Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Langkah menemukan kebenaran
Seraphina berdiri diam di dekat jendelanya, matanya menatap tajam ke arah bukit yang kini tampak gelap kembali, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Namun indranya tidak pernah salah—dia merasakan getaran hebat yang menyebar ke udara, sebuah benturan antara kekuatan yang merusak dan kekuatan yang melindungi.
Seraphina berjalan perlahan mendekati meja kayu nya, lalu meraih sebuah benda berbentuk kristal bening yang berdenyut pelan. Saat ia memegangnya, permukaan kristal itu menampakkan bayangan samar tentang apa yang baru saja terjadi: akar pohon yang bergerak sendiri, cahaya keemasan yang memancar dari sosok anak itu, dan tiga bayangan gelap yang melarikan diri ketakutan.
"Kekuatan yang menyatu dengan alam..." gumamnya pelan. "Bukan sihir yang dipelajari dari buku-buku istana, bukan pula kekuatan terlarang yang mengorbankan nyawa makhluk lain. Ini adalah pengetahuan yang sudah hilang ribuan tahun lamanya."
Ia meletakkan kembali kristal itu perlahan. Sebagai Penyihir Agung Kerajaan, tugas utamanya adalah menjaga kestabilan wilayah dan memastikan tidak ada kekuatan asing yang mengancam kekuasaan takhta. Namun apa yang ia lihat malam ini membuatnya semakin ragu: apakah benar Arlen adalah ancaman, atau justru satu-satunya harapan yang tersisa di tengah dunia yang semakin gelap ini?
Gadis itu mengambil jubah panjangnya, lalu berbalik menuju pintu.
"Aku tidak bisa hanya mengamati dari kejauhan lagi," ucapnya tegas. "Aku harus berbicara langsung dengannya, tanpa membawa beban perintah Kerajaan."
Tidak lama kemudian, bayangan tinggi wanita itu berjalan menyusuri jalan sepi menuju arah bukit hijau itu. Ia tidak membawa prajurit apa pun kali ini, hanya berjalan sendirian dengan langkah tenang namun berwibawa.
Sesampainya di batas wilayah yang dijaga itu, dia merasakan kembali adanya penghalang tak kasat mata. Namun kali ini ia tidak berniat memaksakan diri untuk masuk. Ia berhenti diam di tempat, lalu mengangkat suaranya agar terdengar ke atas sana.
"Aku datang bukan untuk menyerang, melainkan untuk berbicara. Bolehkah aku melangkah masuk?"
Tak lama kemudian, dari balik kegelapan, Arlen muncul berjalan mendekat, diikuti beberapa langkah di belakang oleh Kai yang tetap waspada. Arlen berdiri tepat di seberang penghalang itu, menatap lurus ke arah penyihir agung itu.
"Kau datang sendirian," ucap Arlen bukan sebagai pertanyaan. "Itu langkah yang bijak. Masuklah, Penyihir Agung. Pintu ini terbuka bagi mereka yang membawa niat damai."
Seketika itu juga, hawa berat yang menghalangi lenyap seolah tidak pernah ada. Seraphina melangkah maju perlahan, merasakan perubahan udara yang segar dan bersih begitu ia menginjakkan kaki di tanah itu. Gadis itu berhenti tepat di hadapan Arlen, lalu matanya beralih sebentar ke arah Kai yang berdiri siaga.
"Orang ini... dulu adalah pengamat yang dikirim oleh kelompok bayangan itu," ujar Seraphina dengan pandangan tajam. "Kini ia berdiri di sisimu."
Arlen mengangguk tenang.
"Manusia berubah, jalan yang mereka pilih pun bisa berubah. Kai telah memilih untuk tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Dan di sini, setiap orang yang berniat baik berhak mendapatkan tempat berdiri."
Seraphina menghela napas pelan, lalu ia menatap Arlen lekat-lekat.
"Malam ini aku merasakan pertarungan yang terjadi di sini. Tiga makhluk yang dilatih untuk membunuh datang, namun mereka pergi hidup-hidup dalam ketakutan. Kau membiarkan mereka pergi, padahal kau bisa saja mengakhiri segalanya saat itu juga."
Arlen duduk di atas batu besar di dekatnya, memberi isyarat agar Seraphina juga duduk di batang kayu tua yang sudah tumbuh kembali itu.
"Membunuh hanya akan menumbuhkan dendam baru, dan tidak akan pernah menyelesaikan akar masalahnya," jawab Arlen pelan. "Mereka adalah alat, bukan penggerak utamanya. Jika aku memusnahkan alat itu, tuannya hanya akan membuat alat lain yang lebih tajam dan berbahaya. Kita harus menghadapi akar dari kejahatan itu sendiri."
Seraphina terdiam sejenak, ia terkesan namun juga semakin bingung.
"Kau berbicara layaknya seorang pemimpin yang telah melihat banyak hal, padahal usiamu masih sangat muda. Katakan padaku... apa sebenarnya tujuanmu? Apakah kau ingin menguasai wilayah ini, atau bahkan lebih jauh lagi, sampai ingin menantang kekuasaan Kerajaan Aurelia?"
Arlen menggeleng pelan, lalu ia menatap lurus ke arah cakrawala yang gelap.
"Aku tidak menginginkan takhta, aku tidak menginginkan gelar atau kekayaan. Kerajaan dibangun dengan batas-batas yang memisahkan manusia satu sama lain, sehingga menimbulkan persaingan, perang, dan keserakahan. Aku hanya ingin mengembalikan keseimbangan yang pernah ada dulu, saat alam dan manusia hidup berdampingan tanpa saling merusak."
Arlen berbalik menatap Seraphina.
"Namun untuk mencapai itu, aku tahu aku harus menghadapi banyak pihak—mulai dari tuan tanah yang serakah, hingga kekuasaan besar yang berjalan jauh di atas sana. Aku tidak mencari musuh, tapi jika ada yang datang menindas, aku akan berdiri tegak menahannya."
Seraphina mendengarkan dengan saksama, setiap kata itu meresap ke dalam hatinya. Selama ini ia melayani Kerajaan karena menganggapnya satu-satunya cara menjaga ketertiban, namun dia sering kali melihat ketidakadilan yang terjadi di bawah bendera hukum itu sendiri.
"Kau tahu," ujar Seraphina pelan memulai pembicaraannya, "Aku adalah penyihir yang dilatih untuk mematuhi setiap perintah yang datang dari istana. Perintah yang kubawa ke sini adalah untuk menyelidiki gangguan energi, lalu mengamankan sumbernya—entah itu dibawa ke istana atau dimusnahkan jika dianggap berbahaya."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Arlen dengan pandangan yang lebih terbuka.
"Tapi sejak aku tiba di sini, sejak aku melihat apa yang kau lakukan pada tanah tandus ini, dan bagaimana kau menghadapi bahaya malam ini... aku mulai bertanya-tanya: apakah perintah itu benar-benar untuk kebaikan semua orang, atau hanya untuk menjaga kekuasaan segelintir orang saja?"
Arlen tersenyum tipis.
"Pertanyaan itulah yang memisahkan mereka yang melayani kebenaran, dan mereka yang hanya melayani aturan semu. Kau bebas memilih jalanmu, Seraphina. Sama seperti Kai yang memilih jalan barunya hari ini."
Seraphina berdiri tegak, ia merapikan ujung jubahnya yang sedikit berdebu.
"Aku belum bisa berjanji akan berpihak sepenuhnya padamu, karena aku memiliki tanggung jawab besar yang masih terikat sumpah setia. Tapi... aku tidak akan lagi menghalangi langkahmu. Dan jika ada bahaya besar yang datang dari Kerajaan atau dari tempat lain yang mengancam tempat ini... aku mungkin akan datang lagi untuk memperingatkanmu."
Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda penghormatan, sesuatu yang jarang ia berikan kepada siapa pun, apalagi seorang anak yang masih sangat muda.
"Kau menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah wajah benua ini, Arlen. Jagalah baik-baik. Aku akan mencoba mencari tahu apa sebenarnya rencana para pemimpin di balik perintah-perintah yang mereka kirimkan."
Arlen mengangguk tulus.
"Terima kasih. Berhati-hatilah dalam mencari kebenaran itu. Sering kali kebenaran itu tidak menyenangkan dan berbahaya bagi mereka yang mencarinya."
Seraphina mengangguk, lalu perlahan berjalan menjauh kembali ke arah penginapannya. Kali ini langkahnya terasa lebih ringan namun lebih bertekad bulat.
Setelah kepergiannya, Kai yang sedari tadi diam akhirnya maju selangkah mendekat ke arah Arlen.
"Apakah aman mempercayainya?" tanyanya ragu. "Ia masih melayani Kerajaan yang mungkin menjadi musuh kita kelak."
Arlen menatap ke arah jalan yang kini kosong itu.
"Kepercayaan adalah hal yang harus dibangun perlahan, Kai. Kita tidak tahu apakah wanita itu akan benar-benar membantu atau tidak. Tapi saat ini... Dia mulai membuka matanya. Dan orang yang mulai melihat kebenaran adalah orang yang paling dekat untuk memilih jalan yang benar."
Arlen berjalan perlahan kembali ke arah rumahnya.
"Malam ini kita mendapatkan waktu istirahat yang singkat. Namun pesan yang kita kirimkan kepada Lingkaran Kelam pasti akan membuat mereka bergerak lebih nekat. Dan Penyihir Agung itu... meskipun dia tidak bermusuhan, keberadaannya berarti mata Kerajaan tetap tertuju pada kita."
Arlen berhenti sejenak tepat di depan pintu kayu rumahnya.
"Besok kita mulai memperluas jangkauan perlindungan ini. Kita tidak hanya menjaga bukit ini, tapi kita harus membuat penduduk desa di sekitar sini juga ikut terlindungi. Kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum badai yang sesungguhnya benar-benar datang menghantam."