NovelToon NovelToon
Sistem Pager Iblis

Sistem Pager Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Sugesti

Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Kebohongan demi Keamanan

Fajar menyingsing di atas langit Desa Sungai Hitam dengan warna kelabu keputihan yang dingin.

Embun pagi tebal masih menutupi atap-atap seng rumah warga, menetes pelan ke atas tanah basah. Suasana desa terasa sangat sepi, seolah-olah warga sengaja enggan keluar rumah lebih awal setelah rentetan peristiwa aneh yang menimpa geng penagih utang Zhao Qiang dan dua praktisi asing semalam.

Lin Fan sudah terjaga sejak pukul lima pagi.

Di dalam kamarnya yang remang, ia sibuk merapikan perlengkapan yang akan dibawanya ke Lembah Hitam nanti malam. Sebilah pisau belati tua, senter LED berdaya tinggi dengan baterai cadangan, botol air minum, serta tiga lembar jimat penolak ghaib buatan tangan yang ia lipat rapi di dalam saku jaket tebalnya.

Sfx: Tok! Tok! Tok!

Ketukan pelan di pintu kamar membuat tangan Lin Fan berhenti bergerak. Dengan cepat, ia mendorong tas ransel hitamnya ke bawah kolong tempat tidur dan menutup laci meja tempat lontar tua berada.

"Lin Fan? Kamu sudah bangun, Nak?" suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu.

Lin Fan melangkah mendekat dan membuka pintu kamar. Ibunya berdiri di sana sambil memegang nampan kayu berisi secangkir teh jahe hangat dan dua keping kue beras kukus. Wajah ibunya masih tampak pucat, namun binar matanya terlihat sedikit lebih segar dibandingkan semalam.

"Ibu... kenapa repot-repot membawakan sarapan ke kamar?" panggil Lin Fan cepat, segera mengambil alih nampan kayu dari tangan ibunya dan meletakkannya di atas meja.

Ibunya tersenyum tipis, lalu duduk di tepi tempat tidur Lin Fan.

"Ibu cuma ingin melihat keadaanmu. Semalam kamu bilang mau ke kota beli obat dan mengurus surat-surat rumah... kamu benar-benar berangkat pagi ini?" tanya ibunya penuh rasa cemas yang tak tersembunyi.

Lin Fan menatap ibunya dengan perasaan yang bergejolak hebat.

Kebohongan ini terasa seperti pisau bermata dua di dadanya. Ia tidak pergi ke kota untuk sekadar membeli obat atau menemui pengacara; ia akan menerjang makam kuno paling angker di ujung utara desa demi membongkar kuburan kakek buyutnya sendiri.

Namun, menceritakan kebenaran tentang [Sistem Pagar Iblis], ritual darah, dan batas waktu 13 hari menuju Gerhana Bulan Merah hanya akan membunuh ibunya secara perlahan lewat rasa takut yang luar biasa.

"Iya, Bu. Aku harus berangkat pagi ini ke kota," alibi Lin Fan mantap, memalsukan senyuman paling tulus yang bisa ia tunjukkan.

"Paman Zhang di toko obat herbal kota punya resep khusus untuk memulihkan vitalitas. Aku juga sekalian mau mengurus pembayaran sisa utang dan legalitas tanah kita di kantor dinas, supaya Tuan Tanah Li atau investor manapun tidak bisa mengganggu kita lagi."

Ibunya menggenggam tangan kanan Lin Fan erat-erat. Ibu jarinya mengelus punggung tangan Lin Fan yang kasar.

"Hati-hati di jalan, Nak. Jangan mudah tergiur tawaran orang asing di kota. Ibu dan Lin Mei cuma punya kamu sekarang," bisik ibunya penuh kasih.

"Aku janji, Bu. Sebelum malam larut, aku pasti sudah kembali ke rumah," jawab Lin Fan penuh kebohongan demi keamanan mental ibunya.

[Mata Iblis: Menganalisis Kondisi Jiwa Target]

[Nama: Zhang Li]

[Tingkat Ketenangan Jiwa: Meningkat (+8%)]

[Status: Mempercayai Kebohongan Lin Fan / Tekanan Mental Berkurang Sementara]

Melihat layar transparan sistem yang menunjukkan penurunan beban psikologis ibunya, rasa bersalah di dalam dada Lin Fan sedikit terobati. Kebohongan ini adalah benteng pertahanan pertama untuk melindungi kedamaian kecil di dalam rumah mereka.

Pukul delapan pagi, Lin Fan berjalan meninggalkan rumahnya menuju perbatasan timur desa.

Sesuai janji yang mereka buat semalam, Chen Meng sudah menunggunya di balik rindangnya pohon beringin tua dekat warung kelontong yang masih tutup. Gadis itu mengenakan jaket *windbreaker* berwarna hijau zaitun, celana gunung yang tangguh, serta ransel kecil di punggungnya.

Sfx: Krasak... Krasak...

"Lin Fan!" panggil Chen Meng setengah berbisik begitu melihat sosok pemuda itu mendekat.

Lin Fan menghampirinya sambil memperhatikan pakaian Chen Meng dari atas ke bawah dengan dahi berkerut.

"Chen Meng... kenapa kamu berpakaian seperti mau mendaki gunung? Bukankah aku sudah bilang kamu cukup memberiku pataan peta itu saja?" tanya Lin Fan heran.

Chen Meng merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah peta lembaran kertas tua berukuran cukup besar yang sudah dilaminasi rapi.

"Peta jalan ke Lembah Hitam ini digambar oleh kakekku puluhan tahun lalu," jelas Chen Meng seraya membuka lipatan peta tersebut di atas batu datar.

"Lembah Hitam bukan sekadar pemakaman biasa, Fan. Di sana banyak rawa lumpur hisap, tanaman beracun, dan lorong-lorong batu jebakan yang dibangun oleh warga desa zaman dulu untuk mencegah penjarah makam."

Chen Meng menunjuk beberapa titik bertanda silang merah di peta kertas tersebut.

"Kalau kamu jalan sendirian tanpa pemandu yang tahu membaca tanda-tanda alam di tanah utara, kamu bisa terjebak di dalam rawa beracun sebelum sampai ke kompleks Makam Kuno!" tegas Chen Meng sambil menatap mata Lin Fan tanpa rasa takut.

Lin Fan memandangi peta tersebut, lalu beralih menatap raut wajah Chen Meng yang sangat serius.

"Lembah Hitam itu sangat berbahaya, Chen Meng. Ada entitas ghaib dan penjaga makam yang belum tentu bisa kukendalikan dengan sempurna. Aku tidak ingin kamu terluka," kata Lin Fan jujur.

Chen Meng tersenyum tipis, membetulkan tali ransel di bahunya.

"Kamu sudah menyelamatkanku dari teror penagih utang dan membantu desaku, Fan. Aku tidak akan biarkan kamu menanggung risiko ini sendirian di tempat semencekam itu," balas Chen Meng mantap.

"Lagipula... kakekku dulu adalah salah satu penjaga batas Lembah Hitam. Aku tahu jalur rahasia melewati benteng kabut racun tanpa harus menyentuh rawa hisap."

Lin Fan menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa keras kepalanya Chen Meng setara dengan tekad mulia yang dimilikinya. Memiliki pemandu yang memahami seluk-beluk topografi fisik Lembah Hitam akan menghemat waktu berharga yang diberikan oleh sistem.

"Baiklah. Tapi kamu harus berada di belakangku setiap saat. Kalau aku bilang lari, kamu harus langsung lari tanpa bertanya!" tegas Lin Fan memberikan syarat mutlak.

"Deal!" jawab Chen Meng cepat.

Mereka berdua mulai melangkah meninggalkan batas pemukiman desa, menyusuri jalan setapak berbatu yang menanjak menuju perbukitan utara.

Makin jauh mereka melangkah, vegetasi pohon di sekitar jalanan berubah drastis. Pohon-pohon pinus yang biasanya rindang berganti menjadi pohon-pohon mati berbatang hitam tanpa daun yang berdiri kaku bagaikan tiang-tiang eksekusi.

Kabut tipis berwarna putih keabu-abuan mulai merayap dari balik bukit, membawa hawa dingin yang lembap dan bau tanah basah yang menyengat.

Sfx: Bzzzzzt!

Layar transparan dari [Sistem Pagar Iblis] mendadak muncul mengapung di depan pandangan mata Lin Fan, memancarkan warna kuning peringatan.

[Peringatan: Anda Mulai Memasuki Area Luar Lembah Hitam]

[Tingkat Konsentrasi Kabut Racun Ghaib: 12%]

[Jarak Menuju Kompleks Makam Kuno: 1.8 Kilometer]

[Batas Waktu Pengumpulan 'Batu Inti Delapan Arah': 64 Jam 12 Menit]

Lin Fan menghentikan langkahnya sejenak, mengamati perubahan lingkungan sekitar menggunakan *Mata Iblis*.

Di dalam kabut putih yang tampak biasa bagi mata telanjang Chen Meng, Lin Fan bisa melihat pusaran energi berwarna ungu kehitaman yang melayang-layang rendah di atas permukaan tanah. Itu adalah sisa-sisa hawa kematian dan kutukan dari ratusan jenazah yang dikuburkan di Lembah Hitam sejak abad lalu.

"Chen Meng, pakai masker ini sekarang," kata Lin Fan seraya merogoh kantong ranselnya dan menyerahkan sebuah masker filtrasi tebal yang ia beli sebelumnya.

Chen Meng menerima masker tersebut dan langsung memakainya tanpa protes. Ia merapatkan jaketnya saat hawa dingin mulai menusuk permukaan kulitnya.

"Kabutnya makin tebal, Lin Fan... Suasananya benar-benar berbeda dari hutan biasa," bisik Chen Meng dengan suara teredam masker.

"Jangan menyentuh pepohonan hitam di tepi jalan," pesan Lin Fan memperingatkan. "Garis energi di sekitarnya sangat tidak stabil."

Mereka melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya benteng kabut racun. Jalur tanah yang mereka lalui makin mempit dan curam, diapit oleh tebing batu cadas di sisi kanan dan jurang rawa yang tertutup kabut tebal di sisi kiri.

Sfx: Ghhhhh...

Tiba-tiba, suara erangan pelan yang bergema bagaikan gema dari dalam sumur tua terdengar memecah keheningan lereng bukit.

Chen Meng tersentak kaget dan refleks meraih ujung jaket Lin Fan dari belakang.

"Suara apa itu, Fan?" bisik Chen Meng gemetar.

Lin Fan menghentikan langkahnya, tangannya mencengkeram gagang pisau belati di dalam saku jaketnya.

Mata Iblis milik Lin Fan langsung berkedip liar, memancarkan garis-garis merah yang membelah kabut tebal di depan mereka sepuluh meter di atas bukit.

[Mendeteksi Aktivitas Entitas Penjaga Luar]

[Nama: Anjing Bangkai Lembah (Roh Binatang Penjaga Makam)]

[Jumlah: 3 Ekor]

[Tingkat Bahaya: Rendah - Sedang]

[Tujuan: Memburu Penyusup Yang Memasuki Gerbang Utama Lembah Hitam]

Di balik kabut tipis, tiga pasang mata berwarna hijau menyala mendadak muncul melayang di udara.

Bentuk fisik mereka perlahan terlihat—tiga ekor serigala berukuran raksasa dengan kulit mengelupas tanpa bulu, memperlihatkan susunan tulang iga yang membara oleh api ghaib kebiruan!

Sfx: GRRRRRRRR!

Ketiga binatang ghaib penjaga makam itu menggerung tajam, menancapkan kuku-kuku hitam mereka ke atas batu cadas, siap melompat menerkam Lin Fan dan Chen Meng yang berdiri di jalur sempit tersebut!

Lin Fan menyunggingkan senyuman dingin. Ia mengambil satu langkah maju ke depan, melindungi tubuh Chen Meng sepenuhnya di belakang punggungnya.

Tanda luka bakar lingkaran keemasan di telapak tangan kanan Lin Fan menyala membara, menembus kabut tebal Lembah Hitam.

"Perjalanan baru saja dimulai... dan kalian sudah sabar ingin menjadi tumbal pertama?" gumam Lin Fan dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!