Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Matahari pagi menembus jendela kaca besar di unit apartemen milik Larasati. Setelah melewati malam yang menguras emosi di rumah orang tuanya, Larasati terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Gaun pengantin putih yang kemarin sempat melekat di tubuhnya kini sudah tersimpan rapat di dalam kantong plastik hitam, siap untuk dibuang.
Dengan mengenakan setelan kerja berwarna cokelat muda yang dipadukan dengan celana panjang senada, Larasati menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya dipoles make-up tipis, sedikit menyembunyikan sisa-sisa kelelahannya kemarin. Baginya, pekerjaan di agensi periklanan adalah tempat ia bertempur, dan ia tidak akan membiarkan urusan asmara merusak reputasi profesionalnya.
Larasati melangkah masuk ke lobi gedung kantor Dirgantara Media Group dengan kepala tegak. Beberapa rekan kerja yang berpapasan dengannya sempat memberikan tatapan ragu, bahkan ada yang berbisik samar karena kabar burung mengenai pembatalan pernikahannya sudah mulai menyebar di kalangan terbatas. Namun, Larasati mengabaikan semua itu dan langsung menuju ruang rapat utama untuk memimpin presentasi proyek kerja sama terbesar musim ini. Ia memaparkan konsep periklanan terbarunya dengan suara yang lantang, lugas, dan penuh percaya diri, seolah-olah tidak ada masalah apa pun yang sedang menghimpit hidupnya.
"Konsep yang sangat luar biasa, Larasati. Kreativitas dan ketegasanmu dalam mengeksekusi ide memang tidak pernah mengecewakan perusahaan." sebuah suara berat, bariton, dan berwibawa tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk ruang rapat yang terbuka. Seketika, seluruh pasang mata di dalam ruangan berbalik menatap sosok pria yang berdiri di sana. Jantung Larasati berdesir pelan saat mengenali siapa pria itu.
Dia adalah Dewa Dirgantara, sang CEO sekaligus pemilik utama seluruh kerajaan bisnis media tempatnya bekerja. Di usianya yang menginjak 38 tahun, Dewa adalah definisi nyata dari kesempurnaan fisik dan kemapanan. Wajahnya yang luar biasa tampan, rahangnya yang kokoh, serta penampilannya yang selalu bersih dan rapi mampu memikat siapa saja. Lebih dari itu, Dewa terkenal sebagai pria yang sangat dingin, menjaga jarak dari semua wanita, dan belum pernah sekalipun terlibat skandal karena ia sangat pemilih dalam mencari pasangan yang benar-benar klop di hatinya.
Dewa melangkah masuk ke dalam ruang rapat, membuat atmosfer ruangan mendadak menjadi begitu berwibawa dan sarat akan aura kepemimpinan yang kuat. Matanya yang tajam bak elang langsung mengunci pandangan pada Larasati. Ia menatap wanita itu dengan binar kekaguman yang tersembunyi di balik ekspresi datarnya yang sedingin es.
"Terima kasih atas apresiasinya, Pak Dewa. Kami selalu memberikan yang terbaik untuk setiap proyek di bawah naungan Dirgantara Media." jawab Larasati dengan senyum profesional dan suara tegas, menolak terlihat gentar di hadapan atasan tertingginya itu.
Dewa mengangguk pelan, memperkecil jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang berkelas menguar ke indra penciuman Larasati. Diam-diam, Dewa sudah mengetahui seluruh skandal perzinahan yang dilakukan oleh Arjuna melalui laporan pemeriksaan latar belakang dari timnya beberapa hari lalu, dan ia merasa sangat puas melihat betapa kuatnya Larasati menghadapi situasi ini.
"Pertahankan kinerjamu, Larasati. Ikut ke ruangan saya sekarang, ada beberapa detail proyek penting yang harus kita diskusikan berdua secara langsung!" ucap Dewa yang tidak menerima penolakan, lalu berbalik badan mendahului Larasati keluar ruangan, bersiap untuk bergerak mendekati wanita mandiri yang sejak lama telah menarik perhatiannya itu.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok