NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 32 — Alena Adalah Kunci

Hitungan mundur terus berjalan.

59:32

59:31

59:30

Clara berdiri di depan layar dengan wajah tegang.

Nama Alena masih terpampang jelas.

SUBJEK C-03 — ALENA.

Clara menggeleng perlahan.

“Tidak.”

Semua menoleh kepadanya.

“Alena bukan subjek.”

Suaranya terdengar tegas.

“Dia adikku.”

Celia menatap Clara dari dalam kapsul.

“Dia memang adikmu.”

“Lalu kenapa namanya ada di sini?”

“Karena sejak awal dia adalah bagian dari E-17.”

Clara mengepalkan tangan.

“Tidak mungkin.”

Celia menatapnya dengan tatapan sedih.

“Kak Clara…”

“Aku tidak mau mendengarnya.”

Clara berbalik kepada Adrian.

“Ayah.”

Adrian diam.

“Bawa aku kepada Alena.”

“Tidak semudah itu.”

“Kenapa?”

“Karena Alena tidak berada di ruangan ini.”

Clara mengerutkan kening.

“Lalu di mana?”

Adrian menunjuk layar.

“Di tempat lain.”

Raka segera mendekati komputer.

“Ada koordinat.”

Ia mengetik cepat.

Kemudian sebuah peta muncul.

“Gedung lama keluarga Evellyn.”

Rafael langsung membeku.

“Tidak.”

Clara menoleh.

“Kenapa?”

Rafael menggeleng.

“Tempat itu sudah ditutup bertahun-tahun lalu.”

Adrian menatap Rafael.

“Bukan ditutup.”

Rafael diam.

“Disembunyikan.”

Clara menatap keduanya.

“Kalian tahu tempat itu?”

Rafael mengangguk pelan.

“Dulu tempat itu adalah pusat penelitian E-17.”

Clara menarik napas.

“Dan Alena ada di sana?”

Adrian menjawab,

“Ya.”

Fedro langsung mengambil senjata.

“Kita berangkat sekarang.”

Adrian menggeleng.

“Tidak.”

Fedro menatapnya tajam.

“Kenapa?”

“Karena tempat itu dijaga.”

“Berapa orang?”

“Bukan masalah jumlah.”

Adrian menatap Fedro.

“Masalahnya adalah sistem keamanan.”

Raka mengangguk.

“Kalau benar itu pusat penelitian lama, kemungkinan masih memiliki sistem otomatis.”

Clara menatap hitungan mundur.

57:48

“Berapa lama kita punya waktu?”

Raka menjawab,

“Kurang dari satu jam.”

Clara mengangguk.

“Kalau begitu kita tidak punya waktu untuk berdebat.”

Ia menatap Fedro.

“Kita pergi.”

Fedro mengangguk.

Namun Celia tiba-tiba memanggil.

“Kak.”

Clara berhenti.

“Ya?”

“Jangan bawa semua orang.”

Clara mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Celia menatap Fedro.

“Bawa dia.”

Kemudian menatap Clara.

“Dan dirimu.”

Clara terdiam.

“Kenapa hanya kami?”

Celia tidak menjawab.

Adrian justru berkata,

“Karena sistem E-17 akan mengenali kalian.”

Raka menggeleng.

“Aku bisa meretas sistemnya.”

“Tidak,” kata Adrian.

“Kalau kau meretas dari luar, sistem akan mengunci Alena.”

Raka terdiam.

Clara menatap Fedro.

“Kita berdua harus masuk.”

Fedro mengangguk.

“Aku ikut.”

Rafael maju.

“Aku juga.”

Adrian menggeleng.

“Tidak.”

Rafael menatapnya.

“Aku pernah berada di tempat itu.”

“Justru karena itu.”

“Aku bisa membantu mereka.”

Adrian mendekatinya.

“Rafael, jika kau masuk ke sana, sistem akan mengenalimu.”

Rafael terdiam.

“Dan jika sistem mengenalimu…”

Adrian berhenti.

“…mereka akan tahu bahwa aku sudah kembali.”

Clara menatap mereka.

“Apa yang terjadi jika mereka tahu?”

Adrian tersenyum tipis.

“Mereka akan membunuh semua orang yang ada di sini.”

Ruangan mendadak sunyi.

Clara menggenggam tangannya.

“Kalau begitu kita harus cepat.”

 

Dua puluh menit kemudian.

Clara dan Fedro sudah berada di dalam mobil.

Adrian duduk di depan.

Raka mengendalikan sistem dari komputer portabel.

Sementara Rafael tetap berada di rumah bersama Amara dan Celia.

Jalanan malam terlihat sepi.

Clara memandangi jendela.

Pikirannya penuh dengan pertanyaan.

Tentang ayahnya.

Tentang E-17.

Tentang Celia.

Dan terutama tentang Alena.

“Fedro.”

“Ya?”

“Kamu takut?”

Fedro menatap Clara.

“Takut.”

Clara terkejut.

“Kamu mengakuinya?”

“Aku takut kehilanganmu.”

Clara terdiam.

Fedro menggenggam tangannya.

“Aku tidak peduli siapa aku dulu.”

“Aku juga tidak peduli apa yang mereka lakukan kepadaku.”

“Tapi aku tidak mau kehilanganmu.”

Clara menatap tangan mereka.

“Mungkin itu satu-satunya hal yang masih bisa kita percaya.”

Fedro tersenyum kecil.

“Apa?”

“Perasaan kita.”

Fedro mengangguk.

“Ya.”

Dari kursi depan, Adrian berkata,

“Jangan terlalu percaya perasaan.”

Clara menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena E-17 dibangun untuk memanipulasi manusia.”

Fedro langsung bertanya,

“Termasuk perasaan?”

Adrian mengangguk.

“Termasuk perasaan.”

Clara terdiam.

“Jadi bagaimana aku tahu perasaanku kepadanya benar-benar milikku?”

Adrian tidak menjawab.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Karena kalian tetap memilih satu sama lain bahkan setelah mengetahui kebenaran.”

Clara menatap Fedro.

Fedro membalas tatapannya.

Tidak ada kata-kata.

Namun kali ini Clara tidak membutuhkan jawaban lain.

 

Mobil berhenti di depan sebuah gedung tua.

Bangunannya tampak seperti sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun.

Dindingnya penuh tanaman liar.

Jendela-jendelanya gelap.

Pintu utama tertutup rapat.

Raka berbicara melalui alat komunikasi.

“Tidak ada listrik dari jaringan kota.”

Clara turun dari mobil.

“Lalu bagaimana sistemnya masih aktif?”

“Generator pribadi.”

Fedro mengamati gedung.

“Berapa banyak pintu?”

“Tiga.”

Adrian menunjuk sisi kanan.

“Kita masuk lewat pintu belakang.”

Clara menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena pintu depan adalah jebakan.”

Mereka bergerak menuju belakang gedung.

Raka memberikan instruksi melalui komunikasi.

“Di depan kalian ada pemindai.”

Clara berhenti.

“Pemindai?”

“Jangan bergerak.”

Lampu kecil menyala.

Kemudian terdengar suara mekanis.

“IDENTIFIKASI.”

Clara menatap Adrian.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Sentuh panel.”

Clara menempelkan tangannya.

BIP.

Sistem berbunyi.

“SUBJEK C-01.”

Pintu terbuka.

Fedro maju.

BIP.

“SUBJEK F-09.”

Pintu kedua terbuka.

Clara menatap Fedro.

“Kita benar-benar terdaftar.”

Fedro mengangguk.

“Sejak dulu.”

Mereka masuk.

Koridor gelap menyambut mereka.

Dindingnya dipenuhi foto dan dokumen lama.

Clara berjalan perlahan.

Kemudian ia melihat sebuah foto.

Dirinya.

Saat masih kecil.

Di sampingnya ada Fedro.

Mereka berdiri di sebuah ruangan putih.

Clara mendekati foto itu.

“Aku tidak ingat ini.”

Fedro mengambil foto tersebut.

“Aku juga tidak.”

Adrian menatap foto itu.

“Foto itu diambil sebelum ingatan kalian dihapus.”

Clara menoleh.

“Siapa yang menghapusnya?”

Adrian terdiam.

“Jawab.”

“Amara.”

Clara menutup mata.

“Kenapa Mami melakukan semua ini?”

“Karena dia ingin kalian hidup normal.”

Clara tertawa pahit.

“Normal?”

Ia menunjuk foto.

“Bagaimana bisa hidup normal kalau masa kecil kami seperti ini?”

Adrian tidak menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara.

BIP.

BIP.

BIP.

Raka berkata melalui alat komunikasi.

“Clara, kalian harus bergerak.”

“Kenapa?”

“Ada sistem keamanan yang baru aktif.”

Fedro melihat ke belakang.

Lampu koridor mulai menyala satu per satu.

Adrian langsung berkata,

“Cepat.”

Mereka berlari.

Di ujung koridor terdapat sebuah pintu besar.

Di atasnya tertulis:

RUANG C-03

Clara berhenti.

“Alena.”

Fedro membuka pintu.

Ruangan di dalam jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Di tengah ruangan terdapat kapsul kaca.

Dan di dalamnya…

Alena.

Clara langsung berlari.

“Alena!”

Alena tidak bergerak.

Matanya tertutup.

Clara menempelkan tangan ke kaca.

“Alena, bangun!”

Tidak ada respons.

Fedro melihat layar.

“Detaknya ada.”

Clara menatap Adrian.

“Buka kapsulnya.”

Adrian menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau dibuka sekarang, Alena bisa mengalami kegagalan sistem.”

Clara menatapnya.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?”

Adrian menunjuk dua panel di samping kapsul.

“C-01 dan F-09 harus mengaktifkannya.”

Clara mendekati panel.

“Bersama?”

“Bersama.”

Fedro berdiri di sisi lain.

“Hitungan?”

Adrian mengangguk.

“Tiga.”

Mereka menempelkan tangan.

“Dua.”

Clara menatap Fedro.

“Satu.”

BIP!

Cahaya terang memenuhi ruangan.

Kapsul bergetar.

Alena membuka matanya.

“Kak…”

Clara langsung menangis.

“Alena!”

Alena menatapnya.

“Kak Clara…”

Clara tersenyum lega.

“Kami akan mengeluarkanmu.”

Namun Alena justru menggeleng.

“Jangan.”

Clara membeku.

“Kenapa?”

Alena menatap Fedro.

Kemudian wajahnya berubah ketakutan.

“Karena dia sudah bangun.”

Fedro mengerutkan kening.

“Siapa?”

Alena menatap ke belakang mereka.

“C-04.”

Clara perlahan berbalik.

Di belakang mereka terdapat kapsul lain.

Lampunya menyala.

Raka terdengar melalui komunikasi.

“Clara…”

Suaranya terdengar panik.

“Apa?”

“Aku mendeteksi banyak sistem aktif.”

Clara melihat sekeliling.

Satu kapsul menyala.

Kemudian kapsul kedua.

Ketiga.

Keempat.

Lima.

Enam.

Puluhan lampu menyala secara bersamaan.

Fedro mundur.

“Berapa banyak?”

Raka menjawab,

“Enam belas.”

Clara menahan napas.

Celia benar.

Tujuh belas subjek.

Dan sekarang…

semuanya mulai aktif.

Tiba-tiba suara Dr. Vincent terdengar dari speaker.

“Selamat datang kembali, C-01 dan F-09.”

Clara menatap kamera di sudut ruangan.

“Di mana kau?”

“Lebih dekat daripada yang kau kira.”

“Keluar!”

Suara Vincent terdengar tenang.

“Tidak perlu marah.”

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Karena kalian semua adalah hasil dari satu pertanyaan.”

“Pertanyaan apa?”

“Bisakah manusia menciptakan ikatan yang tidak dapat dihancurkan?”

Clara mengerutkan kening.

“Dan kami jawabannya?”

“Bukan.”

Vincent tertawa kecil.

“Kalian adalah percobaannya.”

Fedro mengepalkan tangan.

“Kau memilih kami sejak kecil.”

“Benar.”

“Kenapa?”

“Karena C-01 memiliki kemampuan yang tidak dimiliki subjek lain.”

Clara membeku.

“Apa?”

Vincent menjawab,

“Kemampuan untuk memengaruhi sistem biologis subjek lain.”

Clara menatap Alena.

“Jadi…”

“Ya.”

Vincent melanjutkan.

“C-01 adalah pusat.”

“C-02 adalah penguat.”

“C-03 adalah pengunci.”

Clara menatap Alena.

“Lalu Fedro?”

Hening sejenak.

Kemudian suara Vincent terdengar.

“F-09 adalah penyeimbang.”

Fedro terdiam.

Clara bertanya,

“Kalau kami menolak?”

Vincent tertawa.

“Sudah terlambat.”

Tiba-tiba layar utama menyala.

E-17 — FINAL PHASE

Di bawahnya muncul tulisan:

C-01 + F-09 + C-03

AKTIVASI DIMULAI.

Clara merasakan tubuhnya lemas.

“Tidak.”

Alena menatap Clara.

“Kak…”

Clara menoleh.

“Apa?”

“Jangan percaya layar itu.”

Clara mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Alena menatapnya tajam.

“Karena Vincent berbohong.”

Clara membeku.

“Bagaimana kau tahu?”

Alena menarik napas.

“Karena aku sudah bertemu dengannya.”

Fedro menatap Alena.

“Kapan?”

“Ketika aku masih sadar.”

Clara mendekat.

“Apa yang dia katakan?”

Alena menatapnya.

“Dia mengatakan satu hal.”

“Apa?”

Alena menelan ludah.

“Bahwa E-17 tidak dibuat untuk menciptakan manusia super.”

Clara membeku.

“Lalu?”

Alena berbisik,

“E-17 dibuat untuk menciptakan seseorang yang bisa mengendalikan mereka semua.”

Clara menatap kapsul-kapsul di sekeliling.

“Siapa?”

Alena menunjuk Clara.

“Kau.”

Clara kehilangan kata-kata.

Fedro langsung menatap Clara.

“Tidak.”

Alena menggeleng.

“Bukan seperti yang kalian pikirkan.”

Clara menatapnya.

“Lalu apa?”

Alena menjawab dengan suara pelan.

“Clara bukan pengendali.”

Ia menunjuk Fedro.

“Fedro juga bukan penyeimbang.”

Kemudian menunjuk dirinya sendiri.

“Dan aku bukan pengunci.”

Ketiga mereka saling menatap.

Alena berkata,

“Kami bertiga adalah kunci untuk membuka satu hal.”

“Apa?”

Alena memejamkan mata.

“Ingatan asli E-17.”

Tiba-tiba semua lampu mati.

Satu suara terdengar dari belakang mereka.

Suara langkah kaki.

Pelan.

Semakin dekat.

Clara menoleh.

Siluet seseorang berdiri di ambang pintu.

Kemudian suara itu terdengar.

“Bagus.”

Clara membeku.

Suara tersebut bukan suara Vincent.

Melainkan suara yang sangat ia kenal.

Suara yang selama ini ia percaya sebagai milik orang yang telah menjadi keluarganya.

“Sekarang kalian sudah sampai pada kebenaran.”

Clara menatap sosok itu.

Lampu darurat menyala.

Wajahnya terlihat.

Clara kehilangan napas.

“Mami…?”

Amara berdiri di sana.

Namun kali ini ia tidak sendiri.

Di sampingnya berdiri seorang pria.

Clara mengenali pria itu.

Pria yang tadi ia kira masih berada di rumah.

Rafael.

Clara menatap mereka bergantian.

“Bagaimana…”

Amara tersenyum sedih.

“Maafkan Mami.”

Clara mundur.

“Kenapa Mami ada di sini?”

Amara tidak menjawab.

Rafael justru berkata,

“Karena sejak awal…”

Ia menatap Clara.

“…kami bukan sedang menyelamatkan kalian.”

Clara membeku.

“Lalu?”

Rafael menatap semua kapsul yang mulai aktif.

“Kami sedang menunggu kalian kembali.”

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!