Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Pertemuan Pertama
**
Seorang wanita berdiri di tengah ramainya bandara, dengan dua buah koper besar di tangannya. Penampilannya sangat tertutup, dengan switter besar sampai paha, celana jins hitam panjang, topi hitam, kacamata hitam serta lengkap dengan masker hitam. Mirip seperti buronan yang takut ketahuan.
"Meri sialan! Masa, gak kasih satu orangpun yang jemput aku!" Wanita terus mengomel sembari terus menarik koper besarnya.
Di sebuah bangku kecil, wanita itu mengistirahatkan tubuhnya. Duduk sembari berniat untuk menghubungi seseorang.
"Hallo!" Suara teriakan wanita itu saat panggilannya di angkat.
"Hallo, ada apa?"
"Ada apa kepalamu botak? Kamu beneran gak kirim satu orang pun, buat jemput aku?"
"Kamu gila!" Seseorang disebrang telepon terlihat membentak, sampai wanita yang sedang duduk itu menjauhkan ponsel dari telinga.
"Kamu yang gila! Aku ini Felisa Gempita harus tarik-tarik dua koper gede sendirian di bandara! Paham kan, kamu Meri?"
"Ok aku kirim orang buat bantu kamu, terus nanti orang suruhan keluarga kamu tahu dan kamu ditangkap terus dibawa pulang. Nanti anak kamu ketahuan juga, terus direbut paksa terus dikirim ke panti asuhan. Mau?"
Felisa terdiam sesaat, memikirkan semua kemungkinan itu dia langsung menggeleng cepat. "Gak mau!"
"Makanya otak nya dipakai. Jangan cuman wajah doang yang cantik, tapi otak jongkok!"
"Meri asisten manajer sial*n!"
"Iya, si sial*n ini harus urus semua jadwal yang udah kamu ttd kontrak dan membayar finalti karena dibatalkan sementara. Sana pergi, cari pelindungmu itu. Hidup baik, jangan bertingkah dan diusir sama lakimu. Belajar jadi istri yang baik, siapa tahu kamu dinikahin. Terus urus laki--"
"Akh ...berisik!" potong Felisa cepat, langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Felisa langsung menghempaskan tubuhnya di kursi, kenapa hidupnya harus menjadi sedrama itu? Baru saja kembali hampir mendapatkan mimpinya di Paris, tapi harus terpupus begitu saja karena keegoisan keluarganya.
Mungkin jika masih sendiri, bisa saja dia tidak ada peduli keluarganya tahu keberadaannya dimana, dia bisa pergi terus jika ketahuan langsung pergi lagi. Tapi sekarang, ada satu orang yang harus dia lindungi dan jaga. Dia tidak mau Elvan, anaknya jatuh ke tangan orangtuanya terkhusus ayahnya.
Selama ini dia sudah berhasil telah menyembunyikan kehadiran Elvan, jadi sebisa mungkin harus tetap tidak ketahuan sampai kapanpun.
Felisa buru-buru berdiri, segera melangkahakan kaki ke tempat perlindungan yang paling aman dan sejahtera untuk sementara.
"Harus segera ke tempat lelaki itu!"
*
Felisa sekarang telah berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Setelah mencocokkan dengan alamat di ponsel, ia yakin jika ini tempat tinggal lelaki itu.
"Ini sudah jam 5, mereka pasti sudah pulang."
Felisa sudah memencet bel yang kesepuluh mungkin, tapi pintu itu belum terbuka atau mungkin ia yang tidak sabaran menunggu?
"Kemana, sih? Lagi-lagi Felisa terus memencet bel.
Felisa tidak berhenti terus memencet bel sampai terdengar suara gedebug di dalam, sebelum pintu akhirnya terbuka.
"Hai!" sapa Felisa saat melihat seorang lelaki dewasa dengan kaus putih tanpa lengan, handuk pink di leher ditambah kolor setengah paha bergambar mobil-mobilan.
Untuk sesaat mereka berdua mengerjap, saling memandang untuk saling menilai. Felisa baru tahu, jika lelaki ini terlihat lebih tampan dibanding terakhir mereka bertemu. Bahkan walaupun masih terbilang sudah lama tidak melihat langsung, Felisa masih sering melihat foto-foto lelaki itu, tapi didalam foto tidak setampan dan semanis ini?
"Kalau tidak ada kepentingan, saya tutup pintunya," tegur lelaki itu yang tak lain Rafa ketus. "Sialan! Siapa sih, gak jelas banget pencet bel gak sabaran kaya mau gempa bumi aja." Rafa terus berdiumel kesal pelan, tapi masih bisa didengar oleh Felisa.
"Tunggu!" Felisa buru-buru menerobos masuk dengan kedua buah koper sebelum pintu tertutup.
"Eh, siapa yang suruh masuk?" Rafa berteriak panik saat melihat wanita tidak dikenalnya sudah masuk ke dalam apartemen. Tapi kenapa, wajah wanita itu terasa tidak asing?
"Bagus juga, lumayan rapi dan elegan. Kayaknya bakal betah," ujar Felisa, terlihat lebih sedang mengomentari ruang tamu Rafa sambil terus berkeliling kecil.
Rafa merasa semakin terhina melihat tingkah wanita tidak jelas itu, sudah menekan bel bar-bar terus menyelonong masuk, ditambah dengan tidak sopannya mengomentari ruang tamunya.
Rafa buru-buru menarik tangan wanita itu untuk segera mengeluarkannya.
"Ayo keluar!"
"Eh, apaan? Lepas gak?" Felisa berontak saat ditarik paksa oleh Rafa.
"Ini penyiksaan namanya! Saya bisa lapor, yah!" ancam Felisa lebih ketidak tahu diri.
"Bukan kebalik, yah?" Rafa menghentikan aktifitas menarik paksanya, menatap Felisa remeh. "Anda yang bisa saya laporkan karena sudah masuk rumah orang tanpa izin."
Felisa bukannya takut, tapi malah berbalik tidak peduli. Sekarang, malah wanita itu sudah duduk santai di sofa dengan kaki saling menyilang.
Rafa yang melihatnya semakin berang, menghampiri wanita itu. Tepat, setelah berdiri di depan Felisa berniat meraih tangan wanita itu, tapi gerakan Felisa lebih cepat menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Ayo keluar!" teriak Rafa kesal.
Rafa merasa sudah menghabiskan waktunya percuma dengan kehadiran wanita gila ini. Sore ini dirinya masih sangat lelah oleh banyaknya kerjaan di kantor, ditambah barusan dia harus repot mengejar Elvan yang tidak mau mandi, padahal bajunya kotor karena menyeburkan dirinya sendiri ke comberan diajak oleh Cio. Keponakannya itu, sungguh-sungguh contoh yang tidak baik untuk anaknya.
Rafa menepuk kening, saat mengingat Elvan yang ia tinggal di kamar mandi. Bukan khawatir bocah itu akan kedinginan, tapi lebih khawatir kamar mandinya menjadi berantakan, apalagi jika semua harus kembali pada tumpah seperti waktu itu.
Rafa kembali melirik sinis wanita di bawahnya. "Keluar sekarang dari rumah saya, kalau tidak saya akan lapor polisi."
"Gak mau!" Felisa malah sekarang merebahkan dirinya di sofa. "Saya sudah minta izin yah, dua minggu yang lalu di telepon. Saya juga gak butuh izin setuju, karena saya lebih suka insiatif sendiri."
"Ayo keluar! Saya tidak ada waktu mengurusi wanita gila seperti Anda!"
"Gak mau!" Felisa meringkuk saat Rafa terlihat akan meraih kakinya. Apa lelaki itu berniat menyeret kakinya? Apa itu tidak kejam?
"Keluar, gak!"
"Saya bilang gak mau, yah gak mau!"
"Keluar!"
"Gak!"
"Saya serius, bisa lapor kamu atas tuduhan penyelinapan dan berniat mencuri!"
"Saya juga bisa melaporkan kamu, atas tuduhan pemerkosaan dan kabur tidak bertanggungjawab!"
"Silahkan! Laporkan saya atas tuduhan pemer--." Rafa melihat Felisa bingung, lalu berubah panik. "Jangan bilang kamu mama Elvan, alias wanita gila itu?"
"Kamu dari tadi gak tahu saya siapa!" Sekarang malah gantian Felisa berteriak kesal.
"Kenapa saya harus tahu kamu?" tanya Rafa bingung. Sekarang cowok itu sudah di sofa sebrang Felisa. Dia sungguh perlu melonggarkan semua saraf karena terlalu tegang sedari tadi.
"Jelas lah, sekali lihat kamu harus tahu saya siapa? Kamu kurang ajar sekali, bisa-bisanya melupakan wanita cantik yang sudah kamu tiduri dan ambil keperawanannya ini!" teriak Felisa emosi.
Rafa menatap horor Felisa, kenapa wanita itu frontal sekali? "Kamu tahu kan, waktu itu saya gak sadar. Jadi, wajar saya lupa wajah kamu!"
"Kurang ajar!"
"Kamu yang kurang ajar! Sekarang apa mau kamu?" Rafa langsung bertanya ke inti. Bisa darah tinggi dia, jika lama-lama terus berbicara dengan wanita ini.
"Saya sudah bilang kan waktu di telepon dua minggu yang lalu, jika saya akan tinggal di sini. Harusnya emang datang seminggu yang lalu, tapi karena masih repot jadi saya baru datang sekarang," jawab Felisa enteng.
Rafa mengusap wajah kasar. "Saya waktu tidak bilang jika mengizinkan kamu!"
"Saya gak butuh izin, kok!"
"Gila, ayo pergi! Saya gak mau kamu tinggal di sini!"
"Ok, kalau begitu saya akan pergi ke rumah orang tua kamu dan bilang saya wanita yang sudah hamil anak kamu yang sekarang sudah berusia 5 tahun. Saya minta pertanggung jawaban kamu, tapi kamu tidak mau," ancam Felisa yang berhasil langsung membuat Rafa diam tak berkutik.
"Mau kamu apa, sih?" teriak Rafa frustrasi. "Seharusnya kalau kamu minta pertanggungjawaban saya yah, waktu itu saat hamil. Kenapa baru sekarang?"
"Karena waktu itu saya yakin tidak butuh kamu," jawab Felisa cepat.
"Terus, sekarang kenapa kamu butuh saya?"
"Karena saya sekarang sudah jatuh miskin. Semua harta saya tidak bisa saya pakai untuk sebuah alasan. Saya dikejar-kejar orang. Saya butuh perlindungan kamu berupa materi dan tempat tinggal," terang Felicia kali ini wajahnya terlihat serius.
"Kamu." Rafa terlihat menyelidik melihat Felisa. "Buronan yang sedang dikejar-kejar polisi?"
Felisa menggeleng cepat. "Enggak, enak aja! Mana ada buronan secantik saya." Felisa mengibaskan rambut yang membuat Rafa langsung bergidik mual.
"Mana ada buronan ngaku? Ayo, apa kejahatan kamu? Pemakai, pencuri, penipu, penjual diri?"
"Kamu, yah!"
Setelah mengatakan itu, Felisa berjari ke arah Rafa dan langsung menjambak rambut cowok itu dengan kesal. Rafa tidak bisa menghindar karena ulah Felisa yang tiba-tiba ini, lelaki itu hanya terus berteriak kesakitan sambil menjauhkan tangan Felisa di kepalanya.
"Lepas, bar-bar banget sih, kamu!" Rafa sudah kewalahan dengan keaktifan Felisa dalam hal bar-bar ini. Rambutnya sudah terasa akan rontok, ah ... tidak! Bukan rambut, tapi kepalanya terasa akan copot.
"Mulut kamu udah kurang ajar! Saya merasa terhina, wanita secantik saya tidak pernah melakukan sedikitpun hal jahat! Saya ini dididik jadi wanita baik-baik oleh keluarga yang terlalu baik bahkan kolot!"
Felisa terlihat bernafsu menjambak rambut Rafa, mulut wanita itu terus mengoceh tanpa peduli Rafa sudah merasakan berkunang-kunang pusing di bawahnya. Tiba-tiba Felisa malah tergelak tertawa saat merasakan pinggangnya digelitik. Tubuh Felisa roboh ke sofa dengan Rafa di atasnya yang sedang menggelitik.
"Kamu mau buat saya botak? Rasakan ini!" Sekarang, malah terlihat Rafa yang sangat bersemangat.
Felisa bergerak seperti cacing kepanasan. "Ampun, udah tolong berhenti ampun!"
"Enak aja, gak mau!"
"Tolong siapapun, gak kuat!"
"Gak ada yang bisa nolong, jadi rasakan!"
"Ampun, gak kuat geli sampai ini saya mau pipis!"
"Bodo amat!"
"Papa! Mama! Kalian ngapain?"
"Eh?"
Kedua orang dewasa yang saling tindih itu secara bersamaan melihat ke samping. Di sana ada Elvan yang sedang berdiri, dengan tubuh basah penuh sabun dengan badan telanjang bulat. Rambutnya berubah warna putih karena penuh dengan busa.
Sejenak mereka saling berpandangan, seakan baru sadar dengan posisi ganjil mereka, kemudian saling menjauhkan diri. Fokusnya langsung beralih ke bocah telanjang yang penuh busa itu.
"Kamu kenapa keluar dari kamar mandi?" tanya Rafa panik, buru-buru mendekati Elvan. "Ayo ke kamar mandi lagi!"
"Mama" gumam bocah itu terlihat merengek. "Mama ... Huwa!" Sekarang, fix Elvan sudah menangis melihat mama-nya.
Rafa pikir wanita itu akan berlari untuk menenangkan Elvan, tapi sungguh di luar dugaan karena wanita itu malah memeluk Elvan dengan sama menangisnya. Akhirnya, mereka berdua saling berpelukan sambil menangis histeris.
"Mama... kangen!"
"Elvan ... kangen juga!"
Mereka berdua masih terus berpelukan dengan tangisan yang semakin kencang. Beruntung apartment Rafa kedap suara jika tidak, mungkin satpam di lantai bawah-pun bisa mendengar suara tangis mereka berdua.
Rafa memijit kening pusing, mereka berdua harus segera dihentikan. Jika tidak, kepala Rafa akan segera pecah. Elvan juga harus segera mandi yang benar dan pakai baju, jika tidak bocah itu bisa sakit. Bisa-bisanya juga Rafa sibuk perang dengan wanita gila itu, sampai melupakan Elvan di kamar mandi?
"Udah stop nangisnya! Kamu harus segera mandi dan pakai baju, nanti masuk angin." Rafa menarik tubuh Elvan dari pelukan Felisa.
"Iya, sayang! Ayo mandi sama Mama!"
Elvan mengangguk. "Ayo Mama!"
Setelah itu, Elvan sudah digendong Felisa masuk ke kamar Rafa, meninggalkan Rafa yang kebingungan di tempat.
"Iya, dunia emang milik kalian berdua. Anggap aja ini tembok tembus pandang!"
##