NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : Puncak Musnahnya Kegelapan dan Janji di Karang Tumpuk

Celah Gerbang Lembah Barat dipenuhi uap dingin dari embun es prajurit pesisir yang bertabrakan dengan hawa panas sisa peledak meriam. Serpihan batu cadas dan pecahan tiang kayu panggung gajah bertebaran mengotori tanah basah. Pasukan Tengkorak Hitam yang tadinya garang kini kocar-kacir, terdesak oleh sabetan tombak es empat puluh prajurit zirah perak Kedatuan Pantai Selatan yang bergerak bagaikan gelombang pasang tak terbendung.

Di tengah puing-puing meriam perunggu yang hancur, Pangeran Jagad Karang merangkak bangun. Wajahnya yang tak lagi tertutup topeng besi memperlihatkan guratan-guratan hitam mengerikan akibat resapan racun Pelebur Otot yang memakan tubuhnya sendiri. Matanya yang merah menyala menatap Marno dan Sari dengan kebencian mendalam.

"Kalian... orang-orang desa tidak berguna!" raung Jagad Karang, suaranya serak melengking bagaikan gesekan batu tajam. "Jika aku tidak bisa mendapatkan Kunci Pusaka Ranubaya, maka tak seorang pun dari kalian boleh keluar dari lembah ini hidup-hidup!"

Dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, Jagad Karang menghantamkan kedua telapak tangannya ke tanah basah. BAM!

Sebuah ajian terlarang—Mantra Bumi Melingkar—dilepaskan dari dalam nadinya! Retakan-retakan merah membara menjalar cepat di permukaan tanah, mengarah lurus menuju tebing cadas raksasa yang menggantung tepat di atas barisan pertempuran. Batu-batu raksasa di puncak tebing berderak keras, bersiap runtuh untuk menimbun seluruh Gerbang Lembah Barat dalam satu hempasan dahsyat!

"Dia mau meruntuhkan seluruh tebing!" teriak Sari, merasakan getaran hebat di bawah pijakan kakinya.

Si Mbah yang bertengger di atas bahu Marno melengkingkan jeritan nyaring, “Uuk! Uuk-uuk!”, menunjuk ke arah celah batu tempat Jagad Karang mengalirkan hawa ghaibnya.

"Sari! Siramkan seluruh sisa penawar murni ke pusat retakan tanah itu!" seru Marno.

Pande besi itu tidak menyiakan waktu satu detik pun. Dengan sisa kekuatan fisiknya, Marno melompat maju mendahului jangkauan runtuhan batu, mengangkat martil raksasanya tinggi-tinggi di atas kepala. Hawa panas dari jiwa keteguhan seorang penempa besi membara melapisi seluruh permukaan martil besinya.

"HURAAAAGH!"

Marno menghantamkan martil besinya tepat ke titik pusat retakan merah di tanah, menahan laju getaran ghaib itu dengan benturan fisik yang dahsyat!

BOMMM!

Di saat yang sama, Sari berlari kencang dari sisi kiri, mencabut bumbung bambu terakhir berisi tumbukan Bunga Kemuning Putih dan air garam murni. Tanpa ragu, Sari menyiramkan seluruh cairan penawar murni itu ke atas telapak tangan Jagad Karang yang menempel di tanah!

PSSSSSSST!

Semburan uap putih beraroma wangi harum merekah seketika! Cairan penawar kemuning yang menyentuh racun Pelebur Otot pada tubuh Jagad Karang membuat ajian buminya padam total! Retakan merah di tanah membeku menjadi batu mati, dan guncangan pada tebing cadas berhenti seketika sebelum batu-batu raksasa sempat jatuh.

Jagad Karang menjerit histeris ketika racun di dalam nadinya berbalik memakan organ dalamnya sendiri akibat reaksinya dengan air penawar murni. "TIDAK! AJIAN BUMIKU—"

Sebelum pemimpin sekte barat itu sempat bergerak, Pangeran Arya Braja meluncur kilat melintasi udara. Dengan satu kibasan anggun pedang naga lautnya, pendar cahaya es biru memotong belenggu energi ghaib Jagad Karang. Pemimpin Pasukan Tengkorak Hitam itu roboh tersungkur di atas tanah, tak berkutik lagi ketika prajurit zirah perak langsung mengikat tubuhnya menggunakan rantai es yang tak bisa dilelehkan.

Sisa-sisa Pasukan Tengkorak Hitam yang melihat pemimpin mereka telah berhasil dilumpuhkan dan meriam utama mereka hancur, langsung melempar senjata-senjata mereka ke tanah. Mereka melari diri kocar-kacir menembus hutan rimba barat, meninggalkan perbatasan Karang Tumpuk untuk selamanya.

Sorak-sorai kemenangan bergaung membahana di sepanjang celah Gerbang Lembah Barat.

Pangeran Arya Braja menyarungkan kembali pedang naga lautnya, lalu melangkah mendekati Marno dan Sari. Pangeran pesisir itu menepuk pundak kekar Marno dengan penuh rasa hormat.

"Keberanian dan keteguhanmu luar biasa, Marno," kata Pangeran Arya Braja dengan senyuman hangat. "Tanpa martil dan ketepatan tindakan kalian berdua, tebing ini pasti sudah meratakan pasukan kita semua."

Sari menyapu keringat di dahinya, tersenyum lega sambil memeluk ransel terpalnya. "Semua ini berkat kerja sama kita semua, Pangeran. Karang Tumpuk kini benar-benar aman."

Pangeran Arya Braja merogoh saku jubahnya, mengambil lempengan perak Kunci Pusaka Ranubaya yang telah diserahkan Sari sebelumnya. Lempengan itu kini memancarkan pendar biru tenang setelah racun di sekitarnya musnah.

"Sesuai janji kita," kata Pangeran Arya Braja. "Kunci pusaka ini akan kubawa ke dasar Istana Bawah Laut untuk dikunci di dalam peti es abadi, agar tidak ada lagi sekte ilmu hitam yang bisa memanfaatkannya untuk merusak kedamaian daratan."

Pangeran Arya Braja kemudian menatap Kitab Usada Tengger yang menyembul dari ransel Sari. "Kitab itu adalah milikmu, Sari. Gunakan resep-resep penawar di dalamnya untuk mengobati wargamu dan menjadi penyembuh bagi siapa saja yang membutuhkan di Pegunungan Tengger."

Sari mengangguk mantap, memegang kitab tua warisan keluarga dan penyesalan bibinya itu dengan penuh rasa tanggung jawab. "Sari janji, kitab ini tidak akan pernah lagi digunakan untuk meracuni atau menyakiti sesama."

Sore harinya, ketika matahari mulai meluncur ke balik perbukitan hijau, Pangeran Arya Braja dan pasukan zirah peraknya berpamitan di tepi Danau Bening. Kuda-kuda air mereka melangkah perlahan memasuki kedalaman air danau yang jernih, membawa Pangeran Jagad Karang yang terikat rantai es untuk diadili di Kedatuan Pantai Selatan.

Sari, Marno, dan Si Mbah berdiri di tepi danau, melambaikan tangan hingga pendar biru prajurit pesisir itu hilang sepenuhnya di bawah permukaan air yang tenang.

Warga Desa Karang Tumpuk yang dipimpin oleh Pak Karto RT dan Mbok Sumi menyambut kepulangan ketiga pahlawan desa mereka dengan suka cita yang luar biasa. Di balai desa, obor-obor minyak kelapa dinyalakan terang benderang. Makanan-makanan hangat dihidangkan, dan aroma soto buatan Sari yang gurih dan wangi rempah kembali memenuhi udara malam desa yang damai.

Marno duduk di teras rumah panggung Sari, memangku martil besinya yang kini telah dibersihkan hingga mengkilap. Di sampingnya, Si Mbah sibuk mengunyah buah katuk segar pemberian Mbok Sumi dengan wajah gembira.

Sari melangkah keluar dari dapur membawa dua mangkuk soto hangat, meletakkannya di atas meja kayu.

"Kang Marno," buka Sari lembut sambil menatap pemandangan Desa Karang Tumpuk yang terang oleh lampu-lampu minyak. "Terima kasih sudah menemani Sari melintasi Lembah Tengkorak, Sendang Biru, sampai ke gerbang barat."

Marno menatap Sari, lalu mengukir senyum tipis di balik mukanya yang garang. Tangan kanannya yang dulu kaku kini dapat memegang sendok soto dengan stabil dan kuat.

"Aku yang harus terima kasih, Sari," jawab Marno dengan suara berat yang hangat. "Kau sudah membebaskan aku dari bayang-bayang dendam dan racun masa lalu. Mulai besok, aku akan membuka kembali bengkel penempa besiku di hilir desa—bukan untuk membuat senjata perang, tapi untuk membuat cangkul dan alat tani warga."

Sari tertawa pelan, matanya berbinar menatap langit malam yang ditaburi ribuan bintang terang. Tidak ada lagi asap belerang, tidak ada lagi ketakutan akan racun maut, dan tidak ada lagi duka dari masa lalu Nyai Seruni.

Di tanah Karang Tumpuk yang subur, sebuah kehidupan baru yang damai dan penuh harapan telah resmi dimulai.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!