"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30. menuju keadilan
Leon hanya bisa terdiam, pikirannya berputar memproses kenyataan yang jauh lebih rumit daripada yang pernah ia bayangkan. Di satu sisi, amarah masih membara mengingat lima tahun yang hilang, penderitaan orang tuanya, dan semua yang ia lewatkan. Tapi di sisi lain, ia tak bisa menyangkal bahwa tanpa jalan yang dibuka Reza, mungkin ia tak akan pernah kembali, tak akan pernah bertemu orang-orang yang mengajarkannya arti persahabatan dan keberanian.
Ia menatap Reza lekat-lekat, melihat ketulusan yang terlihat jelas di mata pria itu bukan lagi rasa takut, tapi kesediaan untuk menanggung akibat perbuatannya. Perlahan, Leon menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak di dadanya.
“Gue nggak bisa bilang kalau gue udah maafin lo sepenuhnya,” ucapnya akhirnya, suaranya lebih tenang namun tetap tegas. “Lima tahun bukan waktu yang bisa diganti cuma dengan penjelasan. Keluarga gue menderita, masa depan gue tertunda, semuanya karena kelalaian lo. Itu nggak bisa hilang begitu saja.”
Reza mengangguk paham, tak berusaha membela diri. “Gue ngerti. Gue nggak minta maaf biar dimaafin, cuma biar lo tahu semuanya.”
“Tapi,” lanjut Leon, “gue juga nggak bisa pungkiri kalau tanpa apa yang lo lakukan, mungkin gue nggak akan ada di sini sekarang. Dunia itu ngajarin gue banyak hal, hal yang nggak gue dapet di mana pun. Jadi, kalau lo beneran siap bertanggung jawab, tunjukkan. Jangan cuma lewat kata-kata.”
Reza mengeluarkan sebuah amplop tebal dari saku jaketnya, lalu menyodorkannya perlahan. “Di sini ada salinan rekaman, percakapan, dan dokumen yang membuktikan kalau bokap gue yang ngatur semuanya. Gue juga udah siap buat ngasih keterangan lengkap ke polisi, meski harus melawan dia. Ini satu-satunya cara gue buat menebus kesalahan.”
Leon menerima amplop itu dengan hati-hati. Ia merasakan beban yang selama ini membebani dadanya perlahan terangkat, meski belum sepenuhnya hilang. Ia sadar, keadilan bukan soal membalas dendam, tapi soal membiarkan kebenaran terungkap dan memberi kesempatan bagi siapa saja untuk berubah.
“Baiklah,” kata Leon. “Besok pagi kita ke kantor polisi bareng. Biar semuanya berjalan sesuai aturan. Lo ngambil jalan ini dengan sadar, jadi lo harus siap terima apa pun akibatnya.”
“Gue siap,” jawab Reza mantap.
Saat matahari mulai terbenam, meninggalkan langit berwarna jingga, Leon menggenggam amplop itu erat. Di dalam hatinya, dua dunia yang selama ini terpisah perlahan mulai menyatu. Ia tahu, perjalanan ini belum selesai, tapi setidaknya sekarang ia memegang kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Malam itu, Leon pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ia langsung menunjukkan amplop itu kepada kedua orang tuanya dan menceritakan seluruh percakapannya dengan Reza mulai dari pengakuan tentang kecelakaan, upaya menutupi kasus, hingga hal yang tak terduga mengenai ilmu sihir dan dunia cerita yang ia alami.
Pak Indra dan Bu Ina mendengarkan dengan saksama, meski sempat tertegun mendengar bagian yang terdengar mustahil. Namun melihat kesungguhan di mata putranya, serta bukti yang ada di hadapan mereka, mereka akhirnya percaya.
“Kalau ini jalan yang dipilih Reza untuk menebus kesalahannya, biarkan saja semuanya diserahkan kepada hukum,” ujar Pak Indra dengan nada tenang. “Yang penting, kebenaran akhirnya terungkap.”
Keesokan paginya, seperti yang telah disepakati, Reza sudah menunggu di depan rumah. Ia datang sendirian tanpa pengawalan atau tekanan dari siapa pun. Bersama Leon, kedua orang tuanya, serta ketiga temannya, mereka berangkat menuju kantor polisi.
Di sana, Reza dengan jujur memberikan seluruh dokumen, rekaman percakapan, dan keterangan lengkap. Ia tidak menyembunyikan apa pun, bahkan mengakui peran ayahnya dalam menghapus jejak dan menutup kasus secara paksa. Petugas yang menangani langsung merasa terkejut, karena bukti yang diserahkan sangat lengkap dan jelas.
Tak lama setelah itu, kabar tersebar. Hartono dipanggil untuk dimintai keterangan, dan seiring dengan munculnya bukti-bukti yang tak terbantahkan, perlahan orang-orang yang sebelumnya takut berbicara mulai berani memberikan kesaksian. Kasus yang sudah tertutup selama lima tahun itu akhirnya dibuka kembali.
Saat meninggalkan kantor polisi, Leon menatap langit yang cerah. Beban yang selama ini membebani pikirannya benar-benar terasa hilang. Ia tidak lagi merasa terbelah antara dua dunia, karena kini ia mengerti bahwa setiap peristiwa, sekalipun terasa menyakitkan, memiliki alasan dan maknanya masing-masing.
“Terima kasih sudah menepati janji,” ucap Leon singkat kepada Reza sebelum berpisah.
Reza tersenyum tipis. “Gue cuma melakukan apa yang seharusnya gue lakukan sejak awal. Apa pun hasilnya nanti, gue siap terima.”
Mereka berpisah dengan perasaan masing-masing. Leon tahu, ini bukan akhir dari segalanya, tapi awal yang baru di mana ia bisa melanjutkan hidupnya dengan tenang, membawa pelajaran dari dua dunia yang pernah ia jalani.