Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Undangan Malam
Hari Jumat pagi tiba dengan langit Milan yang cerah. Udara di luar kantor terasa hangat, tapi di dalam gedung pencakar langit itu, suasana kerja tetap sibuk seperti biasa. Sarah sudah menyelesaikan setengah dari tumpukan proposal Jerman yang menumpuk di mejanya. Tangannya terus menari di atas keyboard, sesekali ia menguap kecil karena efek kehamilan muda yang membuatnya mudah lelah.
Baru saja ia akan meregangkan punggungnya, ponsel kantornya berdering. Dari layar, terlihat nama Samudra Grayson.
"Sarah, masuk ke ruanganku sekarang," suara Samudra terdengar tegas dan singkat.
Sarah menghela napas. Ia berdiri, merapikan blazernya, lalu berjalan menuju ruang eksekutif. Ia mengetuk pintu dua kali, lalu mendengar suara Samudra dari dalam.
"Masuk."
Sarah membuka pintu dan melangkah masuk. Samudra sedang berdiri di dekat jendela, memandangi cakrawala kota Milan. Di mejanya, terlihat beberapa map dokumen yang sudah rapi.
"Ada apa, Pak?" tanya Sarah.
Samudra berbalik. Matanya menatap Sarah dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Malam ini, aku ada undangan pesta dari kolega bisnisku, seorang pengusaha properti asal Swiss. Ada acara gala dinner di Villa Toscana, salah satu tempat mewah di luar kota. Aku ingin kamu menjadi pendampingku."
Sarah mengerutkan kening. "Pendamping? Pak, saya bukan sekretaris yang biasa diajak ke acara sosial. Kenapa tidak Marco atau Felix?"
"Marco akan mengurus dokumentasi acara di sana, sedangkan Felix bertugas menjaga kantor," jawab Samudra. "Aku butuh seseorang yang bisa diajak bicara dengan tenang, bukan yang sibuk dengan ponsel atau kamera. Dan kamu... kamu bisa diajak berdiskusi, tidak hanya diam."
Sarah merasa ada pujian terselip di balik kata-kata Samudra. Tapi ia masih ragu.
"Tapi Pak, acara gala seperti itu biasanya formal. Saya tidak punya gaun malam yang layak," ujar Sarah jujur.
Samudra tersenyum tipis. "Aku sudah memikirkan itu. Kamu pulang saja sekarang. Ada beberapa hal yang harus kamu siapkan. Nanti sore, sebuah tim dari butik ternama di Milan akan mengantarkan gaun, perhiasan, sepatu, dan perlengkapan dandan ke apartemenmu. Semua sudah aku pesan sejak kemarin."
Sarah membelalakkan mata. "Bapak... sudah memesan semuanya?"
"Tentu. Ini acara penting. Aku tidak mau kamu tampil kurang sopan," kata Samudra dengan nada datar. "Kamu bisa istirahat dulu di rumah. Nanti malam, pukul tujuh, aku akan menjemputmu. Felix yang akan mengantarku ke apartemenmu."
Sarah terdiam. Ini bukan sekadar perintah kerja. Ini adalah sebuah perhatian yang luar biasa. Samudra bahkan mengatur pakaian dan dandanannya.
"Pak... saya tidak tahu harus bilang apa," ucap Sarah pelan.
"Kamu tidak perlu bilang apa-apa. Cuma jangan telat," jawab Samudra. Ia kembali duduk di kursinya, mengambil dokumen yang akan ditandatangani. "Sekarang, kamu bisa pulang."
Sarah mengangguk. "Baik, Pak. Terima kasih."
Ia melangkah keluar dari ruangan Samudra, namun baru saja ia menutup pintu, ia hampir menabrak seseorang. Di depannya, berdiri Felix yang baru saja keluar dari ruang rapat kecil, membawa setumpuk dokumen setebal buku telepon.
"Wah, tumben Sarah keluar dari ruang Bos dengan muka melongo? Ada apa?" tanya Felix penuh rasa ingin tahu.
Sarah menatap Felix, lalu menatap dokumen yang dibawanya. "Kamu mau tanda tangan Bos juga?"
"Iya, ini dokumen pengadaan material proyek Porta Nuova. Bos harus tanda tangan sebelum hari Senin," jawab Felix.
Sarah menghela napas panjang, lalu berkata pelan, "Fel, nanti malam... aku diminta Bos menjadi pendampingnya di pesta gala kolega Swiss."
Felix mengangkat alisnya, matanya langsung berbinar. "Oh? Berarti malam ini kamu harus pakai gaun mewah, dandan cantik, dan jalan bergandengan sama Bos?"
"Felix, jangan ngomong aneh-aneh!" Sarah memukul lengan Felix pelan, wajahnya memerah. "Ini cuma formalitas acara bisnis saja. Bos bilang cuma butuh teman bicara yang tenang."
Felix tertawa kecil. "Teman bicara? Sarah, aku kenal Bos sudah lima tahun. Dia tidak pernah mengajak sekretarisnya ke acara gala, apalagi sampai memesan gaun dan perhiasan. Ini bukan sekadar formalitas, Sar. Ini... lebih dari itu."
"Lebih dari itu?" Sarah mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Felix menatap Sarah dengan tatapan serius, meskipun senyumnya masih tersisa. "Kamu hamil anaknya, kamu sering diajak makan siang, dia mengantarkan makanan ke rumahmu, dan sekarang dia memesan gaun mewah untukmu. Sarah, jangan berpikir ini semua karena kontrak. Bos itu orangnya tidak suka repot. Kalau dia melakukan semua ini, berarti ada yang dia sukai dari dirimu."
Sarah membelalakkan mata. "Felix, jangan bercanda! Ini cuma... mungkin dia menjaga investasinya agar anaknya lahir sehat."
Felix menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah kamu mau bilang apa. Tapi yang jelas, malam ini kamu harus tampil maksimal, ya. Semoga sukses." Felix melirik dokumen di tangannya. "Aku mau masuk ke ruang Bos dulu. Jangan sampai kamu telat dandan."
Felix melangkah pergi, meninggalkan Sarah yang masih berdiri di lorong dengan wajah bingung. Ia menatap pintu ruangan Samudra yang tertutup, lalu menatap langit-langit.
"Apa yang Felix katakan itu benar?" batin Sarah. "Atau aku yang terlalu banyak berpikir?"
Sarah melangkah kembali ke mejanya, duduk, dan menatap layar laptopnya tanpa fokus. Tangannya bergerak otomatis mengetik, tapi pikirannya melayang-layang. Kata-kata Felix terngiang-ngiang terus di kepalanya.
"Ada yang dia sukai dari dirimu..."
Sarah menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Sarah. Jangan berpikir seperti itu. Ini semua kontrak. Uang dan tanggung jawab. Tidak lebih."
Setelah beberapa menit, Sarah menyadari bahwa ia sudah tidak bisa fokus bekerja. Ia memutuskan untuk pulang. Ia mulai merapikan meja, menutup laptop, dan menyimpan dokumen-dokumen di dalam map. Saat ia berjalan menuju lift, ia berpapasan dengan Marco yang sedang keluar dari ruang server.
"Pulang lebih awal, Sar?" sapa Marco.
"Iya, Marco. Ada persiapan buat malam ini," jawab Sarah.
Marco tersenyum lebar. "Oh, acara gala kan? Bos sudah pesan gaun yang sangat cantik buat kamu. Aku lihat katalognya tadi pagi. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik, Sarah."
Sarah hanya bisa tersenyum canggung. "Terima kasih, Marco."
Ia melangkah masuk ke dalam lift. Saat pintu lift tertutup, Sarah menatap bayangannya di kaca. Wajahnya terlihat lelah dan bingung.
"Malam ini aku akan berdandan, memakai gaun mewah, dan berjalan di samping Samudra di depan orang-orang penting," pikirnya. "Dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya."
Sesampainya di apartemen, Sarah baru saja membuka pintu, ia mendengar suara bel berbunyi. Di depan pintu, seorang wanita cantik berbalut seragam butik mewah dengan membawa beberapa kotak besar dan satu gantungan gaun panjang yang tertutup plastik bening.
"Signorina Sarah? Saya dari butik Bella Moda. Signor Grayson memesan perlengkapan untuk malam ini. Saya akan membantu Anda melakukan fitting dan riasan," ujar wanita itu dengan ramah.
Sarah membuka pintu lebar-lebar. Matanya menatap gaun yang tergantung di gantungan itu. Gaun berwarna midnight blue dengan kain sutra tipis yang berkilauan di bawah lampu. Ada detail payet halus di bagian pinggang, dan potongan yang sangat elegan.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya bisa mengangguk.
"Felix mungkin benar," bisiknya dalam hati. "Ini bukan hanya tentang kontrak lagi. Tapi... apa yang harus aku lakukan?"