NovelToon NovelToon
Adikku Sayang Adikku Malang

Adikku Sayang Adikku Malang

Status: tamat
Genre:Fanfic / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:624.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: DN YM

"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."

Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.

Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.

Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.

Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?

Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 ~ Minta Maaf

...🍀🍀🍀...

Hari pun semakin gelap namun masih terlihat terang karena adanya cahaya bulan dan bintang yang bertaburan di atas langit.

Kini suasana hati Dhina sudah lebih tenang setelah mengungkapkan semuanya pada Dhana. Setelah semuanya aman, Dhana pun mengajak Dhina untuk segera masuk ke dalam rumah sakit karena hari yang semakin malam membuat udaranya pun terasa lebih dingin.

"Adek kembar Mas yang cantik ini sudah tenang, bukan? Kalau begitu ayo kita masuk. Udara malam tidak baik untuk kondisi Adek yang masih belum stabil ini." ujar Dhana yang melepaskan pelukannya dari Dhina.

"Adek belum boleh pulang ya Mas?" tanya Dhina dengan manja pada Dhana.

"Belum, Sayang. Dokter dan Mas Ammar meminta Adek untuk menginap di rumah sakit malam ini agar mereka bisa memantau perkembangan kondisi Adek." jelas Dhana seraya memegang wajah adik kembarnya itu.

"Lalu kapan Adek bisa pulang?" tanya Dhina lagi pada Dhana dengan wajah melasnya itu.

"Adik Mas ini menggemaskan sekali sih. Kata dokter kalau besok pagi kondisi Adek sudah baik, Adek bisa pulang kok." jawab Dhana yang mencubit pipi cubby adik kembarnya itu lalu berjalan masuk ke rumah sakit.

"Lalu siapa yang menemani Adek di rumah sakit malam ini?" tanya Dhina lagi yang berjalan bersama Dhana.

"Tentu saja Mas, Mas Ammar dan Mas Sadha. Pangeran tampan ini akan siap menemani tuan putri 24 jam non-stop." jawab Dhana yang berhenti seraya hormat pada sang adik.

"Mas Dhana apaan sih. Malu dilihat orang Mas." ujar Dhina seraya menarik tangan Dhana yang sedang hormat padanya.

Mereka berdua pun tertawa lepas karena melihat tingkah Dhana yang lucu. Selama berjalan menuju kamar rawat Dhina yang sudah disiapkan oleh Ammar dan Dokter Ronald. Sesekali Dhana melirik ke arah Dhina. Dhina yang kini sudah kembali ceria membuat Dhana senang dan bersyukur karena adik kembarnya itu sudah bisa melupakan sementara masalah yang sedang ia hadapi saat ini.

***

Di kamar mawar putih, kamar rawat Dhina yang berada di lantai tiga rumah sakit. Kini sudah ada Ammar, Sadha dan Dokter Ronald yang sedang menunggu Dhana dan Dhina. Di sana juga sudah ada beberapa orang suster yang siap membantu Dokter Ronald. Merasa cukup lama menunggu, Sadha yang sudah tidak sabar pun mulai beranjak dari tempat duduknya. Melihat sang adik yang ingin pergi Ammar pun menghampiri Sadha.

"Kamu mau ke mana Sadha?" tanya Ammar seraya meraih bahu Sadha yang hendak pergi dari kamar itu.

"Sadha ingin menyusul Dhana dan Adek, Mas. Sudah dua jam mereka belum kembali juga. Sadha harus menyusul mereka." ujar Sadha yang memutar tubuhnya dan melihat ke arah Ammar.

"Kamu harus sabar. Dhana pasti sedang berusaha untuk menenangkan Adek. Kalau kita memaksa untuk ke sana, kita akan sulit membujuk Adek. Kamu harus percaya sama Dhana, Sadha." ujar Ammar yang menenangkan Sadha.

"Sadha bukannya tidak percaya sama Dhana, Mas. Tapi Sadha khawatir dengan kondisi Adek yang belum stabil. Kenapa mereka lama sekali di luar?" ujar Sadha yang kembali duduk seraya mengusap kepalanya.

"Tidak hanya kamu, Mas juga khawatir. Mas juga ingin melihat mereka. Tapi Mas yakin, Dhana pasti bisa menenangkan Adek. Dhana paling dekat dengan Adek. Dengan begitu Adek pasti akan lebih terbuka sama Dhana. Kita tunggu saja mereka, kamu harus sabar." tutur Ammar sambil memegang bahu Sadha.

Sadha pun menghela nafas panjang setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ammar. Ia memang khawatir, tapi setelah mendengar yang dikatakan Ammar memang ada benarnya juga.

Dhina memang lebih dekat dengan Dhana. Bukan hanya karena mereka kembar tapi juga karena Dhana lebih banyak mempunyai waktu untuk bersama Dhina dibandingkan Ammar dan dirinya. Walaupun demikian kasih sayang mereka tetap besar pada Dhina karena Dhina adik perempuan satu-satunya yang mereka miliki.

***

Dhana dan Dhina sudah berada di lantai tiga. Namun Dhana bingung saat melihat banyaknya lorong untuk menuju ke kamar rawat pasien. Dhana tidak tau harus melewati lorong yang mana agar bisa sampai ke kamar rawat adik kembarnya itu. Melihat Dhana yang kebingungan, Dhina pun dibuat tertawa oleh ekspresi Dhana yang lucu itu.

"Mas Dhana lucu sekali sih. Mas Dhana kenapa?" tanya Dhina yang tertawa melihat ekspresi mas kembarnya itu.

"Adek kenapa tertawa? Memang ada yang lucu ya?" tanya Dhana balik yang menoleh ke Dhina.

"Wajah Mas itu yang lucu. Perut Adek jadi geli melihatnya. Mas bingung ya sama jalannya?" ujar Dhina yang masih tertawa melihat ekspresi Dhana.

"Mas lagi kebingungan, Adek malah tertawa. Mas Ammar hanya bilang kamar mawar putih di lantai tiga, tapi dia tidak memberitahu jalannya yang mana." ceroteh Dhana seraya menggarut kepalanya yang tidak gatal.

"Kita tanya sama suster itu saja, Mas." ucap Dhina seraya menunjuk ke arah suster yang sedang lewat di lantai itu.

"Benar juga ya, Dek. Kalau begitu Adek tunggu di sini ya. Mas mau tanya sama suster cantik itu dulu." ujar Dhana yang menepuk bahu Dhina lalu pergi menuju suster.

Saat melihat yang cantik matanya langsung hijau. Dasar Mas Dhana. Gumam Dhina dalam hati.

"Susternya jangan digodain ya, Mas." sahut Dhina yang berteriak pada Dhana.

Dhana pun pergi menghampiri suster itu untuk bertanya di mana posisi kamar yang dimaksud oleh Ammar. Setelah bertanya, Dhana pun kembali ke tempat adik kembarnya menunggu.

"Ayo, Dek. Kamar Adek di sana." ujar Dhana yang menarik tangan Dhina sambil menunjuk ke arah salah satu lorong.

"Iya, Mas." jawab Dhina yang ikut berjalan mengikuti langkah Dhana yang berada sedikit di depannya.

Mereka pun melanjutkan jalan menuju kamar rawat Dhina. Setelah sampai di depan kamar itu, Dhana pun mengetuk pintu terlebih dahulu.

Ammar, Sadha dan Dokter Ronald yang mendengar ada ketukan dari luar, langsung beranjak dari duduk dan membuka pintu. Lalu...

"Adek..." ujar Ammar yang membuka pintu dan melihat adik kembarnya.

"Assalamualaikum." ucap Dhana yang masih berdiri di depan kamar bersama Dhina.

Dhina hanya diam dan tidak menjawab Ammar yang menyapanya. Ia masih kesal dan marah pada mas sulungnya itu karena pertengkaran tadi siang. Lalu...

"Wa'alaikumsalam." jawab Ammar dan Sadha yang berdiri di dekat pintu dan menatap adik perempuan mereka itu.

"Wa'alaikumsalam. Ayo, Dhana, Dhina. Silakan masuk, kondisi kamu belum stabil betul. Suster tolong bantu pasang alat-alat medis!" seru Dokter Ronald yang meraih tangan Dhina dan memapa Dhina menuju tempat tidur.

Saat melihat sikap Dhina yang cuek pada Ammar membuat Sadha merasa kalau Dhina masih marah pada Ammar. Lalu karena penasaran, Sadha pun berbicara pada Dhana.

"Kamu lama sekali membujuknya, Dhana. Apa ada masalah?" tanya Sadha yang berbisik pada Dhana.

"Sorry, Mas. Dhana harus memakai strategi dan konsentrasi penuh untuk membujuk Adek. Kalau tidak bisa kacau semuanya." jawab Dhana yang ikut berbisik pada Sadha.

"Mas perhatikan Adek cuek sekali pada Mas Ammar. Sepertinya Adek masih marah karena pertengkaran tadi." bisik Sadha lagi pada Dhana.

"Sepertinya begitu. Nanti kita cari cara agar mereka bisa baikan lagi ya, Mas." jawab Dhana yang masih berbisik pada Sadha.

"Siap, Bos." ujar Sadha seraya mengacungkan jempol pada Dhana.

Sadha dan Dhana asyik berbisik membahas sikap adik perempuan mereka yang hanya diam saat Ammar menyapanya di dekat pintu kamar rawat tadi. Sementara Ammar sedang membantu Dokter Ronald untuk memeriksa keadaan Dhina saat ini.

Ammar yang mengerti dengan sikap Dhina membuat dirinya merasa bersalah pada adik perempuannya itu dan terus menatap Dhina. Sedangkan Dhina yang masih kesal dengan Ammar hanya diam tanpa melirik Ammar sedikit pun. Setelah selesai memasang kembali jarum infus di tangan Dhina. Dokter Ronald pun memeriksa kondisi Dhina.

"Bagaimana kondisi Adek, Dok?" tanya Ammar yang masih berdiri di samping tempat tidur Dhina.

"Kondisi Dhina masih lemah, Am. Jadi Dhina harus istirahat penuh agar kondisinya bisa cepat pulih." jelas Dokter Ronald yang meletakkan kembali alat-alat medis.

"Baik, Dok. Terima kasih banyak Dokter." ucap Ammar yang melihat ke Dhina seraya mengelus kepala Dhina.

"Sama-sama, Am. Kamu istirahat yang cukup ya, Dek. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada sesuatu cepat hubungi saya. Permisi semua." ujar Dokter Ronald pada Dhina lalu pamit keluar pada semuanya.

"Terima kasih, Dok." ucap Dhana saat Dokter Ronald berlalu pergi dan dibalas anggukan oleh Dokter Ronald.

Setelah Dokter Ronald pergi, kini hanya mereka berempat yang ada di kamar itu. Suasana kamar menjadi hening karena sikap Dhina yang cuek pada Ammar dan membuat semuanya terasa canggung untuk memulai pembicaraan. Merasa tidak senang dengan situasi ini, Dhana pun menghampiri Dhina.

"Kalau begitu sekarang Adek istirahat ya. Kata dokter, Adek harus banyak istirahat agar cepat sembuh. Kalau sudah sembuh, Adek bisa pulang." ujar Dhana yang duduk di atas tempat tidur Dhina.

"Tapi Adek tidak akan bisa sembuh secepat itu, Mas." ucap Dhina yang menoleh ke arah Dhana.

Dhana pun terdiam saat mendengar pernyataan yang dikatakan oleh adik kembarnya itu. Sementara Ammar dan Sadha sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Dhina.

"Apa maksud pernyataan Adek? Kenapa Adek bicara seperti itu?" tanya Ammar pada adik perempuannya itu.

Dhina masih tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Ammar. Melihat sikap adik kembarnya seperti itu Dhana pun menghela nafas panjang. Lalu...

"Adek sudah mengetahui semuanya, Mas. Jadi kita semua tidak perlu menutupinya lagi dari Adek." jawab Dhana yang melihat ke arah Ammar dan Sadha.

"Siapa yang memberitahu Adek?" tanya Sadha seraya berjalan ke arah Dhana yang duduk di sebelah tempat tidur Dhina.

"Adek mendengarnya sendiri, Mas. Saat kalian semua berada di ruangan Dokter Ronald, Adek juga ada di sana. Saat Adek sadar, Adek tidak menemukan siapa pun. Jadi Adek mencari kalian sehingga Adek sampai di depan ruangan itu dan mendengar semuanya." jelas Dhina sambil melihat ke arah Sadha dan Dhana tanpa melirik Ammar.

"Tapi Mas Ammar dan Mas Sadha jangan khawatir. Adek sudah ikhlas menerima semuanya. Awalnya memang berat, tapi kita harus tetap berusaha dan semangat. Iya 'kan Dek?" ujar Dhana seraya mencubit pipi Dhina.

"Iya, Mas Dhana benar. Adek harus tetap semangat menjalani hidup dan tidak putus asa." jawab Dhina seraya memegang tangan Dhana yang mencubit pipinya.

"Ini baru adiknya Mas Sadha. Semangat ya, Sayang. Kita semua akan selalu ada di samping Adek." ujar Sadha seraya mengelus kepala Dhina yang masih mengenakan hijabnya.

"Iya, Mas." jawab Dhina yang tersenyum pada Sadha dan Dhana.

Ammar yang melihat Dhina sudah bisa tersenyum lagi seperti itu, juga ikut senang karena kesedihan di wajah adik perempuannya itu untuk sementara sudah tidak ada lagi. Namun hati Ammar juga merasa sedih karena sejak tadi Dhina tidak ingin berbicara dengannya, bahkan untuk melirik ke arahnya saja sepertinya Dhina enggan.

Adek masih marah ya sama Mas? Tidak apa-apa, Sayang. Itu hak Adek. Mas memang sudah keterlaluan sama Adek dan Dhana. Mas minta maaf ya Dek, Mas minta maaf. Gumam Ammar dalam hati.

Sadha dan Dhana yang melihat Ammar terdiam pun saling pandang. Lalu mereka berdua saling memberi isyarat untuk segera menyelesaikan masalah yang terjadi di antara Ammar dan Dhina. Dhana yang mengerti dengan isyarat Sadha pun mengangkat kedua sudut bibirnya.

"Mas Ammar, Mas Sadha sama Adek lapar tidak?" tanya Dhana seraya melihat ke arah mereka satu per satu.

"Mas lapar sekali, Dhana. Ayo kita pergi membeli makanan." jawab Sadha yang tersenyum pada Dhana.

Sadha tersenyum puas saat mendengar ajakan adik kembarnya itu. Lalu...

"Kalian lapar? Adek lapar juga? Biar Mas yang turun untuk membeli makanan ya. Kalian semua tunggu di sini saja." ujar Ammar yang beranjak dari duduknya di samping Dhina.

"Tidak, Mas. Biar Dhana dan Mas Sadha saja yang pergi ke bawah untuk membeli makanan. Dhana juga ingin membeli sesuatu. Jadi Mas temani Adek saja di sini." ujar Dhana yang berusaha meyakinkan Ammar agar tidak curiga dengan rencananya itu.

"Kalian yakin?" tanya Ammar yang melihat keduanya.

"Kita sangat yakin, Mas. Kalau begitu kita pergi dulu ya, Mas. Mas pergi dulu ya, Dek." ujar Sadha pada keduanya seraya menarik tangan Dhana agar segera beranjak dari duduknya.

"Iya, Mas. Kita pergi dulu ya." timpal Dhana yang tangannya sudah ditarik oleh Sadha.

Sadha dan Dhana pun keluar dari kamar rawat. Mereka berdua sengaja membiarkan Ammar dan Dhina berdua di dalam agar mereka lebih leluasa untuk bicara.

***

Kini hanya ada Ammar dan Dhina yang berada di dalam kamar. Ammar dan Dhina hanya diam satu sama lain. Ammar tidak tau harus bicara apa karena setelah pertengkaran itu ia merasa bersalah dengan Dhina sehingga membuatnya canggung untuk bicara dengan sang adik.

Saat Ammar hanya diam dan duduk di sofa, tiba-tiba ia melihat Dhina yang sedang berusaha mengambil gelas air minum yang ada di atas meja, di samping tempat tidurnya. Melihat adik perempuannya yang susah payah ingin mengambil gelas, Ammar pun beranjak dari duduknya lalu mendekat dan mengambil gelas itu untuk Dhina.

"Adek mau minum? Biar Mas ambilkan ya." ujar Ammar seraya meraih tangan Dhina yang sedang berusaha mengambil gelas itu.

Dhina hanya diam saat Ammar membantunya mengambil gelas air minum itu. Ia berusaha tidak terpancing dengan tindakan yang di lakukan oleh mas sulungnya. Setelah Ammar mengambil gelas yang berisi air minum itu, lalu Ammar membantu Dhina untuk minum.

"Mas bantu Adek minum ya, Sayang." ujar Ammar yang membantu Dhina untuk duduk agar bisa minum.

Setelah selesai minum, Dhina pun kembali berbaring dan dibantu oleh Ammar. Sementara Ammar langsung meletakkan gelas itu di tempat semula. Saat Ammar ingin kembali duduk di sofa, tiba-tiba Ammar mendengar suara yang sejak tadi ia tunggu.

"Terima kasih Mas."

Ammar pun memutar tubuhnya dan melihat ke arah adik perempuannya itu. Walaupun ucapan yang keluar dari bibir Dhina terkesan jutek, tapi Ammar sangat senang karena Dhina sudah memanggilnya lagi. Lalu...

"Iya, Sayang. Mas senang sekali karena Adek sudah mau memanggil Mas lagi." ujar Ammar yang tersenyum pada adik perempuannya itu.

Ammar pun kembali duduk di samping Dhina dan perlahan Ammar meraih tangan Dhina. Lalu...

"Mas tau Adek pasti masih marah sama Mas. Mas memang pantas mendapatkan ini karena sikap Mas yang emosional. Tapi Mas mohon Dek, jangan cuekin Mas seperti ini. Mas minta maaf sama Adek. Mas tau, Mas salah. Tolong maafkan Mas, Dek." tutur Ammar yang menggenggam tangan Dhina dan menangis.

Dhina merasa tidak tega saat melihat Ammar yang sedang menangis meminta maaf sambil mencium tangannya seperti itu. Lalu dengan hati yang besar, Dhina pun meraih tangan Ammar yang sedang menggenggam tangannya.

"Mas tidak perlu menangis seperti ini. Adek sudah memaafkan Mas. Adek juga ingin minta maaf karena Adek sempat kurang ajar sama Mas saat kita bertengkar tadi. Maafkan Adek juga ya, Mas." ujar Dhina yang mencium tangan mas sulungnya itu.

"Tidak, Adek tidak salah. Adek bersikap seperti itu karena Mas yang terlalu egois dengan pendapat Mas sendiri. Karena membela orang lain Mas jadi seperti tadi sama Adek, bahkan Mas sampai menampar Dhana. Akibatnya Adek jadi seperti ini." ujar Ammar yang masih berurai air mata di dekat Dhina.

"Sudah ya, Mas. Masalah tadi kita lupakan saja. Yang terpenting saat ini, Mas jangan pernah main tangan lagi pada Mas Dhana ataupun Mas Sadha. Sebesar apapun amarah Mas pada mereka, mereka tetap adik Mas. Jadi kita selesaikan saja ya masalah ini." ujar Dhina seraya menghapus air mata yang ada di pipi Ammar.

"Mas janji, Sayang. Mas tidak akan main tangan lagi. Terima kasih karena sudah memaafkan Mas. Mas sayang sekali sama Adek." jawab Ammar yang beranjak dari duduknya dan memeluk Dhina dengan erat lalu mengecup kening adik perempuannya itu.

"Iya, Mas. Adek juga sayang sekali sama Mas Ammar." ujar Dhina yang memeluk erat tubuh Ammar.

Salah paham antara Ammar dan Dhina akhirnya selesai. Kini mereka berdua sudah baikan berkat kerja sama Sadha dan Dhana yang kini sedang pergi membeli makanan. Tanpa Ammar dan Dhina sadari kalau semua ini adalah ide kerja sama Sadha dan Dhana.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

1
Fitri03
terharu banget bacanya sampe menguras air mata
Fitri03
pas dhina diagnosa terkena penyakit kanker darah disitu aku nangis banget bacanya sampe Dhana akhirnya menikah dengar orang benar2 mirip sama adeknya,benar2 terharu bacanya dan menguras air mata.makasih yaa Thor udah bikin cerita sebagus ini kalau bisa bikin season 2nya tentang Dhana dan mala.
🌹Dina Yomaliana🌹: Alhamdulillah makasih banyak ya kak udah mau baca novel aku🥹🩷🙏 btw lanjutannya ada kok, di sebelah silakan berkunjung juga ya semoga suka☺️☺️
total 1 replies
Asih Asih
jangan di kasih penyakit terus dong Thor,kasih kebahagian bersama imam pliss
🌹Dina Yomaliana🌹
Sebagai penulis dari novel ini, saya berharap akan ada banyak orang yang menyukai alur ceritanya. Walaupun saya sadar, kalau cerita ini masih sangat banyak kesalahannya.
Dina Ima Tari
aduhh capek banget baca cerita ini tuh, rasanya gak berhenti mengalir, ini novel pertama yang aku ingin banget si tokoh utamanya hidup
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
Nadia Permata
berulang kali baca ini...
ttp aja nangis...
Erma Wahyuni
😭😭😭😭😭
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Erma Wahyuni
gimana ya kabar imam
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Rani Virjani
kenapa jg yg nungguin harus d bawah sih..sedangkan yg sakit berada d lantai atas🤦‍♀️🤦‍♀️
Li Permana
Mampir kak, 3 like untuk karyamu
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
Ganezt Ganezho
wesss mantap mengandung bawang yg buanyaaakkk pokok e... top dach kk thor bkin certa nya
Yenz_Azzahra
Hadir disini.
tingglkn jejak dulu ya
Μғ⃝🦪тιαяα м͜͡¢͢🦇
Semangat Thor ceritanya sangat bagus😍, mampir juga di novel ku "Hijrahnya Gadis Pembunuh Bayaran" 💙💙
Martina Alfarizqi
semangat untuk karya barunya💪💪
Eva Santi Lubis
keren
Anun
Udah mampir dari my Maria
Yeni Eka
Disitu tulis Plak, eh aku yang meringis ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!