Lelah menjadi budak korporat di kota besar tanpa hasil dan malah dikhianati oleh orang terdekatnya, Yao Wi memutuskan menyerah dan pulang ke kota kelahirannya yang miskin dan terbelakang. Namun, siapa sangka keputusannya untuk menyerah justru menjadi titik balik hidupnya saat sebuah sistem misterius tiba-tiba aktif di kepalanya.
Ding!
[Selamat datang, Tuan Rumah Yao Wi.]
[Sistem ini bertujuan untuk membantu Anda mengubah kota kelahiran Anda yang tertinggal menjadi kota paling makmur di bumi.]
[Aturan Utama Sistem: Tuan rumah akan menerima seratus ribu setiap hari dari setiap jiwa yang terdaftar resmi sebagai warga kota ini.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Srek!
Yao Wi membuka mata perlahan saat sinar mentari pagi menembus celah tirai jendela kamar yang sangat besar.
Ia meregangkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size yang terasa selembut awan.
Ini adalah tidur paling nyenyak dan paling nyaman yang pernah ia rasakan selama hidupnya.
Tidak ada suara bising kendaraan kota besar, tidak ada bau apek dari kamar kosnya yang sempit, dan tidak ada alarm kerja yang menyebalkan.
Ding!
Sebuah suara mekanis yang sudah mulai akrab di telinganya tiba-tiba berbunyi di dalam kepalanya.
Layar virtual berwarna biru transparan muncul tepat di depan pandangannya yang masih sedikit kabur.
[Hari baru telah dimulai.]
[Memindai jumlah populasi Kota Linzhou saat ini.]
[Jumlah penduduk tetap adalah 50.000 jiwa.]
[Dana harian sebesar 5.000.000.000 telah berhasil ditransfer ke rekening bank Tuan Rumah.]
Yao Wi tersenyum lebar hingga memamerkan deretan giginya.
Ia mengambil ponsel dari nakas di samping tempat tidur dan melihat notifikasi dari bank.
Benar saja, saldo di rekeningnya kini kembali bertambah dan melonjak menjadi sembilan miliar lebih.
"Uang lima miliar setiap pagi, ini benar-benar kehidupan yang melampaui imajinasi," gumam Yao Wi sambil terkekeh pelan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang sangat sopan terdengar dari arah luar kamar.
"Tuan Yao, ini saya Manajer Li, saya membawakan sarapan dan pesanan Anda," ucap suara dari luar pintu.
Yao Wi bangkit dari tempat tidur dan berjalan dengan santai membukakan pintu.
Manajer Li berdiri di sana dengan senyum yang sangat ramah, didampingi dua pelayan yang mendorong kereta dorong berisi makanan mewah.
Di atas kereta dorong yang lain, terdapat beberapa kantong belanja dari butik pakaian terbaik yang ada di pusat perbelanjaan Linzhou.
Tadi malam sebelum tidur, Yao Wi memberikan uang lima puluh juta kepada Manajer Li untuk membelikannya pakaian baru yang layak.
"Silakan masuk, Manajer Li," kata Yao Wi mempersilakan mereka.
Para pelayan dengan sigap menata berbagai macam hidangan sarapan di atas meja makan kaca di dalam ruangan itu.
Mulai dari bubur abalone, dimsum udang segar, hingga segelas jus jeruk peras yang dingin.
"Tuan Yao, saya sudah membelikan beberapa setel pakaian kasual kelas atas seperti yang Anda minta," ucap Manajer Li sambil menyerahkan kantong-kantong belanja tersebut.
"Terima kasih atas kerja kerasmu, Manajer Li," jawab Yao Wi sambil mengambil kantong belanja itu.
Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan membuang pakaian lamanya yang sudah kusam ke tempat sampah.
Setengah jam kemudian, Yao Wi keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sepenuhnya baru.
Ia mengenakan kemeja linen berwarna putih bersih yang pas di badannya dan celana panjang hitam yang elegan.
Meskipun pakaian itu dibeli dari kota kecil, harganya yang mahal membuat aura Yao Wi berubah drastis menjadi lebih berwibawa.
Ia duduk di meja makan dan mulai menyantap sarapan mewahnya dengan tenang.
"Manajer Li, apakah di kota ini ada tempat yang menjual mobil bagus?" tanya Yao Wi sambil menyuapkan dimsum ke mulutnya.
Manajer Li yang sedari tadi berdiri siaga di sudut ruangan langsung maju selangkah.
"Hanya ada satu pameran mobil yang cukup besar di kota ini, Tuan, namanya Linzhou Auto," jawab Manajer Li cepat.
"Mereka biasanya menjual mobil keluarga biasa, tapi saya dengar minggu lalu mereka baru saja mendatangkan sebuah mobil SUV impor mewah sebagai pajangan utama."
Yao Wi mengangguk-angguk kecil mendengar informasi tersebut.
Ia tidak mungkin terus-terusan mengandalkan taksi atau ojek jika ingin berkeliling membeli tanah dan properti di kota ini.
"Bagus, aku akan pergi ke sana setelah sarapan," putus Yao Wi.
Setelah menghabiskan makanannya, Yao Wi berjalan keluar dari hotel dengan langkah percaya diri.
Udara pagi di Kota Linzhou terasa sangat segar dan menenangkan.
Ia memanggil sebuah taksi yang kebetulan lewat di depan hotel dan meminta sopir untuk mengantarnya ke Linzhou Auto.
Perjalanan hanya memakan waktu sepuluh menit karena jalanan kota ini memang tidak pernah macet.
Ciiiit!
Taksi berhenti tepat di depan sebuah bangunan pameran mobil berdinding kaca yang cukup besar untuk ukuran kota kecil.
Yao Wi membayar taksi tersebut dan melangkah masuk ke dalam ruang pameran.
Hawa dingin dari AC langsung menyambutnya, diiringi aroma khas dari jok kulit mobil baru yang berjejer rapi.
Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah mobil SUV berwarna hitam pekat yang terlihat sangat gagah dan mengintimidasi.
Mobil itu dikelilingi oleh pagar pembatas dari tali beludru merah, menandakan bahwa itu bukanlah kendaraan sembarangan.
Yao Wi berjalan mendekati mobil itu dengan mata berbinar, merasa tertarik dengan desainnya yang maskulin.
"Hei, dilarang menyentuh mobil pajangan!" sebuah teguran keras terdengar dari arah belakangnya.
Yao Wi menoleh dan melihat seorang pria muda berseragam rapi dengan name tag bertuliskan Chen Bo.
Pria itu berjalan menghampiri Yao Wi dengan ekspresi arogan dan dagu yang terangkat tinggi.
Namun saat Chen Bo melihat wajah Yao Wi dengan jelas, langkahnya seketika terhenti.
"Yao Wi? Astaga, apakah ini benar-benar kau, si pecundang dari kelas kita dulu?" seru Chen Bo dengan nada terkejut yang dibuat-buat.
Yao Wi mengerutkan keningnya, mencoba mengingat wajah pria di depannya ini.
Ah, ia ingat sekarang, Chen Bo adalah teman sekelasnya di SMA dulu yang selalu suka pamer kekayaan orang tuanya.
Dulu Chen Bo sering merundung siswa miskin, termasuk sering mengejek Yao Wi yang hanya membawa bekal ubi rebus ke sekolah.
"Chen Bo, lama tidak bertemu," balas Yao Wi dengan nada datar dan tidak antusias sama sekali.
Chen Bo memandang Yao Wi dari atas ke bawah, mencoba menilai harga pakaian yang dikenakan Yao Wi.
Meskipun pakaian Yao Wi terlihat bersih dan rapi, Chen Bo tidak mengenal mereknya sehingga ia menganggap itu hanya pakaian murah dari pasar malam.
"Kudengar kau pergi ke ibu kota untuk bekerja, kenapa sekarang malah berkeliaran di kota mati ini?" ejek Chen Bo sambil melipat tangannya.
"Apakah kau dipecat dan pulang kampung karena tidak bisa bertahan hidup di sana?"
Yao Wi hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak merasa tersinggung dengan provokasi murahan itu.
"Aku pulang karena ada urusan penting, dan aku ke sini untuk melihat-lihat mobil," jawab Yao Wi santai.
Chen Bo langsung tertawa terbahak-bahak hingga beberapa staf lain ikut menoleh ke arah mereka.
"Melihat-lihat mobil? Kau mau beli mobil di sini?" tawa Chen Bo semakin keras.
"Yao Wi, ini bukan tempat penjualan sepeda bekas, tempat ini menjual mobil seharga ratusan juta rupiah!"
"Bahkan untuk membayar uang muka mobil paling murah di sini saja aku yakin kau harus berhutang sana-sini."
Yao Wi menghela napas pendek, merasa kasihan melihat betapa sempitnya pemikiran mantan teman sekelasnya ini.
"Kau banyak bicara sekali, apakah tugasmu di sini hanya untuk mengusir pelanggan?" sindir Yao Wi tajam.
Wajah Chen Bo langsung memerah karena marah mendengar sindiran telak tersebut.
"Aku adalah Wakil Manajer Penjualan di sini, aku berhak menentukan siapa yang pantas dilayani dan siapa pengemis yang hanya ingin menumpang AC!" bentak Chen Bo.
Di saat suasana mulai memanas, seorang gadis muda dengan seragam staf penjualan berlari kecil menghampiri mereka.
Gadis itu terlihat sangat manis dengan rambut sebahu dan wajah yang bersih tanpa riasan berlebihan.
Papan nama di dadanya menunjukkan nama Lin Xia.
"Manajer Chen, apakah ada masalah?" tanya Lin Xia dengan suara lembut dan sedikit gugup.
"Lin Xia, kau urus saja pria miskin ini, jangan biarkan dia menyentuh mobil apa pun di sini, terutama SUV hitam itu," perintah Chen Bo dengan kasar.
"Aku ada urusan penting dengan pelanggan VIP di ruang tunggu, jangan ganggu aku."
Setelah memberikan perintah itu, Chen Bo membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan angkuh.