NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Pengakuan Budi dan Push-Up 50 Kali

Kemenangan tim bola voli putri yang dipimpin Mita menjadi pembicaraan warga hingga menjelang malam. Beberapa orang bahkan sudah menjagokan tim tersebut sebagai kandidat kuat juara turnamen tahun ini.

Mita menerima ucapan selamat dengan senyum ramah. Setelah memastikan seluruh anggota timnya mendapatkan minuman dan beristirahat, ia kembali membantu panitia merapikan perlengkapan pertandingan.

Ia tidak ingin pulang terlalu cepat. Rumah kontrakannya yang sederhana memang memberinya ketenangan, tetapi kesunyian di dalamnya terkadang terasa seperti ruang yang sengaja diciptakan untuk menghidupkan kembali kenangan menyakitkan. Ketika tidak ada pekerjaan yang menyita perhatian, pikirannya kerap kembali kepada Denis.

Laki-laki itu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya, sebelum ia menggoreskan luka yang masih berdarah hingga detik ini.

Mita pernah membayangkan masa depan bersama Denis, merencanakan banyak hal, dan percaya bahwa kesetiaan merupakan sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan ketika dua orang sudah saling mencintai.

Namun, kenyataan telah meruntuhkan keyakinan itu. Kini, ia berusaha bangkit kembali, sedikit demi sedikit untuk masa depan yang bakal ia hadapi nanti.

"Bu Mita!"

Mita menoleh ketika mendengar suara seorang panitia memanggilnya.

"Sebentar lagi rapat evaluasi, Bu. Jangan lupa, ya. Kita juga perlu membahas pertandingan voli putra yang akan dimulai besok."

"Baik. Saya akan menyusul ke kantor desa."

Mita kembali mengangkat beberapa botol air mineral kosong ke dalam kardus, ditemani beberapa petugas serta teman satu tim yang kebanyakan ibu muda. Gerakannya cekatan, seolah tidak ada yang sedang mengusik pikirannya.

Padahal, jauh di dalam hati, ia masih berjuang.

Di tempat lain, para prajurit yang bertugas membantu pengamanan juga mulai menyelesaikan pekerjaan mereka.

Beberapa anggota tengah menggulung tali pembatas lapangan. Sebagian lainnya mengumpulkan kursi dan mengembalikan meja juri ke tempat semula. Reihan berdiri tidak jauh dari kendaraan dinas, berbicara dengan salah seorang perangkat desa mengenai pengaturan keamanan untuk pertandingan berikutnya.

Namun, Yanto beberapa kali melirik komandannya dengan senyum penuh arti.

Sejak pertandingan sore tadi, ia semakin yakin bahwa Kapten Reihan memiliki ketertarikan khusus kepada Mita. Bukan hanya karena tatapan sang kapten yang terus mengikuti perempuan itu, melainkan juga karena perubahan ekspresinya setiap kali Mita tersenyum.

Reihan yang biasanya dikenal tegas, hemat bicara, dan hampir tidak pernah menunjukkan emosi di hadapan anak buahnya, mendadak tampak lebih manusiawi.

Bagi Yanto, itu merupakan pemandangan langka, "Kapten," panggilnya ketika Reihan selesai berbicara dengan perangkat desa.

"Apa lagi?"

"Besok pertandingan voli putra dimulai, bukan?"

"Benar."

"Berarti kita masih akan bertemu Bu Mita."

Reihan menatapnya datar, “Memangnya ada masalah?"

"Tidak, Kapten. Justru bagus. Maksud saya, kegiatan masyarakat berjalan lancar dan hubungan antara prajurit dengan warga semakin dekat."

Budi yang berdiri di belakang Yanto terkekeh, “Alasan yang sangat bagus."

Reihan menghela napas panjang, “Kalian berdua sepertinya terlalu banyak waktu luang."

"Siap, Kapten. Kalau begitu, kami akan mencari kesibukan."

Yanto langsung menarik Budi menjauh sebelum mereka mendapatkan tugas tambahan.

Namun, percakapan itu belum berakhir. Begitu jarak mereka cukup jauh dari Reihan, Budi justru mengangkat dagunya dengan ekspresi penuh percaya diri.

"Kalau soal perempuan, saya tidak perlu menyembunyikan perasaan seperti Kapten."

Yanto menghentikan langkahnya, “Oh, ya?"

"Ya."

"Kamu sedang menyukai seseorang?"

Budi mengangguk mantap.

Yanto memandangnya dari ujung kepala hingga kaki. "Siapa? Bu Kades?"

"Rahasia."

"Kalau rahasia, mengapa kamu membicarakannya dengan suara keras?"

Budi tertawa.

"Saya hanya belum menemukan waktu yang tepat."

"Jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta, tetapi perempuan itu bahkan tidak tahu namamu."

"Enak saja!"

Perdebatan kecil itu semakin menarik perhatian beberapa prajurit lain yang kebetulan berada di dekat mereka.

Salah seorang anggota yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka langsung berseru, "Budi sedang jatuh cinta!"

Sontak, beberapa orang menoleh.

"Wah, serius?"

"Siapa orangnya?"

"Jangan-jangan anak perangkat desa yang kemarin membagikan konsumsi!"

Suasana yang semula biasa saja berubah riuh.

Budi mengangkat kedua tangannya, berusaha menghentikan suara-suara yang bersahutan, "Baik! Baik! Kalau kalian memang ingin tahu, saya katakan!"

Yanto menyilangkan kedua tangan di dada, menikmati situasi yang semakin menarik.

Budi menarik napas, kemudian berkata lantang di hadapan rekan-rekannya, "Saya memang sedang menyukai seseorang. Saya suka perempuan itu, dan saya berniat mengenalnya lebih dekat. Kalau suatu hari nanti dia bersedia menerima saya, saya akan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh!"

Sorakan langsung pecah.

"Wah, luar biasa!"

"Siapa namanya?"

"Kapan ditembak?"

Budi tertawa lebar, menikmati perhatian yang mendadak tertuju kepadanya.

Namun, ia lupa satu hal penting. Di lingkungan militer, suara keras yang tidak pada tempatnya bisa mengundang perhatian orang yang paling tidak ingin ditemuinya dalam situasi seperti itu.

"SEDANG ADA KEGIATAN APA DI SINI?" Suara bariton itu menghentikan seluruh keributan.

Dalam sekejap, para prajurit berdiri tegak.

Kapten Reihan telah berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya cukup untuk membuat Budi menelan ludah.

"Siap, Kapten!"

Reihan memandang mereka satu per satu sebelum berhenti pada Budi, "Jelaskan."

Budi berusaha menjaga ekspresinya, "Siap, Kapten. Kami sedang melakukan komunikasi dan mempererat kebersamaan antaranggota."

Yanto menunduk, berusaha menyembunyikan senyumnya.

"Komunikasi tentang apa?" tanya Reihan.

Budi terdiam sejenak, "Perasaan, Kapten."

Hening.

Beberapa prajurit menahan napas. Yanto bahkan menggigit bibir agar tidak tertawa.

Reihan mengangkat alis, "Perasaan?"

"Siap! Saya mengakui bahwa saya sedang menyukai seorang perempuan, Kapten."

"Apakah saya sedang memimpin sesi konsultasi percintaan?"

"Siap, tidak!"

"Apakah kalian sudah menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan?"

"Siap, sebagian besar sudah!"

"Sebagian besar?"

Budi langsung menyadari kesalahannya.

Reihan melipat kedua tangannya di depan dada, “Baik. Karena kamu tampaknya memiliki begitu banyak energi untuk mengumumkan kehidupan pribadimu kepada seluruh anggota, manfaatkan energi itu untuk latihan fisik."

Budi menelan ludah, "Siap, Kapten!"

"Push-up lima puluh kali. Sekarang!"

"Siap, Kapten!" Budi segera mengambil posisi di tanah.

Sementara ia mulai melakukan push-up, beberapa prajurit lain buru-buru memalingkan wajah untuk menyembunyikan tawa. Yanto berdiri dengan sikap sempurna, meskipun bahunya sesekali bergerak menahan geli.

"Satu!"

"Dua!"

"Tiga!"

Budi menghitung setiap gerakan dengan suara keras. Pada hitungan kedua puluh, napasnya mulai terasa berat. Pada hitungan ketiga puluh, ia mulai menyesali keberaniannya mengumumkan perasaan di tengah lingkungan militer.

Namun, ia tetap melanjutkan hingga hitungan terakhir, "Lima puluh, Kapten! Selesai!"

Reihan mengangguk singkat, "Bagus. Semoga setelah ini kamu juga bisa mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas sebelum membicarakan urusan pribadi."

"Siap, Kapten!"

Reihan berbalik meninggalkan mereka.

Begitu komandannya menjauh, Yanto langsung berjongkok di samping Budi, “Bagaimana rasanya memperjuangkan cinta sambil melakukan push-up?"

Budi mendelik.

"Diam, To!"

Tawa para prajurit pun pecah.

Di balik candaan tersebut, Yanto kembali memikirkan komandannya. Ia tahu Reihan bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh hati. Jika benar Kapten mereka mulai tertarik kepada Guru PJOK itu, tentu ada sesuatu yang istimewa dalam diri perempuan itu.

Dan Yanto cukup mengenal komandannya untuk memahami satu hal. Ketika Reihan sudah menaruh perhatian kepada seseorang, ia tidak akan mudah mengabaikannya.

Keesokan harinya, suasana kantor desa kembali sibuk. Panitia mulai mempersiapkan pertandingan bola voli putra yang dijadwalkan berlangsung pada sore hari. Kali ini, peserta tidak hanya berasal dari kalangan perempuan, tetapi juga laki-laki dari berbagai RT.

Meja pencatatan peserta dipindahkan ke dekat pintu masuk lapangan. Perlengkapan pertandingan diperiksa kembali, sedangkan beberapa pemuda memasang spanduk tambahan di sisi panggung.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!