Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesta eksklusif
Malam minggu di kediaman megah milik Radhit Gezha Revandhana tak lagi berbalut keheningan yang dingin, melainkan berpendar kemilau oleh lampu-lampu kristal yang membiaskan cahaya ke seluruh penjuru ruang tengah.
Alunan musik klasik menggema lembut, berpadu dengan denting halus gelas kristal beradu dan derai tawa para tamu terhormat.
Radhit sedang menggelar jamuan makan malam privat sebuah pesta eksklusif untuk merayakan keberhasilan investasi besar terbarunya bersama belasan relasi bisnis papan atas.
Namun, di balik kemewahan dan gelak tawa yang memenuhi ruang tengah yang hangat itu, penderitaan yang sunyi dan menyiksa sedang berlangsung di balik pintu dapur yang remang.
Vivian berdiri menyandarkan tubuh ringkihnya pada tepi kitchen island berbahan marmer hitam. Peluh dingin membasahi pelipis dan dadanya yang kian tirus.
Usia kehamilannya yang memasuki bulan ketiga terasa makin berat saat digerus kelelahan fisik dan trauma batin yang bertumpuk.
Pinggang bawahnya berdenyut nyeri luar biasa, sementara rasa mual yang melilit tenggorokannya berkali-kali dipicu oleh pekatnya aroma olahan daging dan bumbu masakan yang menusuk indra penciumannya yang sensitif.
Namun, tidak ada kesempatan baginya untuk menyelonjorkan kaki atau sekadar menghela napas.
"Vivian, mana minumannya?"
Suara Radhit terdengar dari balik tirai batas ruang tengah. Suara yang dalam, datar, dan berisi instruksi mutlak tanpa cela sebuah porsi perintah yang tegas dan tak memberi ruang sedikit pun untuk dibantah.
Vivian menarik napas panjang, mencoba menekan pening hebat yang membuat sudut pandangnya beberapa kali mengabur. Dia merapikan gaun hitam polos berpotongan longgar yang dipakainya satu-satunya pakaian paling tertutup dan tidak mencolok yang dimilikinya. Dengan kedua tangan yang tremor halus, dia mengangkat nampan perak berisi beberapa gelas kristal yang sudah terisi wine mahal.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, memenangi rasa nyeri pada telapak kakinya yang belum sepenuhnya sembuh dari tusukan pecahan kaca tempo hari, Vivian berjalan memasuki area pesta.
Di sana, Radhit berdiri tegap di tengah ruangan dalam balutan setelan jas buatan penjahit ternama dunia. Pria itu tampak begitu menawan, berkelas, dan memancarkan aura kepemimpinan yang amat karismatik.
Namun, persis di sebelah kirinya, berdiri seorang wanita cantik bergaun merah marun dengan riasan wajah sempurna yang memikat mata.
Clarissa Olivia.
Wanita itu tersenyum manis, menyandarkan jemari lentiknya di atas lengan jas Radhit dengan amat natural. Dan yang paling menghancurkan batin Vivian,Radhit tidak bergeming.
Pria itu menuntun Clarissa berkenalan dari satu relasi bisnis ke relasi bisnis lainnya tanpa sekalipun menepis atau melepaskan tautan tangan wanita itu di sampingnya.
Dada Vivian mendadak sesak luar biasa, seolah-olah oksigen di ruangan besar itu ditarik paksa sampai habis. Langkah kakinya sempat tertahan di tempat selama beberapa detik. Rasa perih di ulu hatinya menjalar hebat, meremukkan sisa-sisa pertahanan jiwanya.
"Ah, ini dia pelayannya," tutur salah seorang kolega bisnis Radhit sambil terkekeh pelan saat menyadari kehadiran Vivian yang membawa nampan. "Radhit, kamu sewa katering baru atau pembantu baru? Pucat banget mukanya, kelihatan tidak fit.Kaya mayat hidup"
Psttt
Gelak tawa halus dan bisik-bisik terdengar dari beberapa tamu lain yang berdiri mengelilingi mereka. Tidak ada satu orang pun di ruangan mewah itu yang mengenali Vivian sebagai istri sah Radhit. Sebab, semenjak hari pertama mengikat janji di atas kertas, Radhit memang sengaja mengubur rapat status pernikahan mereka dari publik dan lingkaran bisnis pribadinya.
Vivian mematung. Tatapannya bersibobok dengan manik mata Radhit. Ada permohonan yang teramat dalam dari binar mata Vivian yang berkaca-kaca sebuah keputusasaan agar pria itu mau memberikan sedikit saja rasa hormat atau sekadar meluruskan anggapan miring itu.
Namun, Radhit hanya membalas tatapan itu dengan pandangan mata yang begitu dingin, datar, dan tajam. Tidak ada keraguan atau niat membela sama sekali di raut wajahnya.
"Dia yang mengurus rumah ini," sahut Radhit tenang tanpa beban. Pria itu sama sekali tidak membantah ucapan koleganya. Dia menatap Vivian dengan raut wajah memperingatkan. "Tuangkan minumannya."
Deg.
Hancur. Seluruh sisa harga diri yang Vivian jaga setengah mati hancur berkeping-keping di atas lantai marmer rumahnya sendiri.
Di depan belasan pasang mata tamu berpengaruh, suami yang dicintainya dan ayah dari janin yang dikandungnya secara terang-terangan menurunkan derajatnya menjadi seorang pelayan yang tak berarti.
Vivian menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan bulir air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya. Jemarinya yang bergetar hebat meraih botol untuk menuangkan minuman ke gelas para tamu. Namun, rasa pusing yang mendadak menghantam kepalanya dengan dahsyat membuat keseimbangan tangannya goyah.
CLINK!
Gelas kristal di atas nampan sedikit terguncang, membuat beberapa tetes cairan *wine memercik dan mengotori bagian bawah gaun merah yang dikenakan Clarissa.
"Aduh, bajuku!" gumam Clarissa terkejut dengan nada suara yang sedikit tersentak. Wanita itu refleks melangkah mundur, merapikan gaunnya sembari menatap Vivian dengan raut ketidaksukaan yang begitu nyata.
Seketika itu juga, suasana riuh di ruang tengah berubah menjadi hening mencekam.
Radhit dengan cepat mengambil alih nampan perak dari genggaman Vivian, meletakkannya dengan ketukan keras di atas meja terdekat. Sorot matanya yang tajam langsung menghujam wajah Vivian dengan rasa ketidaksukaan dan murka yang amat pekat.
"Kamu bisa kerja yang benar tidak?" ucap Radhit tajam dengan nada suara yang tertahan namun sangat intimidatif. Pria itu tidak peduli sedikit pun bahwa bibir Vivian sudah bergetar dan wajahnya pucat pasi bagaikan kertas. "Membawa nampan saja tidak becus. Bikin malu."
"Mas... aku... pusing banget... maaf..." cicit Vivian lirih. Suaranya nyaris tenggelam oleh ketakutan hebat. Perut bawahnya mendadak melilit parah, meregangkan otot-otot rahimnya akibat guncangan ketegangan yang mendera.
Namun, Radhit tidak memberi pandangan cemas sedikit pun pada kondisi fisik istrinya. Pria itu justru merogoh saputangan sutra dari saku jas mewahnya, lalu menyerahkannya pada Clarissa dengan gerakan yang sangat tenang, rapi, dan sigap.
"Aman, kan? Tidak ada yang kena kulit?" tanya Radhit pada Clarissa. Meskipun intonasinya terdengar datar, perhatiannya tercermin utuh dan memanjakan untuk wanita di sampingnya itu.
Clarissa menyapu bercak basah di gaunnya menggunakan saputangan Radhit, lalu menghela napas pelan dengan wajah cemberut. "Enggak apa apa kok sayang. Cuma sedikit kaget aja,tapi gaun mahalku."Keluh Clarissa dengan nada manja
"Kita beli yang baru ya nanti," tutur Radhit tersenyum tipis pada Clarissa untuk menenangkannya, sebelum kembali memalingkan wajah ke arah Vivian. Kali ini, pandangannya begitu dingin dan memutus, seolah Vivian adalah sebuah noda kesalahan yang harus segera disingkirkan dari pandangan matanya.
Radhit menunjuk ke arah koridor dapur dengan isyarat jarinya yang tegas dan tak terbantahkan.
"Masuk ke dalam. Jangan keluar lagi sampai semua tamu pulang," perintah Radhit tajam dan tanpa ampun.
Vivian meremas kain gaun hitamnya tepat di bagian perut bawah yang makin melilit nyeri. Rasa sakit di fisiknya beradu dengan hantaman rasa hancur di dalam dada yang begitu menyiksa.
Dia menatap Radhit untuk terakhir kalinya malam itu melihat bagaimana suaminya memperlakukan wanita lain dengan penuh hormat dan kehangatan, sementara dirinya sendiri diusir dan diperlakukan tak ubahnya sebuah gangguan yang memalukan.
Dengan langkah yang terseret-seret dan kepala tertunduk pasrah, Vivian berbalik melangkah kembali menuju dapur di tengah keheningan yang menyayat hati.
Begitu melintasi pintu dapur dan berada di balik dinding yang dingin, pertahanan tubuh Vivian runtuh sepenuhnya. Kedua kakinya melemah, membuat tubuhnya meluruh tersungkur ke atas lantai.
Vivian duduk menyandarkan dadanya di lutut yang ditekuk, meremas jemarinya sendiri, dan meluapkan tangisannya tanpa suara agar tidak merusak suasana pesta di luar.
Di antara denting gelas kristal, alunan musik yang elegan, dan tawa bahagia suaminya bersama wanita lain di ruang tengah, Vivian mengelus lembut perutnya yang bergetar hebat.
"Maafkan Ibu, Nak... Maaf..." bisik Vivian amat lirih di tengah isak tangis sunyi yang memecah dinginnya malam. "Maaf karena Ibu belum bisa memberimu seorang Ayah yang mau mengakui dan membanggakan keberadaan kita..."
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian