"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu
Anak yang begitu kurus dengan pakaian yang begitu lusuh. Mungkin baru berusia sekitar 4 atau 5 tahun. Hanya gemetar ketika berhadapan dengan wanita ini. Wajahnya terlihat begitu kejam, tapi di sisi lain juga begitu anggun. Permaisuri yang hanya bisa dilihatnya dari kejauhan, kini berada di sampingnya menggenggam jemari tangannya.
“Namamu siapa?” Pertanyaan dari sang permaisuri kepadanya.
“Hwang Lian…” anak itu berucap pelan, wajahnya benar-benar tertunduk ketakutan.
“Hwang Lian, apa statusmu saat ini?” Pertanyaan kembali diucapkan oleh sang permaisuri.
Anak itu tertunduk tidak berani menjawab. Bagaikan gemetar ketakutan, melihat ke arah dayang yang menyiksanya, kini berlutut menunduk memberi hormat di hadapan permaisuri.
“Kamu adalah pangeran kelima. Seseorang yang memiliki darah naga. Bagaimana bisa putra kaisar seperti ini, Jika dayang ini berani menindasmu, perintahkan kepada para penjaga untuk memenggal kepalanya.” Permaisuri dapat berucap begitu pelan, memberikan hukuman mati dengan begitu mudah.
“Ampuni hamba yang mulia permaisuri! Ini adalah kesalahan hamba! Mohon ampuni hamba!” Suara teriakan sang pelayan menggema.
Sang permaisuri melirik ke arah anak kecil yang berada di sampingnya. Anak ini adalah anak seorang dayang, yang bahkan belum naik status menjadi selir. Pada akhirnya mati ketika melahirkan. Semua orang mengucilkannya. Tidak ada yang menganggap statusnya sebagai pangeran. Padahal darah naga jelas-jelas mengalir dalam tubuhnya.
Dalam artian, Kaisar brengsek itu menebarkan benih kemana-mana. Membuat anak yang tidak memiliki status keluarga ini, dijadikan bagaikan pelayan.
Pangeran kecil itu menggeleng.”Dia sudah berbaik hati memberikanku roti kukus. Jika tidak ada dayang Shu maka aku akan kelaparan. Mohon yang mulia permaisuri untuk mengampuninya. Hamba tidak ingin mati kelaparan.”
Anehnya anak kecil itu malah ikut berlutut di samping sang dayang.
Permaisuri menghela nafas kasar, melirik ke arah ember kayu yang jatuh, menyebabkan isinya tumpah ke mana-mana. Terdapat pakaian dan selimut tebal di sana. Bagaimana bisa seorang anak sekecil ini…
“Bocah…” permaisuri berusaha memendam amarahnya, menarik kerah bagian belakang pakaian anak laki-laki kecil yang begitu lucu itu. Kemudian meletakkannya di belakangnya.”Aku yang akan memberimu makan! Makanan yang lebih enak daripada roti kukus.”
Pangeran kecil itu hanya menunduk sembari mengangguk.
Sang permaisuri berucap dengan begitu anggun.”Di mana ada yang kepala yang bertugas mengurus pangeran kelima!?”
Kalimat yang begitu tegas dengan penuh penekanan. Salah seorang dayang yang berada di sana, segera melangkah mencari keberadaan pengurus yang dimaksud.
Tidak lama kemudian seorang wanita melangkah menghampiri mereka. Jika tidak salah, orang ini merupakan salah satu dari pengikut selir Wen.
“Hamba memberi hormat kepada yang mulia permaisuri—” baru saja wanita itu menunduk.
Plak!
Dengan cepat tamparan mengenai wajahnya. Permaisuri tersenyum arogan.”Penjaga, tangkap wanita ini. Bawa ke penjara bawah tanah kemudian lakukan eksekusi padanya.”
“Yang mulia! Apa salah hamba? Tolong ampuni hamba!” teriak, wanita yang berperan sebagai ibu asuh, sekaligus pengasuh pangeran kelima itu meronta-ronta.
“Kesalahanmu? Setiap bulannya pengaturan anggaran dari istana selir maupun untuk para pangeran sampai ke meja kerjaku. Semuanya aku perlakukan begitu adil, bahkan terdapat banyak catatan pengeluaran tiba-tiba dari pangeran kelima. Tapi kamu lihat pakaiannya. Adakah pangeran yang tidak menggunakan pakaian sutra!?” Suara bentakan dari wanita itu, benar-benar aura kekejaman yang terasa.
Pangeran kelima hanya dapat bersembunyi di belakangnya. Mengagumi betapa menyeramkannya dan sekaligus betapa kerennya wanita ini.
“I…itu…karena pangeran kelima memang menyukai hidup sederhana. Hamba hanya ingin mendidiknya, agar tidak menjadi sombong. Karena beliau berasal dari darah rendah—”
Kalimatnya terhenti, ketika sang permaisuri mengulurkan tangan ke samping. Dayang yang berada di sampingnya mengeluarkan cambuk.
Plak!
“Kamu bilang apa!? Darah naga adalah darah rendah!? Berani beraninya kamu menghina keluarga Kerajaan!”
Permaisuri mencambuknya beberapa kali. Dayang itu hanya dapat meringis kesakitan. Wanita yang benar-benar menjadikan sang dayang sebagai sasaran amarahnya.
“Hukum mati, orang ini atas tuduhan menghina keluarga Kerajaan. Aku sudah berbaik hati tidak memberikan hukuman eksekusi 9 generasi keluarga…” sang permaisuri berbalik, ketika dua orang pengawal menyeret dayang tersebut.
“Yang mulia permaisuri! Tolong ampuni hamba! Tolong ampuni hamba!” Teriaknya berkali-kali meronta-ronta, sebelum pada akhirnya dapat dibawa pergi oleh dua orang pengawal.
Anak berpakaian lusuh itu hanya dapat menunduk, mengikuti wanita anggun yang menggunakan mahkota Phoenix ini.
“Sudah berapa lama tidak makan?” Pertanyaan darinya kepada sang pangeran.
“Hari ini hamba hanya memakan setengah potong roti kukus.” Kalimat yang diucapkan olehnya begitu jujur.
“Apa kamu membenci Kaisar?” Pertanyaan yang diucapkan oleh permaisuri, melirik ke arah anak kecil yang melangkah di sampingnya.
“Hanya saja, hamba ingin menarik sedikit saja perhatian ayahanda. Karena ayahanda hanya ingin bermain dan memikirkan kakak-kakak. Hamba hanya…” Anak itu tidak mengatakan apalagi.
Ini benar-benar membuat sang permaisuri memijit pelipisnya sendiri. Benar-benar Kaisar anjing, Bagaimana bisa pria itu dengan tidak tahu malunya melecehkan seorang dayang ketika mabuk. Segera setelahnya tidak memperhatikan dayang itu lagi, karena tidak memiliki status sosial yang cukup dan kekuatan politik.
Membiarkan ibu kandung anak ini, pada akhirnya mati karena perbuatan para selir lainnya. Tentu saja selir-selir berpangkat tinggi itu tidak ingin jumlah saingan wanita di istana harem bertambah.
Karena itu, saingan yang paling lemah adalah yang harus pertama disingkirkan. Ibu dari anak ini, kemungkinan besar diracuni ketika hendak melahirkan.
Sungguh malang sekali, sungguh naif sekali menginginkan cinta dari ayah kandungnya. Tak semakin kecewa seorang anak, maka akan semakin membenci Ayah kandungnya.
“Untuk selanjutnya kamu akan tinggal di istana Phoenix. Apa pangeran kelima bersedia?” Pertanyaan dari sang permaisuri. Pangeran kecil yang masih menggandeng jemari tangannya begitu erat.
“Apa di sana ada banyak makanan?” Tanya sang pangeran kecil menelan ludahnya.
“Ada banyak sekali makanan, ada banyak pakaian sutra, juga mungkin akan ada banyak mainan.” Jawaban dari permaisuri kepada anak ini.
Seorang anak yang mengangguk penuh kesungguhan. Hanya mendapatkan makanan saja sudah begitu senang. Tidak disangka anak ini begitu mudah untuk dibujuk.
“Yang mulia, pangeran yang ingin anda adopsi ini, tidak memiliki status yang kuat. Ibu kandungnya hanya seorang dayang, tidak akan ada keuntungan untuk memungutnya. Lebih baik pangeran ke—” kalimat yang diucapkan oleh sang dayang di sela.
“Entah kenapa, tiba-tiba saat dia dianiaya aku merasakan naluri seorang ibu. Bagaimana seorang ibu terdorong untuk menyelamatkan anaknya. Bagaimana seorang ibu yang akan—” kali ini kalimat majikannya yang disela.
“Yang mulia permaisuri tidak memiliki naluri seorang ibu.” Sang dayang berucap begitu jujur.
Tapi di luar dugaan, Lin Krisan menggendong pangeran kelima. Kemudian berucap kepadanya, mulai dari sekarang kamu adalah putra satu-satunya dari permaisuri. Pangeran kebanggaan keluarga Lin.”Sekarang kamu harus memanggilku ibu.”
“I…ibu…” anak itu pada akhirnya memberanikan diri berucap.
“Anak manis, anak pintar kesayangan ibu. Setelah ini ibu akan mengajarimu, bagaimana mekanisme, untuk mengendalikan para budak.” kalimat yang diucapkan oleh permaisuri, membuat anak itu mengangguk dengan cepat.
”Apa itu sebuah permainan?”
“Benar sekali! Itu adalah sebuah permainan. Di mana para pengkhianat harus dimusnahkan. Ibu akan mengajarimu banyak hal…anak kesayangan ibu…”
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣