Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Dari Balik Jeruji
Kehangatan dari ruang rahasia di lantai 45 masih membekas manis di dada Aisha. Kalung berlian bermotif bunga matahari milik almarhum ibunya kini melingkar indah di lehernya, sebuah simbol bahwa masa lalu yang kelam perlahan mulai tergantikan oleh kepastian.
Tiga hari berlalu sejak kunjungan Aisha ke kantor Alister Group. Kehidupan di mansion berjalan dengan jauh lebih tenang. Devan mulai lebih sering pulang tepat waktu, sementara Aisha mengisi hari-harinya dengan mengurus rumah dan sesekali mempelajari berkas-berkas mengenai yayasan seni yang ingin dia dirikan menggunakan sebagian aset peninggalan orang tuanya.
Namun, ketenangan itu sedikit terusik pada suatu Kamis pagi.
Gerimis tipis mengguyur halaman mansion saat Asisten Arya datang membawa map cokelat berlogo resmi Kepolisian Kota. Devan, yang baru saja hendak berangkat kantor, menahan langkahnya di ruang tamu bersama Aisha.
"Tuan Devan, Nona Aisha," panggil Arya dengan nada sopan namun serius.
"Ini surat pemberitahuan dari kejaksaan mengenai berkas perkara Hendra dan Clara. Proses penyidikan awal sudah selesai dan pelimpahan ke pengadilan akan dilakukan minggu depan."
Devan menerima map itu, melirik dengan pandangan datar.
"Ada kendala?"
"Secara hukum, tidak ada, Tuan. Semua bukti kejahatan finansial, pengancaman, hingga sabotase kecelakaan dua puluh tahun lalu sudah mengancam posisi Hendra tanpa celah," jawab Arya. Pria itu lalu melirik Aisha sejenak sebelum menambahkan,
"Namun, Hendra mengajukan satu permohonan tertulis dari dalam sel."
Aisha menaikkan alisnya, menatap Arya bingung.
"Permohonan apa, Pak Arya?"
"Dia memohon untuk bertemu dengan Anda satu kali saja sebelum persidangan dimulai, Nona. Dia bilang ada satu barang peninggalan almarhum Ibu Anda yang tidak sempat disita polisi dan ingin diserahkannya secara langsung."
Atmosfer di ruang tamu seketika meredup. Raut wajah Devan yang tadinya tenang mendadak mengeras.
"Tolak," potong Devan tanpa keraguan sedikit pun, suaranya dingin dan tegas.
"Aku tidak akan membiarkan Aisha menemui orang itu lagi. Dia hanya sedang mencoba memanipulasi situasi."
Aisha menyentuh lengan kemeja Devan, meremasnya lembut untuk meredam aura dingin sang suami.
"Devan, tunggu sebentar..."
"Aisha, dia penjahat yang memanfaatkanmu selama dua puluh tahun," tegur Devan, menatap mata istrinya.
"Aku tidak mau kamu terluka lagi hanya karena celotehan kosongnya di kantor polisi."
"Aku tahu, Devan," sahut Aisha pelan namun mantap.
"Aku tahu betul siapa Hendra. Tapi jika memang ada barang peninggalan Ibuku yang tersisa darinya, aku ingin mengambilnya. Aku ingin menutup luka lama ini sepenuhnya dengan tanganku sendiri."
Devan menatap Aisha intens. Dulu, Aisha yang dikenalnya adalah gadis lemah yang selalu menunduk saat ditindas. Namun kini, di depan matanya, berdiri seorang wanita yang mulai berani berdiri tegak menghadapi bayang-bayang masa lalunya. Ada rasa bangga yang menyelinap halus di dada Devan, meski rasa cemasnya tetap mendominasi.
Devan menghela napas panjang, mengalah pada tatapan penuh permohonan istrinya.
"Baik. Tapi aku yang akan menemanimu masuk ke dalam ruang kunjungan. Tidak ada bantahan untuk hal ini."
Aisha tersenyum tulus, mengangguk cepat.
"Terima kasih, Devan."
Siang harinya, mobil yang dikendarai Devan membelah hujan yang makin deras menuju Rutan Kota. Ruang kunjungan khusus di rutan itu dingin dan sepi, hanya dipisahkan oleh kaca tebal dan sebuah telepon interkom.
Saat pintu besi dibuka oleh petugas, sosok Hendra melangkah masuk dengan tangan terborgol.
Aisha hampir tidak mengenali pria paruh baya di depannya. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan atau kemeja mahal yang biasa dikenakannya. Hendra tampak jauh lebih tua, rambutnya memutih tak terawat, dan matanya cekung menyiratkan keputusasaan.
Hendra duduk di kursi kayu di balik kaca. Saat matanya menangkap keberadaan Aisha, dan Devan yang berdiri tegap di belakang kursi Aisha dengan tatapan mengintimidasi, tangannya yang terikat bergetar pelan.
Aisha mengangkat gagang telepon interkom di sisinya. Hendra meniru gerakannya dengan perlahan.
"A-Aisha..." suara Hendra dari speaker terikat terdengar serak dan patah-patah.
"Kamu... kamu mau datang."
Aisha menatap pria yang dulu dipanggilnya Papa itu tanpa rasa dendam, melainkan dengan jarak yang sangat dingin.
"Pak Arya bilang Anda ingin menyerahkan sesuatu milik Ibu saya."
Hendra menunduk, matanya berkaca-kaca oleh rasa malu dan penyesalan yang terlambat. Dari saku pakaian tahanannya, dia mengeluarkan sebuah buku harian bercover kain lusuh yang sudah memudar warnanya, buku harian milik Risa Kusuma, ibu kandung Aisha.
"Buku ini, kusembunyikan di laci kerjaku dulu saat menyita rumah orang tuamu," bisik Hendra lirih.
"Aku, aku tidak bermaksud menghancurkan hidupmu sejak awal, Aisha. Tapi rasa iri dan hutang judi membuatku menjadi monster."
"Simpan penyesalanmu untuk di depan hakim, Hendra," potong Aisha tegas, tidak membiarkan pria itu memainkan emosinya.
"Buku itu akan diambil oleh petugas."
Hendra menyerahkan buku itu pada petugas tahanan untuk diperiksa. Pria tua itu menatap Aisha dengan mata memohon.
"Aisha, Clara dan Sinta, apakah kamu tidak bisa memberi mereka sedikit ampunan? Mereka hanya menuruti perintahku."
Aisha memejamkan mata sejenak, membiarkan napasnya berhembus tenang sebelum menjawab.
"Setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri. Clara dan Ibu Sinta menikmati hasil dari penderitaanku selama bertahun-tahun. Biarkan hukum yang memutuskan keadilan untuk mereka."
Aisha meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya, menandakan interaksi mereka telah selesai. Dia berdiri tanpa berpaling lagi pada Hendra yang mulai menangis meratapi nasibnya di balik kaca.
Saat berbalik, Devan langsung meraih tangan Aisha yang dingin, lalu menggenggamnya dengan hangat.
"Sudah selesai?" tanya Devan lembut.
Aisha mendongak, menyandarkan kepalanya sejenak di lengan kokoh Devan saat mereka melangkah keluar dari rutan menuju mobil.
"Ya, sekarang semuanya benar-benar sudah selesai, Devan."
Di balik guyuran hujan kota, Aisha tahu bahwa masa lalunya telah terputus sepenuhnya. Dan di samping pria yang menggenggam tangannya ini, langkah-langkah kecil menuju masa depan yang baru siap dia tapaki.