidak bohong seluruhnya."
Mei mengangguk pelan. Ia membuka nasi, menyendokkan ke piring yang sudah ada di rak, dan mendorongnya ke depan Alina. "Makan. Lalu tidur. Kalau kau pergi besok dengan muka lelah, orang itu akan membaca lebih banyak dari yang perlu."
"Dia sudah membaca terlalu banyak."
"Makanya jangan ditambah dengan mata yang merah." Mei mengambil sendok keduanya. "Saya tidak tanya tempatnya. Kalau saya tidak tahu, saya tidak bisa kegugupan kalau ada yang bertanya."
Alina makan. Nasi itu hangat, dan untuk beberapa menit ia tidak menghitung transaksi. Mei tidak mengisi meja dengan nasihat kedua. Ia membereskan wadah, mencuci dua sendok di wastafel kecil, lalu pergi sebelum lampu tangga di luar menjadi alasan untuk tinggal.
Malam itu Alina menulis di kertas: pertemuan netral, identitas, ponsel kembali. Di bawahnya ia coret kalimat yang terlalu panjang, lalu menulis ulang lebih pendek. Ia tidak tahu apakah Adrian akan percaya setelah nama itu diucapkan. Ia hanya tahu bahwa diam lebih lama akan membuatnya kehilangan sisa akses yang masih ada.
Di Menara, Adrian mengembalikan kunci laci ke laci mejanya, tapi tidak membuka ponsel Alina. Laci itu ia tarik setengah, cukup untuk melihat pojok perangkat yang gelap, lalu ia dorong kembali dan memutar kunci. Ia membiarkannya tetap terkunci. Map tipis dari ruang baca ia letakkan di tumpukan yang tidak untuk Oscar.
Dimas datang ke ruangannya menjelang sore. Pintu diketuk dua kali, singkat.
"Tempat netral sudah saya siapkan," kata Dimas. "Kafe kecil di Menteng. Bukan milik siapa-siapa yang terkait. Besok siang."
"Jam?"
"Saya kirim ke Anda. Dia saya beri lewat pesan yang tidak menyebut nama gedung ini."
"Baik. Anda ikut. Sebagai saksi, bukan sebagai juru bicara."
"Kalau dia bertanya yang seharusnya Anda jawab?"
"Anda diam. Kalau saya bertanya, Anda jawab seperlunya."
Dimas mengangguk. Ia masih menyimpan foto 2019 di folder terenkripsi. Laptopnya tidak ia keluarkan di ruangan ini. Besok, kalau Alina mengaku, foto itu akan menjadi konfirmasi. Kalau tidak, ia akan memutuskan apakah akan menunjukkannya atau tidak. Hari ini belum waktunya meletakkan wajah lama di atas meja yang baru saja sepakat soal angka.
"Ada yang perlu saya bawa?" tanya Dimas.
"Catatan transaksi. Bukan drafnya. Cukup salinan tangan Anda."
"Baik."
Malam itu Adrian duduk di apartemennya, menatap map abu-abu yang terbuka. Halaman ringkasan di kiri. Catatan Dimas di kanan. Angka sudah jelas. Nama Lazuardi masih hidup. Besok nama perempuan itu akan terbuka. Ia tidak tahu apakah itu akan membuat segalanya lebih mudah atau jauh lebih rumit.
Ia menutup map tanpa menulis kalimat baru. Catatan kemarin masih cukup: jangan biarkan Oscar menandai sebelum ia bicara dengan perempuan itu lagi. Besok ia akan bicara. Malam ini ia tidak menambahkan dugaan.
Ponsel Alina tetap di laci. Untuk malam ini, itu masih cukup.