"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Langit sore berona kemerahan menyinari reruntuhan beton dan struktur besi berkarat di area pembangunan gedung terbengkalai—sebuah lokasi yang kini difungsikan sebagai markas besar Geng GBA.
Suasana di tempat itu terasa lengang, namun sarat akan ketegangan yang memuncak.
Puluhan anggota geng berdiri berbaris kaku. Sebagian besar dari mereka memperlihatkan wajah lebam kebiruan, hidung retak berdarah, bahkan ada beberapa yang bibirnya masih meneteskan darah segar.
Di hadapan barisan itu, tepat di atas bongkahan balok beton yang runtuh, duduk sosok yang paling ditakuti: Angga, Sang Ketua Utama Geng GBA.
Ia menatap anak buahnya dengan sorot mata dingin, tajam bagaikan bilah pisau yang menusuk satu per satu wajah bawahannya.
"Jadi... kalian mencegat si anak bajingan bernama Repan itu, melakukan pertarungan, dan... berakhir tumbang dibantai?!" Suara Angga terdengar pelan, namun mengandung tekanan intimidasi yang luar biasa mengerikan.
Bastian, salah satu petinggi lapangan geng tersebut, melangkah maju satu langkah dengan keraguan mendalam.
"Kami bukannya kalah, Bos... Tapi waktu itu sirine mobil polisi mendadak terdengar. Kami... kami terpaksa mundur buat menyelamatkan diri."
Angga menyipitkan matanya. "Lo pikir gue buta, hah?!" bentaknya tiba-tiba.
Suara teriakan itu menggema nyaring di antara pilar-pilar beton yang terbengkalai.
"Lihat muka kalian semua! Lebih mirip pecundang yang habis dikeroyok rombongan tukang sayur! Lo mau mencoba membodohi gue, Bastian?!"
Bastian seketika menundukkan kepalanya, otot rahangnya menegang kaku.
"Kemarin si Roni, sekarang giliran lo. Kalian berdua sama-sama sampah nggak berguna!" amuk Angga.
"Kalian membanggakan diri sebagai petinggi Geng GBA?! Tapi menghadapi satu anak SMA saja kalian sampai babak belur melintir begitu?! Hah?!"
"Bos... dia itu bukan target yang gampang," gumam Bastian pelan, berusaha meredakan kobaran amarah pimpinannya.
"Repan mampu bertarung lincah walau dikeroyok tiga puluh orang sekaligus. Dan anehnya, dia cuma menderita luka ringan. Gue rasa... dia beneran terlatih bela diri tingkat tinggi."
Angga mendadak terdiam. Ia berdiri dari tempat duduknya, melangkah pelan mendekati posisi Bastian berdiri, lalu mendadak mencengkeram rahang bawahannya itu dengan amat keras.
"Jadi... sekarang lo mau memuji-muji dia hebat, begitu? Lo mau menutupi kekalahan konyol lo dengan sanjungan buat musuh?!"
"B-bukan begitu maksud saya, Bos..."
PLAAAKKK!
Sebuah tamparan keras menghantam pipi Bastian. Tubuhnya terhuyung hebat lalu tersungkur ke tanah.
Angga berdiri tegap, memandangi seluruh bawahannya dengan raut jengkel yang memuncak.
"Kalian kalah... dan sekarang malah melemparkan alasan kalau musuh kalian terlalu kuat? Nggak. Masalah utamanya bukan karena dia yang kelewat kuat. Tapi karena kalian semua yang TERLALU LEMAH!"
Tak ada satu pun anggota yang berani mengangkat kepala. Semuanya menunduk pasrah, raut wajah mereka dibalut rasa ketakutan yang nyata.
"Berbulan-bulan gue melatih kalian, menyusun strategi jalanan, membagi wilayah kekuasaan, menyuplai senjata dan uang... tapi apa balasan kalian?! TUMBANG OLEH SATU ORANG?!"
Angga menghembuskan napas panjang, lalu kembali mendudukkan dirinya di atas beton tua yang hancur.
"Kicon! Mana video viral yang ramai dibahas itu?! Gue mau lihat seberapa bodohnya aksi kalian!"
Petinggi geng lainnya, Kicon, bergegas maju dan menyodorkan layar ponselnya.
"Ini, Bos. Videonya sudah tersebar luas di Tube dan Tok. Aksi Repan yang membantai anak-anak kita satu per satu sudah ditonton ratusan ribu kali. Dan netizen di kolom komentar ramai-ramai mengutuk geng kita..."
Angga menatap layar ponsel itu dengan mata menajam.
Di dalam rekaman video, terlihat jelas tiga puluh orang mengeroyok satu remaja, namun remaja itu dengan tenangnya menghindar, menangkis, dan melancarkan serangan balasan mematikan secara sistematis.
Gerakannya sangat cepat dan presisi. Hanya dalam kurun beberapa menit, separuh dari personel GBA sudah terkapar tak berdaya di tanah.
"Sialan... sialan... SIALAN!!" bentak Angga kalap. Ia melempar ponsel milik Kicon hingga hancur berkeping-keping menghantam dinding beton.
BRAAAKKK!
"Nama baik dan reputasi geng kita hancur lebur! Sekarang anak-anak sekolah bahkan terang-terangan mengejek nama Geng GBA di media sosial! Apa kalian bangga sudah mempermalukan nama besar geng ini?!"
"Mohon maafkan kami, Bos!" teriak hampir seluruh anggota geng serempak, vokal mereka bergetar ketakutan.
"Gue nggak butuh kata maaf dari kalian!" Tatapan Angga kembali menyala-nyala penuh dendam. "Yang gue inginkan cuma satu: KEHANCURAN REPAN!"
Angga kembali bangkit berdiri, vokalnya bergaung menggelegar.
"Besok! Kita buru anak itu! Kita kerahkan seluruh personel! Semua petarung terbaik geng ini bakal turun ke jalan! Kalian dengar?! Kita hancurkan dia di depan publik! Kita tunjukkan siapa penguasa sebenarnya di kota ini!"
"Siap, Bos!"
"Laksanakan, Bos!"
"Bantai Repan!"
Teriakan membahana bergemuruh mengguncang bangunan tua terbengkalai itu. Puluhan hingga ratusan personel Geng GBA mengacungkan kepalan tangan mereka ke udara.
Sorakan dendam dan harga diri bercampur menjadi satu. Perang terbuka melawan Repan telah resmi ditabuh. Dan kota ini... belum menyadari badai besar seperti apa yang akan segera menerjang.
Pagi harinya suasana terasa begitu cerah.
Sinar matahari hangat mulai merambat melintasi jajaran gedung tinggi. Angin sejuk bertiup membawa aroma embun yang masih membasahi dedaunan.
Di dalam sebuah rumah mewah berlantai dua, Repan berdiri di depan cermin besar, merapikan seragam SMA yang dikenakannya.
Hari Senin—waktunya kembali berkutat dengan aktivitas sekolah.
Ia melangkah keluar dari kamarnya dengan santai menuju ke area ruang makan.
Di sana, adik perempuannya—Arinda, seorang gadis berparas cantik dengan ukiran senyum yang ceria—sudah duduk rapi menanti dengan tas sekolah yang terpasang di punggungnya.
Di atas meja, sarapan berupa roti bakar dan segelas susu hangat sudah tersaji rapi.
"Arinda," sapa Repan seraya menarik kursi untuk duduk, "hari ini kamu berangkat sekolah diantar Yona ya. Nanti pas pulang juga minta jemput lagi. Jangan pergi sendirian."
Arinda menoleh seraya menyunggingkan senyuman manis.
"Iya, Kak Repan. Arinda ingat kok." Nada suaranya terdengar lembut dan penuh kehangatan. Ia merasa sangat beruntung memiliki sosok kakak yang begitu perhatian padanya.
Repan menyantap selembar roti bakar buatan adiknya, lalu bangkit berdiri berniat untuk segera berangkat.
Namun baru melangkah beberapa inci, Arinda mendadak berdiri dan menghadang jalan kakaknya dengan raut wajah canggung.
"Eh? Ada apa lagi, Arinda?" tanya Repan heran.
Arinda menyengir jahil.
"Hehe... anu, Kak. Arinda mau minta uang saku dong. Hari ini Arinda lagi nggak pegang uang tunai sama sekali." Sepasang matanya mengedip-kedip manja, menggunakan jurus andalannya.
Repan menghembuskan napas pendek, lalu merogoh ponsel dari saku celananya. Setelah melakukan beberapa ketukan cepat di layar...
[Transfer Berhasil]
"Udah Kakak transfer. Pakai jajan sepuas kamu. Nggak usah khawatir kalau uangnya habis, nanti tinggal Kakak transfer lagi," ucap Repan ringan seraya mengacak-acak rambut Arinda dengan gemas sebelum melangkah pergi.
"Terima kasih banyak, Kak Repan! I love you, Kak!" teriak Arinda girang dari belakang sambil melambaikan tangannya bahagia.
Namun, di tengah jalannya menuju pintu keluar, langkah Repan mendadak melambat. Keningnya berkerut heran.
'Aneh... kenapa gue nggak mendapatkan poin apa pun dari sistem? Padahal gue baru aja mentransfer nominal dana yang cukup fantastis buat Arinda,' batinnya bingung.
Seketika itu juga, gema suara datar dari sistem berdengung di dalam pikirannya:
[Anda hanya akan mendapatkan poin jika Anda membelanjakan uang tersebut secara langsung untuk transaksi barang/jasa, bukan memberikannya sebagai hadiah atau hibah.]
Repan menganggukkan kepalanya pelan, mulai memahami mekanismenya.
'Oh, jadi harus bertransaksi pembelian langsung ya? Hmm... gue harus cari cara buat membelanjakan dana raksasa ini demi mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya,' pikirnya seraya terus mengayunkan kaki.
Sementara itu di dalam ruang makan, Arinda menatap layar ponselnya dengan sepasang mata yang nyaris melompat keluar dari kelopaknya.
"APA-APAAN INI?! SATU MILIAR RUPIAH?!" jerit Arinda tertahan.
Tangannya gemetaran hebat, bahkan ponselnya sampai merosot jatuh ke atas lantai keramik karena syok yang teramat sangat.
"Kak Repan... apa-apaan ini?! Ini... ini beneran angka nyata?!" bisiknya dengan napas memburu. Perasaan antara luar biasa bahagia dan kebingungan bercampur aduk hebat di dalam dadanya.
Waktu menunjukkan pukul 06.10 WIB. Suasana jalanan menuju sekolah masih tampak lengang.
Repan memilih untuk berjalan kaki santai menuju ke SMA 09 Cimanggu, mengingat jarak dari rumahnya memang terbilang cukup dekat.
Langkahnya mengalir santai, walau pikirannya sibuk memutar otak mencari cara paling efektif untuk "membelanjakan" kekayaannya.
Pandangan matanya mendadak tertuju pada sebuah bangunan restoran berkonsep mewah yang terletak persis di seberang gerbang sekolahnya.
Di pagi hari seperti ini, bangunan itu memang tampak sepi. Namun Repan tahu betul, ketika jam makan siang tiba, restoran tersebut selalu dipadati oleh para siswa, guru, hingga karyawan kantoran di sekitar area Cimanggu.
Namun ada satu hal mencolok yang menarik perhatiannya: sebuah papan pengumuman berukuran besar bertuliskan "DIJUAL" terpasang megah di bagian depan pagar.
"Restoran sekeren itu mau dijual? Yang benar saja?" gumam Repan seraya menaikkan sebelah alisnya.
Rasa penasaran membawa langkah kakinya menyeberangi jalan raya, menghampiri seorang petugas satpam paruh baya yang sedang bersiap di depan pintu pagar.
"Pak, apa restoran ini benar-benar mau dijual?"
Petugas satpam itu menoleh, langsung mengenali seragam SMA yang dikenakan Repan.
"Benar, Adek. Pemilik resminya memang berniat melepas aset ini secepatnya. Sudah banyak pengusaha yang datang menawar, tapi harganya yang terlampau tinggi bikin mereka mundur teratur."
Repan mengangguk paham, matanya sibuk mengamati arsitektur bangunan mewah itu dengan pertimbangan matang.
"Saya berminat buat membeli restoran ini," tutur Repan datar, namun terdengar sangat mantap.
Satpam itu memandangi Repan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Seragam SMA biasa, sepatu standar, sama sekali tak menyisakan aura anak konglomerat.
"Adek bercanda, ya? Ini aset restoran besar, harganya menyentuh angka miliaran rupiah. Adek penampilan biasa begini mana mungkin sanggup."
Repan menyunggingkan senyuman tipis.
"Jangan menilai buku cuma dari sampul luarnya, Pak. Tolong hubungkan saya langsung dengan pemilik resminya. Saya mau bicara bisnis secara langsung."
Satpam itu sempat ragu, namun melihat raut tenang Repan yang penuh keyakinan, ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Ikut Bapak ke dalam."
Repan mengekor di belakang pria tua itu memasuki area dalam restoran. Sepasang matanya menyapu seluruh interior mewah yang masih tertata sangat rapi.
Furnitur berkualitas tinggi, konsep open kitchen, serta peralatan memasak kelas atas—semuanya siap pakai tanpa perlu banyak pembenahan.
'Ini dia... tempat yang paling sempurna! Gue bisa membelanjakan modal raksasa di sini. Pembelian aset, pasokan bahan baku, sampai sistem renovasi. Sistem, bersiap-siaplah buat menyiram gue dengan poin melimpah!' batin Repan diiringi ulasan senyuman puas di bibirnya.
Hari baru telah dimulai, dan sebuah gagasan bisnis raksasa baru saja lahir di kepalanya. Semua itu bermula... dari sebuah restoran mewah di seberang sekolahnya.